
Hari ini Bianca akan belanja bulanan bersama pelayan rumah. Raka tidak ikut, sebab ia harus melakukan pertemuan mendadak dengan Ario dan beberapa partner bisnisnya. Kiano ikut bersama papinya, dan akan menjemput Bianca setelahnya nanti.
"Bik Jum, tolong pilih ikan sama dagingnya ya. Aku mau cari buah-buahan sebentar." Tutur Bianca pada asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya." Balas Bik Jum.
Bianca pun beranjak, ia melangkahkan kakinya mendekati area buah-buahan. Bianca mengambil plastik untuk menempatkan buah-buahan yang akan ia beli.
Bianca mengambil buah yang sudah biasa ada di rumahnya. Beberapa bulan menjadi istri Raka, ia bisa tahu apa saja kesukaan anak dan suaminya itu.
"Hai, Bianca." Sapa seseorang.
Bianca yang sedang mengambil apel lantas menoleh, kening yang tadi mengkerut bingung berubah menjadi wajah biasa saja saat tahu siapa yang memanggilnya.
"Bianca, aku Briana. Kau lupa?" tanya Briana menunjuk dirinya sendiri.
Bianca tidak lupa, ia hanya malas saja berurusan dengan masa lalu suaminya. Mungkin Briana tidak reseh seperti Yola, tapi ia tetap tidak mau berurusan.
"Iya." Balas Bianca singkat.
Briana tersenyum, kepalanya menoleh kanan kiri seakan sedang mencari seseorang.
"Kau pergi sendiri? Dimana Raka dan anakmu?" tanya Briana lagi.
Bianca menghela nafas. "Mereka tidak ikut, lagipula kenapa anda mencari suami dan anak saya?" tanya Bianca menyipitkan.
"Ahh tidak, aku hanya bertanya saja." Jawab Briana tersenyum manis.
"Aku tahu, pasti Raka sibuk. Saat kami pacaran dulu saja, dia selalu sibuk dengan urusannya. Kau tahu, Raka itu benar-benar hebat. Dia bisa kuliah dan bekerja secara bersamaan." Ucap Briana lagi.
Bianca mengangguk singkat, ia lanjut memilih buah dan membiarkan mantan kekasih suaminya itu bicara.
"Tapi saat kami pacaran, Raka selalu bisa menyempatkan diri untuk mengantarku ke salon. Apa sekarang dia berubah, maksudku dia tidak bisa mengantarmu?" tanya Briana.
Nada bicaranya biasa saja, namun Bianca bisa merasakan bahwa wanita di sebelahnya seperti sedang memanasi dirinya.
"Kenapa kau diam saja? Aku tahu kau pasti sedikit malu aku mengatakan ini. Tapi Raka jahat sekali, dia membiarkan istrinya pergi sendirian." Tambah Briana seakan sedang pamer hubungan yang sudah kandas sejak lama itu.
Bianca membuang nafasnya kasar, ia memasukkan apel yang sudah ia pilih ke dalam plastik sebelum ia bayar.
Bianca menatap Briana yang masih menunggu reaksinya usai pamer hubungan masa lalu dengan Raka.
Bianca tersenyum. "Anda salah, suami saya tidak jahat bahkan dia baik sekali. Jika saja saya mengizinkan, mungkin dia akan selalu mengikuti saya. Tapi saya tidak terlalu suka mengumbar kemesraan." Ucap Bianca lembut, namun berhasil membuat wajah Briana mengeras.
Bianca hendak pergi, namun ia berhenti dan kembali menatap wanita itu.
__ADS_1
"Saya malu mengatakan ini, tapi mas Raka itu selalu romantis. Jangankan ke supermarket, bahkan dia selalu mengikuti saya ke kamar mandi, dan mungkin anda tahu apa yang terjadi setelahnya." Tambah Bianca tersenyum malu-malu.
Wajah Briana benar-benar merah padam, ia menatap Bianca yang masih tersenyum lalu meninggalkan dirinya yang sedang kesal.
"Menyebalkan!!" Gerutu Briana menggenggam troli belanjanya dengan penuh kekesalan.
Sementara Bianca, wanita itu pun tidak berhenti menggerutu. Ia benar-benar geram, ternyata Briana lebih menyebalkan dari Yola.
"Raka jahat sekali sampai membiarkan istrinya pergi sendiri." Oceh Bianca mengulangi ucapan Briana tadi dengan wajah yang dibuat-buat.
"Halah! Dasar perempuan iblis. Wajahnya saja penuh senyuman, tapi mulutnya panas sekali seperti kompor." Tambah Bianca kesal.
