Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Ketiban panci


__ADS_3

Raka sudah bangun pagi-pagi dengan harapan bisa mengobrol dulu dengan istrinya, namun ternyata Bianca keluar bersama Kiano yang sudah siap ke sekolah.


Bianca pun tampak rapi dan siap pergi ke kampus. Raka heran, pasalnya ia tidak sadar kapan Bianca mengambil baju dan tas nya di kamar.


Semalam pun Raka sempat ke kamar Kiano untuk sekedar melihat anak dan istrinya, namun ternyata pintunya dikunci sehingga tidak bisa masuk.


Dan sekarang, mereka bertiga berada di meja makan. Raka terus melirik anak dan istrinya yang hanya asik berdua, seakan tidak menganggap kehadirannya di sana.


"Hari ini mami yang antar dan jemput Abang ya. Jangan pulang dengan siapapun sebelum mami datang." Tutur Bianca dengan lembut.


Kiano tersenyum lebar, bahagia mendengar sang mami akan mengantarnya ke sekolah.


"Baik, Mami." Balas Kiano manggut-manggut.


Raka menghela nafas. "Abang, nanti sama papi juga ya berangkatnya." Ucap Raka tersenyum hangat.


Kiano menatap papinya lalu menggeleng. "Tidak usah, Papi. Aku dan mami akan diantar oleh sopir." Sahut Kiano menolak.


Raka menatap sang istri. "Sayang, sama aku aja ya." Pinta Raka dengan lembut.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya singkat. Tidak ada kalimat yang terucap dari bibirnya, sama sekali.


Raka hanya bisa sabar, ia tahu istrinya itu masih marah dengannya, apalagi sampai sekarang ia belum bicara dengan Kiano, meminta maaf atas sikapnya beberapa hari terakhir.


"Abang." Panggil Raka lembut.


Kiano yang sedang asik melahap suapan maminya tidak langsung menoleh. Setelah makanan dalam sendok pindah ke mulutnya, barulah ia menoleh ke arah sang papi.


"Iya, Papi?" Sahut Kiano dengan mulut penuh makanan.


"Abang, jika sedang makan tidak boleh bicara apalagi mulut kamu penuh begitu." Tegur Bianca menggelengkan kepalanya pelan.


Kiano langsung patuh, bocah itu mengunyah dan menelan makanan dalam mulutnya, kemudian barulah kembali bicara dengan sang papi.


"Kenapa, Papi?" Tanya Kiano dengan wajahnya yang polos.


Raka bangkit dari duduknya, ia menarik kursi putranya, lalu berlutut di hadapannya.


Raka mengulum bibirnya sebentar, menunduk lalu meraih tangan kecil putranya.


"Papi minta maaf ya." Ucap Raka tulus.


Kiano kebingungan. "Maaf untuk apa, papi tidak punya salah padaku." Balas Kiano bingung.


"Papi ada salah sama kamu, Nak. Papi minta maaf sudah larang kamu ini itu, maafin papi ya." Jelas Raka dengan mata berbinar.


"Tidak apa-apa, Papi." Sahut Kiano lalu kembali membuka mulut guna memberi akses makanan untuk masuk mulutnya.


Raka menyeka noda makanan disudut bibir putranya.


"Jadi Abang nggak marah sama papi?" Tanya Raka penuh senyuman.


"Mami bilang tidak boleh marah dengan orang tua. Dan juga semalam kan papi sudah mengizinkan mami tidur denganku. Papi baik sekali, terima kasih." Jawab Kiano lalu memeluk papinya.


Bianca tersenyum tipis melihat anak dan ayah itu. Namun saat Raka menatapnya, Bianca langsung memasang ekspresi wajah yang sinis dan penuh permusuhan.


"Abang, ayo habiskan makanan kamu dan kita pergi." Ajak Bianca seraya menyodorkan makanan ke dalam mulut Kiano.


Kiano pun nurut dan langsung membuka mulutnya, sampai akhirnya makanan nya pun habis.


Setelah menyuapi Kiano, Bianca beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pantry dimana susu hamilnya sudah ada di sana.


Bianca menenggak sampai habis, lalu tersenyum sambil mengusap-usap perutnya.


"Semangat untuk hari ini ya, Nak." Bisik Bianca tanpa menghentikan usapannya.


