
Bianca bersama anak dan suaminya pergi ke mall untuk mencari baju seperti yang Bianca katakan sebelumnya. Kini mereka semua sudah sampai di sana dan melihat pakaian yang akan cocok mereka kenakan.
"Aku nggak mau pakai rok lilit gitu, maunya dress batik aja." Ucap Bianca pada suaminya.
Raka mengangguk setuju, lagipula dress batik dan kemeja batik itu jauh lebih simpel, namun tetap mewah.
"Ini gimana, Sayang?" Tanya Raka menunjukkan baju batik pasangan berwarna putih tulang dengan campuran motif hijau tua dan hitam.
"Bagus, Mas. Tapi sepatunya cocok warna apa ya," sahut Bianca.
"Terserah kamu, hitam atau putih juga masuk." Timpal Raka.
Bianca manggut-manggut, dan akhirnya pilihan mereka langsung jatuh ke baju pertama. Rasanya malas jika terlalu banyak milih.
Bianca pun membeli heels di toko yang sama, dan langsung membayarnya menggunakan kartu kredit milik suaminya.
Sambil menunggu istrinya bayar, Raka mengajak anaknya ke kedai es krim yang berada tepat di sebelah toko tersebut.
Sebelumnya Raka sudah bilang pada istrinya, dan Bianca pasti datang kesana setelah selesai membayar.
"Enak? Abang suka?" Tanya Raka pada putranya.
Kiano manggut-manggut, menikmati es krim rasa cokelat dan mint yang di campur olehnya sendiri.
"Enak, Papi. Dan ketika adik lahir nanti, aku akan mengajaknya makan es krim bersama." Jawab Kiano yang lagi-lagi mengutarakan keinginannya bersama adiknya.
Raka terkekeh, ia mengusap kepala Kiano lalu manggut-manggut.
"Boleh saja, asal jangan terlalu sering." Sahut Raka lembut.
"Wahh, jadi Kiano mau punya adik?" Seseorang tiba-tiba bersuara dari belakang Raka.
Raka sontak menoleh, ia yang tadi mengerutkan keningnya berubah menjadi wajah datar setelah melihat siapa yang datang ke sana.
Orang itu menatap Raka dengan senyuman, lalu dengan begitu percaya diri ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Raka.
Raka tersenyum remeh, ia hanya menatap uluran tangan itu tanpa berniat membalasnya.
"Oh, baiklah." Kata pria itu lalu menarik tangannya segera setelah mengerti bahwa ia ditolak.
"Jadi Kiano akan punya adik, artinya istrimu sedang hamil?" Tanya Juan, dengan senyuman yang misterius.
Raka tidak menjawab. Sangat tidak penting menimpali ucapan pria yang pernah membuat kedua orang tuanya syok bahkan hampir collapse.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau masih menganggapku musuh setelah merebut Yola dulu?" Tanya Juan lagi.
__ADS_1
Raka masih diam, ia hanya memasang wajah datar. Tidak ada ekspresi yang tercipta di wajahnya.
"Kau masih belum bisa melupakan kejadian dulu, atau kau takut aku merebut istrimu lagi?" Tanya Juan tersenyum miring.
Raka menatap pria itu, ia bangkit dari duduknya lalu melayangkan jari telunjuknya di depan wajah kurang ajar Juan.
"Jaga mulutmu, Juan. Istriku Bianca bukan seperti Yola, dia wanita baik-baik." Ucap Raka penuh penekanan.
Juan tertawa. "Yola juga dulu wanita baik-baik, tapi buktinya dia masih bisa tergoda." Sahut Juan.
"Dia mengkhianati suaminya, yaitu dirimu. Demi siapa? Ya, demi diriku." Tambah Juan.
Raka mengepalkan tangannya, ia hendak mencengkram kerah baju Juan, namun ia terhenti mendengar suara istrinya.
"Mas!!!" Panggil Bianca.
Raka menoleh, menatap istrinya yang geleng-geleng kepala tanda bahwa ia tidak boleh hilang kendali atas dirinya.
Juan ikut menoleh. "Itu dia, Bianca." Kata Juan penuh senyuman.
Raka mendorong Juan. "Jika sekali lagi mulut kotormu berani menyebut nama istriku, aku tidak akan segan merobeknya." Ancam Raka.
Raka segera menggendong Kiano dan mengajaknya pergi. Ia menggandeng pinggang ramping istrinya lalu segera meninggalkan tempat yang sepanas neraka setelah kedatangan Juan.
