Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Lemah kandungan


__ADS_3

Bianca bangun pagi-pagi sekali karena sengaja ingin melakukan sesuatu. Ia keluar dari kamar ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Bianca tersenyum, lalu menerima plastik yang bik Jum berikan padanya sambil celingak-celinguk.


"Makasih banyak ya, Bik. Jangan kasih tahu siapa-siapa," bisik Bianca terkekeh.


"Siap, Nyonya." Balas Bik Jum memberikan ibu jarinya sebagai tanda bahwa ia paham.


Bianca pun kembali masuk ke dalam kamar, membawa plastik berisi alat tes kehamilan ke dalam kamar mandi.


Bianca sengaja meminta bik Jum yang membelinya semalam, sebab Raka tidak mau melepaskannya sama sekali.


Bianca ingin memeriksa apakah dia benar-benar hamil atau tidak, sebab Bianca tidak merasakan mual, hanya ingin sesuatu saja terus.


Satu lagi, Bianca tidak ingat kapan terakhir mendapat tamu bulanan.


Bianca duduk diatas kloset, menanti dengan sabar alat tes kehamilan itu. Jantung Bianca berdetak kencang, ia takut jika hasilnya akan mengecewakan.


"Ayo dong, kok lama sih." Gumam Bianca panik sendiri.


Bianca masih saja menunggu, dan akhirnya hasilnya pun keluar. Alat tes kehamilan yang berukuran kecil itu menunjukkan dua garis berwarna merah.


Bianca melongo, jantungnya semakin berpacu kencang. Bianca bukan anak kecil yang tidak tahu arti garis merah itu, ia sangat paham.


"G-gue hamil." Gumam Bianca lalu menundukkan kepalanya dan menatap perutnya sendiri.


Bianca memegangi perutnya, memberikan usapan lembut disana. Wanita itu menangis tergugu antara bahagia dan bimbang.


"Hiks … gue hamil, gue mau punya anak lagi." Lirih Bianca dengan tangisan.


Bianca bangkit dari duduknya, ia keluar dari kamar dan melihat suaminya masih pulas tidur setelah semalam mendapatkan jatah hariannya.


Bianca menunduk lagi, menatap perutnya yang rata.


"Semalam berarti kamu keguncang ya? Sabar ya, papi kamu emang gitu." Celetuk Bianca lalu menyeka air matanya.


Bianca kembali menatap suaminya, ia berjalan mendekati sang suami dengan decakan. Enak sekali Raka tidur usai membuatnya lelah semalam.


Kini hasilnya bukan hanya keringat, tapi baby dalam kandungannya. Astaga … Bianca masih tidak menyangka bahwa dia benar-benar hamil.


"Kayaknya gue harus ke rumah sakit deh, biar hasilnya lebih akurat." Gumam Bianca pelan.


Bianca manggut-manggut, ia akan meminta Intan mengantarnya ke rumah sakit.


Bianca memberikan usapan di wajah suaminya, ia jadi membayangkan akan setampan apa anaknya jika laki-laki nanti. Papinya saja tampan begini.


"Gumush banget suami aku, satu-satunya dan selamanya." Ungkap Bianca lalu mendekap erat tubuh suaminya.


Raka menggeliat, ia membuka tangannya lalu membalas pelukan sang istri.


"Selamat pagi, Sayang." Ucap Raka dengan mata terpejam.


Bianca menekuk wajahnya. "Mana ada orang mengucapkan selamat pagi dengan mata terpejam, tidak sopan." Balas Bianca sewot.


Raka terkekeh, ia membuka matanya dan menatap sang istri. Ia tangkup wajah cantik itu, lalu mencium kening istrinya.


"Selamat pagi, istriku sayang." Sapa Raka dengan suara yang serak khas bangun tidur.

__ADS_1


Tubuh Bianca berdesir, ia selalu merasa merinding setiap kali mendengar suara suaminya yang serak-serak basah. Begitu menggoda dan membuatnya seperti wanita gatal.


"Gatal sama suami nggak dosa." Begitulah kata Bianca.


"Kok diam aja?" Tanya Raka bingung.


"Kenapa nggak cium di bibir, kamu bosan sama bibir aku?" Tanya Bianca menekuk wajahnya.


Raka tersenyum tipis, ia melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 6 pagi.


"Setidaknya masih ada satu jam untuk kita bermain, Mami." Celetuk Raka melempar tatapan menggoda.


"Nggak!" Tolak Bianca buru-buru mendorong sang suami.


Bianca turun dari ranjang, ia mengambil pengharum ruangan lalu menyemprotkan nya sekali sebagai pencegahan agar Raka tidak mendekat.


Raka melongo, ia hendak berbicara sesuatu, namun tiba-tiba perutnya seperti di kocok. Aroma pengharum ruangan membuatnya mual.


Raka berlari masuk ke dalam kamar mandi, ia muntah-muntah di sana. Bianca lekas menyusul, ia membantu Raka dengan memijat tengkuknya.


"Mas, kamu nggak apa-apa?" Tanya Bianca merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Sayang." Jawab Raka lembut.