Pemandangan Bianca yang sedang mengusap-usap perut tentu tidak luput dari perhatian Raka. Pria itu tersenyum dengan begitu lebar.


"Adek, bujuk mami supaya nggak marah sama papi ya." Batin Raka berharap anak dalam kandungan istrinya bisa dengar.

__ADS_1


Bianca pun kembali. Wanita itu mengambil tasnya dan tas milik Kiano.


"Ayo, Sayang." Ajak Bianca pada putranya.


"Ayo." Raka menyahut penuh senyuman, berpikir bahwa panggilan sayang tadi adalah untuknya.


Bianca mendelik aneh, ia hanya melempar pandangan sinis lalu membantu memakaikan tas sekolah putranya.


"Sini mami bantu rapihin bajunya, kan harus ganteng di sekolah nanti." Tutur Bianca lalu merapikan seragam putranya.


Raka yang melihat itu lantas mengacak-acak kemeja dan melonggarkan dasinya dengan harapan sang istri juga akan merapikan pakaiannya.


"Sudah tampan, ayo." Ajak Bianca menggandeng tangan Kiano lalu pergi keluar duluan.


Raka menatap anak dan istrinya dengan tatapan sedih. Sangat tidak enak dicueki oleh istri, apalagi biasanya bisa manja-manjaan.


Biasanya jika di pagi hari, ia akan di manjakan oleh kecupan dari istrinya di bibir, namun pagi ini tidak. Lalu biasanya Bianca akan merapikan seragamnya, dan pagi ini tidak juga.


"Ya ampun, nasib buruk memang jika dicueki istri." Gumam Raka geleng-geleng kepala.


Raka mengambil tas kerjanya dan langsung keluar untuk menyusul anak dan istrinya.


Sampai diluar, Raka melihat Bianca dan Kiano sudah ada di dalam mobil dan siap berangkat.


"Sudah siap?" Tanya Raka basa-basi.


"Sudah, Papi. Ayo berangkat!!" Ajak Kiano dengan penuh semangat.


Raka pun lekas menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah.


Selama perjalanan, mata Raka sesekali melirik istrinya yang fokus memainkan ponselnya. Curiga? Tidak mungkin, Raka selalu percaya dengan istrinya.


"Setelah antar Kiano, aku antar kamu ke kampus ya, Sayang." Ucap Raka mencari topik pembicaraan.


"Nggak usah, aku udah janjian sama Intan disana. Kita mau beli sesuatu untuk keperluan tugas." Tolak Bianca, lengkap dengan alasannya.


Raka benar-benar mengutuk … istrinya? Tentu saja bukan, tapi mengutuk dirinya sendiri. Mana mungkin Raka melakukan hal gila begitu.


Sesampainya di sekolah Kiano, Bianca langsung turun tanpa mengatakan apapun pada suaminya. Kiano masih lebih baik, yaitu melambaikan tangannya.


"Sayang." Panggil Raka yang berhasil menghentikan langkah istrinya.


Bianca menoleh, menatap suaminya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Cium tangan aku dulu supaya tugas kamu lancar." Ucap Raka lagi.


Bianca menghela nafas, ia pun mendekat dan kembali masuk ke dalam mobil. Wanita itu mencium punggung tangan suaminya dengan cepat.


"Eh buru-buru banget, tunggu." Cegah Raka, lalu mencium kening dan pipi istrinya.


"Aku minta maaf ya." Kata Raka setelah selesai mencium istrinya.


Bianca masih tidak menjawab. Wanita itu keluar lalu menarik pelan tangan Kiano untuk pergi ke kelasnya.


Raka menatap anak dan istrinya sampai hilang di telan jarak. Setelah itu barulah ia tancap gas meninggalkan sekolah putranya.


Sementara Bianca mengantar sampai depan kelas, ia mengusap kepala Kiano lalu melambaikan tangannya.


"Nanti mami jemput, ingat ya." Ucap Bianca dan Kiano langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Bianca lalu menatap guru Kiano. "Bu, mohon jangan biarkan Kiano pulang dengan siapapun selain saya, atau papanya. Kalaupun orang lain, saya pasti menghubungi ibu untuk konfirmasi." Ucap Bianca.


"Tolong ya, Bu. Saya nggak mau kejadian waktu itu terulang lagi." Tambah Bianca dengan sopan.


