
Bianca begitu syok ketika ibu mertuanya bercerita bahwa pria tadi adalah suami dari Yola. Ya, pria itu adalah pria yang membuat Yola memilih untuk pergi dan meninggalkan Kiano.
Namun ada yang aneh disini, jika pria tadi adalah suami Yola, lalu siapa wanita yang bersamanya di toko sepatu tadi.
"Wanita tadi, mungkin pacar barunya. Mama dengar hubungannya dan Yola sudah tidak baik-baik saja." Begitulah jawaban mama Wina saat Bianca bertanya tadi.
Bianca Menghela nafas, ia berjalan pelan lalu duduk di pinggir ranjang. Kini Bianca tahu mengapa Yola seperti ingin kembali pada Raka.
"Jadi dia mau kembali sama mas Raka setelah di campakkan." Gumam Bianca.
Bianca tidak akan takut jika Yola mau merusak rumah tangganya, ia yakin pada Raka dan pada dirinya sendiri bahwa ia akan bisa mempertahankan rumah tangganya dari ancaman wanita seperti Yola.
"Mau kembali sama mas Raka, heuh enak aja." Gerutu Bianca.
Bianca bangkit dari duduknya, ia mendekati sofa lalu mengambil paperbag berisi pakaian yang tadi dibelikan oleh ibu mertuanya.
Tangan Bianca memilah-milah baju, namun gerakannya terhenti saat melihat baju yang begitu membuatnya terkejut.
Bianca mengambilnya, ia mengangkat baju itu dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar.
"Baju apa ini?" gumam Bianca bertanya-tanya.
Baju di tangannya itu adalah baju yang biasa disebut orang sebagai baju harom atau baju dinas.
Bianca masih ingat jika dirinya tidak mengambil baju itu tadi, apa mama Wina yang menaruhnya dan sengaja membelikan untuknya.
Bianca terkekeh, ia akan menyimpan baju ini. Entah kapan ia akan berani memakainya. Saat Bianca hendak menaruh baju itu di lemari, entah mengapa ia tiba-tiba teringat pada suaminya.
"Sayang … mau buka segel."
Bianca menggelengkan kepalanya sambil tertawa, ia jadi teringat pada Raka yang merengek sebelum berangkat dinas.
"Kangen juga nggak ada mas Raka." Gumam Bianca senyum-senyum sendiri.
Sesaat kemudian ia menghilangkan senyumannya, lalu menggeleng pelan.
"Eh apa sih, biasanya juga nggak suka kalo ada dia." Ucap Bianca menyangkal.
Bianca pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan bersih-bersih sebab hari sudah semakin sore.
Bianca belum melihat anaknya yang tertidur setelah mertuanya pulang tadi, ia juga harus lekas membangunkan Kiano lalu mengajaknya mandi.
Sementara itu di tempat lain, tampak seorang pria baru bangun dari tidurnya. Ia begitu kaget sekaligus marah melihat pesan yang ibunya kirimkan.
Dalam pesan itu, jelas tertulis nama pria yang sangat ia benci berani menggoda istrinya.
__ADS_1
Raka tersenyum sinis, ia tidak akan membiarkan pria itu berani mengganggu istrinya. Dan lagi, Raka juga percaya bahwa Bianca tidak akan mungkin tergoda dengan pria murahan seperti Juan.
Ya, istrinya adalah gadis baik-baik. Meski Bianca ketus padanya, tapi ia percaya bahwa Bianca tidak akan mungkin berkhianat apalagi Bianca sudah mengatakan untuk berusaha menerima pernikahan mereka.
"Aku akan mengurusmu nanti, Juan!!!" Geram Raka mengepalkan tangannya.
Jika dulu Yola di rebut Raka tidak bereaksi semarah ini, padahal Yola benar-benar sampai di rebut, mungkin karena ia tidak mencintai wanita itu.
Dulu Raka hanya kecewa Yola memilih pria lain dibanding Kiano, anaknya. Raka tidak masalah sama sekali Yola memilih Juan, ia hanya kasihan pada Kiano.
