
"Istri gue marah, dia nggak mau ngomong apalagi gue pegang." Ucap Raka dengan wajah yang lesuh.
Ario menahan tawa melihat wajah penuh penderitaan sahabatnya. Raka yang selalu tegas dan dingin di kantor, kini malah merengek karena dicuekin istrinya.
Raka menyadari sahabatnya yang sedang menahan tawa, ia lekas melemparkan gulungan tisu yang ia buat dengan kesal.
Sengaja Raka mengajak Ario makan siang bersama agar bisa curhat, tetapi sahabatnya itu malah menertawakannya.
"Sialann lo, sahabat lagi sedih malah ketawa." Cibir Raka dengan perasaan kesal.
Ario tidak bisa lagi menahan tawanya, ia bahkan sampai memegangi perutnya karena lucu dengan reaksi sahabatnya.
"Sensian banget lo, kayak cewek lagi halangan." Cibir Ario lalu menghentikan tawanya.
"Lagian lo ngapain larang Kiano ini itu, udah tahu Bianca sayang banget sama anak lo. Dan lagi, lo sama aja curiga ke Kiano, lo seakan takut anak lo bikin bayinya Bianca celaka. Lo salah, Ka." Kata Ario lagi, kali ini ucapannya benar dan tidak melenceng kemana-mana.
Raka terdiam, ia semakin sadar pada kesalahannya. Melarang Kiano ini itu, mengingatnya saja membuat Raka kembali diterpa rasa bersalah.
"Padahal gue nggak mikir gitu, gue cuma takut Kiano yang lagi aktif malah bikin perut maminya ke tendang, atau bahkan ke sikut." Sahut Raka pelan.
"Sama aja salah." Cicit Ario mendengus pelan.
"Terus gue harus gimana dong supaya istri gue nggak marah?" Tanya Raka memelas.
Ario berpikir solusi atas masalah yang Raka alami saat ini. Meski belum menikah, tetapi ia sudah sedikit mempelajari cara meluluhkan hati perempuan dengan belajar dari buku setebal kamus bahasa Jerman.
"Begini–" Ario hendak bicara dan memberikan solusi, namun perkataannya terhenti saat ada dua orang wanita menghampiri meja mereka.
"Permisi, Mas. Kita boleh nggak duduk di sini dan minta foto sama kalian." Ucap salah satu dari wanita itu.
Raka hanya diam saja, ia tidak berniat untuk menjawab. Ia masih pusing memikirkan cara meluluhkan hati istrinya.
"Untuk apa? Kami bukan artis." Kata Ario bingung dan risih.
"Sebenarnya kami kalah dalam permainan bersama teman-teman kami, dan kami diberikan tantangan untuk foto bersama kalian." Jelas wanita lainnya seraya menunjuk ke arah teman-temannya di meja lain.
Ario menatap arah yang ditunjuk oleh wanita itu, dan memang benar. Ada sekitar empat orang duduk di sana, dua laki-laki dan sisanya perempuan.
"Hanya foto kan?" Tanya Ario memastikan.
"Iya, boleh ya mas?" Pinta wanita itu.
Ario menatap Raka, namun Raka hanya mengangkat bahunya singkat. Pria itu tiba-tiba terkejut melihat tangannya di pegang.
"Jaga tangan anda, Mbak. Istri saya lihat, anda bisa di cakar." Tegur Raka dengan suara yang begitu dingin.
Wanita itu langsung tersenyum canggung dan lekas menjauhkan tangannya. Sementara wanita yang satu lagi sudah mengarahkan kamera untuk memotret mereka berempat.
"Dan setelah itu Kiano datang, kemudian aku baru tahu ada kamu." Ucap Raka dengan jujur.
"Sayang, aku beneran nggak selingkuh. Jangan pulang ke rumah mama ya, aku nggak bisa kalo tidur nggak peluk kamu." Pinta Raka memohon.
Bianca hanya diam menonton drama kesukaannya sambil menikmati potongan buah apel. Membiarkan suaminya terus merengek minta maaf.
"Mami, aku harus mengerjakan tugas sekolah. Apa mami bisa membantuku?" Tanya Kiano.
Bocah itu menghampiri maminya dan menatap papinya yang sedang merengek dengan bingung.
