Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Yang mau nikah, malu-malu


__ADS_3

Intan tidak henti tersenyum karena sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya. Ia yang akhir-akhir ini lebih banyak diam, kini sudah kembali ceria.


Bianca yang melihatnya tentu ikut bahagia. Sebagai seorang sahabat, jika Intan bahagia maka ia pun bahagia. Apalagi orang yang akan menikahi Intan adalah pria yang baik.


Sepulang dari kampus, Bianca dan Intan akan pergi ke mall untuk cuci mata dan menguras dompet. Sementara Intan masih pakai uang sendiri dulu, sedangkan Bianca tentu saja uang suaminya.


Keduanya membeli pakaian, terutama Bianca yang merasakan perutnya semakin besar dan berat badannya ikut bertambah.


"Baju-baju gue juga udah pada mulai sempit, gara-gara kebanyakan makan gue." Ucap Intan seraya memilih baju yang menurutnya bagus.


"Kebanyakan makan, sama keseringan di tiup pak Raka." Sahut Intan terkekeh.


Bianca melototkan matanya, lalu mencubit lengan gadis itu. Intan ini memang seringkali bicara sembarangan.


"Mentang-mentang udah pernah kena tiup, jadi paham banget ya." Ledek Bianca berbisik dengan pelan.


Kini giliran Intan yang melototkan matanya. Ia jadi malu mendengar kata 'tiup' yang sahabatnya ucapkan. Tapi ini memang salahnya yang mulai duluan.


"Ini bagus nih." Kata Intan memberikan dress ibu hamil berwarna navy dan salem.


Bianca menerima saja, ia akan membayarnya karena menurutnya itu memang bagus.


Bianca tidak mungkin belanja untuk dirinya sendiri, tentu ia juga membelikan Kiano beberapa baju dan sepatu.


"Kiano udah pasti dijemput suami lo kan? Gue was-was sama mantan istrinya suami lo." Ucap Intan mengingatkan.


"Iya, barusan mas Raka kirim pesan katanya udah dalam perjalanan kesini." Jawab Bianca manggut-manggut.


"Sama pak Ario juga." Tambah Bianca, melempar pandangan penuh godaan dan sedikit ledekan.


Intan tersenyum malu-malu, ia sampai reflek memukul bahu Bianca dengan pelan. Tentu saja, mana berani Intan memukul ibu hamil dengan keras.


"Sebelum suami gue datang, yuk ke toko sepatu dulu. Ada heels yang lagi gue pengen, ngidam kayaknya." Ajak Bianca lekas menarik tangan sahabatnya.


Intan mendengus. "Ngidam, jangan jual-jual ponakan gue deh. Ini mah lo yang mau, bukan dedek bayinya." Celetuk Intan.


Bianca tertawa mendengarkannya, wanita itu menganggukkan kepalanya. Memang ini keinginannya, namun sengaja ia pakai dalih ngidam agar diizinkan beli heels oleh suaminya.


Raka itu bukan tidak suka Bianca pakai heels, namun ia hanya sedikit kurang suka sebab Bianca akan langsung merengek karena kakinya pegal jika pakai heels terlalu lama, apalagi yang centimeter nya tinggi.


"Intan, menurut lo nanti gue ambil cuti hamil atau nggak ya, gue males sebenarnya kalo harus libur dari kampus." Ucap Bianca meminta usulan sahabatnya.


"Gue nggak bisa kasih usulan, nanti tunggu gue hamil dulu ya." Sahut Intan terkekeh.


"Tapi gimana baiknya aja, coba lo bicarakan sama pak Raka." Tambah Intan.


Bianca manggut-manggut, ia mengusap-usap perutnya yang terasa sudah sedikit menonjol.


Bianca dan Intan pun pergi ke toko sepatu yang wanita hamil itu katakan, namun saat di depan pintu tanpa sengaja Bianca ditabrak seseorang sampai barang belanjaannya jatuh.


"Ya ampun, maaf ya." Ucap wanita itu lekas memunguti barang belanjaan Bianca.


Wanita itu berdiri, membuat Bianca bisa melihat wajahnya. Ia memasang wajah datar dan langsung merebut dengan kasar papar bag miliknya.


