Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kiano siuman


__ADS_3

Semua orang merasa bahagia mendengar Kiano yang sudah sadarkan diri, terutama Bianca. Wanita itu bahkan sampai berlari dari ruang rawatnya untuk menemui putranya.


Bianca menciumi seluruh wajah Kiano dengan tangisan tidak bisa di cegah. Dalam dekapannya, ia mengusap lembut punggung Kiano.


"Mami, kepalaku sakit …" ucap Kiano dengan manja.


Bianca menyeka air matanya, ia lalu mencium pelan kening Kiano yang di perban karena lukanya cukup dalam di bagian sana.


"Sudah mami cium, apa masih sakit?" Tanya Bianca lembut.


Kiano menggeleng. "Tidak, Mami. Sakitnya hilang karena dicium sama mami," jawab Kiano polos.


Bianca tersenyum, ia sangat-sangat bersyukur karena Tuhan masih mengizinkannya untuk melimpahkan kasih sayang dan cinta kepada Kiano.


Belakangan ini Bianca benar-benar ketakutan, ia mengkhawatirkan kondisi putranya. Apalagi kecelakaan itu terjadi tepat di depan matanya.


"Mami, apa adik bayinya sudah di periksa oleh dokter?" Tanya Kiano.


Bianca mengusap lembut wajah tampan Kiano, lalu menganggukkan kepalanya.


"Sudah dong, dan dokter bilang adik Kiano sehat." Jawab Bianca mengusap perutnya sendiri.


"Sayang sekali aku tidak ikut, aku juga mau mendengar tentang adik bayi." Ucap Kiano menundukkan kepalanya.


Bianca memegang dagu Kiano, lalu mengangkatnya sedikit agar mata putranya tidak terus menatap ke bawah.


"Tidak masalah, Sayang. Masih banyak kesempatan untuk Abang ikut memeriksa kondisi adik bayi. Yang terpenting Abang harus sehat dulu, 'ya?" Tutur Bianca dan Kiano membalasnya dengan anggukan kepala yang cepat.


Tidak lama kemudian pintu kamar rawat Kiano terbuka, tampak Raka bersama papa Dewa dan mama Wina datang kemudian langsung mendekati Kiano.


Bianca menjauh, ia memberikan ruang kepada kedua mertuanya untuk bicara pada cucu mereka yang pasti mereka rindukan.


"Cucu Oma!!!" Ucap mama Wina dengan tangan terbuka, lalu memeluk Kiano.


"Oma, pipiku sakit …" Kiano mengadu dengan manja sambil memegangi pipinya.

__ADS_1


"Sakit, coba Opa lihat ganteng." Sahut papa Dewa lalu mencium pipi cucunya pelan.


Kiano menekuk wajahnya. "Aku akan sembuh jika makan cokelat, Opa. Bukan dicium," kata Kiano dengan polosnya.


Mereka semua tertawa mendengar ucapan Kiano yang begitu polos. Kiano sendiri pun tertawa setelah berhasil meledek kakeknya.


Entah darimana Kiano belajar, tapi akhir-akhir ini anak itu pandai sekali meledek seseorang. Waktu itu Raka, dan hari ini papa Dewa.


Raka menatap istrinya yang bisa tersenyum, dan itu membuatnya sangat bahagia. Belakangan ini yang ia lihat dari wajah Bianca hanya air mata kesedihan, dan syukurlah Tuhan mengabulkan doanya.


Raka merangkul bahu istrinya, lalu memberikan usapan disana. Sentuhannya itu membuat Bianca menoleh, menatapnya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Bianca tersenyum manis.


"Aku bahagia bisa lihat kamu tersenyum dan tertawa lagi, kamu tambah cantik." Jawab Raka, dan tidak pernah ketinggalan gombalan mautnya.


"Begitu kah? Aku pikir wajahku tambah jelek karena sakit." Timpal Bianca memegangi wajahnya.


Raka menyipitkan matanya lalu menggeleng. Bianca jelek? Heuh, mana mungkin Raka akan menilai seperti itu. Bagi Raka, istrinya yang paling cantik.


"Ka!" Mama Wina ternyata memperhatikan sejak tadi, dan berakhir menegur.


Mama Wina geleng-geleng kepala, tidak habis pikir pada putranya yang selalu saja mengajak romantisan dengan istrinya di depan umum.


Raka hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu harus menimpali dengan apa yang jelas ia hanya tersenyum saja.


Sementara Bianca malah terkekeh, ia menertawakan suaminya karena yakin bahwa mama Wina tidak akan mungkin memarahinya.


"Jangan dekat-dekat Raka, Bia. Kamu bisa habis di gigit sama dia," ucap mama Wina.


"Mana bisa nggak dekat-dekat, Ma. Kan suami aku," sahut Bianca lalu menggandeng lengan suaminya.


Raka tersenyum menang. Ia hendak bicara, namun pintu kamar terbuka dan memperhatikan mertua Raka yang datang atau orang tua Bianca.


"Oma, Opa!!!" Panggil Kiano melambaikan tangannya pada mama Vena dan papa Farhan.

__ADS_1


Keduanya langsung mendekat dan meletakkan buah-buahan yang mereka bawa di meja. Mama Vena mencium pipi cucunya lalu mengusap kepalanya.


"Bagaimana keadaan cucu Oma?" Tanya mama Vena lembut.


"Aku sudah sehat, mami bilang aku anak yang pintar dan kuat." Jawab Kiano polos.


Bianca tersenyum mendengar penuturan Kiano. Anak itu selalu menyimpan segala perkataan nya yang positif, dan itu membuatnya senang.


"Wahh benar, cucu opa memang pintar dan kuat. Mau jadi apa, Sayang?" Tanya papa Farhan.


"Dokter, aku mau menjadi dokter agar bisa memeriksa adik bayi!!" Jawab Kiano dengan semangat.


Mereka semua lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Kiano yang begitu polos dan menggemaskan.


"Mau punya adik berapa, Abang?" Tanya Raka.


"Satu, dua, tiga. Sepuluh, Papi." Jawab Kiano.


Bianca melototkan matanya, ia lalu menoleh kepada sang suami. Kiano tidak mungkin asal menjawab, ia yakin ada campur tangan Raka disini.


"Kiano sendiri yang ngomong, bukan aku." Ucap Raka menggoyangkan tangannya ke kanan dan kiri, tanda bahwa ia benar-benar tidak melakukannya.


Bianca hanya mendelik, ia tidak menyahut dan kembali menatap putranya dengan penuh senyuman.


"Abang mau punya sepuluh adik, memang mau buat tim sepak bola?" Tanya Bianca.


"Tidak mau, tapi papi mengatakan itu padaku." Jawab Kiano sembari menunjuk Raka.


Bianca melototkan matanya. "Jangan suka ngajarin anak aku yang nggak-nggak deh!" Tegur Bianca kesal.


"Anak kita, Sayang." Ralat Raka mengusap bibir istrinya yang mengerucut.


Para orang tua hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat pasangan muda yang tampak sangat cocok itu.


PAPI RAKA EMANG MAUNYA PUNYA BUNTUT BANYAK 😕

__ADS_1


Bersambung..........................


__ADS_2