Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kabar bahagia


__ADS_3

Dua minggu setelah kepulangan Intan dan Ario dari bulan madu mereka, Intan mendadak sering mual dan muntah.


Wanita itu tidak memberitahu kondisinya pada suaminya, dan justru memberitahu pada sahabatnya.


Intan menceritakan apa yang terjadi termasuk kedatangan tamu bulanannya yang sudah terlambat pada Bianca. Alhasil kini dia dan Bianca berada di rumah sakit untuk memeriksa kondisi Intan sekaligus cek up kandungan Bianca.


"Takut hasilnya nggak sesuai harapan." Ucap Intan pelan.


Bianca memegang tangan sahabatnya, ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, berusaha memberikan keyakinan pada Intan.


"Jangan pesimis, yakin dulu. Lagian kayaknya memang sudah isi menurut gue, made in Paris." Sahut Bianca diselingi candaan.


Intan ikut tertawa, sahabatnya yang satu-satunya ini memang selalu bisa mencairkan suasana dan membuatnya sedikit lupa akan pikiran nya yang kemana-mana.


"Usia kandungan lo udah berapa bulan, Bi?" Tanya Intan memegang perut Bianca.


"Jalan lima bulan, udah kelihatan banget ya gue gendutnya?" Tanya Bianca balik.


"Nggak kok, sahabat gue nggak gendut tapi cuma berisi dan makin cantik." Jawab Intan dengan jujur.


Jika ada ibu hamil yang terlihat berubah saat mengandung, Bianca pun menjadi salah satunya. Bedanya Bianca justru terlihat semakin cantik dan seksi.


"Suami lo pasti minta jatah terus ya?" Tanya Intan berbisik.


Bianca melotot. "Aneh-aneh deh pertanyaannya, kenapa sih?" Tanya Bianca penasaran.


"Soalnya lo makin seksi, Bi." Jawab Intan masih berbisik.


Bianca memukul pelan tangan sahabatnya, ternyata Intan sama saja dengan suaminya yang terus mengatakan bahwa ia berisi dan seksi.


"Ihh, tapi emang iya? Mas Raka juga ngomong gitu terus soalnya." Ujar Bianca.


"Iya, gue kan anaknya jujur." Sahut Intan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Giliran mereka berdua yang masuk. Harusnya hanya Bianca yang diperiksa, tapi sekarang hari nambah dengan Intan juga.


"Sebelumnya udah pernah periksa pakai testpack, Nyonya?" Tanya dokter kandungan Bianca pada Intan.


"Belum, Dok. Takut soalnya," jawab Intan malu-malu.


Dokter tersenyum, ia pun bangkit dari duduknya untuk memeriksa Bianca duluan yang sudah berbaring di atas brankar sebelum memeriksa Intan.

__ADS_1


"Bayinya makin sehat sama kayak maminya nih." Ucap dokter sembari memeriksa Bianca.


Bianca senang mendengar nya. Ia memang yakin anaknya sehat sebab dia dan suaminya begitu memperhatikan asupan makanannya.


"Mau sekalian di jadwalkan USG, Nyonya?" Tanya dokter menawarkan.


"Boleh, Dok. Nanti saya datang sama suami saya deh." Jawab Bianca mengangguk setuju.


Setelah Bianca di periksa, kini giliran Intan. Wanita itu berbaring dengan perasaan gugup.


Ia merinding ketika dokter menyingkap bajunya dan mulai meraba perutnya.


"Sudah telat berapa lama, Nyonya?" Tanya dokter.


"Kurang tahu, Dok. Sepertinya sih sepuluh harian." Jawab Intan menerka-nerka.


Dokter manggut-manggut, ia pun mengambil salah satu alat yang di tempelkan di perut Intan. Terdengar suara yang gemeresek.


"Coba anda dengarkan." Ucap dokter.


Intan dan Bianca mendengarkan dengan baik, keduanya sama-sama bisa mendengar suara seperti detak jantung.