"Bianca." Panggil wanita itu, Briana.


Bianca menghentikan langkahnya, membuat Briana buru-buru mendekat. Wanita itu menatap Bianca dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


"Aku senang bisa bertemu denganmu disini, dan aku mau mengatakan bahwa aku tidak akan berusaha untuk merebut Raka lagi." Ucap Briana dengan tegas.


Bianca menatap wanita itu, merasa bingung akan kata-kata yang pernah mau merusak rumah tangganya seperti Yola.


"Rencana apa lagi yang anda siapkan untuk saya heuh?" Tanya Bianca, menahan penuh curiga.


Briana mendengus. "Rencana? Ya, aku memiliki sebuah rencana. Rencana untuk menikah." Jawab Briana.


Briana maju selangkah mendekati istri dari Raka itu.


"Aku akan menikah dengan pria pilihan orang tuaku. Awalnya aku menolak karena masih mencintai Raka, tapi suami mu itu sudah mempermalukan ku di depan umum." Ucap Briana penuh penekanan.


Bianca semakin bingung. "Mempermalukan anda, bagus jika begitu." Sahut Bianca tenang.


Briana menghela nafas, ia tidak banyak bicara lagi dan memilih untuk pergi. Ia bersumpah tidak akan mau lagi mengganggu Raka dan istrinya.


Sampai kapanpun, Briana tidak akan lupa apa yang pernah Raka lakukan padanya. Namun hal itu juga lah yang membuatnya mau menerima perjodohan dari orang tuanya.


Sementara itu Bianca memilih untuk tidak peduli pada ucapan Briana tadi, ia akan bertanya pada suaminya langsung dan minta penjelasan.


"Tadi itu mantan pak Raka juga? Ya ampun, Bi. Lo emang superwoman banget ya, bisa lawan dua perempuan sekaligus." Ucap Intan benar-benar kagum, namun juga kasihan.


"Dia itu bilangnya nggak mau ganggu gue sama mas Raka lagi, tahu benar atau nggak." Sahut Bianca, seakan mengatakan bahwa masalahnya kini tinggal satu, yaitu Yola.

__ADS_1


"Semoga kalo gue sama pak Ario nikah, nggak ada deh masa lalu yang datang. Gue mau bantuin lo aja basmi si Yola itu." Ucap Intan dengan penuh semangat.


Bianca tersenyum. "Ciee, yang udah nggak sabar mau nikah." Ledek Bianca.


"Iyalah, gue juga mau disayang suami kayak lo. Semoga deh pak Ario bisa romantis juga sama gue, hahaha." Sahut Intan no jaim-jaim lagi.


Setelah selesai belanja, Bianca dan Intan menunggu di salah satu restoran junk food untuk menunggu suami Bianca dan mungkin juga pak Ario.


Tidak sampai 10 menit, Raka bersama Kiano dan Ario datang. Mereka bertiga langsung menghampiri Bianca dan Intan.


"Mami!!" Panggil Kiano dengan riang.


"Hai, anak mami sayang." Sahut Bianca lalu mencium kedua pipi Kiano.


Raka pun mencium kening istrinya, dan dibalas Bianca dengan mencium punggung tangannya.


Intan dan Ario yang melihat pemandangan itu hanya bisa saling pandang dan melempar senyuman. Apa yang mereka lihat diantara Bianca dan Raka adalah wisata masa depan.


"Duduklah, aku akan pesan makanan nya." Tutur Intan pada semuanya.


"Gue temenin ya." Ucap Bianca bangun dari duduknya, namun dicegah oleh Ario.


"Nggak usah, Bia. Biar saya dan Intan aja yang memesan. Kalian mau makan apa?" Tanya Ario.


"Apa aja terserah lo, asal jangan racun." Jawab Raka dengan cepat.


Ario mendengus. "Gue nggak nanya sama lo." Ketus Ario.


"Kiano mau apa, Sayang?" Tanya Ario pada bocah laki-laki yang tampan itu.


Kiano menatap maminya. "Mami, apa aku boleh makan es krim coklat?" Tanya Kiano meminta izin.


