Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kesabaran Raka


__ADS_3

Bianca mengejar suaminya yang berjalan ke mobil. Dengan gerakan cepat ia masuk ke dalam mobil suaminya.


Bianca menatap wajah Raka yang terlihat datar dan dingin. Tidak ada senyuman di wajahnya sama sekali.


"Mas, tolong jangan salah paham. Dengerin aku dulu ya, aku mohon." Pinta Bianca memohon.


Raka tidak bicara, ia langsung menginjak pedal gas meninggalkan kampus Bianca. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bianca mati-matian untuk tenang karena jujur saja ia belum pernah naik mobil secepat ini.


"Mas, jangan salah paham." Ucap Bianca.


Bianca berusaha untuk memegang tangan suaminya, namun Raka menolak dengan mengalihkan tangannya ke stir mobil.


Raka semakin meningkatkan kecepatan mobilnya, ia ingin segera sampai di rumah. Jujur, Raka benci marah disaat bawa mobil, sebab itu sangat berbahaya.


"Mas, kita bicara pelan-pelan saat sampai di rumah ya." Tutur Bianca dengan lembut.


Raka masih diam, ia tidak membalas ucapan istrinya sama sekali. Ia sedang berusaha meredakan kekesalannya.


Sesampainya di rumah, Raka langsung keluar dari mobil dan meninggalkan istrinya begitu saja.


Bianca segera menyusul, ia hendak memanggil suaminya namun ucapannya sudah keduluan oleh Kiano yang memanggilnya.


"Mami, papi!!" panggil Kiano dengan riang.


Raka mendekat, ia berlutut di depan Kiano lalu melabuhkan kecupan di pipi gembul Kiano.


"Anak papi sudah makan belum?" tanya Raka seraya mengusap puncak kepala putranya.


Kiano mengangguk penuh semangat. "Sudah, Papi. Aku tadi makan nya nambah," jawab Kiano.


Raka tersenyum manis, senyuman yang tidak ia tunjukkan pada istrinya sejak kemarin.


"Anak papi pintar." Puji Raka lalu kembali melabuhkan kecupan di pipi Kiano.


Raka bangkit dari posisinya, lalu mengacak-acak rambut Kiano.


"Papi ke kamar dulu ya, mau istirahat. Kamu lanjut mainnya," tutur Raka kemudian pergi meninggalkan Kiano.


Kiano lalu beralih menatap maminya. "Mami, ayo main." Ajak Kiano seraya menarik-narik baju Bianca.


Bianca tersenyum manis, ia mencium kening Kiano hangat. "Boleh, tapi nanti ya. Mami mau ganti baju dulu." Balas Bianca.


Bianca lalu beralih menatap asisten rumah tangga yang tadi menemani Kiano bermain.


"Bi, tolong jaga Kiano ya. Aku mau ke kamar dulu," kata Bianca.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Balas si asisten rumah tangga dengan sopan.


Bianca pun segera menyusul suaminya ke kamar. Sebelum masuk, Bianca berusaha untuk mengatur nafas, agar bicaranya lancar saat menjelaskan kepada sang suami.


Bianca menekan gagang pintu lalu menekannya sampai pintu terbuka. Bianca pun masuk dan kembali menutup pintu.


"Mas." Panggil Bianca.


Bianca melihat Raka sedang duduk di sofa dengan kepala mendongak dan tangan kanan yang berada di keningnya. Matanya terpejam seakan ia sedang memikirkan sesuatu.


Tentu saja, suaminya pasti sedang memikirkan dirinya.


"Mas." Panggil Bianca lagi seraya berjalan mendekati Raka.


Bianca duduk di sebelah suaminya, ia memegang tangan Raka membuat pria itu akhirnya membuka mata.


"Mas, ayo bicara. Aku akan jelaskan, tolong jangan salah paham." Ucap Bianca lembut.


Raka melepaskan tangan istrinya. "Saya ingin sendiri, tolong tinggalkan saya." Ucap Raka dingin.


Raka hanya ingin meredakan amarahnya, ia tidak mau sampai emosi dan membentak istrinya.


Bianca menggeleng. "Nggak, Mas. Aku mau ngomong sekarang, aku nggak mau kita terus salah paham." Tolak Bianca.


Raka menoleh, menatap wajah cantik istrinya yang sedang memelas untuk bicara padanya.


"Selama ini saya berusaha mati-matian untuk membuat kamu bahagia, tapi saya nggak nyangka ini balasan dari kamu, Bi." Ucap Raka lembut, namun terdengar begitu lirih.


"Saya mungkin terlalu terburu-buru untuk menikahi kamu, makanya kamu bersikap begini. Saya minta maaf, Bi. Mulai hari ini saya akan berusaha untuk bersikap biasa saja." Tambah Raka.


