Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Minuman siapa?


__ADS_3

Intan berlari tergesa-gesa untuk keluar dari rumahnya usai pagi ini mendapatkan pesan dari pria yang mobilnya ia tabrak. Pria itu mengirimkan alamat dan memintanya cepat datang.


Saking buru-burunya, Intan bahkan tidak sempat untuk sarapan. Ia tidak punya waktu lagi.


Tubuhnya terasa masih mengantuk, namun ia terpaksa harus menjauh dari tempat tidur di hari libur begini.


"Duhh, ampun deh tuh orang. Kenapa nggak ngomong dari semalam sih." Geram Intan seraya menyalakan mobilnya.


Intan pergi meninggalkan rumahnya dengan kecepatan sedang. Bagaimanapun ia belum bisa mengendarai terlalu cepat.


Intan melirik ponselnya, memastikan nama bengkel yang tertulis dalam pesan pria itu.


30 menit perjalanan, Intan pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Ia melihat pria yang ia temui beberapa hari lalu ada di sana sambil memainkan ponselnya.


Sambil menggerutu dalam diam, Intan keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya mendekati pria itu.


"Permisi, Pak." Sapa Intan dengan sopan.


Ario tampak berdehem singkat dan tetap fokus pada ponselnya. Sikapnya yang cuek itu membuat Intan geram.


"Sialan banget jadi cowok, pengen gue gampar aja mukanya." Batin Intan geram sendiri.


Intan menghela nafas, ia tidak boleh membuat masalah lagi dan harus bisa bersabar.


"Pak, saya Intan yang tempo hari menabrak mobil anda. Saya kesini atas permintaan anda," ucap Intan pelan.


Ario mematikan ponselnya lalu menyimpan nya di dalam saku celana yang ia gunakan hari ini.


Ario bangkit, merapikan kaos putih polos yang sedikit terlipat, kemudian menatap Intan.


"Hmm, itu mobilnya. Jadi silahkan datang sore ini dan bayar tagihan nya." Ucap Ario menunjuk mobil mewahnya.


Intan menoleh ke belakang, ia lalu menatap Ario lagi yang memasang ekspresi tidak berdosa.


"Terus tujuan bapak panggil saya cuma buat bilang ini, dan saya harus balik lagi nanti sore?" Tanya Intan melongo.


"Memang mau apa lagi." Jawab Ario cuek.


Intan mengepalkan kedua tangannya, ia ingin melontarkan kata-kata kasar dan penuh emosi, namun pria bernama Ario itu melangkah menjauhinya.


"Arghh …" geram Intan menjambak rambutnya sendiri.


Intan bisa melihat pria itu pergi dengan sebuah mobil, mungkin saja taksi online.


Intan menatap mobil yang ada di sana, ia menendang ban bagian kanan sebagai pelampiasan emosinya.

__ADS_1


"Ngeselin pemilik lo." Ketus Intan lalu segera pergi dari sana.


Intan rela meninggalkan kasurnya demi datang kesana, tapi ternyata pria itu hanya ingin menyampaikan kalimat tidak penting.


Padahal bisa saja pria itu mengatakan lewat pesannya, dan tidak perlu membuatnya datang tergesa-gesa. Tapi pria itu seperti sengaja merepotkan nya.


Intan menutup pintu mobilnya dengan kasar, ia lalu memukul setirnya sambil merengek seorang diri.


"Mana ngantuk …" ucap Intan, bersama itu perutnya berbunyi.


"Laper lagi." Tambah Intan pelan.


Intan pun lekas pergi dari sana, ia harus mencari sarapan untuk mengisi perut. Jangan sampai ia mati kelaparan gara-gara pria itu.


Intan celingak-celinguk, mencari makanan apa yang enak di makan pagi ini. Dan pilihannya jatuh pada bubur ayam yang cukup ramai pembeli.


"Gue yakin itu bubur pasti enak, makanya ramai." Ucap Intan lalu segera memarkirkan mobilnya.


Intan keluar dari mobil setelah memberikan sentuhan parfum di beberapa titik tubuhnya. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kios bubur itu.


"Pak, mau bubur nya satu ya. Makan disini," ucap Intan pada si penjual.