"Boleh, Sayang." Jawab Bianca tersenyum hangat.


Setelah memutuskan apa saja yang mau di pesan. Ario dan Intan pun pergi untuk memesan makanan nya, meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Kenapa cemberut mukanya, kurang puas sama belanjaannya?" Tanya Raka sembari merapikan rambut istrinya.


Bianca tidak menjawab, wanita itu masih terus menatap suaminya dengan wajah yang ditekuk.


Superwoman jika tidak ada Raka, namun jika ada suaminya begini maka Bianca akan berubah menjadi sangat manja.


"Terus dia apain kamu, perlu aku samperin dia?" Tanya Raka, lalu menggenggam tangan istrinya.


"Dia bilang nggak mau ganggu kita lagi, karena katanya dia sudah dipermalukan sama kamu. Emang iya, Mas?" Tanya Bianca penasaran.


Raka terdiam seperti sedang berpikir. "Mungkin iya, tapi aku nggak tahu juga." Jawab Raka ragu-ragu.


"Memang apa yang kamu lakukan sama dia, kok dia sampai nggak mau ganggu kamu lagi?" Tanya Bianca lagi semakin penasaran.


Raka menghela nafas, ia jadi teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dirinya sedang menghadiri sebuah acara di hotel.


Saat itu Raka sedang ke acara para pengusaha tanpa membawa Bianca yang merengek perutnya sakit, sehingga Raka tidak tega mengajaknya pergi.


Raka yang datang seorang diri lantas dimanfaatkan oleh Briana yang ternyata juga hadir dalam acara tersebut.


Dengan begitu percaya diri, Briana langsung menggandeng tangan Raka yang sedang mengobrol dengan pengusaha lain.


"Apa-apaan ini, lepaskan!" Ucap Raka, kemudian menepis tangan Briana yang menggandeng tangannya.


"Kok kamu gitu, aku kan pacar kamu." Briana berucap dengan manja dan sedih, sengaja mencari perhatian di depan pengusaha lain.


"Pak Raka, bukannya istri anda itu nyonya Bianca. Siapa dia?" Tanya rekan bisnis Raka.


Mendengar pertanyaan itu, Briana dengan begitu berani langsung mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Saya Briana, Pak. Saya kekasihnya Raka," ucap Briana.


Raka menatap wanita itu dengan jijik, sepertinya Briana itu kurang sadar atau lebih tepatnya mabuk.


"Jangan dengarkan dia, Pak. Saya tidak mungkin mengkhianati istri saya untuk perempuan seperti ini." Ucap Raka menjelaskan.


"Kok kamu gitu?" Briana protes lalu ingin menyandarkan kepalanya di dada bidang Raka, namun Raka menghindar.


Gerakan Raka yang begitu cepat membuat Briana hilang kendali dan langsung terjerembab ke lantai.


Raka hanya menatap sekilas, seraya merapikan jas yang ia gunakan. Tidak lupa ia mengibaskan lengan nya seakan ingin menghilangkan bekas tangan Briana.


Para tamu yang hadir di sana memperhatikan Briana yang terduduk di lantai. Wanita itu benar-benar sangat malu, apalagi ia bisa mendengar tawa mengejek.


"Lho, itu nona Briana kan. Pengusaha kuliner, ada apa dengannya?" Seseorang mulai bisik-bisik.

__ADS_1


"Pak Raka, dia ini sebenarnya siapa anda?" Seseorang ikut bertanya kepada Raka.


Raka dengan santai menunjuk Briana yang masih terduduk.


"Dia? Dia bukan siapa-siapa saya, Pak." Jawab Raka memberitahu.


"Tapi kami lihat dia dekat-dekat dengan anda, kami pikir dia istri anda." Orang lainnya mulai ikut bicara.


"Istri saya di rumah, dia sedang hamil dan tidak bisa ikut datang kesini. Sedangkan wanita ini, saya bahkan tidak mengenalnya." Jelas Raka, tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya.


"Dan lagi, saya tidak mungkin mengenal wanita seperti ini, yang suka menggoda pria beristri." Saras Raka, ia tidak peduli lagi dengan perasaan Briana.


