
Ario menaikkan kecepatan mobilnya sampai ia berhasil mengambil tempat di depan mobil Intan. Ia berhasil menghadang mobil gadis yang terus saja menghindarinya.
Ario keluar dari mobil, ia menutup pintunya sedikit kasar sampai-sampai jika Raka tahu, pasti ia akan marah.
Namun itu tidak penting sekarang, yang terpenting ia harus bicara dengan Intan saat ini juga.
Ario mengetuk kaca mobil Intan dengan pelan, lalu tidak lama kacanya turun sedikit, menampakkan wajah Intan yang ketakutan.
"Anda mau apa, Pak?" Tanya Intan dengan sedikit gugup.
"Keluar. Kita harus bicara, Intan. Kamu tidak bisa terus menghindar dari saya." Pinta Ario lalu tubuhnya mundur sedikit.
Intan menggelengkan kepalanya. "tidak ada yang perlu dibicarakan, Pak. Saya tahu ini kesalahan saya, jadi lupakan saja." Balas Intan menolak.
"Keluar, Intan." Pinta Ario lagi dengan tegas.
Intan memejamkan matanya, ia akhirnya membuka seatbelt nya lalu keluar dari mobilnya. Tepat saat ia keluar, hujan tiba-tiba turun.
"Ya ampun hujan, Pak. Kita bicara lain kali saja," ucap Intan hendak masuk ke dalam mobil, namun buru-buru di cegah oleh Ario.
Ario memegang tangan gadis itu. Ia tidak peduli pada hujan deras yang mengguyur tubuhnya saat ini. Yang Ario pikirkan adalah, bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan Intan.
"Kita bicara sekarang, Intan. Apa kamu tidak takut jika tiba-tiba hamil anak saya hah!" Bentak ariodi depan wajah Intan.
Intan menundukkan kepalanya takut, gadis itu kembali menangis setelah seharian ini ia berusaha untuk menahannya.
Intan berusaha untuk melupakan kejadian itu, tapi Ario terus saja berusaha mengingatkannya.
"Jawab saya, Intan. Kamu tidak takut jika apa yang terjadi diantara kita malam itu membuat kamu hamil?" Tanya Ario menekan ucapannya.
Intan mengangkat wajahnya. "Untuk apa saya takut, Pak. Saya tahu dan masih ingat jika semua ini adalah kesalahan saya, jadi memang ini yang akan saya terima atas kesalahan saya sendiri." Jawab Intan yakin.
Ario mencengkram kedua sisi lengan bahu Intan, ia kesal setiap kali mendengar ucapan Intan yang terus saja mengalahkan dirinya sendiri.
"Ini bukan hanya kesalahan kamu, Intan. Tapi juga kesalahan saya, kita berdua bersalah!" Sahut Ario dengan lantang.
Intan semakin menundukkan kepalanya. Memang penyesalan selalu ada di akhir. Andai saja malam itu ia tidak merasa ditantang, mungkin ia dan pak Ario tidak akan menghabiskan malam itu bersama.
Saat itu, setelah Ario mencium bibir Intan di depan Erik, nyatanya mantan kekasih Intan itu masih belum mau kalah. Pria itu masih menyangkal hubungan Intan dan Ario adalah palsu.
Memang benar palsu, tapi Intan enggan mengakui itu. Ia tidak mau mantan nya itu mengira bahwa ia belum move on.
"Apa lagi yang bikin lo ragu, gue dan mas Ario sudah mengikuti apa yang lo katakan, Erik. Lebih baik sekarang lo pergi!" Ucap Intan saat itu, tangannya setia merangkul lengan Ario.
Erik tersenyum, kepalanya manggut-manggut mendengar penuturan Intan.
"Baiklah, sekarang aku percaya. Ayo rayakan ini dengan minum jus." Ajak Erik lalu memanggil pelayan yang lewat disana.
__ADS_1
Erik memberikan dua gelas jus pada Intan dan Ario, namun hanya Intan yang menenggak minumannya, sementara Ario memilih untuk tidak meminumnya.
Melihat sikap Erik, tentu mengundang kecurigaan dalam diri Ario sehingga ia memilih untuk tidak minum jus yang Erik berikan.
Intan menenggak habis jus itu, lalu meletakkan gelas kosongnya dengan sedikit kasar di meja.
"Sudah, puas lo hah!" Teriak Intan dengan mata yang memerah.
Erik mengangguk, ia pun mengajak teman-teman pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar pergi, ia membisikkan sesuatu di telinga Ario.
"Berterima kasih lah padaku, karena malam ini kau akan bersenang-senang dengannya." Bisik Erik dengan senyuman miring.
Ario menatap Erik bingung. Tatapannya lalu beralih pada Intan yang duduk sambil memegangi kepalanya.
"Intan, kamu baik-baik saja?" Tanya Ario mendekati gadis itu.
Intan mengusap-usap leher dan tengkuknya, ia juga mengibas tangannya di depan wajah saat merasa panas di seluruh tubuhnya.
"Panas, Pak. Saya kepanasan, tolong …" ucap Intan dengan raut wajah gelisah.
Intan hendak membuka resleting gaunnya, namun buru-buru di cegah oleh Ario.
"Intan, apa yang mau kamu lakukan. Astaga …" ucap Ario dibuat pusing.
