Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Jadikan istri kedua


__ADS_3

Raka selesai mandi dan menghampiri istrinya yang ternyata menunggunya. Ia berjalan mendekati Bianca lalu memakai pakaiannya dengan santai, tentu saja Bianca tutup mata.


"Ngapain tutup mata sih, dari semalam tutup mata terus." Ucap Raka menyindir kejadian semalam.


Bianca membuka matanya, ia memukul pelan tangan suaminya yang terus saja membahas soal kejadian semalam.


"Kamu nih kejadian semalam terus yang dibahas, aku kan malu." Cicit Bianca menutupi wajahnya dengan tangan.


Raka tergelak, ia hendak memegang tangan Bianca, namun istrinya itu sudah beranjak duluan dan keluar dari kamar meninggalkan dirinya.


Bianca keluar karena ia malu, namun saat kakinya hampir menepak di anak tangga, langkahnya langsung terhenti tatkala melihat Yola belum pergi dari rumahnya.


Bianca berdecak, wanita itu ternyata benar-benar mau menunggu suaminya. Ia harus memberikan sesuatu agar wanita itu kapok.


Bianca membalik badan, ia mendorong tubuh suaminya yang baru saja keluar dan hendak mengucapkan sesuatu.


Raka tentu saja terkejut dengan aksi istri, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika Bianca mencium bibirnya duluan.


Raka memegang pinggang ramping istrinya, ia mengimbangi ciuman istrinya. Walaupun bingung, tapi Raka tidak akan menyia-nyiakan ini.


Setelah beberapa saat, Bianca melepaskan ciumannya. Ia menatap wajah Raka lamat-lamat, lalu menggeleng.


"Nggak, belum bisa bikin si wanita setann itu kepanasan kalo ini." Celetuk Bianca.


"Sayang, kenapa sih?" tanya Raka bingung.


Bianca tidak menjawab, wanita itu tampak sedang berpikir cara apa yang akan menunjukkan keromantisan dia dan suaminya sehingga si wanita setann itu kepanasan.


Ide cemerlang muncul di kepala Bianca, ia tiba-tiba menyusupkan wajahnya ke leher Raka dan memberikan gigitan sampai berbekas.


"Hah, aku bisa buat ini." Ucap Bianca kaget sendiri.


Raka terkekeh, ia mengusap-usap bekas gigitan istrinya yang pasti membekas kemerahan.


"Kamu kurang?" tanya Raka seraya memutar kunci pintu kamar.


Bianca menggeleng seraya berjalan mundur menjauhi Raka yang berjalan mendekatinya.


"Bukan gitu, Mas. Diluar masih ada mbak Yola, aku mau dia tahu kamu itu nggak akan bisa balikan sama dia." Jawab Bianca menjelaskan.


Langkah Raka terhenti, ia terdiam beberapa saat lalu manggut-manggut.


"Oh begitu, jadi ini untuk panasin dia?" tanya Raka menunjuk tanda yang kini bisa Raka lihat melalui cermin.


Bianca mendekat, ia ikut memegang tanda buatannya lalu terkikik.


"Masa aku bisa buat ya, Mas. Kalo kamu sih nggak aneh, aku kalang kabut tadi nutupin di leher aku." Celetuk Bianca masih meraba-raba bekas gigitannya.

__ADS_1


Raka merangkul pinggang ramping istrinya dengan sebelah tangan.


"Padahal kamu nggak perlu begini, Bi. Aku bisa mengusirnya dan membuatnya tidak bisa kembali lagi kesini." Ucap Raka geleng-geleng kepala.


"Nggak ah, aku suka lihat muka dia yang kepanasan." Tolak Bianca menyahut.


Raka tersenyum, kini giliran dia yang menyusupkan wajahnya ke leher sang istri.


"Mas!! Jangan, Mas. Aku susah nutupinya!!" teriak Bianca, namun tidak dihiraukan oleh Raka.


Raka berhasil mencetak tanda lagi di leher istrinya, padahal Bianca sudah kesusahan menutupinya tadi.


"Kamu tuh benar-benar ya!!" geram Bianca hendak memukul, namun buru-buru tangannya ditahan oleh Raka.


"Husttt, katanya mau bikin wanita itu kepanasan, yaudah gini." Tutur Raka dengan lembut.


Bianca menekuk wajahnya, namun ia akhirnya pasrah saja. Ia parah tangannya ditarik keluar oleh Raka.


Mereka pun menuruni anak tangga, dan tentu saja masih ada Yola di ruang tamu. Wanita itu masih menunggu Raka.


"Raka!" panggil Yola dengan antusias.


Tercetak senyuman di wajahnya, namun senyuman itu hilang saat matanya beralih menatap Bianca.