Raka membalik badan, menatap istrinya yang tampak sedih.


"Kenapa, hmm?" Tanya Raka penuh perhatian dan kelembutan.


"Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi mual-mual." Ucap Bianca pelan.


"Nggak dong, bukan salah kamu. Mungkin kondisi aku aja yang tiba-tiba mual," balas Raka menolak Bianca menyalahkan dirinya sendiri.


Bianca tersenyum, ia memang beruntung memiliki suami seperti Raka yang sangat pengertian, perhatian dan tidak pernah mau menyalahkan dirinya.


"Yaudah, kamu mandi ya. Aku siapin baju, setelah itu bangunin Kiano." Tutur Bianca pada suaminya.


"Kamu hari ini ada kelas?" Tanya Raka.


"Ada, Mas." Jawab Bianca.


Raka manggut-manggut, ia membiarkan istrinya itu keluar sementara dirinya mandi dan akan bersiap ke kantor.


***


Sepulang dari kampus, sesuai ucapan Bianca bahwa ia akan meminta bantuan sahabatnya itu untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit.


Kini mereka berdua sudah sampai di sana dan sedang berbicara pada bagian resepsionis.


"Berdasarkan keluhan, kami menyarankan anda untuk periksa diri ke poli kandungan ya, Mbak." Ucap suster itu lalu memberikan nomor antrian.


Intan tampak melongo mendengar penuturan suster. Poli kandungan?


"Heh, lo ke poli kandungan?" Tanya Intan bingung.


"Heumm … anterin gue dan temenin gue, jangan banyak tanya." Jawab Bianca menganggukkan kepalanya.


"Btw, gimana sama mobil mas Ario?" Tanya Bianca.

__ADS_1


Intan yang tadi memasang bingung berubah menjadi kesal, dan emosi. Kedua tangannya bahkan sampai mengepal.


"Nggak gimana-gimana, yang jelas gue kesel sama tuh laki-laki." Jawab Intan berapi-api.


"Kenapa?" Tanya Bianca tanpa menatap sahabatnya.


"Dia itu ngerendahin gue, dan lo tahu nggak. Total tagihan nya sampai belasan juta, gila nggak!" Jawab Intan dengan nada emosi.


Bianca menatap sahabatnya, ia menarik tangan Intan untuk duduk sambil menunggu antriannya.


"Kok bisa, kan cuma body nya yang lecet?" Tanya Bianca semakin bingung.


"Ya dia servis yang lainnya. Walaupun gue nggak bayar sepeserpun, tapi gue nggak terima sama omongan dia." Jawab Intan malu-malu karena dia tidak mengeluarkan uang sama sekali.


Bianca mendengus. "Udah tahu nggak bayar sama sekali, terus kenapa lo malah kesel?" Tanya Bianca.


"Ya kesel aja, gue di suruh bolak-balik tapi akhirnya dia juga yang bayar. Gue dikerjain!" Jawab Intan sewot.


Bianca terkekeh. "Yaudah nggak apa-apa, yang penting lo nggak disuruh bayar." Sahut Bianca.


"Dan lagi, jangan terlalu emosi nanti suka." Tambah Bianca meledek.


Intan mendengus, ia tidak mungkin suka pada pria jutek, dingin dan suka mengerjai orang.


Bersamaan dengan usainya obrolan mereka, Bianca pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter untuk di periksa.


Ada rasa takut yang hinggap dalam hati wanita itu, takut jika hasilnya kurang memuaskan.


Bianca berbaring pasrah di atas brankar dan membiarkan dokter menjalani tugasnya.


"Bi, lo bunting?" Tanya Intan memakai bahasa sehari-hari sebagai suku Betawi.


Bianca menggelengkan kepalanya. "Belum tahu," jawab Bianca.


Usai di periksa, Bianca dan Intan pun duduk berhadapan dengan dokter yang memasang wajah penuh senyuman.


"Selamat ya, Nyonya Bianca. Anda sedang hamil, dan usianya menginjak minggu keenam." Ucap dokter.


Bianca terharu mendengarnya, ia sampai meneteskan air matanya karena ternyata ia benar-benar sedang hamil.


"Namun, Nyonya. Saya harus sampaikan ini, kandungan anda lemah, jadi mohon dijaga dengan baik ya. Asupan makan, dan istirahat yang cukup. Jangan mudah stress." Kata dokter menjelaskan.


"Kandungan saya lemah?" Tanya Bianca membeo.


"Benar." Jawab dokter.


"Lakukan cek up kandungan rutin bersama suami nyonya ya, agar saya bisa bicara juga dengan beliau." Tambah dokter.


Bianca hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mendengar kabar bahwa kandungannya lemah malah membuat Bianca semakin takut, ia takut tidak bisa menjaga bayinya.


"Jangan terlalu mikirin, Bi. Lo nggak sendiri, ada suami lo." Ucap Intan yang mengerti raut wajah sahabatnya.


Bianca tersenyum tipis, apa yang Intan katakan benar. Dia punya Raka, suaminya.


MBAK BIA, DAN MAS RAKA CONGRATS✨


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2