"Baik, Bu. Sebelumnya kami minta maaf atas kelalaian kami waktu itu," balas guru itu tidak kalah sopan.


Bianca mengangguk, ia pun segera pergi meninggalkan sekolah Kiano karena harus pergi ke kampus.


Bianca sudah janjian dengan Intan, dan benar saja gadis itu tidak lama kemudian datang.

__ADS_1


Bianca lekas masuk. "Gimana, aman kan?" Tanya Bianca tanpa menatap sahabatnya.


"Aman, Kok." Jawab Intan pelan.


Bianca menoleh. Keget bukan main saat melihat wajah sahabatnya ada yang aneh.


"Bibir lo kenapa begitu?" Tanya Bianca heran dan masih kaget.


Intan menekuk wajahnya. "Hiks … ketiban panci mama gue di dapur!!" Jawab Intan.


Bianca melongo, antara kasihan dan mau tertawa. Panci? Bisa-bisanya panci itu membuat bibir Intan sampai jeding begitu.


"Gimana bisa sampai tuh panci cium bibir lo, itu panci terbang?" Tanya Bianca bingung.


Intan menggelengkan kepalanya. Mana ada panci terbang, sahabatnya aneh-aneh saja saat bicara.


"Jadi gue kan mau ambil mie di rak atas, tapi ternyata gue malah narik kardus panci mama gue yang dari keramik atau apalah itu gue nggak tahu. Terus abis itu bibir gue kayak gini." Jelas Intan dengan sedih.


Bianca meringis, membayangkan beratnya panci yang menimpa bibir Intan kemarin.


"Untung panci, buka rak nya sekalian." Celetuk Bianca membuat Intan melototkan matanya.


"Ya jangan sampe." Sahut Intan.


"Lagian gue heran, lo ngapain sampai nggak fokus?" Tanya Intan penasaran.


Mendengar pertanyaan Bianca seketika membuat Intan menghela nafas. Gadis itu jadi teringat alasan tidak fokus.


Semalam, saat berniat untuk membuat mie, tiba-tiba saja ponsel Intan mendapatkan notifikasi dari Ario.


Gadis itu tentu saja senang, ia akhirnya menunda masak mie dan duduk di meja makan sambil chatting dengan Ario.


"Duh, laper." Gumam Intan memegangi perutnya.


Intan bangkit dari duduknya, berniat untuk masak mie sambil chatting, nyatanya malah zonk.


"Besok jadi tukang parkir di kantor saya ya, soalnya kamu cocok. Tukang parkir cantik."


Begitulah yang Ario tulis dalam pesannya. Intan yang dasarnya mudah baper jadi senang sampai lompat-lompat.


Gadis itu meraih ponselnya dan memilih tetap memegang ponsel sambil masak mie. Sayangnya itu tidak di restui takdir.


Intan tidak fokus sama sekali, matanya hanya terus menatap pesan yang Ario kirim. Ia tandai kata 'Tukang parkir cantik'.


Wajah Intan bersemu merah hanya karena pujian via WhatsApp, apalagi dipuji secara langsung, mungkin dia akan kejang-kejang.


Terus memperhatikan ponsel sampai-sampai Intan tidak sadar jika yang ia tarik bukan mie, melainkan kardus berisi panci.


Dan ya, panci itu jatuh menimpa Intan yang kebetulan mendongakkan kepalanya saat itu.


Gadis itu berteriak kesakitan, bahkan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya ke lantai.


Kurang lebih begitulah alasannya, namun Intan enggan memberitahu Bianca. Intan takut sahabatnya akan meledeknya nanti.


"Kan, malah bengong. Jangan-jangan bukan cuma bibir, tapi otak lo juga ketiban." Cetus Bianca.


Intan hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya tadi.


Intan benar-benar malu, sampai ia harus memakai masker untuk menutupi bibirnya yang berubah besar.


"Bengkak di cium pak Ario sih nggak apa-apa." Batin Intan menghalu sendiri.


"Gue kira bibir lo di gigit pak Ario." Ucap Bianca, yang seketika mengudang tatapan Intan.


"Sembarangan lo." Timpal Intan tidak terima, meski sejujurnya ia juga ingin.


INGIN APA? INGIN KU TERIAK, BILANG I LOPYU MAS ARIO. GITU YA MBAK INTAN??


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2