
Demi mengisi kebosanan Bianca, mama Wina mengajak menantunya itu untuk pergi ke mall. Ia berniat membelikan sesuatu Bianca sesuatu, padahal tadi ia sudah membelikan menantunya itu sebuah kalung.
Bianca pasrah saja diajak oleh ibu mertuanya, ia malah senang karena di rumah pun bosan tidak ada Raka.
"Kita cari baju ya." Ucap mama Wina.
Bianca tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Ma. Aku ikut kemana aja mama mengajak." Balas Bianca.
Mama Wina terkekeh, ia memegang tangan menantunya lalu menariknya masuk ke dalam toko pakaian.
"Kamu pilih yang manapun kamu mau ya, Nak." Tutur mama Wina lalu dirinya pergi untuk memilih pakaiannya sendiri.
Bianca menghela nafas, ia menatap jejeran pakaian di toko itu lalu mulai memilah-milah yang mana akan ia beli.
Saat Bianca masih memilih baju, ponsel pintar miliknya berdering. Ia melihat itu panggilan dari suaminya.
Ya, cukup cepat Raka sampai di Bali dengan pesawat.
"Halo, Sayang."
"Iya, Mas. Kamu sudah sampai?" Tanya Bianca.
"Sudah, saya sekarang sedang dijalan menuju ke hotel."
"Yaudah, nanti kamu istirahat saja. Kamu pasti capek kan," tutur Bianca penuh perhatian.
"Pengennya pulang, mau cuddle terus buka segel."
"MAS!!" Bianca menegur dengan suara yang sedikit tinggi, bahkan suaranya membuat orang yang ada di dekatnya melihat ke arahnya.
Raka tertawa di seberang sana. Jauh begini saja Raka masih bisa menggoda istrinya.
"Kamu dimana sih, kok kaya rame?"
"Aku di mall sama mama, mama mau beliin aku baju." Jawab Bianca, tangannya lanjut memilih pakaian.
"Wahh, enaknya. Saya disini bosan sekali, tidak ada kamu dan Kiano."
Kini giliran Bianca yang tertawa. "Sabar ya, Mas."
Bianca pun lanjut memilih pakaian sambil bicara dengan suaminya, namun karena Bianca harus mengepaskan baju, ia pun memutuskan panggilan dengan suaminya.
__ADS_1
"Bia, sudah?" tanya mama Wina menghampirinya.
"Ini, Ma. Belum aku coba, tapi kayaknya pas." Jawab Bianca menunjukkan pakaian yang sudah ia ambil.
"Nggak usah di coba, ambil saja dan langsung bayar nak." Ujar mama Wina lalu mengambil pakaian di tangan menantunya.
Bianca hendak mencegah, namun mama Wina sudah membawa pakaian itu ke kasir. Bianca akhirnya hanya bisa menunggu.
Untung saja ia tidak mengambil banyak baju, karena tidak enak jika harus mengambil baju banyak sementara ia di bayarin oleh mertuanya.
Tidak lama kemudian mama Wina datang dan langsung memberikan paper bag itu kepada Bianca.
"Mama mau beliin kamu sepatu, ayo." Ajak mama Wina.
Bianca menggeleng. "Nggak usah, Ma. Ini saja sudah cukup." Ucap Bianca tidak enak.
"Nggak apa-apa, Bi. Lagian sekali-kali mama belanjain kamu," sahut mama Wina tersenyum hangat.
Bianca membalas senyuman itu, ia beruntung memiliki mertua seperti mama Wina yang begitu menyayanginya.
"Makasih ya, Ma. Mama baik banget," ucap Bianca.
Mama Wina terkekeh. "Nggak perlu makasih, Nak. Kamu kan istri Raka, jadi anak mama juga." Tutur mama Wina lembut.
Saat mereka di depan toko sepatu, mama Wina tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hal itu tentu saja membuat Bianca bingung.
Bianca hendak bertanya, namun saat ia menatap wajah ibu mertuanya, ia malah melihat tatapan terkejut mama Wina ke arah lurus.
Bianca mengikuti arah pandang mama Wina, ternyata matanya menatap kepada seorang pria bersama wanita sedang memilih sepatu.
"Mama mengenal mereka?" tanya Bianca ragu-ragu.
Mama Wina tersadar. "Nggak, Bi. Mama nggak kenal, ayo cari toko lain." Ajak mama Wina.
Meskipun bingung, Bianca tetap mengangguk. Ia ikut melangkah saat mama Wina menarik tangannya untuk pergi.
"Tante Wina." Seseorang tiba-tiba memanggil, membuat langkah mama Wina dan Bianca terhenti.
Bianca menoleh ke arah mertuanya, ia lalu membalikkan badannya, begitupula dengan mama Wina.
"Hai, Tante Wina." Seorang pria mendekati Bianca dan mama Wina.
__ADS_1
Pria itu adalah pria yang tadi ada di toko sepatu dan diperhatikan oleh mama Wina. Bianca semakin bingung.
"Maaf, aku tidak mengenalmu." Ucap mama Wina dengan wajah yang terlihat kesal.
"Oh ya? Apa mungkin kau lupa dengan pria yang membawa kabur menantu mu?" tanya pria itu lagi.
"Tutup mulutmu." Sarkas mama Wina dengan emosi.
"Ma, dia ini siapa sebenarnya?" tanya Bianca yang benar-benar tidak mengerti.
Pria itu tiba-tiba menatap Bianca dengan penuh senyuman. Matanya menelisik penampilan Bianca dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Apa ini istri Raka yang baru, dan apa dia juga cinta pertama putramu?" tanya pria itu masih terus menatap Bianca.
"Diam kau, Juan." Ucap mama Wina dengan jari telunjuknya yang melayang di depan wajah pria bernama Juan itu.
Juan tertawa, ia tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Bianca, namun baru-baru di tepis oleh mama Wina.
"Jaga sikapmu, jangan berani kau menyentuh menantuku." Ucap mama Wina penuh penekanan.
Terdengar suara tawa dari pria itu, ia bahkan sampai bertepuk tangan seakan sedang sangat bahagia.
"Kenapa, Tante. Apa anda takut saya merebut milik putramu lagi?" tanya Juan dengan bangga.
Bianca yang tadi bingung kini akhirnya mengerti, pria di depannya ini adalah selingkuhan Yola saat wanita itu masih menjadi istri Raka.
"Tapi jika dilihat, dia lebih cantik dari Yola. Saya berkeinginan untuk merebutnya lagi, Tante." Ucap Juan dengan begitu percaya diri.
Mama Wina hendak bicara dengan emosi yang menggebu, namun Bianca buru-buru mencegahnya.
"Ma, kita pergi saja. Tidak ada gunanya meladeni pria sepertinya." Ajak Bianca seraya melempar tatapan sinis pada Juan.
"Dan kau? Jangan pernah berani menyamakan diriku dengan wanita itu. Aku wanita baik-baik, sampai kapanpun aku tidak akan mungkin meninggalkan suamiku." Ucap Bianca dengan yakin.
Usai mengatakan itu, Bianca pun menarik tangan mertuanya untuk menjauh dari pria itu. Benar-benar pria gila.
Sementara Juan, ia mendesis melihat istri Raka yang baru. Jutek, namun baginya sangat menantang untuk di rebut.
"Benar-benar wanita yang menarik. Kita lihat, apakah benar dia bisa setia dengan suaminya atau tidak." Gumam Juan disertai senyuman miring nya.
MAAF GUYS, AKU TELAT UPDATE🙃
__ADS_1
Bersambung............................