
Saat Bianca dan Raka bersiap untuk pulang, hujan turun dengan cukup deras. Pasangan itu akhirnya memutuskan untuk berteduh di minimarket yang ada di sekitar sana.
Hujan di sertai angin itu membuat Bianca kedinginan, padahal jelas dia sudah memakai hoodie.
Bianca mengusap-usap kedua bahunya demi mengahalau rasa dingin ia rasakan, apalagi di bagian kaki yang terkena cipratan air hujan.
Raka yang menyadari istrinya kedinginan, lantas membuka jaket yang juga di kenakan olehnya. Ia lalu menyampirkan jaket itu ke tubuh Bianca.
"Kenapa nggak bilang kalo dingin, Bi." Ucap Raka seraya membenarkan posisi jaketnya.
Bianca menatap suaminya, ia bertanya-tanya apakah pria itu tidak kedinginan sampai-sampai membuka jaket demi dia.
Bianca memperhatikan lamat-lamat wajah Raka. Pria itu bukan hanya tampan, tetapi memiliki pesona yang membuat ia selalu tidak bisa menolak.
"Mas, kamu nggak dingin?" Tanya Bianca.
Raka tersenyum. "Dingin, tapi istri saya lebih penting." Jawab Raka dengan lembut seperti biasanya.
Sekali lagi, Bianca dibuat tersentuh dengan sikap dan perlakuan pria itu. Mungkin sederhana menurut orang, tapi sangat istimewa bagi Bianca.
Bianca menggeleng, ia melepaskan jaket yang Raka sampirkan lalu membantunya untuk mengenakan kembali.
Kening Raka mengkerut, ia tidak tahu dan tidak mengerti kenapa Bianca kembali memakaikan jaket padanya.
"Kenapa di lepas?" tanya Raka.
Bianca mendongak demi bisa menatap wajah suaminya, ia melempar senyum kemudian menyusupkan kedua tangannya ke pinggang dan menjalar ke pinggir Raka.
Bianca memeluk suaminya.
"Gini aja, jadi aku sama kamu nggak kedinginan." Kata Bianca dengan senyuman di wajahnya.
Raka terkekeh, ia sangat bahagia menerima perlakuan ini dari istrinya. Malam ini Bianca benar-benar berbeda.
Raka lantas membalas pelukan istrinya, ia memberikan usapan lembut di punggung istrinya.
"Maaf ya, gara-gara saya nggak bawa jas hujan jadi gini. Tahu bakal kaya gini, mending kita naik mobil." Ucap Raka.
"Nggak apa-apa, Mas. Lagian kita jarang kaya gini," sahut Bianca lalu semakin mengeratkan pelukannya.
Sekitar 30 menit Bianca dan Raka berteduh di depan minimarket, akhirnya hujan sedikit reda. Pasangan suami istri itu pun segera pulang karena takut hujan kembali turun.
"Mas, aku ngantuk." Bisik Bianca seraya mengusap-usapkan wajahnya ke punggung Raka.
"Sebentar lagi sampai di rumah, tunggu ya cantik." Sahut Raka, tangannya memberikan usapan di punggung tangan Bianca yang melingkar di perutnya.
Tidak sampai 10 menit, Raka dan Bianca pun sampai di rumah mereka. Keduanya langsung masuk ke dalam rumah, dan membiarkan penjaga rumah yang memasukkan motor ke dalam garasi.
__ADS_1
"Sayang, ganti baju ya. Celana kamu kan basah, nanti masuk angin." Tutur Raka seraya menatap wajah istrinya.
Bianca mengangguk, ia mengambil daster berbahan satin dengan tali spaghetti untuk ia pakai malam ini.
Entahlah, Bianca hanya ingin memakainya saja. Tidak ada tujuan apapun.
Selesai Bianca, giliran Raka yang mengganti pakaiannya. Ia sengaja tidak melihat ke arah Bianca, sebab ia sadar baju model apa yang Bianca kenakan.
"Sabar, Ka." Gumam Raka mengusap-usap dadanya sendiri.
Raka masih harus bersabar untuk mendapatkan malam pertamanya. Lebih baik Bianca menerimanya dulu, bahkan jika bisa mencintainya dulu baru mereka melakukan hubungan. Rasanya pasti akan jauh lebih nikmat dan indah jika dilakukan atas dasar cinta, bukan sekedar tanggung jawab.
Raka keluar dari kamar mandi, ia mengusap wajah basahnya dengan handuk lalu melemparkannya begitu saja ke sofa.
Raka bisa melihat istrinya itu sudah berbaring di posisi membelakanginya, sehingga ia bisa melihat punggung putih Bianca yang mulus.
