Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Usaha Raka


__ADS_3

Bianca menatap pantulan dirinya sendiri dengan raut wajah bingung dan aneh. Selama hidupnya, ia jarang sekali memakai setelan seperti ini. Bahkan mungkin saja bisa dihitung jari.


Bianca menoleh saat pintu kamar tiba-tiba terbuka, ia makin tercengang melihat suami dan anaknya berpenampilan sama sepertinya.


"Mami, aku sudah siap." Ucap Kiano dengan wajah penuh senyuman.


Bianca manggut-manggut, ia masih terpaku pada suaminya. Raka, benarkah itu suaminya. Benarkah pria itu berusia 29 tahun? Tapi saat ini Raka lebih terlihat seperti pria berusia 24 tahun.


"Sayang, sudah siap belum?" tanya Raka berjalan mendekati istrinya.


Bianca tersadar, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mas, kita akan kemana sih pakai baju samaan gini?" tanya Bianca bingung.


Raka tersenyum. "Healing, Sayang. Bosan kan di rumah terus, jadi ayo kita jalan-jalan." Jawab Raka.


"Tapi pakai baju ini?" tanya Bianca menunjuk dirinya sendiri.


Raka mengangguk. "Aku suka lihat kamu seperti ini, menggemaskan." Jawab Raka lalu mencubit pipi istrinya.


Bianca menghela nafas, ia kembali menelisik penampilannya sendiri. Jaket denim dengan celana yang senada dan kaos putih di bagian dalam. Oh ya, jangan lupa sneaker putih yang memperlengkap penampilan Bianca.


Kiano dan Raka pun sama, mereka memakai jaket denim dan celana seperti Bianca serta sneaker. Mereka bertiga menggunakan baju yang sama. Entah apa tujuannya, tapi mereka terlihat sangat cocok.


"Lalu mobil tadi?" tanya Bianca.


"Mobil kamu." Jawab Raka lalu menarik tangan istrinya.


Raka mengajak anak dan istrinya keluar dari rumah. Tampak pelayan rumah tercengang melihat penampilan majikan mereka yang benar-benar keren dan cocok.


"Ya ampun, tuan sama nyonya benar-benar cocok ya. Cantik dan tampan." Ucap salah satu pelayan berbisik.


"He'eh, cocok banget. Si den Kiano juga tambah ganteng," balas yang lainnya.


Raka mendekati pelayan di rumahnya. "Bi, kami mau pergi dulu dan mungkin baru pulang besok. Jaga rumah ya," tutur Raka.


"Baik, Tuan. Semoga menyenangkan liburannya," balas pelayan rumah itu dengan sopan.


Bianca planga-plongo, ia seperti belum paham dengan maksud semua ini. Raka mau mengajaknya liburan, tapi kenapa harus pakai baju samaan gini.

__ADS_1


"Tadinya aku mau naik motor, tapi takut hujan jadi aku beliin kamu mobil sunroof." Ucap Raka dengan entengnya.


"Mas, kamu beli mobil kayak beli permen?" tanya Bianca kaget bukan main.


"Nggak sih, Sayang. Aku belum pernah beli permen pakai kartu, paling pakai uang cash." Jawab Raka lalu membukakan pintu untuk istrinya.


Bianca masih saja melongo, ia yang biasanya terlihat galak kini malah seperti orang kesasar. Bingung dan aneh.


Kiano duduk di kursi belakang, sementara Raka tentu saja yang mengemudikan mobilnya.


"Kita mau kemana sih, Mas? Ini juga sudah sore." Ucap Bianca yang terus bertanya.


"Sayang, sekali lagi kamu tanya, aku cium." Ancam Raka dengan raut wajah sulit diartikan.


Bianca akhirnya memilih untuk diam, ia menatap mobil yang tadi sudah ia preteli plastiknya dengan tatapan bingung.


Suaminya membeli mobil dengan harga tiga digit ini seperti membeli permen. Bianca heran, apakah suaminya memiliki uang sebanyak itu.


"Uang kamu banyak ya, Mas?" tanya Bianca asal.


