Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Pecahin sekalian


__ADS_3

Selesai makan, Raka dan Bianca mengantar Kiano pulang ke rumah sebelum mereka berdua sama-sama pergi melanjutkan aktivitas masing-masing.


Kiano tampak tidak mau ditinggal, ia terus memeluk Bianca dengan erat.


"Mami hanya sebentar, Sayang. Setelah selesai, mami langsung pulang." Tutur Bianca lalu melepaskan pelukan putranya dan menyeka air mata Kiano.


"Tapi … tapi aku mau sama mami, aku nggak mau ditinggal." Balas Kiano menggeleng penuh penolakan.


Raka menghela nafas, ia berlutut di hadapan Kiano lalu merapikan rambut putranya.


"Kan mau jadi Abang, masa cengeng. Nanti di ketawain adik bayi mau?" Tanya Raka lembut.


Kiano menggeleng. "Tapi aku nggak mau ditinggal mami." Sahut Kiano pintar.


"Janji hanya sebentar, Abang main sama bibi dulu ya." Pinta Bianca dengan sabar dan lembut.


Kiano menyeka air matanya sendiri, lalu memeluk maminya lagi.


"Jangan lama-lama ya, Mami." Ucap Kiano dan dibalas anggukan kecil oleh Bianca.


Setelah dibujuk, akhirnya Kiano mau untuk ditinggal Bianca kuliah. Meski saat mobil Raka meninggalkan area rumah, masih terdengar bocah itu memanggil.


"Kasihan Kiano." Ucap Bianca seraya merapikan bajunya.


"Nanti juga diam, Kiano sudah besar sayang." Balas Raka lalu meraih tangan istrinya untuk ia genggam dan cium.


Raka melepaskan genggaman di tangan istrinya, lalu beralih mengusap perut Bianca.


"Kenyang nggak baby makan tadi?" Tanya Raka berceloteh pada bayi dalam perut istrinya.


"Kenyang dong, Papi. Perut mami sampai begah rasanya." Jawab Bianca menirukan suara anak kecil.


Raka terkekeh, ia mencubit gemas pipi sang istri yang ia yakini akan bertambah bulat seiring tambahnya usia kandungannya.


"Hari ini kamu lembur?" Tanya Bianca menoleh, menatap wajah sang suami.


Raka menoleh sebentar, lalu kembali fokus menatap jalanan.


"Nggak, Sayang. Kenapa?" Tanya Raka balik.


"Nggak apa-apa, cuma mau makan bareng kamu nanti." Jawab Bianca tersenyum manis.


Raka tertawa, padahal setiap hari juga makan bersama, tapi istrinya berkata seakan selama ini Raka jarang pulang.


"Aku bukan bang Toyib, Sayang. Pulang kok aku, dan makan bersama kita." Sahut Raka.


Bianca ikut terkekeh. "Kamu bukan bang Toyib, tapi bang ghaib." Celetuk Bianca bergurau.


Raka hanya bisa mengusap dadanya sabar. Katanya ia bang ghaib, mungkin saking tampannya sampai tidak terlihat.


Raka pun sampai mengantar istrinya ke depan kampus. Sebelum keluar, tentu ia memeluk dan mencium istrinya dulu.


Bianca membalas ciuman yang suaminya berikan, dan ditutup dengan mencium pipi Raka.


Raka membalasnya, ia mencium kening lalu turun ke perut istrinya.


"Jangan buat mami repot ya, baby harus semangatin mami untuk belajar." Bisik Raka setelah puas menciumi perut Bianca.


Setelah puas kecup-kecupan, Bianca pun keluar dari mobil. Ia melambaikan tangannya pada sang suami sampai mobil Raka tidak terlibat.


Bianca lekas masuk, namun dari tempatnya berdiri ia melihat Intan berjalan di koridor kampus sambil melamun.


"Intan!!" Panggil Bianca berteriak.

__ADS_1


Bianca hendak berlari, namun ia ingat pada kondisinya yang sedang hamil, apalagi kandungannya lemah.


Sementara Intan menghentikan langkahnya, ia tersenyum melihat sahabatnya datang.


"Hai, Bi. Aduh, gue kangen masa." Celetuk Intan mengusap-usap perut Bianca.


Bianca tertawa. "Lagian kemarin gue tinggal ambil makanan, lo udah nggak ada. Parah ya debat sama pak Ario nya?" Tanya Bianca.


Ya, ketika kondangan ke pernikahan Reza kemarin. Kalian pasti masih ingat saat Bianca dan Raka pergi karena malas melihat Intan berdebat dengan Ario.


Niatnya ingin pergi sebentar saja dan kembali berbincang, namun saat mereka kembali ke meja, dua manusia itu malah sudah tidak ada.


"Hah? Ohh … iya, iya gue balik duluan." Jawab Intan gelagapan.


Kening Bianca mengkerut. "Kok gugup gitu, kenapa lo?" Tanya Bianca curiga.


Intan mengandeng yang temannya lalu mengajaknya masuk ke ruang kelas. Sambil berjalan, Intan terus saja bicara tidak nyambung.


"Ca, gimana pulangnya kita ke mall." Ucap Intan memberi saran.


Bianca menggeleng, ia ingat janjinya pada Kiano untuk segera pulang setelah perkuliahannya selesai.


"Nggak bisa, gue udah janji sama Kiano mau langsung pulang." Tolak Bianca.


"Main ke rumah gue aja." Tambah Bianca menawarkan.