Bianca bisa melihat suaminya masih kesal, ia lantas mengusap-usap tangan Raka yang ada di pinggangnya.
Raka terkekeh, ia menghela nafas lalu menatap istrinya.
"Kamu tuh paling bisa deh bercanda saat begini. Gemesin banget!!" Timpal Raka lalu tanpa malu langsung mencium pipi istrinya.
"Aku serius!!" Kata Bianca tidak terima di bilang bercanda.
Raka menaikan satu alisnya. "Oh, jadi baby sudah mengerti?" Tanya Raka.
Bianca mengangguk, ia lalu menatap Kiano yang benar-benar menikmati es krim, sampai tidak peduli pada sekitar.
"Mami sama adik bayi nggak di kasih?" Tanya Bianca bergurau.
"Dikasih." Jawab Kiano lalu menyuapi mami Bianca.
Bianca menerima suapan dari putranya. "Eumm …. Enak, terima kasih ya." Tutur Bianca.
"Papi?" Tanya Raka.
"Sudah mau habis." Jawab Kiano, menolak secara halus.
__ADS_1
Raka dan Bianca sama-sama tertawa. Mereka pun memutuskan untuk pulang saja, mood berbelanja sudah hilang karena Juan, dan untung saja mereka sudah mendapatkan barang utama yang dibutuhkan.
***
Keesokan harinya, keluarga kecil itu pergi untuk mencari sekolah yang cocok untuk Kiano. Mereka mencari sekolah yang tidak terlalu jauh, baik dari rumah atau kampus Bianca dan kantor Raka agar mudah jika ingin menjemput.
Mereka sudah mendatangi sekolah pertama. Sekolah yang cukup dipandang dan tidak bisa disepelekan bayarannya.
Meski bayarannya mahal, itu bukan masalah. Yang penting fasilitas dan akreditasi sekolah tersebut baik.
"Sayang, kamu ke kampus jam berapa? Masih keburu jika kita ke sekolah lain?" Tanya Raka melirik jam di tangannya.
Bianca menatap suaminya, namun bukannya menjawab wanita itu malah menangkup wajah suaminya yang tampan.
"Kamu ngantuk atau gimana hmm, ini hari Sabtu sayang." Ucap Bianca mengingatkan.
Raka menepuk jidatnya, bisa-bisanya ia lupa jika ini hari Sabtu. Tentu saja, karena di hari Sabtu pun Raka masih sibuk bekerja.
"Aku lupa, Mami." Cicit Raka menekuk wajahnya.
"Nggak apa-apa, ada aku yang selalu siap ingatin." Timpal Bianca lalu mengecup bibir suaminya.
"Mami, jangan cium papi, nanti papi mau makan mami lagi." Tegur Kiano menggoyangkan kedua tangannya ke kanan dan kiri.
Bianca terkekeh. "Iya, nggak kok. Papi nggak berani makan mami, soalnya ada Abang." Balas Bianca segera menjauh dari suaminya.
Sementara Raka hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya Kiano berkata bahwa dirinya akan memakan maminya.
Tapi Kiano tidak salah. Beberapa hari lalu Raka ingat dia mencium istrinya di dapur dan mengatakan ingin memakannya karena gemas. Disana juga ada Kiano yang mendengar. Jelas saja Kiano sekarang waspada.
"Papi itu sayang sama mami, Nak. Mana mungkin papi makan," ujar Raka geleng-geleng kepala.
"Lalu arti makan yang waktu itu papi bilang apa?" Tanya Kiano dengan polos.
"Maksudnya makan kue mami, waktu itu papi mau makan kue punya mami." Bianca menjawab.
Kiano terdiam. Bocah itu seperti kurang percaya pada apa yang maminya katakan. Namun ia akhirnya diam saja.
"Ada Kiano aja kamu susah cium aku, apalagi ada baby." Celetuk Bianca mengusap perutnya sendiri.
Raka mencium kening Bianca, lalu turun ke perut.
"Kata siapa, kan ada malam saat anak-anak tidur." Sahut Raka tidak mau kalah.
Bianca mencubit gemas pipi suaminya, ia pun meminta Raka untuk mengemudikan mobilnya lagi dan pergi ke sekolah lain.
__ADS_1
MAS RAKA KAN KING OFF MENCARI KESEMPATAN 😫
Bersambung...............................