
Matahari yang bersinar terang berhasil membuat sepasang suami istri itu terbangun dari tidur mereka.
Posisi si pria yang memeluk istrinya, membuat sang gadis kesulitan untuk bergerak.
"Mas, lepasin." Pinta Bianca pada Raka yang kini malah menatapnya dengan dalam dan penuh cinta.
Bianca bisa merasakan bahwa tatapan Raka sekarang adalah tatapan cinta seorang suami kepada istrinya, dan seorang pria kepada wanitanya.
"Nanti, Sayang. Kita nggak disuruh kejar target sampai kamu harus buru-buru," balas Raka sambil tertawa.
Bianca menekuk wajahnya, ia melepaskan tangan Raka yang melingkar di pinggangnya dan berhasil. Bianca pun buru-buru turun dan langsung mengambil pakaian di lemari.
"Sayang, kita berenang yuk?" ajak Raka dengan penuh semangat.
Bianca yang hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi langsung terhenti, ia menoleh ke arah Raka dengan kening mengkerut.
"Nggak mau, aku nggak suka berenang di tempat ramai." Tolak Bianca menggeleng.
Raka turun dari ranjang, ia buru-buru mengejar Bianca dan langsung memeluk istrinya itu dari belakang.
"Nggak ramai kok, saya udah siapin private pool spesial untuk kita." Tutur Raka dengan pelukan yang semakin mengerat.
Bianca menahan nafas. Gerakan Raka yang tiba-tiba membuat jantung Bianca rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya.
"Mas, lepasin. Aku nggak nyaman," pinta Bianca.
Mendengar ucapan sang istri seketika membuat Raka langsung melepaskan pelukan di tubuh istrinya.
Ia berjalan ke depan Bianca lalu tersenyum. "Mau ya?" Rayu Raka dengan penuh harap.
Bianca menghela nafas, ia akhirnya menganggukkan kepalanya mendengar permintaan dari suaminya.
"Aku mandi dulu." Kata Bianca pelan.
"Pakai baju ini." Raka tiba-tiba berjalan mendekati sofa lalu kembali dengan membawa paper bag.
Kening Bianca mengkerut. "Apa ini, Mas?" tanya Bianca.
"Nanti kamu lihat didalam, saya akan menunggu kamu. saya tidak perlu mandi, kan mau berenang." Jawab Raka penuh senyuman.
Bianca manggut-manggut, ia pun membawa paper bag itu ke dalam kamar mandi. Sejujurnya Bianca juga tidak mandi yang lama seperti biasanya, ia hanya akan mencuci muka dan sedikit menyabuni tubuhnya.
Selesai dengan itu, Bianca pun berjalan ke depan wastafel besar yang ada di dalam kamar mandi. Ia membuka paper bag pemberian suaminya yang ternyata isinya adalah baju tanpa lengan.
Sebuah dress yang cocok untuk dipakai ke pantai atau ke kolam renang. Dress bermotifkan bunga merah dengan panjang diatas lutut dan model tali di leher serta bagian punggung yang sedikit terekspos.
"Cantik banget." Gumam Bianca menatap kagum pada dress di tangannya.
__ADS_1
Bianca tersenyum melihat baju cantik di tangannya, ia yang tidak sabar lekas memakai dress itu.
Bianca mematut diri di depan cermin, ia merapikan sedikit rambutnya, lalu segera keluar dari kamar mandi.
Saat Bianca keluar, ia tidak menemukan suaminya disana. Bianca tentu saja bingung, namun ia memilih untuk duduk di depan meja rias sambil menunggu Raka kembali.
Bianca memakai lipgloss agar bibirnya tidak kering, ia juga memakai sunscreen wajah, kemudian barulah memakai lotion yang bisa melindungi kulitnya dari sinar matahari.
Bianca memejamkan mata saat hidungnya mencium tangannya sendiri yang sudah ia oleskan lotion. Setelah selesai dengan lotion, barulah Bianca menyemprot beberapa titik tubuhnya dengan parfum.
"Beres deh, tinggal nunggu mas Raka." Ucap Bianca penuh senyuman.
Tidak lama kemudian Raka datang, ia dibuat terpana akan kecantikan Bianca yang memakai dress pemberiannya.
"Bia, astaga … cantik sekali." Puji Raka dengan tatapan penuh kekaguman.
Bianca tersenyum malu-malu, ia mendekati Raka lalu berusaha untuk biasa saja setelah dibuat bergetar oleh pujian pria itu.
"Ayo, Mas." Ajak Bianca.
