
Bianca rasanya ingin menghilang dari bumi sekarang juga. Ia beberapa kali mengacak-acak rambutnya lalu menatap dirinya di cermin.
Bianca teringat pada ciuman Raka tadi, dan sialnya ia malah membalas.
"Ya gimana gue nggak balas, orang enak gitu, eh …" celetuk Bianca lalu menutup mulutnya.
Sudah 15 menit berlalu sejak Bianca bangkit dari pangkuan Raka dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu tidak berniat untuk keluar sekarang.
Ia malu, bahkan sangat malu. Tadi Bianca begitu menikmati apa yang Raka lakukan padanya, dan percayalah bahwa Bianca tidak bisa menolak pesona suaminya.
"Tenang, Bia. Lagian lo ciuman sama suami lo sendiri, bukan sama suami orang." Ucap Bianca lagi pada dirinya sendiri.
Bianca mengatur nafasnya, ia menarik lalu membuangnya perlahan. Kedua tangan gadis itu mengikuti ritme pernafasan dengan tujuan agar perasaannya lebih tenang.
"Mas Raka juga kenapa sih main cium-cium, apa dia nggak tahu belakangan ini gue terpesona sama mukanya." Gerutu Bianca lagi.
Bianca mendengus, namun sesaat kemudian ia kembali fokus menatap diri di cermin. Tangan kanan gadis itu memegangi bibirnya, lalu terbentuklah seulas senyuman manis.
"Bibir gue katanya manis." Gumam Bianca kesenangan.
Asik tersenyum, Bianca tiba-tiba dikejutkan oleh panggilan dari suaminya, sekaligus ketukan di pintu kamar mandi.
"Bia, ayo makan dulu. Kamu ngapain di dalam?" tanya Raka dari luar kamar mandi.
Bianca segera keluar, ia memasang wajah kesal agar suaminya itu tidak tahu bahwa ia sedang salah tingkah akibat aksi kecup tadi.
Raka melempar senyum. "Kamu ngapain di dalam lama-lama, Sayang?" tanya Raka lembut.
"Kamu pikir orang di kamar mandi ngapain? Meeting? Ya aku … aku buang air kecil lah." Jawab Bianca ragu-ragu.
Raka terkekeh mendengar suara istrinya yang kembali ketus, tatapannya tanpa sadar kembali mengarah pada bibir mungil istrinya.
Bibir yang beberapa saat lalu ia nikmati, bibir yang terasa manis dan istimewa baginya.
"Kamu buang air kecil apa cuci mobil, lama banget." Celetuk Raka.
Bianca tidak menjawab, gadis itu melangkah mendekati sofa, lalu duduk di sana untuk mulai menikmati makanan nya.
Raka segera menyusul, ia duduk di sebelah Bianca dan membantu menyiapkan sarapannya.
"Hari ini kita nggak usah kemana-mana ya, Bia. Saya kurang enak badan," ucap Raka tanpa menatap istrinya.
Bianca menoleh, ia kecewa mendengar ucapan suaminya, namun mengingat kondisi Raka yang sedang tidak sehat, maka ia pun mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Kamu mau pergi?" tanya Raka tiba-tiba.
"Kalo aku jawab mau, kamu izinin?" Tanya Bianca balik.
"Nggak sih, aku cuma tanya. Nggak mungkin aku izinin kamu pergi sendiri," jawab Raka lalu menatap sang istri sambil tersenyum.
Bianca berdecak. Sudah tahu begitu, untuk apa Raka bertanya, buang-buang waktu saja.
"Nanti malam ya jalan-jalan nya, janji deh. Doain suami kamu ini makanya biar cepat sembuh." Kata Raka lembut.
Raka bisa tahu bahwa istrinya itu sedang ingin pergi ke suatu tempat, namun terpaksa di tahan karena kondisinya yang kurang sehat.
Raka bisa saja mengizinkan Bianca pergi sendiri, namun ia tidak rela jika nantinya Bianca di goda oleh laki-laki lain.
Bianca gadis cantik, sudah di pastikan banyak yang akan menyukainya.
"Bia, kamu nggak kecewa kan?" tanya Raka.
"Nggak, Mas, aku paham sama kondisi kamu," jawab Bianca seraya menggeleng sebentar.
Raka tersenyum senang, ia lantas mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut.
"Istri saya pengertian sekali, saya jadi makin cinta." Bisik Raka dengan mesra.
Selesai makan, Raka langsung naik ke atas tempat tidur. Pria itu kembali menggulung diri di bawah selimut dan tertidur.