"Jadi dia berusaha mendekatinya pria beristri, ya ampun benar-benar tidak tahu malu ya. Cantik, tapi tidak tahu malu." Cibiran pedas mulai terdengar, membuat Briana semakin malu.


Briana bangkit dari duduknya di lantai, lalu lekas berlari keluar dari ballroom hotel, meninggalkan acara yang ia datangi tanpa adanya undangan.


Ya, Briana datang tanpa diundang siapapun, wanita itu sengaja menerobos masuk untuk mengikuti Raka saja, apalagi setelah tahu Raka pergi sendiri.


"Begitulah, dan aku tidak merasa mempermalukannya. Itu hanya reaksi spontan aku aja yang nggak suka di dekati dia." Ucap Raka setelah menjelaskan panjang lebar.


Bianca melongo mendengar penjelasan dari suaminya. Pantas saja Briana menyerah, ternyata Raka sekejam itu memperlakukannya.


"Sekarang kenapa melamun? Aku nggak mau ya kamu marah, kan kamu yang suruh aku cerita." Ucap Raka.


Raka takut sekali Bianca akan marah dan mendiami dirinya. Sudah tidak mau lagi Raka tidur sendirian tanpa istrinya.


"Siapa yang marah sih, aku cuma diam." Sahut Bianca sewot.


"Kamu kan suka diam, terus tiba-tiba marah. Nanti ujungnya tidur di kamar Kiano deh, ninggalin aku sendirian di kamar." Ucap Raka yang sudah hafal siklus mood Bianca.


Bianca tertawa mendengarkannya, ia mencubit pelan punggung tangan Raka, kemudian mengusap nya. Bianca yang mencubit, Bianca sendiri yang mengusap, memang ajaib nyonya Raka Dewangga itu.


"Mami dan papi kenapa senyum-senyum?" Tanya Kiano kebingungan.


"Iya nih, soalnya mami godain papi." Jawab Raka.


Kiano langsung menatap Bianca yang lekas menggelengkan kepalanya.


"Papi bohong." Celetuk Kiano lalu mendekati dan memeluk Bianca.


Raka mendengus. "Percaya banget sama maminya, heran." Gumam Raka geleng-geleng kepala.


Tidak lama kemudian Intan dan Ario datang dengan membawa pesanan mereka, lalu menatanya di meja.


Intan duduk di sebelah Ario, tepat di seberang pasangan Bianca dan Raka.


"Tante es krim aku." Pinta Kiano malu-malu.


"Ada dong, Sayang." Sahut Intan lalu memberikan es krim untuk Kiano.


"Terima kasih, Tante." Ucap Kiano dengan riang.


"Sama-sama, ganteng." Balas Intan.


Ario tersenyum melihat interaksi antara Kiano dan Intan, ia jadi tiba-tiba membayangkan kehidupannya dan Intan saat mereka punya anak nanti.


"Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?" Tanya Raka membuka obrolan.


"Minggu depan, gue udah siapin semuanya." Jawab Ario yakin.


"Mantap juga, nggak sabar nih kayaknya." Ledek Raka terkekeh.


"Yaiyalah, lo pikir cuma lo doang yang mau punya istri," timpal Ario ikut terkekeh.


"Bukan cuma buat jadi istri ya, Pak. Bisa jadi teman, sama guling bernyawa. Nanti jadi nggak tidur sendiri lagi." Sahut Bianca ikut menimpali.


"Wajah tante kenapa merah?" Tanya Kiano dengan polos.


Mendengar ucapan Kiano, mereka semua tertawa. Pantas saja Intan diam dan menundukkan kepalanya, rupanya sedang malu karena bahas pernikahan.


"Ya ampun nih anak polos banget, jadi makin malu gue ketahuan mukanya merah." Batin Intan.


Ario memegang tangan Intan yang ada di bawah meja, membuat gadis itu menoleh padanya.


Ario memberikan kode untuk Intan segera menyantap makanan nya, dan Intan menurut saja.


"Cantik banget." Jerit Ario dalam hati.


YANG UDAH MAU NIKAH, NGGAK SABAR YAA🤣


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2