Tapi sekarang, saat Bianca baru digoda sedikit rasanya Raka sudah kebakaran jenggot. Ia marah, dan tidak suka.
***
Malam harinya, Bianca sedang makan malam bersama Kiano. Rasanya sangat berbeda, biasanya akan ada Raka di tengah-tengah mereka.
"Mami, aku kangen sama papi." Ucap Kiano tiba-tiba.
Bianca menoleh, ia tersenyum pada putranya itu lalu memberikan usapan di kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Kangen sama papi? Mau telepon papi?" tawar Bianca.
Kiano menatap Bianca penuh semangat dan binar mata bahagia.
Bianca terkekeh. "Habiskan makan kamu dulu, setelah itu baru kita telepon papi." Tutur Bianca lembut.
Kiano nurut, bocah itu lekas menghabiskan makanan nya agar bisa menghubungi papinya.
Setelah selesai makan malam, Bianca tidak mengajak Kiano ke kamar melainkan bersantai dulu di ruang tamu, tentu sambil mencoba menghubungi suaminya.
Baru beberapa detik Bianca menelpon, Raka langsung mengangkatnya. Raka benar-benar menjadikan Bianca sebagai prioritas.
"Hai, Sayang."
Bianca tersenyum melihat wajah tampan suaminya, ia selalu suka jika Raka mengenakan kaos biasa seperti sekarang. Terlihat seperti anak kuliahan.
"Sayang, kok melamun?"
Bianca tersadar, ia lekas menggeleng lalu mengalihkan wajahnya demi menyembunyikan kekagumannya.
"Sayang, kok malah buang muka. Sini lihat sini lagi, aku kangen tahu."
Bianca menatap wajah Raka, namun hanya sebentar. Gadis itu lalu memberikan ponselnya pada Kiano.
"Ini papi kamu, tadi katanya mau bicara kan." Ucap Bianca pada Kiano.
__ADS_1
Kiano tersenyum. "Terima kasih, Mami." Timpal Kiano lalu menerima ponsel milik maminya.
Kiano pun tampak berbincang-bincang dengan Raka, terdengar suara tawa beberapa kali dari anaknya dan itu membuat Bianca penasaran.
"Mami, aku mengantuk." Ucap Kiano tiba-tiba.
"Mengantuk, mau tidur?" Tanya Bianca dan Kiano menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Sayang, ajak Kiano tidur tapi teleponnya jangan di matiin."
Bianca nurut, ia mengajak Kiano untuk tidur di kamarnya. Tentu saja, Bianca tidak mau jika harus tidur sendirian.
Sampai di kamar, Kiano dan Bianca langsung naik ke atas tempat tidur.
"Kiss mami dulu sebelum bobok." Pinta Bianca menunjuk pipi kanannya.
Kiano lekas mencium pipi Bianca, namun bukan hanya suara kecupan Kiano yang terdengar, tapi Raka juga.
"Ngapain sih?" tanya Bianca menyipitkan matanya.
"Katanya mami minta kiss, jadi papi kiss."
Bianca tidak menyahut, ia meletakkan ponselnya dengan diganjal bantal lalu dirinya menarik selimut guna menutupi tubuh Kiano.
Posisi ponsel membuat Raka bisa melihat anak dan istrinya yang kini saling berpelukan.
"Sayang, mau ikutan peluk."
Bianca tersenyum. "Sini, sekalian buka segel." Bianca meledek Raka dengan senyuman paling menggoda.
"Sayanggg!!!!"
Bianca tertawa lepas, namun ia buru-buru menghentikan nya karena takut membangunkan Kiano.
"Aku mau tidur, Mas. Teleponnya nggak usah di matiin nggak apa-apa." Ucap Bianca.
"Kenapa? Kamu sudah rindu sama saya?"
Bianca tidak menyahut, ia hanya memberikan tatapan tajam yang malah membuat Raka tertawa begitu lepas.
"Selamat malam istri saya yang paling cantik."
MBAK BIAA, YA KALI NGGAK BAPER 😭
Bersambung..................................
__ADS_1