
Seperti yang Intan katakan tadi jika malam ia akan berkunjung ke rumah Bianca untuk membawakan oleh-oleh, khususnya untuk Kiano.
Kini wanita itu bersama dengan suaminya juga pergi ke rumah sahabat mereka untuk memberikan barang-barang yang sengaja mereka beli untuk Kiano, Bianca dan juga Raka.
"Sesuai janji tante ya, ini hadiah untuk Kiano karena sudah jadi anak yang pintar." Ucap Intan lalu memberikan paper bag di tangannya.
"Wah, terima kasih Tante!!" Kiano memekik senang menerima hadiah dari tante nya itu.
Hadiah yang Intan berikan adalah sebuah mobil-mobilan yang di lengkapi remote control serta kamera sehingga Kiano bisa melihat mobil itu berjalan melalui layar yang tersambung dengan remote nya.
"Satu lagi, tante beli baju. Kayaknya cocok banget sama Kiano." Ucap Intan lalu memberikan paper bag berwarna putih.
Kiano kembali menerimanya dan melihat jika baju yang diberikan padanya memang bagus dan cocok di pakai untuk bepergian.
"Aku suka, terima kasih banyak om dan tante!!" Ucap Kiano lalu menyalami tangan Intan dan Ario berganti.
Ario terkekeh, ia mengusap kepala Kiano. Bocah yang dulu banyak diam kini tampak ceria dan semakin pandai saja.
"Anak lo makin pintar, didikan Bianca nggak gagal nih." Ucap Ario.
Raka merangkul bahu istrinya. "Yaiya dong, walaupun ketus tapi ada jinaknya juga." Sahut Raka.
Bianca mencubit paha suaminya sampai membuat Raka meringis. Pria itu mengusap bekas cubitan sang istri, lalu tersenyum manis kearah istrinya.
"Bercanda, Sayang. Maksudnya jinak itu ya kamu sangat menyayangi Kiano dan berhasil mendidik dia." Jelas Raka dengan cepat.
"Apa sih, nggak nyambung." Balas Bianca ketus.
"Tapi memang benar, Bia. Dulu Kiano itu banyak diam, nggak gampang bergaul sama orang termasuk gue. Sekarang ini anak jadi banyak bicara dan pintar, semenjak punya mami kayaknya." Ujar Ario memberitahu.
Bianca tersenyum, ia senang jika dirinya bisa membawa perubahan baik untuk Kiano maupun Raka.
"Kalo sama pak Raka gimana, Mas? Ada perubahan nya juga?" Tanya Intan penasaran.
"Jangan ditanya, Sayang. Bukan cuma ada, tapi ada banget." Jawab Ario sambil tertawa.
"Waktu masih sama masa lalunya, Raka selalu curhat masalah rumah tangga. Syukur sekarang nggak gitu, masih suka cerita tapi ceritanya yang bahagia bukan sedih-sedih." Tambah Ario menjelaskan dengan tawa yang semakin terdengar.
Raka melempar bantal sofa ke wajah Ario. Bisa-bisanya pria itu membuka rahasianya yang selalu menjadi suami tertekan dulu.
"Jadi mas Raka suka curhat sama pak Ario?" Tanya Bianca.
__ADS_1
"Sering, sampai sekarang juga. Malah kalo lagi dicuekin lo dia juga cerita sambil mengeluh." Jawab Ario dengan jujur.
"Heh brengsekk, sembarangan lo. Kapan gue ngeluh, nggak pernah." Raka tidak terima dan langsung menyahut.
Bianca hanya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala, sedangkan pasangan suami istri Ario dan Intan tampak terkekeh melihat wajah Raka yang ketakutan.
"Udah, ini gue bawain baju khusus ibu hamil." Ucap Intan lalu memberikan paper bag hitam pada sahabatnya.
Bianca menerima dan membukanya, ternyata isinya adalah dress ibu hamil yang cantik. Motifnya bunga, tapi tidak norak sama sekali.
"Bagus banget." Ucap Bianca penuh senyuman.
"Gue tahu lo bakal suka, jadi ya gue beliin." Sahut Intan penuh pengertian.
