
Intan main ke rumah Bianca seperti yang sudah mereka rencanakan. Bermain bersama bocah lucu seperti Kiano mungkin akan membuat pikirannya tenang sedikit.
Saat mereka bertiga sedang asik di ruang tamu, tiba-tiba Bianca kedatangan mertuanya.
Mama Wina dan papa Dewa yang membawa banyak buah-buahan, susu hamil dan beberapa jajanan Kiano.
"Gimana sama kandungan kamu, Nak? Baik-baik saja kan?" Tanya mama Wina pada sang menantu.
Bianca tersenyum lalu mengangguk. "Baik, Ma. Nggak rewel juga, aku nggak terlalu sering mual-mual." Jawab Bianca jujur.
"Mama tadi bawa banyak buah, jangan lupa nanti makan ya. Buah-buahan bagus untuk kesehatan ibu hamil seperti kamu." Tutur mama Wina penuh kasih sayang.
"Raka ke kantor, Bia?" Tanya papa Dewa yang sejak tadi menyimak pembicaraan istri dan menantunya.
"Iya, Ma, Pa. Mungkin pulang telat, soalnya tadi habis antar aku sama Kiano." Jawab Bianca.
"Makasih ya, Nak. Akhirnya Kiano mau sekolah atas bujukan kamu, dulu mama sempat khawatir karena dia nggak mau berinteraksi dengan lingkungan." Kata mama Wina lalu menghela nafas pelan.
"Iya, Ma. Aku kan maminya Kiano, tentu aku juga mau yang terbaik untuk anakku." Balas Bianca tersenyum sopan.
Mama Wina lalu menatap Kiano yang masih asik bermain dengan Intan, teman menantunya.
"Dia teman kamu ya, Bia?" Tanya mama Wina.
"Iya, Ma. Sahabatku," jawab Bianca menganggukkan kepalanya.
"Kiano, sini deh." Papa Dewa memanggil seraya menjentikkan jarinya, meminta cucunya itu untuk mendekat.
Kiano meletakkan mainannya, bocah itu lalu berlari mendekati opanya dengan senyuman lebar.
"Opa, terima kasih jajan dan mainannya. Aku sayang opa!!" Ucap Kiano dengan riang.
Papa Dewa tertawa. "Iya, Sayang. Tapi ketika adik bayi lahir nanti, jajanan kamu harus dibagi dua dengan adik ya." Ucap papa Dewa bergurau.
Kiano mengangguk mantap. "Boleh saja, bahkan aku akan memberikan semua jajan dan mainan kepada adik, aku kan sayang adik bayi." Sahut Kiano dengan pintar.
Semua yang mendengar tertawa, tidak terkecuali Intan.
Jujur saja Intan ingin seperti Bianca, bisa dicintai oleh pria hebat seperti Raka, dan disayangi oleh mertua dengan begitu besar. Dan satu lagi, memiliki anak selucu dan sepintar Kiano.
Intan berjalan mendekati sahabatnya. "Hidup lo sempurna banget, Bi." Ucap Intan.
Sebagai sahabat, Intan tentu turut senang melihat sahabatnya sudah bahagia dengan kehidupan pernikahannya.
Bohong jika Intan tidak mau begitu juga. Ia selalu berdoa agar mendapatkan suami yang akan begitu mencintainya.
Namun Intan sadar diri, siapa yang akan mau menerima gadis kotor sepertinya. Gadis yang tidak bisa menjaga kehormatannya.
"Ca, sudah sore. Gue pulang ya," ucap Intan pamitan.
Bianca menggenggam tangan sahabatnya, ia melemparkan senyuman sebagai penguat. Bianca menunjukkan dirinya bahwa ia akan selalu ada bersama nya.
"Jangan terlalu dipikirkan ya, Tan. Gue yakin, kita akan temukan solusi yang terbaik." Tutur Bianca lembut dan pelan.
Intan memeluk Bianca sebentar lalu melepaskannya. Gadis itu meraih tas selempang miliknya dan mengangguk.
"Makasih, Bi. Lo selalu setia jadi pendukung gue," bisik Intan dibalas senyuman oleh Bianca.
Intan menatap Kiano. "Kiano, tante pulang ya." Ucap Intan.
__ADS_1
"Iya, tante. Terima kasih sudah main bersamaku," balas Kiano melambaikan tangannya.
Intan mengangguk, ia lalu beralih menyalami tangan mertuanya Bianca.
"Om, tante. Saya pamit pulang ya, ini sudah sore." Ucap Intan.
Mama Wina dan papa Dewa mengangguk bersamaan.
"Hati-hati ya, Nak. Terima kasih sudah menemani Kiano dan Bianca," tutur mama Wina.
Intan mengangguk lalu segera pergi meninggalkan rumah Bianca. Setidaknya hari ini beban pikirannya sedikit terangkat.
Intan masuk ke dalam mobil, ia mengatur nafasnya sejenak lalu menyalakan mobil agar bisa segera pergi.
Ketika Intan beru saja hendak keluar dari rumah Bianca, ia berpapasan dengan mobil suaminya Bianca yang juga baru pulang.
"Selamat sore, Pak." Sapa Intan basa-basi.
"Sore." Balas Raka singkat.
Tatapan Intan lalu beralih kepada sosok yang duduk di sebelah Raka. Seorang pria yang ia hindari sejak kemarin.