Raka tidak langsung menjawab, ia memutar stir mobilnya dan keluar dari area rumahnya.


Mata Bianca menyipit, ia salah bertanya begitu pada suaminya. Bianca pernah mendengar bahwa orang yang benar-benar kaya tidak akan mengakui bahwa dia kaya.


"Duh, jadi gue nikah sama hot duda kaya raya ya." Gumam Bianca senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu?" tanya Raka melihat istrinya senyum-senyum.


Senyuman Bianca hilang dan berganti dengan deheman. "Nggak apa-apa." Jawab Bianca berbohong.


"Papi, aku mau buka kaca diatas itu." Ucap Kiano menunjuk ke arah atap mobil.


Karena hari sudah sore, sudah tidak ada lagi matahari. Raka lantas membuka kaca itu dan membiarkan putranya melihat langit yang mulai gelap karena hari makin sore.


Bianca ikut melihat ke atas, ia tersenyum senang. Bukan karena Bianca norak dengan mobil atap terbuka, melainkan ia sangat senang karena mobil ini miliknya yang Raka belikan.


Walaupun Bianca tidak bisa menyetir mobil, tapi tidak masalah yang penting ia punya mobil.


Jalanan cukup padat, bahkan langit benar-benar sudah gelap tanda malam sudah datang. Kota Jakarta memang indah di pandang saat malam hari begini.

__ADS_1


"Selalu suka sama view Jakarta kalo malam." Ucap Bianca.


Raka tersenyum, inilah tujuannya. Mengajak anak dan istrinya jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta di malam hari.


Raka tidak bisa mengajak jalan-jalan jauh, sebab besok ia harus bekerja dan menghadiri pertemuan penting.


"Kita ke mall dulu ya, makan." Ajak Raka pada anak dan istrinya.


Raka pun membelokkan mobilnya ke salah salah mall. Ia akan mengajak istrinya berbelanja dan mengajak anaknya bermain permainan di sana. Namun sebelum itu, mereka akan makan dulu.


Hari ini Raka akan full memanjakan anak dan istrinya. Ia ingin Bianca dan Kiano bahagia, terutama Bianca yang moodnya dihancurkan oleh Yola tadi pagi.


Saat Raka bersama anak dan istrinya berjalan, mereka menjadi pusat perhatian. Bukan karena penampilan yang norak, justru mereka terpesona pada satu keluarga kecil itu.


Bianca yang tadi tidak percaya diri, pada akhirnya biasa saja. Ia berjalan dengan santai dan masa bodo dengan pandangan orang-orang.


"Kiano mau makan apa, Sayang?" tanya Bianca lembut.


"Aku mau sushi, Mami." Jawab Kiano.


Bianca pun menggandeng tangan Kiano, ia lalu mengajak suami dan anaknya ke restoran yang menjual sushi.


"Maaf ya, Bi. Saya nggak bisa ajak jalan jauh, soalnya besok saya bekerja." Ucap Raka seraya memegang tangan istrinya.


"Nggak apa-apa, Mas. Semua ini sangat spesial buat aku, makasih ya selalu bikin aku bahagia." Balas Bianca penuh senyuman.


Raka manggut-manggut, ia bahagia jika istrinya bahagia. Raka akan bekerja keras demi kebahagiaan dan kenyamanan anak serta istrinya.


"Oh iya, Mas. Kamu bilang kita akan pulang besok, lalu dimana kita akan tidur?" tanya Bianca.


"Aku sudah menyiapkannya, spesial untuk kamu dan Kiano." Jawab Raka lalu mencium punggung tangan istrinya.


Bianca mengangguk, ia tentu akan percaya pada suaminya. Bianca akan pergi kemanapun Raka mengajaknya, sebab selama ia ikut dengan Raka, tidak pernah sekalipun ia dibuat sedih.


"Mami, lihat bayi itu. Aku mau juga." Celetuk Kiano membuat Raka dan Bianca saling pandang.


MAS RAKA ITU HUSBANDABLE😭


Bersambung.................................

__ADS_1


__ADS_2