Raka mengangguk, ia mengambil ponselnya di atas nakas lalu memasukkan ke dalam saku celana yang ia gunakan.
Sementara Bianca hanya memegang ponselnya dengan tangan kosong.
Saat sampai di luar kamar, tangan yang Raka langsung merangkul bahu istrinya. Bukan tidak mau merangkul pinggang, tapi dia tidak ingin punggung mulus Bianca dilihat orang walaupun hanya sedikit.
"Mas, private pool nya di mana?" tanya Bianca bingung.
"Di lantai paling atas, Sayang. Tunggu ya," jawab Raka lembut.
Bianca manggut-manggut, ia pun nurut saja saat Raka mengajaknya. Bianca akan pasrah dibawa kemanapun asal bersama Raka.
Eh kok jadi ketularan Raka. Pikir Bianca.
Sampai di lantai paling atas. Raka dan Bianca melangkah ke sebuah ruangan yang menghubungkan keluar dimana ada kolam disana.
"Astaga …" Bianca berdecak kagum saat melihat kolam renang yang di atasnya terdapat taburan bunga mawar merah.
Bunga-bunga itu memenuhi kolam dengan tulisan yang dibuat dengan bunga mawar putih.
"Love you, Bia." Gumam Bianca membaca tulisan yang ada di kolam tersebut.
"Yang spesial hanya untuk istri saya." Bisik Raka di telinga istrinya.
Bianca menoleh, ia menatap wajah Raka yang tersenyum lebar dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Gimana, suka nggak?" tanya Raka mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Bianca tidak berucap, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Maaf ya, saya nggak bisa kasih yang lebih romantis lagi. Saya hanya bisa kasih kamu kejutan sederhana seperti ini." Kata Raka seraya merengkuh pinggang ramping sang istri.
Sederhana? Ini bahkan sangat mewah menurut Bianca.
"Kita sarapan dulu ya, saya sudah siapkan." Ajak Raka menunjuk ke sebuah tempat di sudut kolam renang dimana ada dua kursi dan satu meja yang diatasnya terdapat banyak makanan.
"Mas, kamu berlebihan." Ucap Bianca pelan.
"Tidak masalah, selama kamu suka." Balas Raka lalu mencium pipi istrinya.
Bianca memejamkan matanya sebentar ketika merasakan bibir suaminya di pipi.
Bianca pun pasrah saat Raka menarik tangannya mendekati meja itu. Ia lalu duduk dan Raka juga duduk di hadapannya.
"Saya dengar kamu sangat suka American breakfast, dan kimchi. Saya sengaja pesankan untuk kamu." Ucap Raka seraya memberikan dua makanan kesukaan Bianca itu.
"Darimana kamu tahu?" tanya Bianca.
Raka tersenyum malu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap istrinya ragu-ragu.
"Semalam saya telepon mama buat nanya sarapan kesukaan kamu, dan mama bilang ini." Jawab Raka.
Bianca hanya diam saja sembari terus menatap Raka. Beda dengan Raka yang sekarang meraih tangan istrinya untuk ia genggam.
"Saya minta maaf, Bi. Saya belum banyak mengenal kamu, bahkan sampai sarapan kesukaan kamu saja saya tidak tahu." Ucap Raka.
"Tapi saya janji, saya akan berusaha dan banyak belajar mengenal kamu. Apa makanan kesukaan kamu, warna favorit dan lainnya." Tambah Raka bicara dengan sungguh-sungguh.
Bianca tetap diam, ia terus memperhatikan bagaimana Raka bicara dengan begitu lembut padanya, bahkan suaminya itu berusaha keras untuk mencari tahu sarapan kesukaannya.
Raka jauh lebih baik dibandingkan Bianca yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang favorit suaminya.
"Nggak, Mas. Kamu jauh lebih baik daripada aku yang nggak usaha sama sekali untuk mengenal kamu. Kamu nggak perlu minta maaf," balas Bianca yang akhirnya membuka suara.
Raka tersenyum, ia menarik punggung tangan sang istri untuk ia kecup punggung tangan itu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Saya minta kamu belajar mengenal dan menerima saya, bukan memaksa kamu untuk langsung tahu tentang saya. Pelan-pelan asal kamu nyaman," tutur Raka kembali mencium tangan istrinya.
Bianca tersenyum tipis. "Makasih, Mas." Timpal Bianca pelan.
Raka melempar senyum, senyuman yang sama seperti setiap harinya.
MBAK BIA, YA ALLAH SINI DEH SUAMINYA BUAT AKU😭
Bersambung...............................
__ADS_1