"Tapi tempatnya penuh, Mbak. Ada sih, tapi di depan mas itu." Kata si penjual bubur menunjuk ke sebuah meja di pojokan.


Intan menghela nafas, ia sudah kelaparan sekali. Tidak ada pilihan lain, daripada mati di jalan.


Intan pun melangkahkan kakinya mendekati meja yang akan ia tempati makan. Ia harus meminta izin dulu kepada pria itu yang sudah ada duluan disana.


"Mas, saya boleh disini nggak? Soalnya tempat lain penuh." Ucap Intan dengan sopan.


Pria itu mendongak, membuat Intan melototkan matanya.


"Bapak ngapain disini!" Tegur Intan spontan marah.


Bagaimana tidak spontan, sejak pagi pria itu membuatnya kesal. Jadi saat melihat wajahnya saja, ia reflek membentak.


"Kamu kira ini istana presiden sehingga hanya orang khusus yang bisa datang." Sahut Ario cuek.


"Tapi kenapa harus sama kaya saya sih, saya kan mau makan dengan tenang." Ucap Intan semakin sewot.


Ario memasang wajah datar, dan tidak bicara apa-apa lagi.


"Mbak, ini buburnya." Si penjual bubur datang dengan membawa pesanan Intan.


Intan mendengus, sambil menghentakkan kakinya, ia pun akhirnya terpaksa duduk di depan Ario yang terlihat tenang menikmatinya buburnya.

__ADS_1


"Males banget, mana gue kelaparan gara-gara dia suruh gue datang cepat." Gerutu Intan seraya mengaduk buburnya.


"Lalu bagaimana dengan saya, saya harus membawa mobil ke bengkel pagi-pagi." Sahut Ario tanpa menatap Intan.


"Ya itu kan memang tugas bapak. Lagian siapa suruh bawa mobil pagi-pagi ke bengkel." Timpal Intan tidak mau kalah.


Ario meletakkan sendok di tangannya, ia lalu menatap Intan dengan wajah tanpa ekspresi.


Melihat itu, Intan tampak menelan gumpalan salivanya. Ia sedikit ngeri melihat pria di hadapannya ini.


"Lalu, siapa suruh kamu menabrak mobil saya?" Tanya Ario pelan, alis kanan nya terangkat.


Intan terdiam, ia tidak bisa menjawab. Memang benar sih, akar pembuat masalah ini adalah dirinya yang menabrak.


"Diam kan kamu, makanya kalo salah lebih baik diam daripada malu." Tukas Ario lalu kembali melanjutkan makan nya.


Intan mendengus sebal, ia yang kesal tanpa sadar langsung memasukkan bubur tanpa meniupnya.


"Awhhhhh …" Intan mengambil tisu, mengeluarkan bubur panas itu dari mulutnya.


Intan dengan reflek mengambil air minum di atas meja, padahal jelas-jelas dia belum memesan air minum.


Itu minum Ario.


Intan menghela nafas lega, lidahnya terasa sakit karena bubur yang lupa ia tiup sebelumnya.


"Lega …" gumam Intan tersenyum lebar.


Intan tidak sadar, ada orang yang mendelik tajam padanya. Menatap gerakan gadis itu yang seenaknya menenggak minuman orang.


"Enak sekali minumnya?" Tanya Ario menyindir.


"Biasa saja, ini hanya air mineral." Jawab Intan yang masih belum sadar.


Ario menatap sinis. "Lalu minuman siapa itu?" Tanya Ario.


Intan membuka mulut hendak menjawab, namun otaknya sudah kembali berjalan normal dan ia sadar. Itu bukan minumnya, dia belum memesan minuman.


"Pak, ini … ini minuman anda?" Tanya Intan menutup mulutnya.


Ario tidak menjawab, ia hanya melempar pandangan tajam pada gadis itu.


"Ck, saya ganti pak. Cuma goceng paling, saya bayarin." Ujar Intan tidak terima akan tatapan Ario.


Ario semakin melempar tatapan sinis nya, ia ingin cepat menghabiskan bubur dan pergi dari hadapan gadis itu.

__ADS_1


EKHMMMM .....


Bersambung.......................


__ADS_2