"Nah yang ini untuk pak Raka." Tutur Intan memberikan paper bag hitam, namun lebih kecil.
Raka menerima dan lekas membukanya. Ia yang excited berubah melongo ketika melihat isi paper bag nya.
"Gendongan?" Tanya Raka.
"Katanya mau jadi ayah siaga, berarti lo butuh ini." Jawab Ario sambil menahan tawa.
"Sayang, aku udah cocok banget nih gendong baby." Ucap Raka dengan bahagia.
Intan dan Ario sempat bingung, mereka pikir Raka akan protes terus, namun ternyata tidak. Pria itu tampak bahagia menerima hadiah berupa gendongan bayi.
"Wahh papi punya gendongan adik bayi!!" Kiano mendekati Raka lalu duduk di pangkuannya.
"Cocok kan papi gendong adik bayi nanti?" Tanya Raka dan Kiano menjawab dengan anggukan kepala yang cepat.
Bianca tersenyum melihat suami dan anaknya, terutama Raka yang seperti tidak sabar untuk menanti kelahiran anak kedua mereka.
"Bia." Panggil Intan, membuat Bianca menoleh.
"Heum?" Sahut Bianca.
"Gue kira suami lo bakal protes atau apa gitu di kasih gendongan, tapi ternyata malah bahagia banget ya." Ucap Intan sedikit berbisik.
Bianca tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Suami gue orang yang gampang bersyukur, apalagi kalo di kasih sama orang. Nah kalo soal gendongan, udah pasti dia senang karena dia yang paling excited sambut anak kedua." Jelas Bianca.
__ADS_1
Intan manggut-manggut, ia bisa melihat itu dengan baik. Dibanding Bianca, Raka jauh lebih semangat menerima hadiah yang berhubungan dengan anak kedua mereka.
Karena hari semakin malam, Intan dan Ario pun memutuskan untuk pulang. Lusa Ario sudah harus ke kantor, dan Intan kembali kuliah.
Setelah kepergian pasangan suami istri itu, Bianca pun mengajak Kiano untuk tidur.
"Mami, jika adik bayi lahir nanti mami tidak akan pergi 'kan?" Tanya Kiano yang sudah berbaring di atas ranjangnya.
"Tentu saja tidak, mami akan disini sama Abang, adik dan papi." Jawab Bianca lembut.
"Sekarang Abang bobok ya, besok kan harus sekolah." Tutur Bianca dan Kiano langsung memejamkan matanya.
Bianca mencium kening dan kedua pipi Kiano, lalu setelahnya ia pun pergi meninggalkan kamar Kiano.
Bianca pergi ke kamarnya, ia hendak langsung tidur namun tiba-tiba Raka memeluknya dari belakang.
"Mas, kebiasaan suka bikin kaget." Ucap Bianca sembari memukul pelan punggung tangan suaminya.
Raka terkekeh lalu mencium pipi sang istri dengan hangat.
"Aku punya sesuatu untuk kamu." Bisik Raka lalu melepaskan pelukannya.
"Apa?" Tanya Bianca.
Raka menarik Bianca ke depan meja rias. "Tutup mata kamu." Bisik Raka dan Bianca langsung nurut saja.
Raka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan membawanya ke depan sang istri. Tanpa banyak bicara, Raka langsung memakaikan kalung yang ia beli khusus untuk istrinya.
Bianca kaget, wanita itu lantas membuka mata dan meraba lehernya sendiri.
"Mas, kalung ini?" Tanya Bianca, ia ingat jika beberapa hari lalu menginginkan kalung ini.
"Yang kamu inginkan, dan ternyata aku menemukannya di luar negeri. Aku minta Ario membeli dan membawanya kesini." Jawab Raka lalu mencium bahu istrinya yang terbuka.
"Mas, harganya pasti mahal." Ucap Bianca menunduk untuk melihat keindahan kalung yang suaminya berikan.
Raka kembali memeluk Bianca. "Tidak lebih mahal dari apa yang sudah kamu berikan padaku dan Kiano." Balas Raka.
Bianca tersenyum, ia mengusap wajah sang suami yang dibalas Raka dengan kecupan di puncak kepalanya.
Bersambung......................................
__ADS_1