Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Undangan pernikahan


__ADS_3

"Kalian sudah terlambat, keluar dari kelas saya. Saya tidak suka mahasiswa yang suka telat."


Begitulah yang dosen katakan saat Bianca dan Intan sampai di kelas mereka. Keduanya langsung mendapat pengusiran dari dosen killer pacarnya Intan kalo kata Bianca.


"Pacar lo galak banget, Tan." Ucap Bianca, wanita itu masih bisa bercanda.


"Ca, lo malah bercanda. Ini kita nggak dibolehin masuk kelas lohh." Timpal Intan geleng-geleng kepala.


Bianca manggut-manggut, ia tahu tapi mau bagaimana lagi. Mereka terlambat karena kejadian di tengah jalan tadi.


"Daripada planga-plongo, mending gue bercanda." Ucap Bianca lagi.


"Lagian kita baru sekali telat dan nggak masuk kelas dia." Tambah Bianca.


Intan mengangguk setuju, mereka itu sebenarnya rajin dan tekun. Tapi hari ini mereka sedang sial saja makanya sampai menabrak.


"Ca, nongkrong di kafe yuk. Daripada disini, gue males." Ajak Intan.


Saat ini dua gadis itu tengah duduk planga-plongo di taman kampus, mereka bingung harus kemana dan akhirnya pilihan jatuh di kafe.


Bianca mengangguk setuju, ia pun bangkit dari duduknya, menyusul Intan yang sudah bangun duluan.


Saat mereka melangkah untuk pergi, tiba-tiba ada yang memanggil Bianca. Keduanya lantas berhenti dan membalik badan mereka.


Orang yang memanggil itu adalah Reza, mantan kekasih Bianca. Pria itu datang dan langsung memberikan undangan pada Bianca dan Intan.


"Datang ya ke acara nikahan gue. Bawa pasangan juga boleh," ucap Reza dengan penuh senyuman.


Bianca tersenyum senang karena Reza ternyata benar-benar akan menikah, artinya pria itu sudah bisa melupakan masa lalu seperti dirinya.


"Wahh, Bianca udah nikah, lo juga mau nikah. Ini jodoh gue kesangkut apa belum lahir ya." Celetuk Intan.


Bianca dan Reza sama-sama tertawa. "Belum kali, Tan. Sabar, jodoh nggak akan kemana." Sahut Reza.


"Selamat ya, Za. Gue pasti datang sama suami gue," ucap Bianca mengulurkan tangannya.


Reza membalas uluran tangan Bianca, ia benar-benar sudah melupakan mantan kekasihnya itu. Reza akan menikah dan mengubur masa lalunya dalam-dalam.


"Makasih ya, Ca. Kalo gitu gue pergi dulu, bye." Reza pun pergi meninggalkan Bianca dan Intan.

__ADS_1


Bianca menatap sahabatnya, ia lalu menarik tangan gadis itu untuk pergi dari kampus. Mereka kan katanya mau ke kafe.


"Ca, gue kayaknya sial banget hari ini." Ucap Intan lesuh.


Bianca menatap sahabatnya itu. "Yaudah kalo gitu kita ke rumah gue aja. Nanti lo pasti nggak sedih lagi setelah ketemu anak gue." Ujar Bianca.


"Ayok deh, sekalian gue mau intip rumah sahabat gue yang udah nikah ini." Sahut Intan mengangguk setuju.


Intan pun lekas mengendarai mobilnya, andai saja Bianca bisa bawa mobil mungkin ia akan meminta sahabatnya itu yang menyetir nya.


Nyatanya Bianca tidak bisa, padahal waktu itu ia mengajak sahabatnya untuk belajar mobil bersama. Kini dirinya sudah cukup bisa membawa mobil, sedangkan Bianca belum.


"Ca, lo nggak mau belajar mobil?" tanya Intan.


"Mau, tapi nanti nunggu suami gue ada waktu. Gue mau nya diajarin sama dia aja." Jawab Bianca tersenyum.


Intan mendengus, namun ia hanya bisa mengangguk. Enak sekali punya pasangan, apa-apa bisa sama suami.