"Intan." Panggil Ario melambaikan tangannya pelan, seakan ragu melakukannya.
Intan buru-buru mengalihkan pandangannya, ia langsung menginjak gas dan pergi meninggalkan rumah sahabatnya.
Sementara Ario, ia buru-buru meminta Raka keluar dari mobilnya, agar ia bisa meminjam dan mengejar Intan.
Ario harus bicara, sudah cukup gadis itu terus menghindari dirinya.
"Hati-hati ya, gue tahu lo tegas dalam menyikapi masalah." Tutur Raka dibalas anggukan kecil oleh Ario.
"Sayang!!" Panggil Raka dengan kedua tangan terbuka lebar.
Raka berjalan santai mendekati istrinya, bahkan langsung menghujani wajah cantik Bianca dengan kecupan.
"Mas." Bisik Bianca, namun Raka malah mengecup bibirnya.
Raka sepertinya tidak sadar jika di sofa ada kedua orang tuanya yang kini melotot melihat aksinya mencium Bianca tanpa malu.
"Massss …" rengek Bianca memukul bahu sang suami.
"Kenapa sih, Sayang?" Tanya Raka bingung.
Bianca lalu menunjuk ke arah sofa, memberitahu suaminya bahwa saat ini ada yang memperhatikan mereka.
Raka lekas menoleh, ia yang tadi bingung seketika tersentak sedikit melihat siapa yang ada di sana.
"Eh ada papa dan mama. Sejak kapan datang?" Tanya Raka basa-basi, lalu lekas mendekati keduanya.
Raka mencium punggung tangan mama Wina dan papa Dewa, kemudian duduk di sebelah Bianca.
"Kamu itu, baru pulang dari kantor langsung asal cium istri." Celetuk mama Wina geleng-geleng kepala.
Raka mengusap tengkuknya. "Ya mau gimana, Ma. Kangen sama istri sendiri, lagian kan ciuman itu hal wajib bagi suami istri." Sahut Raka.
Bianca mencubit paha suaminya, kesal sekali ia mendengar mulut Raka yang enteng saat bicara.
"Kamu ih." Tegur Bianca pelan.
__ADS_1
Raka menoleh, ia tersenyum lalu mengusap-usap wajah cantik istrinya.
"Papi!!!" Kiano mendekati Raka dan langsung memeluk papinya itu.
Raka lekas membawa Kiano duduk di pangkuannya.
"Sudah cerita belum sama oma dan opa tentang sekolah kamu?" Tanya Raka sembari membersihkan remahan wafer di baju putranya.
"Belum, Papi." Jawab Kiano.
"Ayo cerita, papi mau mandi dulu ya." Tutur Raka pada putranya.
"Baiklah." Balas Kiano mengangguk paham.
Raka bangkit dari duduk. "Ma, Pa. Aku mandi dulu ya, kalian bicaralah pada Kiano, dia punya banyak teman sekarang." Ucap Raka.
"Ya, sana pergilah. Papa lelah menahan nafas sejak tadi," sahut papa Dewa bergurau.
"Ck, papa sembarangan sekali." Timpal Raka lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
Bianca ikut bangkit, ia pamit ke kamar untuk membantu suaminya menyiapkan pakaian.
"Mas." Panggil Bianca menggandeng lengan sang suami.
"Hmm, kenapa ibu hamil?" Sahut Raka.
"Mau makan kamu." Bisik Bianca lalu dengan sengaja meniup telinga suaminya.
"Oh, nakal sekarang ya. Mau godain aku disaat ada papa dan mama?" Tanya Raka mengangkat kedua alisnya.
Bianca menggeleng. "Nggak!" Jawab Bianca sewot.
"Makan kamu itu artinya mau makan yang manis-manis, kan kamu manis." Jelas Bianca.
"Halah, bohong." Sahut Raka lalu menggendong istrinya dan membawanya turut masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Raka hanya minta di temani saja. Ia tidak berniat mengajak istrinya olahraga.
Bukan karena tidak mau, tapi Raka takut lepas kendali dan membuat bayi dalam kandungan Bianca kenapa-napa.
"Gini doang?" Tanya Bianca sembari membiarkan tangan suaminya bermain di dada.
"Aku nggak mau buat kamu sama baby kenapa-kenapa, Sayang." Jelas Raka sembari terus memberikan pijatan.
"Nggak seru ahhhh …" Bianca melenguh saat Raka sengaja mencubit bagian puncaknya.
Raka terkekeh, ia menciumi bahu dan leher istrinya dengan kelembutan yang terasa memanjakan tubuh.
"Pelan-pelan aja, Mas. Itu nggak akan nyakitin aku sama baby kok," bisik Bianca dengan mata terpejam.
Raka rasanya ingin tenggelam saja, ia sejak kemarin sudah menahan diri, namun karena sekarang sudah begini, rasanya tanggung sekali jika tidak dilanjutkan.
"Satu ronde bukan masalah kok, Mas." Bisik Bianca penuh godaan.
Bianca merasa hari ini gairahh nya benar-benar tersulut, bahkan ia sampai tidak mempedulikan situasi dimana ada mertuanya di rumah.
Mungkin kah ini termasuk hormon ibu hamil? Jika iya, maka Bianca bisa kerepotan sendiri.
UNTUNG DI PAPI KALO BEGINI, IYA NGGAK SIH?
__ADS_1
Bersambung.....................................