
Raka turun setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi, ia juga sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk berangkat ke bandara.
Raka melirik istrinya yang kini sedang berbincang dengan sang mama. Mereka terlihat tertawa bersama, sedangkan ia rasanya ingin menangis sekarang.
Jika saja ini bukan urusan penting, maka Raka lebih memilih untuk tidak pergi. Raka ingin di rumah saja, dan melanjutkan apa yang tertunda tadi.
"Eh, Ka. Sudah mau berangkat?" Papa Dewa datang dari luar bersama Kiano yang digendongnya.
Raka tidak menjawab, ia melengos begitu saja ke dapur untuk minum. Raka harus meredakan rasa panas dalam dirinya sekarang.
Sudah mandi di kamar mandi dan menyelesaikannya sendiri, nyatanya ia masih merasa gerah tiap kali melihat wajah Bianca dan teringat adegan panas di kamar tadi.
"Kenapa tuh anak, ditanya malah melengos." Kata papa Dewa kebingungan.
Bianca terdiam, tentu ia tahu alasannya. Bianca pun bangkit dari duduknya, ia menatap kedua mertuanya dengan perasaan tidak enak.
"Ma, Pa. Aku ke dapur sebentar ya, mungkin mas Raka butuh sesuatu." Ucap Bianca.
Mama Wina mengangguk, membiarkan menantunya itu pergi menghampiri putranya yang entah mengapa tiba-tiba terlihat kesal.
"Kamu tadi kan susulin Raka ke atas, kamu ada lihat yang aneh-aneh nggak, Ma?" tanya papa Dewa pada istrinya.
Mama Wina mengerutkan keningnya, tidak paham kemana arah pembicaraan suaminya.
"Maksudnya?" tanya mama Wina bingung.
Papa Dewa menghela nafas, ia menggelengkan kepalanya karena sedang malas untuk menjelaskan, terlebih lagi ada Kiano di sana.
"Oh mama tahu maksud ucapan papa, maksudnya waktu aku samperin Bianca ke kamarnya, mama ganggu atau nggak. Gitu kan, Pa?" tanya mama Wina.
"Iya, siapa tahu kamu bikin mereka gagal." Jawab papa Dewa.
"Opa, lihat mainannya lucu kan." Kiano bicara sambil menunjukkan mainannya.
"Iya, Sayang. Lucu sekali," balas papa Dewa menyahuti ucapan cucunya.
Mama Wina terlihat berpikir, ia manggut-manggut lalu menatap suaminya.
"Kayaknya iya deh, Pa. Soalnya waktu aku ke atas, Raka itu keringatan terus panik gitu." Ujar mama Wina dengan jujur.
Papa Dewa menepuk jidatnya, pantas saja anaknya itu melengos saat di tanya. Rupanya kedatangan mereka membuat Raka gagal mengisi staminanya.
Sementara itu di dapur, Raka terlihat menenggak sekaleng minuman soda lalu meletakkannya di atas meja dapur.
"Mas." Panggil Bianca lembut.
Raka menoleh dengan wajah ditekuk, ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Sabar ya, Mas. Masih ada banyak waktu kok buat melakukannya." Tutur Bianca dengan lembut.
Raka melepaskan pelukannya, ia menatap wajah cantik Bianca lalu ia tangkup rahang istrinya dan sedikit mendongakkan nya.
"Tapi nanti setelah aku pulang, masih berlaku kan izin kamu buat buka segel?" tanya Raka penuh harapan.
__ADS_1
Bianca menahan tawa, entahlah ia memang jahat sekali jadi istri. Namun ekspresi wajah Raka saat ini benar-benar lucu dan menggemaskan.
"Sayang …" panggil Raka sedikit manja.
Bianca menghela nafas. "Tergantung, Mas. Kalo aku nggak datang tamu bulanan bisa aja, tapi minggu depan jadwal aku." Jawab Bianca sedih.
Mendengar itu membuat Raka langsung menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya. Ia menghela nafas denhan pasrah di leher Bianca.
"Apa saya kabur aja ya, Bi. Nggak usah pergi keluar kota, mending saya ke hotel sama kamu." Celetuk Raka dengan suara melas.
Bianca tidak dapat menahan tawanya lagi, sudah cukup ia meledek suaminya. Ia bahkan sampai memegangi perutnya saking merasa lucu dengan kondisi Raka saat ini.