Sementara Bianca lekas mematikan drama tontonan nya. "Sini, Sayang." Ucap Bianca menepuk sofa di sebelahnya.
"Ada apa dengan papi?" Tanya Kiano polos.
"Nanti aja ngobrol nya, sini belajar dulu sama mami." Sahut Bianca lembut.
Kiano pun nurut saja, bocah itu duduk di sebelah maminya dan menunjuk pekerjaan rumahnya yang belum ia kerjakan.
__ADS_1
"Oh, ini namanya pertambahan dan pengurangan, Sayang." Ucap Bianca.
"Maksudnya bagaimana, Mami?" Tanya Kiano, menatap maminya bingung.
Bianca mengambil potongan apel yang ada di dalam piring, lalu menunjukkan pada Kiano.
"Mami punya lima potong apel, jika di kurangi tiga …" Bianca memisahkan tiga buah potong apel kemudian kembali menunjukkan pada putranya.
"Nah, sekarang coba kamu hitung." Tutur Bianca.
"Satu, dua. Dua, Mami." Ucap Kiano.
Bianca bertepuk tangan, memberikan apresiasi sederhana, namun tidak semua orang tua bisa melakukannya.
"Anak mami pintar!!" Puji Bianca, lalu mencium kedua pipi Kiano.
Raka hanya bisa mengusap dadanya sabar. Ia yang merengek minta maaf, tapi Kiano yang dapat ciuman.
"Sekarang pertambahan. Hanya di balik saja," ucap Bianca, lalu mengajari Kiano dengan begitu telaten.
"Satu, dua, tiga. Jawabannya tiga, Mami!!" Jawab Kiano penuh semangat.
"Yeay, pintar!!! Tulis nama yang mami suruh sudah selesai?" Tanya Bianca lembut.
Ya, saat ini Bianca pun proses mengajari Kiano belajar membaca dan menulis. Bianca tahu, Kiano mendapatkannya di sekolah, namun ia pun harus tetap mengajarinya di rumah.
"Sudah!" Jawab Kiano, lalu berlari mengambil buku miliknya yang lain.
Kiano kembali, ia memberikan buku tersebut dan menunjukkan hasil tulisannya.
Bianca melihatnya, ia tersenyum melihat perjuangan putranya menulis nama. Meski masih amburadul, tapi tetap bisa di baca.
"Anak papi makin pintar ya, berkat kerja keras mami juga nih." Puji Raka lalu mengusap-usap kepala putranya.
"Papi juga sayang mami." Raka ikut memeluk istrinya dari samping.
Bianca tersenyum tipis, ia membiarkan tubuhnya di peluk oleh kedua anaknya. Yang satu anak pintar, dan satu lagi anak manja.
"Sudah mengerti cara menghitung nya, Sayang?" Tanya Bianca.
"Sedikit." Jawab Kiano malu-malu.
Bianca terkekeh, ia menunduk dan kembali mencium wajah Kiano.
"Tidak apa-apa, besok kita belajar lagi. Ini sudah malam, jadi ayo tidur." Ajak Bianca seraya merapikan buku-buku Kiano.
"Minggir kamu, Mas. Aku mau tidur di kamar Kiano, jangan susulin aku." Pinta Bianca tanpa menatap suaminya.
"Sayang, kemarin udah tidur di kamar Kiano, masa di sana lagi." Ucap Raka menekuk wajahnya.
"Aku tidur di kamar Kiani atau aku pulang ke rumah mama?!" Tanya Bianca mengancam.
Raka gelagapan. "Iya-iya di kamar Kiano." Jawab Raka pasrah.
Bianca menahan tawanya, namun sesaat kemudian ia memasang wajah datar dan langsung pergi meninggalkan suaminya seorang diri.
Raka menatap kepergian istrinya sambil mengusap-usap dada. Ternyata memang butuh 1001 cara untuk meluluhkan hati seorang wanita.
"Tidur sendiri lagi deh, nasib-nasib …" gumam Raka geleng-geleng kepala.
***
Hari semakin malam, dan Bianca terbangun karena merasa haus. Ia tidak menemukan air di sana, Bianca lupa membawa air ke kamar putranya.
