Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Sesuatu untuk mami


__ADS_3

Raka masuk ke dalam kamar bersama Kiano, ia melihat istrinya itu sedang tidur. Pasti Bianca lelah dan mengantuk setelah meladeni wanita seperti Yola.


Raka berlutut di hadapan putranya, ia melempar senyuman pada Kiano yang terlihat kebingungan.


"Mami kenapa?" tanya Kiano menunjuk ke arah ranjang.


"Mami sedang sedih, jadi ayo kita hibur mami." Jawab Raka dengan ajakan.


Kiano menatap ke arah maminya, ia lalu kembali menatap papinya.


"Papi buat mami sedih?" tanya Kiano dengan kening mengkerut, tanda bahwa anak itu sedikit kesal versi menggemaskan.


Raka terkekeh pelan, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bianca yang seperti ini tentu bukan karena Raka.


"Lalu apa yang harus aku lakukan supaya mami tidak sedih?" tanya Kiano polos.


Raka mendekatkan wajahnya kepada Kiano, ia lalu membisikkan kata-kata yang membuat senyuman muncul di wajah tampan bocah itu.


"Bisa?" tanya Raka memastikan.


Kiano mengangguk mantap. "Oke, Papi!" Jawab Kiano yakin.


Raka tersenyum senang, ia lantas keluar dari kamar dan membiarkan Kiano melakukan tugasnya.


Raka akan menyiapkan apa yang harus ia siapkan. Untung ia sudah mengambil kunci mobil di atas nakas, sehingga kini ia bisa pergi.


Sementara Kiano, anak itu naik ke atas ranjang dimana maminya tertidur. Ia menggerak-gerakkan tubuh maminya agar bangun.


"Mami …" panggil Kiano dengan pelan dan manja.


"Mami bangun." Pinta Kiano seraya masih menggerakkan tubuh maminya.


Bianca kaget, ia membuka matanya dan terkejut melihat Kiano ada di depannya. Bianca menghela nafas, lalu mengusap matanya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bianca serak khas bangun tidur.


"Mami, aku mau makan disuapi sama mami." Jawab Kiano merengek manja.


Bianca berdehem, lalu berusaha untuk bangkit dari posisinya. Ia duduk dan berusaha untuk mengumpulkan nyawanya dulu setelah tertidur pulas tadi.


"Kamu belum makan?" tanya Bianca lembut.


"Belum, aku mau makan sama mami." Jawab Kiano dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


Bianca menguap sebentar, ia lalu menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas permintaan dari putranya yang tampan itu.


"Yaudah, ayo makan sama mami. Tapi mami cuci muka dulu ya," tutur Bianca dengan senyuman manis di wajahnya.


Kiano mengangguk, ia turun dari ranjang lalu keluar duluan dari kamar orang tuanya.


Sedangkan Bianca, saat ini dirinya tengah membasuh wajahnya agar lebih segar, lalu merapikan cepolan rambutnya agar enak dilihat.


"Astaga, aku sampai tidur saking lelahnya meladeni si wanita setann itu." Gumam Bianca menatap pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


Bianca memegangi wajahnya, setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi karena teringat pada anaknya yang belum makan.


"Kiano, ayo kita mak …" ucapan Bianca terhenti saat ia tidak melihat Kiano di kamarnya.


Bianca tadi mungkin masih mengantuk makanya tidak sadar jika Kiano sudah keluar dari kamar. Bianca lekas keluar, ini sudah jam 11 siang, tapi Kiano belum makan.


Bianca berjalan menuruni anak tangga, kepalanya celingak-celinguk berusaha mencari sosok suaminya.


"Mas Raka dimana." Gumam Bianca bertanya-tanya.


"Nyonya, maaf ini den Kiano nggak mau makan sama saya." Tiba-tiba Kiano datang bersama pelayan yang bocah itu tarik tangannya.


Bianca tersenyum ramah, ia mengambil makanan Kiano dari tangan pelayan itu lalu mengangguk pelan.


"Nggak apa-apa, Bi. Kiano biar makan sama saya, bibi boleh lakukan pekerjaan lain." Tutur Bianca.


"Terima kasih, Nyonya." Balas pelayan itu lalu kemudian pergi.


Bianca memegang tangan Kiano lalu mengajak bocah itu untuk duduk di sofa. Bisa-bisanya Kiano belum makan sedangkan waktu hampir menyentuh jam makan siang.


"Lain kali jangan telat makan ya, Sayang. Nanti perut kamu sakit," tutur Bianca dengan lembut.