Ario menoleh ke belakang, melihat Erik yang tersenyum menang ke arahnya. Tatapannya lalu beralih pada Raka dan Bianca yang duduk menikmati makanan.
"Ahhh … panas, Pak. Panas sekali, saya ingin membuka pakaian saya!!" Celetuk Intan dengan mata terpejam.
Ario memegang kedua bahu Intan, mengudang lenguhan dari bibir gadis itu tatkala tangannya menempel di bahu.
"Ikut saya sekarang." Ucap Ario lalu menarik tangan gadis itu untuk pergi dari sana.
Ario berhasil membawa Intan keluar dari ballroom hotel, namun saat diluar gadis itu melepaskan tangan Ario dari tangannya.
"Ahhh, panas sekali, Pak. Panas!!" Celetuk Intan seraya membelai tubuhnya sendiri.
Intan terduduk di lantai dengan rasa gelisah dan panas yang semakin di rasakan nya.
"Hiks …tolong saya, Pak. Tubuh saya panas, saya tidak tahan." Ucap Intan terus merancau.
Ario menatap sekitar, ia dengan cepat mendekati Intan dan langsung menggendong gadis itu sebelum semakin banyak orang yang memperhatikannya.
"Tenanglah, saya akan bawa kamu pergi dan menghilangkan efek obat sialan ini." Bisik Ario.
Intan melingkarkan tangannya di leher Ario, gadis itu juga menciumi leher dan telinga Ario dengan gerakan menggoda.
Sebagai laki-laki normal, mustahil jika Ario tidak merasakan panas. Ia juga merasa merinding merasa nafas hangat Intan dan bibirnya yang terus menggodanya.
__ADS_1
Ario membawa Intan ke kamar hotel yang ia pesan. Tidak ada niat jahat sama sekali, ia hanya ingin mengguyur Intan dengan air dingin.
Bisa saja Ario mengantar gadis itu pulang, namun ia takut itu malah akan menjadi masalah bagi Intan sendiri.
Sampai di kamar hotel, Ario langsung membawa Intan ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuh gadis itu dengan air dingin.
"Panas, Pak. Tubuh saya masih panas!!" Rancau Intan sembari terus menggosok tubuhnya.
Ario kalang kabut, sepertinya ia membutuhkan bantuan Bianca. Ario lekas merogoh kantong nya, dan meraih ponselnya, namun belum sempat menelpon ia malah dibuat terkejut oleh Intan yang sudah melucuti pakaiannya.
"Hiks … panas sekali, tolong saya. Ada apa dengan tubuh saya, hiks …" ucap Intan dengan tubuh yang sudah terekspos.
Ario membulatkan matanya, ia membalik badan demi menghindari tatapan nafsunya, namun Intan malah mendekat dan langsung menciumnya duluan.
Ciuman terasa begitu kaku, mengingat Intan yang belum punya pengalaman sama sekali.
Bersama mantan kekasihnya, ia selalu menolak, dan hal inilah yang menjadi alasan kenapa kekasihnya selingkuh dulu.
Ario yang sudah diselimuti oleh napsu akhirnya tergoda, ia menjatuhkan ponselnya begitu saja dan beralih memegangi pinggang ramping Intan.
Ario membalas setiap pangutan bibir yang Intan lakukan, bahkan ia membawa bibirnya untuk mencium leher jenjang Intan.
"Ahhh …"
"Saya tidak tahu akan sebenci apa kamu pada saya, tapi saya tetap akan melakukannya, Intan." Bisik Ario lalu membawa tubuh Intan ke ranjang hotel yang rapi.
Dan akhirnya, malam itu Intan melepaskan kegadisannya karena sebuah jebakan. Intan yang sudah dipengaruhi oleh obat laknat sampai tidak sadar telah memberikan sesuatu yang paling ia jaga kepada pria yang tidak ia cintai dan tidak mencintainya.
"Ahhhh …"
Desahannn demi desahann memenuhi kamar hotel yang menjadi saksi seperti apa Ario menjebol gawang pertahanan seorang Intan.
Intan mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Ario yang basah karena air hujan. Pria dihadapannya ini tidak bersalah, ia yang menggodanya duluan.
"Jangan pedulikan saya, Pak. Saya yang menggoda anda, dan inilah konsekuensi yang harus saya terima." Ucap Intan dengan suara yang menyesakkan dada.
Ario memegang kedua tangan gadis itu. "Lalu kamu pikir saya akan tenang? Apa kamu pikir dengan menuruti permintaan kamu hidup saya bisa kembali seperti semula? TIDAK, INTAN!" sahut Ario sedikit berteriak diakhir kalimat.
"Setiap hari, dan setiap malam. Saya selalu merasa bersalah karena telah merenggut sesuatu yang berharga bagi kamu, saya selalu merasa menjadi pria paling jahat." Tambah Ario.
Ario menarik Intan sampai tubuh mereka tidak berjarak lagi.
"Malam itu, kita melakukannya bukan sekali. Saya tidak menjamin bahwa kamu tidak akan hamil anak saya." Bisik Ario seketika membuat Intan menatapnya kaget.
"P-pak?"
JADI INI ALASANNYA GUYS😭
__ADS_1
Bersambung...............................