Bianca mendekati bik Jum, ia meletakkan buah-buahan yang ia bawa di dalam troli lalu memeriksa barang apa yang masih kurang.
"Nyonya, sepertinya sudah semua." Ucap bik Jum.
"Kebutuhan para pekerja juga sudah, Bik?" tanya Bianca memeriksa troli satunya.
"Sudah, Nyonya." Jawab bik Jum.
Bianca mengangguk, mereka pun lekas membayar. Saat mereka menuju kasir, Bianca kembali berpapasan dengan Briana.
Wanita itu menatap Bianca dengan tatapan sinis, dan di balas Bianca tidak kalah sinis bahkan di bonusi senyuman sinis dari nyonya Raka Dewangga.
"Mas Raka." Panggil Bianca saat melihat suami dan anaknya baru keluar dari mobil yang terparkir di depan lobby.
Raka tersenyum, ia lalu mengajak Kiano untuk mendekati mami Bia.
Matahari saat itu benar-benar mentereng, ditambah lagi dengan penampilan Raka yang memakai celana bahan hitam, serta kemeja putih tanpa dasi dengan dua kancing atas yang terbuka.
"Hot Daddy gue!!!" Batin Bianca berteriak sambil senyum-senyum sendiri.
Bianca benar-benar terpesona pada suaminya, bukan hanya hari ini tapi setiap hari.
"Hai, Sayang." Sapa Raka dan langsung menghadiahi kecupan di kening istrinya.
Bianca tersenyum, ia menunduk dan gantian mencium Kiano.
"Bagaimana hari ini dengan papi?" tanya Bianca.
"Tidak seru, papi dan om Ario hanya bicara saja. Aku diam saja, lebih baik tadi aku ikut mami." Jawab Kiano dengan jujur.
Bianca tertawa, begitupula dengan Raka yang membantu bik Jum untuk mendorong troli sampai ke dekat mobil.
"Dikasih makan nggak anak aku?" tanya Bianca penuh kecurigaan.
__ADS_1
"Dikasih dong, Sayang. Masa iya nggak, aku bisa diamuk maminya." Jawab Raka.
Kiano masuk duluan ke dalam mobil, sementara Bianca dan Raka membantu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil.
"Panas banget, ayo masuk dan pulang." Ajak Bianca dengan tatapan menyipit karena silau matahari.
Bik Jum duduk di kursi belakang bersama Kiano, dan tentu saja Bianca di sebelah suaminya.
Sebelum Bianca masuk, matanya menangkap sosok Briana yang entah sejak kapan disana. Yang jelas, wanita itu sepertinya melihat dia dijemput oleh Raka.
"Sukurin lo, sok banget pamer sama gue." Ketus Bianca lalu segera masuk ke dalam mobil.
Setelah Bianca masuk, Raka pun lekas mengemudikan mobilnya meninggalkan area parkiran supermarket.
"Gimana sama urusan kamu tadi? Udah beres?" tanya Bianca.
"Sudah, Sayang. Hanya sedikit masalah saja, dan ternyata kesalahpahaman." Jawab Raka bercerita tidak terlalu detail.
"Makan dulu yuk, aku laper." Ajak Bianca tiba-tiba, tangannya mengusap-usap perutnya sendiri.
"Kamu mau makan apa?" tanya Raka lembut.
"Mau makan bakso, Mas. Yang dipinggir jalan itu, pokoknya aku mau makanan pedas." Jawab Bianca.
Raka manggut-manggut, ia lalu menatap asisten rumah tangganya dari kaca tengah mobil.
"Bik Jum, kita makan dulu ya. Capek kan tadi diajak Bianca keliling supermarket jadi kita makan dulu." Ucap Raka.
"Baik, Tuan. Bibik ikut saja," balas Bik Jum.
Bianca memegang tangan suaminya, seperti sebuah colekan singkat.
"Kenapa, Sayang?" tanya Raka.
"Aku tadi ketemu mantan kamu, pokoknya aku kesal sama kamu." Jawab Bianca sewot.
Raka mengerutkan keningnya, ada apa ini. Istrinya tiba-tiba berubah dan marah padanya, padahal tadi masih baik-baik saja.
"Pokoknya ini salah kamu, aku ketemu si Briana itu di supermarket salah kamu." Ketus Bianca seraya melipat tangannya di dada.
Raka hanya bisa menghela nafas, seperti biasa ia akan mengajak istrinya bicara di rumah dengan tenang nanti.
MBAK BIA ITU .....
Bersambung.........................
__ADS_1