
Setelah hampir seminggu berada di negara dengan julukan La France untuk berbulan madu, akhirnya pasangan suami istri Intan dan Ario pulang dan kembali ke tanah air.
Mereka sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan dijemput oleh Bianca dan Raka, serta Kiano juga pastinya.
Sebelum pulang, Intan menjanjikan untuk memberikan Kiano oleh-oleh mainan dari sana yang membuat bocah itu kini excited untuk menjemput om dan tantenya.
"Apa kabar, Bia? Kandungan lo baik-baik saja 'kan?" Tanya Intan seraya memeluk sahabatnya.
Bianca tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Baik, makin sehat karena papinya selalu siap siaga." Jawab Bianca seraya melirik suaminya yang sedang bicara pada Ario.
"Lo sendiri gimana bulan madunya, lancar? Enak? Puas? Uh ah nya mantap nggak?" Tanya Bianca bertubi-tubi dengan pertanyaan yang usil.
Intan melototkan matanya, bisa-bisanya temannya itu bertanya hal yang diluar nalar. Sudah seperti seorang dosen yang butuh jawaban lengkap dengan artikel pembuktiannya.
"Bi, lo mah kalo nanya nggak tanggung-tanggung." Sahut Intan menghela nafas pasrah.
Bianca tergelak, ia senang sekali menggoda sahabatnya yang habis menikmati bulan madu bersama suaminya itu.
"Berbagi pengalaman, nanti gue bagi pengalaman juga tentang kehamilan." Balas Bianca mengusap perutnya, lalu mengusap perut Intan.
"Biar cepat nyusul." Ucap Bianca lagi mendoakan.
Intan tersenyum, ia tidak mungkin menolak doa yang sahabatnya berikan padanya. Doa itu sangat mahal dan tak ternilai.
Sementara Raka dan Ario sedang bicara juga. Jaraknya tidak terlalu jauh, namun karena suara mereka yang pelan membuat para istri tak bisa mendengar.
"Mana buruan, nanti keburu ketahuan bini gue." Pinta Raka dengan cepat.
"Sabar, lo kayak mau minta jatah aja sih nggak sabaran banget." Sahut Ario tak kalah berbisik.
Raka memukul pelan bahu sahabatnya. Mentang-mentang habis pulang bulan madu, pembahasan Ario terus saja tentang jatah.
Ario lalu memberikan pesanan sahabatnya dengan sembunyi-sembunyi dan diterima Raka lalu langsung di masukkan ke dalam saku jas nya.
"Gratis kan?" Tanya Raka usil.
__ADS_1
"Gratis, tapi rumah lo buat gue." Jawab Ario dengan cepat.
"Gila, harganya hampir seharga rumah lo bilang gratis. Banyakan duit lo, yang ada gue yang minta tambahan harga tuh." Tambah Ario sewot.
Ucapan Ario yang suaranya lebih kencang membuat Bianca dan Intan menoleh. Mereka bingung melihat suami mereka yang seperti sedang berdebat.
"Kenapa, Mas?" Tanya Bianca seraya mendekati suaminya.
"Ha? Oh enggak kok, Sayang. Ini loh, Kiano merengek minta oleh-olehnya." Jawab Raka berbohong karena terdesak.
Kiano mendongakkan kepalanya. "Papi, kapan aku merengek, aku kan anak pintar jadi tidak merengek." Ucap Kiano dengan polos.
Raka semakin gelagapan, apalagi ketika istrinya menatapnya dengan tajam.
"Kamu jangan suka melempar kesalahan sama Kiano, dia anak pintar, Mas." Kata Bianca mengingatkan.
"Bercanda, Sayang. Tadi Ario minta tutorial supaya bisa tokcer adonan nya." Ujar Raka ambigu.
Kini giliran Intan yang menatap suaminya, ia bingung dan meminta penjelasan.
"Aku nggak tahu, si Raka ini suka aneh ngomongnya." Jelas Ario dengan cepat dan kepala yang menggeleng berkali-kali.
Raka dan Bianca akan mengantar Intan dan Ario pulang sebelum mereka pulang ke rumah mereka sendiri.
"Kiano, mainan sama oleh-oleh nya Tante kasih nanti malam ya. Tante belum buka koper," ucap Intan.
Kiano mengangguk dengan pintar. "Iya, Tante. Aku akan sabar, karena mami bilang orang sabar itu tampan dan banyak teman." Sahut Kiano.
Mereka terkekeh mendengar jawaban Kiano. Bocah itu sangat polos, dan beruntung Bianca mengajarkan hal yang benar.
Anak-anak seusia Kiano itu mudah untuk diracuni otaknya, sehingga harus sangat berhati-hati dalam memilih pergaulan.
"Anak mami memang pintar sekali." Ucap Bianca lalu mencium pipi putranya.
Kiano tersenyum lebar dan manis, bahkan sampai menunjukkan deretan giginya yang putih, tanda bahwa Kiano rajin menggosok giginya.
"Tante, mami bilang Tante akan memberikanku adik bayi juga, benarkah?" Tanya Kiano lagi.
__ADS_1
"Benar, tapi sebelum itu Kiano harus berdoa agar Tante Intan segera hamil seperti mami Bia." Jawab Ario dengan cepat.
"Pastinya harus ditambah dengan usaha juga." Raka menimpali dengan tatapan usil.
"Mas!" Tegur Bianca melototkan matanya.
Untungnya Kiano tidak mencerna kata-kata papinya, sehingga ia hanya fokus pada ucapan Ario saja.
"Aku akan berdoa pada Tuhan, semoga Tante Intan segera hamil seperti mamiku." Ucap Kiano lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Bianca mengusap rambut Kiano, ia bangga sekali dengan Kiano yang mengerti hal-hal baik. Bianca juga bersyukur ia tidak salah memilihkan Kiano sekolahan.
Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di apartemen tempat Intan dan Ario tinggal.
Pasangan suami istri itu keluar, membuat Bianca berpindah duduk ke depan dan membiarkan Kiano di belakang seorang diri.
"Terima kasih ya, hati-hati kalian pulangnya." Ucap Ario pada sahabatnya itu.
"Iya, kalian sana masuk." Sahut Raka menyibak tangannya seperti gerakan mengusir.
"Kiano, Tante nanti malam ke rumah dan bawakan mainan kamu ya." Ucap Intan.
"Oke, Tante." Balas Kiano dengan antusias.
"Dahhh …" ucap Bianca melambaikan tangannya, lalu menutup kaca mobilnya.
Mobil Raka pun pergi meninggalkan area apartemen Intan dan Ario. Mereka juga harus pulang dan istirahat. Raka sepertinya tidak akan kembali ke kantor dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja.
"Sayang, habis ini aku mau tidur. Kamu peluk aku ya," pinta Raka dengan manja.
"Iya bayi besarku." Balas Bianca pasrah.
Raka tersenyum lebar mendengarnya, ia suka sekali setiap mendengar istrinya menyahuti tingkah manjanya.
"Papi sangat manja, seperti adik kecil." Celetuk Kiano sambil tertawa lepas.
Bianca ikut tertawa, sementara Raka hanya diam dengan wajah ditekuk. Bisa-bisanya Raka ditertawakan oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
YEAYYY, AKHIRNYA UPDATE SETELAH SEKIAN LAMA😭😭
Bersambung............................