
Setelah bicara soal rencana bulan madu yang tertunda pada Bianca dan Raka, akhirnya hari ini pasangan Ario dan Intan akan pergi untuk menghabiskan waktu usai pernikahan, atau orang biasa menyebutnya honeymoon.
Pasangan itu sudah berada di bandara dan masih menunggu pesawat yang akan mereka tumpangi.
Sambil menunggu, Intan melakukan panggilan video dengan sahabatnya dan juga Kiano.
Awalnya mereka ingin mengantar sampai bandara, namun mengingat kondisi Kiano yang belum sehat dan masih butuh perawatan membuat Raka dan Bianca mengurungkan niat mereka.
Intan dan Ario tidak masalah sama sekali jika mereka tidak mengantar. Memberikan mereka hadiah saja rasanya sudah lebih dari cukup.
"Hati-hati ya, siapin tenaga buat disana, gue yakin nanti lo di garap habis-habisan sama pak Ario." Celetuk Bianca dari seberang telepon.
Intan melototkan matanya, ia sontak menoleh pada suaminya yang hanya tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang mengandung sesuatu.
"Apa, Sayang?" Tanya Ario dengan pelan dan lembut.
Intan bergidik, membayangkannya saja ia sudah merinding dan lelah duluan. Iya lelah, karena Ario ini memang kuat sekali jika sudah berhubungan dengan yang panas-panas diatas ranjang.
"Ciee lagi ngebayangin." Ledek Bianca dengan tawa yang begitu lepas.
Intan menatap ponselnya lagi, lalu melotot. Bianca ini jika sudah bicara memang benar sekali, ia memang sedang membayangkan.
"Bi, lo mah gitu." Kata Intan menekuk wajahnya.
"Nggak apa-apa dong, berbagi pengalaman." Sahut Bianca masih dibarengi tawa.
Intan mendengus, ia benar-benar berada di tengah. Sisi kanan ada suaminya yang terus menatapnya dengan aneh, dan sisi kirinya ada Bianca yang terus menakuti nya.
"Bianca, udah deh gue tutup. Makasih ya, sampai jumpa lagi bestie." Ucap Intan lalu menutup panggilannya sepihak.
Intan lebih baik menutup teleponnya daripada ia dibuat semakin merinding, belum lagi tatapan suaminya yang semakin menjadi-jadi setiap kali Bianca menggodanya.
"Mas jangan tatap aku gitu deh, aku merinding tahu." Ucap Intan memeluk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Ario terkekeh, ia mengusap rambut panjang sang istri yang dikuncir kuda.
"Kenapa merinding, memang aku hantu?" Tanya Ario pelan.
"Lebih dari itu, Mas. Kamu itu nakutin," jawab Intan menggosok kedua bahunya.
Ario semakin tergelak, ia merangkul bahu istrinya, lalu menariknya agar semakin mendekat padanya.
"Maaf ya kalo aku nakutin, abisnya kamu buat napsu terus sih." Bisik Ario lalu mencium kening istrinya.
Intan melotot. "Tuh kan!!!" Desis Intan menekuk wajahnya.
Ario mengusap wajah istrinya, ia tidak berkata apa-apa lagi dan hanya memeluknya dengan erat. Rasanya semakin tidak sabar untuk sampai ke tempat bulan madu, dan menikmati waktu berdua dengan Intan istrinya.
Sementara itu di tempat lain, di rumah sakit dimana ada Raka bersama anak dan istrinya. Tampak Bianca masih asik tertawa usai mengganggu sahabatnya dengan ucapannya.
Bianca tahu sekali bahwa Intan mudah dipengaruhi jika dirinya yang berbicara, membayangkan wajahnya yang tegang saja membuat Bianca rasanya ingin terus tertawa.
Raka mengusap wajahnya istrinya sambil geleng-geleng kepala, namun tak bisa ia tutupi senyuman ketika melihat istrinya tertawa lepas begini.
"Papi!!" Kiano merengek ketika melihat papinya mencium sang mami.
Bianca menatap suaminya dengan tatapan menang, sudah ia katakan berkali-kali untuk jangan asal mencium jika di depan Kiano.
"Baiklah, papi kembalikan." Kata Raka lalu kembali mencium pipi Bianca.
Bianca mendengus. "Bukan dikembalikan, itu namanya nambah." Sahut Bianca geleng-geleng kepala.
"Abisnya mami gemasin sih, sini cium lagi." Pinta Raka memanyunkan bibirnya.
Sedang asik manyun, tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata yang datang adalah mama Vena dan papa Farhan. Pasangan suami istri itu terkejut melihat aksi menantu mereka.
Raka yang tahu ada mertuanya langsung malu-malu, ia berdehem kemudian bangkit dari duduknya, sementara kedua orang tua Bianca hanya tersenyum sambil menahan tawa.
__ADS_1
Mama Vena mendekati cucunya. "Cucu Oma, sudah siap untuk pulang?" Tanya mama Vena lembut.
Kiano menganggukkan kepalanya dengan cepat. Bocah itu bukan hanya siap, tapi sangat siap. Kiano sudah sangat merindukan sekolahnya.
"Siap, Oma. Aku mau pulang dan sekolah lagi," jawab Kiano memperjelas.
Papa Farhan ikut mendekat. "Wah, udah kangen sama teman-teman sekolah ya, Sayang?" Tanya papa Farhan pada cucunya itu.
"Iya, Opa." Jawab Kiano.
Sementara papa dan mama nya Bianca sibuk berbicara dengan Kiano, Raka justru malah tidak jelas. Ia berdiri di sudut ruangan sambil meraba-raba tembok.
Bianca menahan tawanya melihat kegabutan suaminya. Raka itu benar-benar unik memang.
Bianca bangkit dari duduknya, ia mendekati sang suami lalu mengusap bahu nya lembut.
"Ngapain, Pak? Gosok tembok biar keluar jin?" Tanya Bianca meledek.
"Sayang, aku malu sama orang tua kamu." Jawab Raka sangat pelan.
Bianca terkekeh. "Makanya kenal tempat dong, asal cium-cium aja sih." Sahut Bianca.
Raka menekuk wajahnya, kini ia benar-benar akan canggung untuk bicara dengan mertuanya. Padahal keciduk mencium istri sendiri, tapi rasanya Raka panik sendiri.
"Kamu kayaknya bahagia banget lihat aku malu." Bisik Raka.
"Nggak juga, tapi bisa jadi. Lagian salah kamu juga cium istri orang sembarangan." Sahut Bianca bergurau.
"Istri aku!!!" Seru Raka dengan cepat lalu mencium keningnya singkat.
Suara dehemen membuat Bianca dan Raka menoleh, ternyata papa Farhan melihat kembali aksi anak dan menantunya itu.
Kali ini Raka benar-benar ingin menenggelamkan diri saja di laut, sudah dua kali dia kena pergok mertuanya.
__ADS_1
NGANTEN BARU SEMANGAT HONEYMOON NYA, DAN NGANTEN LAMA SEMANGAT NGUMPETNYA 🤣
Bersambung..............................