
Bianca merasa sedikit canggung, pasalnya Briana itu terus saja mencoba bicara pada suaminya, namun Raka malah seperti menghindar.
"Sayang, mau ikut papi?" tanya Raka pada putranya.
"Mau kemana, Papi?" tanya Kiano, namun ia tetap ikut bangkit dari duduknya.
Raka menatap istrinya, ia meraih tangan Bianca lalu mengajaknya untuk pergi dari sana. Sudah tidak ada lagi kepentingan, sebab mereka sudah selesai makan.
"Eh tunggu, kalian mau langsung pulang?" tanya Briana yang ternyata mengejar Raka.
Bianca masih diam, ia masih menerka apa yang terjadi sampai-sampai Raka enggan bicara pada Briana.
"Kami masih ada urusan." Jawab Raka singkat, padat dan tanpa ekspresi.
Briana menatap Bianca lalu tersenyum. "Apa boleh aku tahu rumah kalian?" tanya Briana.
Bianca tidak menjawab, ia ingin mendengar reaksi suaminya saat ada teman kuliahnya meminta alamat.
"Untuk apa?" tanya Kiano.
Ketiga orang dewasa itu sontak menundukkan kepalanya mendengar sahutan dari Kiano.
"Untuk apa tante tanya rumah aku?" Tanya Kiano lagi.
Briana tersenyum kikuk, ia mengusap kepala bocah itu namun Kiano menolaknya dengan menjauhkan diri.
"Tante hanya ingin tahu saja, siapa tahu tante bisa mampir." Jawab Briana lembut.
Kiano menggelengkan. "Aku tidak suka ada tamu yang datang ke rumahku," ucap Kiano lalu menarik tangan papinya untuk pergi.
"Kami permisi." Pamit Bianca.
Bianca pasrah saja saat Raka merengkuh pinggang ramping dan menariknya untuk segera pergi dari sana.
Raka pun mengajak anak dan istrinya untuk pulang. Moodnya hari ini benar-benar berantakan, ucapan Ario terbukti tentang kedatangan Briana.
Entah bagaimana wanita itu bisa ada disana, yang jelas Raka tidak peduli. Raka hanya tidak mau sampai ketenangan hidupnya di ganggu.
__ADS_1
Raka membukakan pintu untuk anak dan istrinya, ia lalu segera masuk menyusul mereka. Sebelum masuk, Raka bisa menyadari jika Briana memperhatikan dirinya.
Raka menghela nafas, ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
"Kita pulang atau mau jajan lagi?" Tanya Raka dengan semangat.
Sangat berbeda dengan Raka yang tadi. Kini Raka terlihat seperti Raka yang biasanya, bukan Raka yang terus diam saja.
"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Raka lembut.
"Pulang aja, Mas. Aku sudah kenyang," jawab Bianca mengusap perutnya.
Raka terkekeh, ia ikut mengusap-usap perut istrinya. "Suatu hari, aku mengusap karena ada dedek bayinya." Celetuk Raka.
Bianca mengangguk, ia mengamini ucapan suaminya. Bianca juga ingin punya anak, ia tidak akan menunda proses adik untuk Kiano.
"Adik aku, Pi?" tanya Kiano tiba-tiba.
Raka menoleh, ia tersenyum gemas dengan tingkah Kiano hari ini. Belakangan ini Kiano jadi lebih banyak bicara, mungkin karena bergaul dengan Bianca sehingga Kiano sudah mulai mau berinteraksi dengan orang-orang.
"Tentu saja, adik siapa lagi." Jawab Raka.
"Mau kerja sama bareng aku nggak?" tanya Raka tiba-tiba seraya mulai menjalankan mobilnya.
Kening Bianca mengkerut. "Kamu ngajak aku berbisnis?" tanya Bianca.
"Iya, bisa dibilang begitu." Jawab Raka tersenyum usil.
"Kerja sama apa, Mas?" Tanya Bianca yang masih belum mengerti maksud ucapan suaminya.
"Kerja sama membuat adik untuk Kiano, kita mulai malam ini ya dan jangan libur. Liburnya saat tanggal merah saja," jawab Raka dengan enteng.
Bianca melototkan matanya, bisa-bisanya Raka bicara begitu. Wanita itu langsung melayangkan pukulan pelan di bahu sang suami.
"Kamu pikir kerja sampai-sampai liburnya tanggal merah aja." Ketus Bianca.
"Kan memang kerja, Sayang. Kerja yang bikin nikmat," balas Raka mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Bianca mendengus, ia tidak membalas ucapan sang suami dan memilih untuk diam sambil melipat tangannya di dada.
"Mami dan papi jangan bertengkar, nanti adik bayinya sedih." Celetuk Kiano tiba-tiba.
Mendengar itu, Raka dan Bianca langsung tertawa begitu lepas.
***
Setelah perjalanan beberapa menit, Raka bersama anak dan istrinya sampai di rumah. Mereka buru-buru masuk agar bisa ganti baju dan istirahat.
"Mas, aku bantu Kiano ganti baju dan tidurin dia dulu ya." Ucap Bianca pada suaminya.
"Iya, Sayang. Aku tunggu ya," sahut Raka tersenyum mesumm.
Bianca berdecak, ia tidak membalas dan langsung pergi meninggalkan Raka begitu saja untuk membantu Kiano mengganti pakaian dan tidur.
Bianca mencuci wajah dan kaki Kiano, ia lalu memakaikan bocah itu piyama. Setelah itu, Kiano langsung naik ke ranjang dan berbaring dengan selimut sebatas perut.
"Mami tidur saja, nanti adik bayinya lelah." Ucap Kiano dengan begitu polos.
Bianca tersenyum. "Mami akan tunggu kamu sampai tidur, setelah itu baru mami yang tidur." Sahut Bianca.
Kiano pun lekas memejamkan matanya, dan tidak butuh lama sampai bocah itu tertidur dengan pulas.
Setelah Kiano tidur, Bianca kembali ke kamarnya. Ia melihat Raka sedang menelpon Ario di balkon, terdengar pria itu beberapa kali menyebut kata 'yo'.
"Mas, aku mandi dulu ya." Ucap Bianca.
"Iya, Sayang." Sahut Raka.
Bianca tidak akan berendam, suasana cukup dingin sehingga lebih enak mandi air hangat lalu pelukan dengan Raka diatas ranjang.
Selain pelukan nanti, Bianca sudah menyusun pertanyaan tentang Briana. Ia penasaran pada wanita itu, dan ingin tahu.
Namun jika suaminya nanti menolak untuk bercerita, maka Bianca sebisa mungkin tidak akan memaksa.
Selama ini Raka sudah sangat mengerti dirinya, dan ia juga akan belajar untuk itu.
__ADS_1
PENGEN NGASIH KONFLIK BERAT, TAPI AKU NGGAK SANGGUP MENERIMA AMUKAN KALIAN NANTI :(
Bersambung................................