"Mau apa kau kesini pagi-pagi, kau pasti tahu dan sadar jika kedatanganmu ini mengganggu waktuku dan waktu Bianca." Ucap Raka dengan dingin dan datar


"Raka, aku mau ketemu Kiano. Aku mau putraku!" Sahut Yola.


Raka menatap mantan istrinya. "Tapi apa sopan bertamu ke rumah orang pagi-pagi begini? Lagipula Kiano masih tidur." Tegas Raka.


"Aku kangen anakku, Raka. Apa itu salah?" tanya Yola memelas, berharap bisa mendapatkan simpati dari suaminya Bianca.


Raka tersenyum miring, ia tidak mengucapkan apa-apa dan malah memijat lehernya.


Apa yang Raka lakukan tentu membuat Yola bisa melihat tanda merah di leher nya.


"Mas, leher kamu belum di tutupin merah-merah nya. Aduh … aku jadi malu," ucap Bianca malu-malu.


Raka tertawa. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku suka kok," balas Raka lembut.


Yola mengepalkan tangannya, ia benar-benar emosi saat ini. Bisa-bisanya mereka bermesraan di hadapannya yang malah diabaikan.


"Apa kalian tidak mau hah!" bentak Yola.


Tawa Raka dan Bianca terhenti, mereka langsung sama-sama menatap Yola yang berani-beraninya membentak.


"Jaga nada bicaramu, Yola!" Tegur Raka tidak suka.

__ADS_1


"Kalian benar-benar pasangan yang norak, kalian menunjukkan kemesraan kalian di depan orang lain." Cibir Yola.


"Dan kau, kau benar-benar seorang anak kecil yang tidak tahu malu." Tambah Yola berbicara sambil menunjuk wajah Bianca.


Bianca tersenyum miring, ia mengangkat tangannya lalu menampar wajah Yola tanpa ada keraguan sama sekali.


Raka tidak terkejut, ia malah senang melihat istrinya bisa mengambil tindakan atas sikap kurang ajar wanita itu.


"Berani-beraninya kau menamparku hah!!" Teriak Yola tidak terima.


"Kenapa? Saya bahkan bisa menyeret anda keluar dari sini, Mbak!" sahut Bianca tenang dan tegas.


"Anda bilang apa tadi, saya tidak tahu malu? Anda yang tidak punya malu. Sudah berselingkuh dan membuang suami serta anak, lalu setelah dicampakkan ingin kembali kepada mereka." Tambah Bianca dengan nada tinggi.


"Jangan ikut campur masalahku dan Raka, ini adalah masalah kami. Kau jangan lupa bahwa Kiano adalah anakku!" sahut Yola tidak mau kalah.


"Dia anakku, Yola. Kau sendiri yang mengatakan tidak menginginkan Kiano, kau sudah membuangnya." Timpal Raka dengan wajah tanpa ekspresi.


Yola menatap Raka dengan wajah yang memelas. "Raka aku minta maaf, beri aku kesempatan memperbaiki ini." Pinta Yola.


"Ayo kita rujuk, Raka. Kau bisa menceraikannya, atau jadikan saja aku istri keduamu." Tambah Yola dengan tidak tahu malu.


Bianca mengepalkan tangannya, ia kembali menampar wajah Yola. Sebagai istri, tentu saja Bianca tidak terima dengan ucapan Yola.


"ANDA BENAR-BENAR GILA, DASAR WANITA SIALANN!!" umpat Bianca dengan emosi yang sudah meledak-ledak.


"Penjaga!!" panggil Raka tidak kalah berteriak.


Raka berusaha menahan istrinya yang mungkin bisa saja menganiaya Yola sampai babak belur.


Tidak lama kemudian penjaga rumah Raka datang dan langsung menyeret Yola keluar dari rumah.


"Hiks … enak sekali dia bicara, dasar wanita brengsekk." Umpat Bianca sambil menangis.


Raka menarik Bianca ke dalam pelukannya, ia juga menyeka air mata istrinya dengan lembut.


"Sssttt … lupakan saja, Sayang. Aku akan buat dia nggak bisa datang kesini lagi." Tutur Raka seraya mengusap-usap punggung dan bahu istrinya.


"Udah jangan nangis, sekarang kita sarapan dulu ya atau kamu mau pergi ke suatu tempat?" tawar Raka demi mengalihkan rasa emosi istrinya.


"Nggak! Aku mau di kamar aja." Tolak Bianca lalu pergi begitu saja.


Bianca tidak akan mungkin menangis saat bertengkar dengan wanita seperti Yola, namun saat lawan nya itu pergi tentu saja ia menangis.


"Dijadikan istri kedua, enak saja." Kesal Bianca terus menggerutu.


YOLA OH YOLA, MINGGAT AJA MENDINGAN 🙃

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2