Raka berusaha untuk tetap tenang, ia tidak mau sampai membentak istrinya dan membuat Bianca takut padanya.


"Mas, aku mohon jangan begini. Aku dan Reza hanya bicara tentang–" Ucapan Bianca terhenti.


"Tentang dia yang tidak bisa melupakan kamu, iya kan?" tanya Raka memotong ucapan istrinya.


"Iya, Mas. Tapi dia mengatakan bahwa dia …" Bianca menggantung ucapannya.


"Dia apa? Dia mau kembali sama kamu?" Tanya Raka ketika Bianca tidak melanjutkan ucapannya.


Raka membalik badan, ia menatap istrinya yang kini menundukkan kepalanya.


"Sekarang saya mengerti kenapa kemarin kamu membahas masa lalu saya, karena kamu mau saya kembali dengan masa lalu saya, lalu kamu kembali dengan masa lalu kamu. Iya?" tanya Raka dengan suara yang begitu sakit.


Bianca menggeleng. "Bukan gitu, Mas." Jawab Bianca pelan.


Bianca ingin sekali menjawab ucapan suaminya, namun entah mengapa bibirnya terasa kelu.

__ADS_1


"Saya terlalu mencintai kamu, Bi. Sampai-sampai saya tidak bisa marah sama kamu, apalagi sampai membentak. Saya rela menyakiti diri saya dengan tetap terlihat tenang." Ucap Raka dengan suara yang begitu tenang.


Raka berjalan mendekati Bianca, ia tersenyum miris seakan menunjukkan bahwa betapa menyedihkannya dia.


"Saya akan berikan waktu selama yang kamu mau untuk menerima pernikahan ini, tapi satu yang harus kamu tahu adalah bahwa saya tidak akan pernah menceraikan kamu." Ucap Raka dengan lembut.


"Mas." Lirih Bianca.


"Kita hentikan pembicaraan ini, saya tidak mau terlihat sebagai suami jahat yang membentak istri sendiri." Sahut Raka pelan dan tenang.


Raka merogoh saku celananya. "Ini ponsel kamu." Tutur Raka memberikan ponsel milik istrinya.


Bianca menerimanya, ia lalu memegang tangan Raka yang hendak pergi keluar dari kamar.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Bianca pelan.


"Saya ada pekerjaan, tolong jangan ganggu saya di ruang kerja." Jawab Raka tanpa menatap istrinya.


Bianca akhirnya membiarkan suaminya keluar dari kamar, meninggalkan dirinya yang menangis.


Bianca menundukkan kepalanya, ia menangis dengan bahu bergetar. Bianca membuka ponselnya, ia membaca pesan yang dikirim oleh Reza.


"Maafin aku, Mas." Lirih Bianca.


Bianca memutuskan untuk memblokir nomor Reza agar pria itu tidak bisa lagi menghubunginya.


Bianca benar-benar merasa bersalah pada suaminya, ia juga tidak menyangka bahwa di dunia ini ada pria seperti Raka.


Raka marah, tapi tidak pernah sekalipun pria itu membentaknya. Raka tetap bicara lembut padanya.


"Aku pernah bilang akan belajar untuk menerima kamu, Mas. Dan aku akan melakukannya. Aku akan berusaha menerima pernikahan ini. Aku janji, Mas." Lirih Bianca lalu menyeka air matanya.


Bianca merasa bodoh karena tidak bisa membalas cinta pria yang tulus seperti Raka. Disaat dia terus melakukan kesalahan, tak pernah sekalipun Raka bicara dengan nada tinggi.


Sementara itu di ruang kerja Raka, pria itu tampak duduk di kursi kerjanya sambil mengetuk-ngetuk pulpen ke meja.


Pikiran Raka kacau, ia cemburu melihat Bianca menyentuh pria lain. Ia tidak bisa melihat Bianca bersentuhan dengan pria lain, apalagi masa lalunya.


Raka takut, ia takut Bianca pergi meninggalkan dirinya dan memilih masa lalu. Raka tidak sanggup jika harus ditinggal oleh istrinya.


"Saya sangat mencintai kamu, Bi. Maaf jika saya terkesan posesif," lirih Raka lalu menjambak rambutnya sendiri.


Raka tidak suka situasi ini, ia berusaha untuk mendengarkan ucapan istrinya, namun ia kembali teringat bagaimana tangan Bianca digenggam mantan nya.


"Raka lupakan! Jangan sampai kau marah pada istrimu sendiri." Gumam Raka pelan.


MAS RAKA, MENDING SELINGKUH SAMA AKU YUK 😥

__ADS_1


Bersambung.............................


__ADS_2