Sementara itu di kantor Raka, pria itu baru saja keluar dari ruang rapatnya. Satu jam lebih ia habiskan untuk menasehati dan juga menyemangati para karyawan nya agar mencapai target bulan ini.


Raka mungkin tegas, tapi tidak galak. Raka merupakan seorang pimpinan yang selalu memberi semangat, bukan malah menjatuhkan mental karyawan dengan memarahi habis-habisan.


Saat Raka hendak naik lift, ia justru berpapasan dengan Ario yang ada di dalam lift. Ia bisa menebak jika pria itu mau ke ruangannya.


"Gue kira lo udah kelar rapat dari tadi." Ucap Ario membuka pembicaraan.


"Harusnya iya, tapi ada beberapa hal yang harus gue sampein." Balas Raka.


"Lo mau ngapain ke kantor gue?" Tanya Raka mengerutkan keningnya.


"Ada yang mau gue omongin, ini diluar kerajaan sih." Jawab Ario membuat Raka manggut-manggut.


Mereka pun sampai di ruangan Raka. Raka duduk di kursinya, dan Ario duduk di kursi yang berada tepat di depannya.


"Gue tadi ketemu Bianca." Ucap Ario seraya merogoh ponsel di saku jasnya.


Kening Raka mengkerut. "Bianca, istri gue?" tanya Raka.


"Berapa Bianca yang lo kenal? … Wah gawat nih, bisa gue aduin ke Bianca kalo suaminya kenal banyak cewek namanya Bianca." Ujar Ario menutup mulutnya.

__ADS_1


Raka memutar bola matanya jengah, ia mendengus namun penasaran juga dengan cerita temannya ini.


"Ketemu dimana, kok bisa?" tanya Raka. Tatapannya tampak mendelik.


"Biasa aja tatapan lo, gue ketemu di jalan." Jawab Ario.


"Mobil yang ditumpangi istri lo nabrak–" ucapan Ario yang sedang menjelaskan terhenti karena Raka.


"Nabrak? Istri gue kecelakaan maksud lo?! Terus dimana dia sekarang!" tanya Raka bertubi-tubi.


"Dengerin gue ngomong dulu kenapa sih, berisik banget mulut lo kaya terompet." Cibir Ario sambil berdecak sebal.


Raka berdecak, ia memukul bahu Ario karena tidak terima akan penuturan temannya itu barusan.


"Lanjutin cepet." Pinta Raka memaksa.


"Istri lo naik mobil sama temennya, terus nabrak mobil gue." Ucap Ario singkat dan langsung pada intinya.


"Terus istri gue nggak apa-apa kan?" tanya Raka.


"Sialann, bini nya doang yang dipikirin. Mobil gue lecet, harus di bawa ke bengkel." Umpat Ario geleng-geleng kepala mendengar Raka yang begitu bucin.


"Bengkel banyak, tinggal bawa. NGGAK usah ribet hidup lo." Sahut Raka cuek.


Raka lega mendengar istrinya baik-baik saja, ia sudah hampir melompat tadi saat mendengar jika mobil yang ditumpangi Bianca menabrak.


"Gue tahu, temannya istri lo juga bilang bakal ganti rugi, jadi ya gue bawa deh nanti." Kata Ario.


"Ya udah, gampang kan tinggal bawa." Balas Raka.


Ario manggut-manggut, ia tentu akan membawa mobilnya dan menghubungi teman Bianca untuk minta pertanggungjawaban.


"Lo kesini cuma mau ngomong itu?" Tanya Raka mengangkat sebelah alisnya.


"Ya nggak, ada lagi. Ini soal Briana." Jawab Ario.


Mendengar nama yang Ario sebutkan, jari-jari tangan Raka yang sedang mengetik langsung terhenti begitu saja. Pria itu langsung menatap temannya dengan pandangan sulit diartikan.


BESOK UPDATE 2 BAB LAGI YAWW, BTW KALIAN UDAH LIHAT VISUAL MEREKA DI IG AKU BELUM???

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2