Kiano membuka mulut saat maminya menyuapi nasi ke dalam mulutnya.


"Iya, Mami." Balas Kiano dengan mulut penuh makanan.


Bianca duduk di sebelah Kiano, ia masih bertanya-tanya tentang keberadaan suaminya yang belum ia lihat, sedangkan di kamar tidak ada.


"Apa mas Raka di ruang kerjanya." Gumam Bianca.


Bianca mengerutkan keningnya, namun ia tetap lanjut menyuapi Kiano sebelum bertanya.


"Pergi kemana?" tanya Bianca.


Tangan Kiano menunjuk ke arah luar. "Iya keluar, tapi kemana sayang?" tanya Bianca lagi.


"Eumm … papi bilang pusing kepalanya, jadi mau cari angin." Jawab Kiano dengan polosnya.


Ingatkan Bianca untuk memarahi Raka nanti, sebab pria itu sudah berani mengajari anaknya berbohong.


Bianca mendengus kesal, suaminya itu bukannya membujuknya yang sedang marah, dan malah memilih untuk pergi keluar.


"Keterlaluan banget sih, ah." Kesal Bianca menggerutu sendiri.


"Papi juga bilang mau beli sesuatu untuk mami." Ucap Kiano tiba-tiba.


Wajah Bianca yang tidak enak dipandang berubah menjadi bingung kembali.


"Beli sesuatu untuk mami, tapi apa? Kiano tahu nggak?" tanya Bianca penasaran.


Kiano menggeleng. "Tidak, Mami." Jawab Kiano.


Bianca lanjut menyuapi Kiano sampai habis, ia senang karena Kiano selalu menghabiskan makanannya jika ia yang menyuapi.

__ADS_1


"Minum dulu." Tutur Bianca lembut.


Kiano menghabiskan setengah gelas air mineral yang disiapkan untuk, lalu ia lekas berlari keluar rumah.


"Kiano, kamu mau kemana?" tanya Bianca berteriak.


Bianca menghela nafas, ia meletakkan bekas makan Kiano di meja lalu segera menyusul anaknya itu keluar.


"Kiano." Panggil Bianca pada putranya.


Kiano tampak asik duduk-duduk di kursi depan rumah. "Sayang, masuk yuk. Diluar panas, kita nonton tayo." Ajak Bianca.


Mata Bianca sedikit menyipit saking silaunya sinar matahari yang memancar ke bumi.


"Tapi aku mau menunggu papi." Kata Kiano.


"Iya, nanti kita tunggu sambil nonton tv. Ayo," ajak Bianca dan kali ini Kiano menurut.


Bianca pun mengajak Kiano untuk menonton televisi di ruang tamu, sambil Bianca menunggu suaminya itu pulang.


Bianca penasaran, kemana Raka pergi bahkan tanpa memberitahunya.


Saat Bianca begitu fokus menonton televisi, Kiano justru menatap ke arah pintu masuk. Bocah itu tersenyum melihat papinya mengintip.


"Kiano, sini." Pinta Raka tanpa suara, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir tanda agar putranya jangan berisik.


Kiano melirik maminya, ia lalu turun dari sofa.


"Mau kemana?" tanya Bianca yang sadar pergerakan putranya.


"Aku bosan, Mami. Ayo keluar," ajak Kiano dengan melas.


Bianca belum sempat menjawab, namun Kiano sudah menarik tangannya keluar dari rumah.


"Sayang!!!!" Raka tiba-tiba muncul dan mengagetkan istrinya.


"Ya ampun!!" Bianca reflek berteriak sambil memegangi dadanya.


Wanita itu lalu menatap suaminya yang malah asik cekikikan setelah berhasil mengangetkan dirinya.


"Keterlaluan, ngapain sih." Ketus Bianca dan seperti biasa langsung memukul bahu suaminya.


Raka meringis, namun wajahnya tetap menunjukkan senyuman.


"Aku habis dari luar, beliin kamu sesuatu." Kata Raka seraya memberikan paper bag besar kepada istrinya.


Bianca menerimanya. "Apa ini?" Tanya Bianca seraya melihat isi dalam papar bag itu.


Bianca melongo melihat apa yang Raka bawa untuknya, ia hendak bertanya namun Raka malah menunjuk ke arah garasi.


"Hah, maksudnya??" tanya Bianca kebingungan.


Raka terkekeh melihat istrinya bingung, namun ia memutuskan untuk melakukan ini agar otak Bianca bisa di refresh setelah meladeni wanita seperti Yola.

__ADS_1


ADA YANG BISA TEBAK???


Bersambung................................


__ADS_2