Intan mengangguk, terakhir kali ia main dengan anaknya Bianca itu terasa menyenangkan. Dan mungkin melakukan hal itu lagi bisa membuat stress nya hilang.


Bianca menggoyangkan bahu Intan yang kembali melamun untuk yang kesekian kalinya.


"Intan, lo kenapa sih!!" Gerutu Bianca heran sendiri melihat sahabatnya.


"Nggak apa-apa. Gue oke kok," sahut Intan tersenyum lebar.


"Jadi apa?" Tanya Intan terlupa karena pikirannya sendiri.


Bianca menepuk jidatnya, ia langsung masuk ke dalam kelasnya dan meninggalkan sahabatnya itu begitu saja.


"Jadi, Bi. Bianca!!" Panggil Intan buru-buru menyusul masuk ke dalam kelas.


Intan duduk di sebelah Bianca. "Jadi, gue mau main sama anak lo." Kata Intan.


"Lo kebanyakan ngelamun, mikirin apa sih?" Tanya Bianca bingung.


Intan terdiam, lalu menundukkan kepalanya. Gadis itu terdengar menghela nafas dan kembali mengangkat kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Bianca semakin bingung.


Intan tiba-tiba menangis sedikit, tapi banyak berteriak.


"Bianca, gue … gue …" Intan bicara setengah-setengah, membuat Bianca makin heran.


"Apa sih, yang jelas dong ngomongnya." Pinta Bianca emosi.


Intan menyeka air matanya, ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca dan mengatakan sesuatu pada sahabatnya itu.


"APA!! LO GILA!!" Kini giliran Bianca yang berteriak histeris.


Intan melongo. "tenang, Bi. Ingat, lo lagi hamil, nggak boleh heboh!" Tegur Intan mengingatkan.


Bianca lekas mengatur nafasnya sembari mengusap perutnya sendiri. Ia benar-benar hilang kendali setelah mendengar ucapan sahabatnya.


Bianca memukul bahu Intan. "Gila lo, gimana bisa sampai gitu?!" Cecar Bianca.

__ADS_1


Intan hanya menggeleng. Gadis itu terlihat berat untuk bercerita padanya, namun Bianca tahu bahwa sejujurnya sahabatnya itu butuh teman curhat.


"Lo kenapa nggak ngomong sama gue, Tan?" Tanya Bianca lembut.


"Gue nggak mau ganggu lo yang mungkin aja lagi sibuk." Jawab Intan.


Bianca mengusap-usap punggung sahabatnya.


"Kalo udah kayak gini gimana, gue bingung juga." Ucap Bianca mengusap wajahnya kasar.


Intan menggelengkan kepalanya. "Gue juga nggak tahu, Bi." Balas Intan semakin pelan suaranya.


Bianca merasa kasihan, namun ia juga bingung harus melakukan apa saat ini. Masalah yang Intan hadapi cukup rumit.


***


Sementara itu di kantor Raka. Pria itu baru saja masuk ke dalam area kantornya. Niat ingin langsung ke ruangannya, Raka malah kaget ketika tangannya di tarik.


"Apa-apaan lo!" Tegur Raka kesal.


"Ka, gue mau cerita. Ikut gue ya, ini genting banget sumpah!" Ajak Ario dengan wajah panik dan serius.


Meski bingung, Raka akhirnya pasrah saja diajak oleh sahabatnya itu ke kantin kantor.


Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan jus jeruk dan lemon di depan masing-masing.


"Apaan, jangan bengong aja lo." Ketus Raka geram.


Jika hanya diam begini, itu sama saja Ario telah membuang waktu berharganya. Jelas-jelas ia sedang banyak pekerjaan, tapi ia malah duduk disini dan menonton Ario yang melamun.


"Sabar, Ka. Gue siapin kata-kata sama mental dulu." Pinta Ario ikut kesal.


Raka mengerutkan keningnya, kini ia bisa merasakan bahwa masalah sahabatnya memang serius.


Raka membenarkan posisi duduknya, ia berdehem lalu menganggukkan kepalanya.


"Hmm, yaudah cepet." Kata Raka lebih sabar.


Ario bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Raka dan menarik kursi untuk lebih dekat dengan Raka.


"Ngapain lo?" Tanya Raka bingung.


Ario meringis pelan, ia lalu membisikkan sesuatu ditelinga sahabatnya.


Raka melotot, ia langsung menggebrak meja kantin sampai-sampai mengundang tatapan dari para bawahannya.


"Stress lo, Ar? Pikiran lo dimana sampai-sampai bisa melakukan hal segila ini?!" Tanya Raka, masih melototkan matanya.


"Ka, duduk dulu. Kita ngomong pelan-pelan, gue mau cerita bukan mau dipermalukan. Tolong jangan berisik." Pinta Ario dengan sabar.


Raka akhirnya kembali duduk. "Terus gimana keputusan lo?" Tanya Raka.


Ario menggeleng. "Nggak tahu, ini benang udah kusut." Jawab Ario.


"Sok tahu lo, belum juga dicoba mikir. Pikirin dulu gimana!" Tegur Raka.


Ario hanya bisa menghela nafas. Berani cerita dengan Raka, maka harus berani di ketusin oleh pria itu.


"Kepala gue rasanya mau pecah!!" Celetuk Ario mengacak-acak rambutnya.


"Pecahin sekalian." Sahut Raka enteng.


KIRA-KIRA ADA APA YAA???

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2