Bianca menoleh, melihat anaknya sudah begitu pulas dalam tidurnya. Bianca turun dari ranjang, ia sempat melirik jam yang menunjukkan pukul 1 malam.
__ADS_1
Bianca keluar dari kamar putranya. Ketika melewati kamarnya bersama Raka, Bianca sempat berhenti, ia melongok ke dalam dan tidak menemukan siapapun.
"Lho, mas Raka kemana." Gumam Bianca bertanya-tanya.
Bianca celingak-celinguk, wanita itu lekas turun ke lantai satu. Hendak pergi ke dapur, namun terhenti ketika pintu depan sedikit terbuka.
"Pintu lupa di kunci atau gimana sih." Ucap Bianca lalu lekas mendekati pintu.
Bianca hendak menutup pintu utama, namun terhenti ketika mendengar suara suaminya yang sedang tertawa.
Bianca lantas mengintip, ia melihat Raka sedang duduk bersama satpam sambil menikmati segelas kopi.
Bianca menghela nafas, wanita cantik itu keluar dan langsung menghampiri suaminya.
"Eh sayang, kok bangun?" Tanya Raka segera bangkit dari duduknya.
"Malam, Nyonya." Sapa satpam itu dengan sopan, dan Bianca membalasnya dengan senyuman ramah.
Setelah satpam itu masuk ke dalam pos, Bianca langsung menatap suaminya yang cengar-cengir seperti kuda.
"Ngapain kamu, bukannya tidur malah duduk disini." Ketus Bianca sambil melipat tangannya di dada.
"Aku nggak bisa tidur, Sayang. Biasanya kan dipeluk kamu, tapi kamu malah tidur sama Kiano." Balas Raka menjelaskan.
"Terus saja terus kamu, salahin terus anak kamu." Ucap Bianca semakin kesal.
Raka menghela nafas, jawab saja salah, apalagi tidak jawab. Memang ya, laki-laki itu selalu salah.
"Aku nggak salahin Kiano kok, aku kan cuma jawab pertanyaan kamu." Jelas Raka dengan wajah melas nya.
"Bagus, terus jawab. Dibilangin sama istri jangan bergadang, tapi tetap saja ngeyel." Ketus Bianca lalu masuk ke dalam rumah.
Raka semakin panik, ia buru-buru masuk dan mengejar istrinya. Raka memeluk Bianca dari belakang, mencegah gadis itu melangkah pergi.
"Sayang, udahan dong marahnya. Aku nggak bisa tidur dan nggak bisa fokus karena kamu marah. Aku minta maaf, Sayang." Bisik Raka di telinga istrinya.
Bianca diam saja sambil tetap membiarkan Raka memeluk tubuhnya. Pelukan tubuh Raka memang selalu hangat dan membuat nyaman.
"Sayang …." Panggil Raka manja.
Bianca melepaskan pelukan suaminya, ia membalik badan sehingga kini ia berhadapan dengan suaminya.
"Janji nggak jangan gitu lagi sama Kiano, apalagi sampai dekat-dekat perempuan lain." Ucap Bianca.
"Janji, Sayang. Aku janji nggak akan larang Kiano ini itu selama baik, dan aku nggak akan dekat perempuan manapun lagi." Balas Raka dengan penuh semangat.
Bianca mendengus. "Yaudah, sini peluk." Tutur Bianca membuka kedua tangannya.
Raka langsung full senyum, ia mendekati sang istri dan mendekapnya erat. Raka rindu sekali dengan ini, ia rindu berada dalam dekapan hangat istrinya.
"Sayang, makasih udah maafin aku. Aku akan berusaha untuk nggak mengecewakan kamu lagi." Bisik Raka.
"Iya, Mas." Balas Bianca singkat, sambil memberikan usapan lembut di punggung suaminya.
Raka melepaskan pelukannya. "Tidur sama aku ya?" Pinta Raka.
"Iya, ayo." Jawab Bianca mengangguk nurut.
Raka bersorak kegirangan, ia lekas menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mereka.
Raka rebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, lalu disusul dengannya. Akhirnya setelah kemarin tidur sendiri, malam ini ia bisa kembali tidur sambil memeluk istrinya.
JIAHHH, YANG UDAH DIMAAFIN MAH FULL SENYUM 🤣
Bersambung.............................
__ADS_1