Sementara Bianca, ia tidak bisa tidur sehingga memilih untuk menonton drama di ponselnya.
"Gue rela rewatch ini drama demi bisa lihat Songsong couple. Rindu rasanya, tapi udah punya kehidupan masing-masing sekarang." Celetuk Bianca semakin serius menonton nya.
Di tengah keasikannya menonton, Raka tiba-tiba terbatuk. Hal itu membuat Bianca langsung menghentikan video Drakor nya lalu meletakkan ponselnya itu di atas meja.
Bianca mengambil sebotol air mineral di atas meja lalu membangunkan Raka yang masih setia memejamkan matanya.
"Mas, bangun. Minum dulu," tutur Bianca.
Raka membuka mata, ia berusaha untuk tersenyum meski rasanya kurang nyaman akibat bibirnya yang kering.
Raka mengangkat sedikit tubuhnya demi bisa menenggak air minum yang di berikan oleh istrinya.
"Badan kamu tambah panas, Mas. Jangan di selimuti gini, nanti malah semakin panas." Ucap Bianca lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Raka.
Bianca meletakkan botol minum di meja, ia lalu meraih telepon untuk meminta layanan kamar membawa teh jahe, namun Raka mencegahnya.
__ADS_1
"Kamu mau apa, Bia?" tanya Raka.
"Saya nggak mau teh." Ucap Raka lagi dengan suara serak.
"Nggak mau gimana sih, kamu itu harus minum teh jahe, supaya suara kamu nggak serak gitu." Timpal Bianca sewot.
Raka tetap menggeleng. Pria itu lalu menepuk sisi ranjang di sebelahnya. "Sini deh." Pinta Raka.
Bianca meletakkan kembali gagang telepon yang tadi sudah ia pegang, lalu mendekati Raka dengan jarak yang masih cukup jauh.
"Sini, Bia. Saya nggak bakal gigit kamu," tutur Raka dengan lembut.
"Nggak ah, kamu mau ngapain emang minta dekat-dekat?" tanya Bianca menolak.
Raka tersenyum, karena Bianca menolak maka ia yang mendekati istrinya. Di saat jarak sudah terkikis, Raka langsung menenggelamkan kepalanya di dada Bianca.
"MAS!!" pekik Bianca terkejut.
Raka tidak menyahut, ia semakin menyandarkan kepalanya di dada sang istri dengan tangan yang melingkar erat di perut rata Bianca.
"Saya kedinginan, Bi. Tapi kamu malah nggak bolehin saya selimutan, jadi saya peluk kamu aja." Ucap Raka pelan.
Bianca mendengus, ia berusaha untuk menjauhkan tubuh Raka, namun tidak bisa.
"Sakit aja masih bisa ambil kesempatan." Batin Bianca.
Bianca akhirnya pasrah. Selain tenaga Raka yang tidak bisa ia tandingi, suhu tubuh dan cara bicara suaminya membuat ia tidak tega. Lagipula hanya dipeluk saja, tidak hal lain yang lebih panas dari suhu tubuh Raka.
Bianca menghela nafas, ia membenarkan posisi tubuhnya sendiri agar dia dan Raka sama-sama nyaman. Saat berhasil mengambil posisi nyaman, Bianca hendak mengambil ponselnya, tapi tangannya di pegang oleh Raka.
"Temani saya tidur, Bi. Jangan main hp terus, nanti sakit kamu." Ucap Raka dengan mata terpejam.
"Kamu yang lagi sakit, tapi malah nasehatin orang." Cibir Bianca, namun tetap nurut untuk tidak bermain ponsel.
Memeluk Raka seperti ini membuat Bianca menjadi ikut ngantuk, ia pun menguap bahkan sampai matanya berair.
Bianca akhirnya ikut terlelap, bahkan kedua tangannya tanpa sadar memegangi punggung dan kepala Raka yang masih asik bersandar padanya.
Akhirnya pasangan suami istri itu tidur sambil berpelukan. Posisi dimana selama ini belum pernah mereka lakukan, sebab biasanya Bianca akan menolak meski baru di sentuh tangannya saja.
Semua penolakan Bianca mulai berkurang, walaupun gadis itu belum memberikan tubuhnya sepenuhnya kepada sang suami.
Raka tetap senang, ia juga tidak akan memaksa istrinya. Asal bisa berdekatan, maka Raka akan sabar menunggu.
__ADS_1
Bersambung.............................