
Raka kembali ke kamarnya saat jam menunjukkan pukul 5 sore. Raka tidak menemukan istrinya di kamar, namun ia mendengar canda tawa dari arah balkon.
Raka melangkah mendekati balkon kamar, sehingga kini ia bisa melihat Kiano sedang bermain bersama Bianca.
"Ayo lempar bolanya ke mami." Ucap Bianca dengan penuh senyuman.
Kiano pun terlihat tersenyum kepada Bianca, tangannya melempar bola yang langsung ditangkap oleh Bianca.
"Nah, sekarang bolanya tendang lalu masukkan ke dalam gawang. Oke?" tutur Bianca memberitahu.
Kiano mengangguk semangat. "Oke, Mami!!" jawab Kiano riang.
Bianca tersenyum manis, ia pun meletakkan bola di depan kaki putranya untuk di tendang.
Kiano lekas menendangnya sampai bola itu masuk tepat sasaran ke dalam gawang.
"Yeayyy!!!" Teriak Bianca dan Kiano bersamaan.
Kiano berlari mendekati Bianca, lalu memeluknya sambil terus tertawa riang.
"Papi!!" Kiano tiba-tiba memanggil saat bocah itu mendongak dan menemukan papinya di balkon.
Mendengar ucapan Kiano, lantas Bianca mendongakkan kepalanya. Ia melihat Raka saat ini sedang memperhatikan Kiano dan mungkin dirinya.
"Papi, ayo main." Ajak Kiano melambai-lambaikan tangannya.
Raka tersenyum pada putranya. "Papi masih ada pekerjaan, Nak. Kamu main dulu ya," balas Raka lembut.
Raka menatap Bianca sebentar, ia bisa merasakan bahwa Bianca terus menatapnya dan berharap untuk ia sapa riang seperti biasa.
Namun Raka hanya menatap sekilas, sebelum dirinya masuk ke dalam kamar. Raka memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih diri.
Bianca terlihat sedih, ia menundukkan kepalanya demi menyembunyikan air matanya yang sudah hampir menetes.
Bianca hendak mengajak Kiano main lagi, tapi tiba-tiba ada mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Dua orang dalam mobil itu keluar dan langsung melempar senyuman pada Kiano dan Bianca.
"Oma, Opa!!!" teriak Kiano langsung berlari memeluk kakek dan neneknya.
Bianca melakukan hal yang sama. Ia berjalan mendekati mertuanya, lalu mencium punggung tangannya bergantian.
"Ma, Pa." Sapa Bianca sopan.
__ADS_1
"Bagaimana liburannya kemarin, Nak?" tanya papa Farhan penuh senyuman.
"Menyenangkan, Pa." Jawab Bianca jujur.
Bianca mendekati ibu mertuanya lalu memeluknya saat mama Vena membuka tangan, seakan memberi kode kepada Bianca agar memeluknya.
"Mama senang jika liburan kalian lancar, Nak." Bisik mama Vena lembut.
Mama Vena lalu melepaskan pelukan di tubuh menantunya. "Raka dimana?" Tanya mama Vena.
"Di dalam, Ma." Jawab Bianca menunjuk ke arah dalam rumah.
"Yaudah, yuk masuk. Ada yang ingin mama dan papa katakan," ajak mama Vena.
Bianca menurut saja, ia mengekor di belakang mertuanya yang jalan duluan ke dalam rumah.
Sampai di dalam Bianca memutuskan untuk langsung ke dapur, ia akan membuatkan mertuanya minum.
Saat Bianca sampai di dapur, ia cukup kaget melihat suaminya ada di sana sedang menikmati sekaleng minuman bersoda.
"Mas, kamu belum makan. Jangan minum soda terlalu banyak." Ucap Bianca penuh perhatian.
Raka yang hendak menghabiskan setengah isi minuman soda itu langsung terhenti. Ia meletakkan kaleng minuman di meja dan ganti meminum air putih.
"Boleh, kopi." Jawab Raka tersenyum tipis.
Bianca membalas senyuman itu dengan manis, ia menganggukkan kepalanya lalu segera menyiapkan minuman untuk suami dan mertuanya.
Raka menghela nafas pelan, ia menatap tubuh Bianca yang kini sedang membuatkan minum, lalu pergi begitu saja.
"Kenapa sulit sekali untuk marah sama kamu, Bi." Batin Raka.
Raka memutuskan untuk pergi ke ruang tamu dan menemui kedua orang tuanya. Ia memberikan sapaan sopan, lalu duduk di depan keduanya.
"Kamu pulang jam berapa, Ka?" tanya papa Farhan.
"Siang, Pa. Tadi ada urusan di rumah, jadi aku pulang." Jawab Raka jujur.
Papa Farhan manggut-manggut. "Pantas saja, papa tadi ke kantor dan kamu tidak ada." Ucap papa Farhan.
Raka tidak membalas, ia menoleh menatap Kiano yang asik dengan mainannya.
"Kiano, suka tadi main sama mami?" Tanya Raka lembut.
__ADS_1
"Pertanyaan apa itu, Ka. Sudah pasti suka, Bianca kan maminya." Bukan Kiano yang menjawab, melainkan mama Vena.
Raka menatap sang mama, ia hanya menghela nafas dan tidak bicara lagi.
Tidak lama kemudian Bianca datang membawa tiga gelas minuman. Kopi, jus dan teh.
"Ma, Pa. Ini minumnya," tutur Bianca sopan.
"Ya ampun, kenapa kamu yang siapain. Mama bisa minta sama art," ujar mama Vena seraya mengusap kepala menantunya.
Bianca hanya tersenyum, ia lalu duduk di sebelah Raka yang masih diam.
"Mas, kopinya." Tutur Bianca.
Raka lekas mengambil kopi buatan istrinya, lalu meminumnya perlahan karena panas.
"Jadi, sudah proses membuat adik untuk Kiano?" tanya papa Farhan langsung tembak.
Raka yang sedang minum kopi langsung tersedak, bahkan tangannya tanpa sengaja menjatuhkan gelas berisi kopi panas itu.
"Awww …" Bianca meringis pelan saat kopi yang Raka jatuhkan tersiram ke kakinya.
"Astaga, Sayang." Raka buru-buru berlutut di depan istrinya dan mengelap kaki Bianca dengan tisu.
"Sakit banget ya?" tanya Raka mendongakkan kepalanya.
Bianca hanya diam, ia malah memperhatikan suaminya yang terlihat begitu khawatir hanya karena dirinya tersiram kopi.
Bianca terkejut saat Raka tiba-tiba menggendongnya. "Mas!" pekik Bianca.
"Saya obati kaki kamu di kamar ya." Ucap Raka lalu menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.
Bianca melongo, namun ia tidak menolak sama sekali. Bianca justru tersenyum menerima perlakuan ini.
Raka yang sedang marah dan ngambek, nyatanya tetap peduli padanya.
"Mas, kamu udah nggak marah?" tanya Bianca pelan.
"Memang kapan saya marah sama kamu?" tanya Raka balik.
PENGEN LIHAT MEREKA UNBOXING NGGAK SIH??
Bersambung........................................
__ADS_1