Raka tersenyum, ia lantas ikut naik ke atas ranjang karena jujur saja ia juga sudah mengantuk.
Raka berbaring, tidak lupa menarik selimut untuknya dan juga untuk Bianca sampai batas perut.
"Selamat malam, Bi." Ucap Raka lalu segera memejamkan matanya.
Raka yang sudah memejamkan matanya terkejut saat tiba-tiba merasakan pergerakan dari istrinya. Dan yang membuat ia lebih terkejut adalah, tangan gadis itu melingkar di perutnya.
"Bi." Tegur Raka dengan mata yang terbuka.
"Nggak boleh?" tanya Bianca dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.
Raka tersenyum hangat, ia mencium kening istrinya lalu menggeleng.
"Boleh dong." Jawab Raka lalu membalas pelukan istrinya.
Raka benar-benar melihat Bianca yang berbeda malam ini. Istrinya itu seperti memiliki kembaran, dan yang ini bukan Bianca istrinya.
"Dingin, Mas." Cicit Bianca semakin mendekatkan diri pada tubuh Raka.
"Lagian kenapa pakai baju gini kalo kamu dingin, Sayang?" tanya Raka membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Biar manjain mata kamu, Mas." Jawab Bianca, tidak ada keraguan dalam ucapannya sama sekali.
"Saya sangat termanjakan, terima kasih ya." Balas Raka lalu kembali mencium kening istrinya.
***
Keesokan harinya, Raka sudah bangun dan bersiap untuk pergi bekerja. Semalam tidur berpelukan dengan Bianca membuat paginya tampak cerah hari ini.
Raka mengancingkan kemeja kerjanya, lalu memakai jam tangan. Kini Raka hanya perlu memakai jas kerjanya saja.
__ADS_1
"Sini biar aku bantu." Bianca datang dan langsung memakaikan jas kepada suaminya.
Raka lagi-lagi dibuat tercengang oleh sikap Bianca. Benar-benar berbeda sejak semalam. Rasanya Raka ingin bertanya, namun ia takut menyinggung perasaannya.
"Aku udah buatin kamu kopi juga di bawah, Kiano juga sudah menunggu untuk sarapan." Ucap Bianca seraya merapikan posisi jas.
Raka hanya diam saja, ia menatap wajah cantik istrinya yang penuh senyuman. Rambut panjang yang digerai, dengan jepitan pita di belakang membuat gadis itu tampak menggemaskan.
Jangan lupa dress putih dengan panjang selutut yang membuat penampilan istrinya seperti seorang putri kerajaan.
"Kamu cantik banget, Bi." Puji Raka dengan jujur.
Bianca terkekeh. "Mas juga tampan." Balas Bianca tidak kalah jujur.
Bianca menjauh setelah merapikan jas suaminya, ia ingin mengambil tas kuliahnya yang sudah ia siapkan di atas sofa.
"Bi." Panggil Raka.
Bianca hanya berdehem sebagai sahutan, namun mata gadis itu melihat ke arah dalam tasnya.
"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung, tapi kenapa kamu berubah sejak semalam?" Tanya Raka dengan ragu-ragu.
Bianca menatap suaminya, ia melemparkan senyuman paling manis untuk sang suami.
"Aku kan pernah bilang untuk belajar terima kamu dan pernikahan ini, dan sekarang aku melakukannya, Mas." Jawab Bianca.
"Aku mau belajar untuk mencintai kamu, dengan membiasakan diri seperti pagi ini dan semalam. Aku nggak mau kamu terus berpikir bahwa aku ingin kembali ke masa lalu, karena itu semua nggak benar, Mas." Tambah Bianca.
Bianca mengambil tas kerja Raka lalu mendekati suaminya, ia memberikan tas itu dan di terima oleh Raka.
"Kamu sudah terlalu banyak menunjukkan usaha kamu, dan sekarang giliran aku membalasnya." Ucap Bianca disertai senyuman hangat.
Raka menjatuhkan tas kerjanya, lalu dengan gerakan cepat langsung menangkup dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
Bianca tersenyum di sela-sela ciuman suaminya, ia juga menjatuhkan tas kuliahnya dan mulai membalas pangutan bibir suaminya.
Raka senang, bahkan ia tidak mampu untuk menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
Raka terus memangut bibir istrinya, tidak peduli pada detik jam yang terus berjalan. Raka hanya ingin melampiaskan rasa senangnya saat ini.
Bibir Raka menjauh, kini tubuhnya beralih memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Terima kasih, Bi." Ucap Raka berbisik.
DAHLAH, AKU GAGAL MAU SELINGKUH SAMA MAS RAKA 😫
Bersambung.............................
__ADS_1