Bianca yang mengerti tersenyum, sementara Intan tampak planga-plongo karena tak paham dengan semua ini.


"Benar sekali, itu suara detak jantung bayi anda." Sahut dokter dengan penuh senyuman.


Intan menatap dokter dengan mata berkaca-kaca, ia lalu menatap Bianca yang juga menatapnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Dok, artinya saya … saya hamil?" Tanya Intan dengan suara yang gemetaran.


Dokter mengangguk. "Benar, Nyonya. Anda hamil, selamat ya!" Jawab dokter.


"Selamat ya, Tante Intan. Kiano pasti senang dengar ini." Ucap Bianca sembari memegang tangan sahabatnya.


Intan mengangguk, wanita itu lalu memegang perutnya dan sedikit memberikan usapan dengan tangannya yang gemetaran.


"Baik-baik ya, Nak. Papa kamu pasti senang jika tahu ini." Gumam Intan.


Intan benar-benar tidak menyangka jika dirinya hamil. Dalam perutnya kini ada janin hasil cinta dirinya dan juga suaminya.


Ia akan menjadi ibu, dan Ario akan menjadi ayah. Mereka akan menyusul Raka dan Bianca untuk menjadi orang tua.

__ADS_1


Setelah selesai memeriksa dengan kabar bahagia yang mereka bawa. Keduanya lalu pergi ke sekolah Kiano untuk menjemput bocah itu.


Intan menunggu di mobil, sementara Bianca keluar. Ia menanti putranya di depan gerbang sekolah Kiano.


"Mami!!!!" Panggil Kiano sambil berlari mendekati Bianca.


Bianca membuka kedua tangannya lebar dan membiarkan putranya itu masuk ke dalam pelukannya.


"Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan?" Tanya Bianca.


"Sangat, Mami. Tadi ada dokter gigi yang mengatakan jika gigiku sehat." Jawab Kiano penuh semangat.


"Pintar, sekarang ayo pulang. Tante Intan sudah menunggu," ajak Bianca dan Kiano langsung nurut.


Bianca dan Kiano masuk ke dalam mobil dengan Intan yang mengendarai mobilnya, meninggalkan area sekolah Kiano.


***


Setelah mengantar Bianca dan Kiano pulang, Intan pun pulang ke apartemennya. Ia tampak sangat bahagia dan mulai memikirkan cara apa yang akan ia gunakan untuk memberitahu kabar kehamilannya.


Intan duduk di depan cermin, ia sudah mengganti pakaiannya dan kini sedang asik mengusap perutnya yang nantinya akan semakin besar seperti Bianca.


"Papa kamu harus diberitahu gimana ya? Apa mama kasih kejutan saja?" Tanya Intan menundukkan kepalanya.


Intan tadi sempat membeli testpack yang akan ia gunakan besok pagi. Mungkin ia akan menggunakan alat itu untuk memberi kejutan pada suaminya.


Intan beranjak, ia harus banyak istirahat karena sekarang ia tidak sendiri. Sudah ada nyawa lain di dalam perutnya yang harus ia jaga.


Sore harinya, Ario pulang dan melihat istrinya sedang memasak. Ia mendekat dan langsung mendekap tubuh istrinya dari belakang.


"Mas, bikin kaget. Untung nggak aku pukul pakai spatula ini." Tegur Intan tanpa menatap suaminya.


Ario terkekeh. "Kangen …" ucap Ario dengan manja. Tangan pria itu mengusap perut istrinya, membuat Intan berdesir.


"Kamu mandi gih, aku udah siapin makanan nih untuk kamu." Tutur Intan sambil mengusap wajah suaminya.


"Sebentar lagi, masih mau nempel sama kamu." Balas pria itu semakin manja.


Intan tidak menolak, ia membiarkan Ario memeluknya erat. Mungkin saja bayinya juga menginginkan hal ini dari ayahnya.


SELAMAT YAA CALON MAMA DAN CALON PAPA🖤

__ADS_1


Bersambung............................


__ADS_2