Mendengar tawa istrinya lantas membuat Raka langsung melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Bianca yang masih tertawa terbahak-bahak.
Raka yang awalnya bingung kini menjadi paham bahwa istrinya itu tengah meledeknya.
"Sayang, kamu meledek saya ya!" tegur Raka melototkan matanya.
Bianca mengangguk tanpa ragu. "Abisnya kamu lucu, Mas. Ya ampun, hahaha." Timpal Bianca.
Raka mengerem kesal, namun juga gemas. Ia lantas menarik pinggang Bianca agar mendekat padanya.
"Oh, berani kamu meledek saya?" tanya Raka mengangkat kedua alisnya.
Bianca melingkarkan tangannya di leher sang suami. "Berani." Jawab Bianca.
Bianca menatap wajah Raka yang benar-benar menderita saat ini, namun itu malah membuat wajah tampannya menjadi sangat lucu.
"Bia, kamu bikin saya gemas tahu nggak." Kata Raka dengan sedikit penekanan.
Bianca melototkan matanya saat merasakan bibir Raka di bibirnya. Raka menciumnya di dapur, dan itu membuat Bianca takut akan ada yang melihat mereka.
Bianca berusaha untuk mendorong suaminya, namun Raka malah mempererat pelukan di pinggangnya bahkan menekan tengkuknya.
"Mmmhhhh … Mas!!" tegur Bianca dibarengi lenguhan tertahan.
Raka semakin beringas, ia bahkan menyesap dan menggigit kecil bibir bawah istrinya.
"Raka, Bianca??" Terdengar suara mama Wina memanggil, di sertai derap langkah yang terdengar semakin dekat.
Bianca segera mendorong tubuh suaminya, namun Raka malah menahannya.
"Kenapa, panik? Orang kita suami istri kok, ngapain takut." Bisik Raka.
Enteng sekali mulut pria itu bicara. Bianca kesal dan langsung menggigit pipi Raka.
"Awww!!" Ringis Raka bersamaan dengan mama Wina yang datang.
"Raka, kenapa kamu?" tanya mama Wina kaget.
"Hah, anu, Ma. Aku digigit semut nakal," jawab Raka gelagapan.
Raka melirik istrinya yang melotot, tentu saja karena Bianca merasa tersindir akan jawaban dari suaminya itu.
__ADS_1
Mama Wina tampak curiga, namun ia tidak mempedulikan itu sebab di luar sudah ada mobil kantor yang menunggu Raka.
"Kamu kenapa, Bi?" tanya mama Wina beralih kepada menantunya yang hanya diam.
"Nggak apa-apa, Ma." Jawab Bianca sambil tertawa-tawa.
Mama Wina manggut-manggut. "Cepat keluar, mobil kantor sudah menunggu kamu." Kata mama Wina lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
Kini tinggal Bianca dan Raka di dapur. Raka semakin berat untuk pergi, ia ingin di rumah saja bersama istri dan anaknya.
"Ayo, Mas." Ajak Bianca.
"Nanti dulu, sini peluk dulu." Pinta Raka membuka kedua tangannya lebar.
Bianca memeluk Raka, ia mengusap-usap punggung suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Nggak mau pergi." Bisik Raka.
Bianca melepaskan pelukannya, kini ia yang mencium bibir Raka duluan meski hanya sebentar. Lalu Bianca juga mencium kedua pipi suaminya.
"Hanya satu minggu, nggak apa-apa." Tutur Bianca lalu menarik tangan suaminya keluar.
Sampai di luar, Raka melihat kedua orang tuanya dan Kiano sudah ada disana. Raka pun pamit kepada kedua orang tuanya.
"Hati-hati di sana ya, papa doakan semuanya lancar." Tutur papa Dewa seraya menepuk-nepuk bahu putranya.
"Iya, Pa. Makasih," balas Raka lalu mencium punggung tangan sang papa.
"Aku titip istri dan anakku ya, Ma." Ucap Raka pada sang mama.
"Iya." Balas mama Wina.
"Papi, nanti aku belikan mainan ya. Aku janji akan jaga mami!" ucap Kiano dengan penuh semangat.
"Iya siap anak papi." Timpal Raka sedikit tertawa.
Raka lalu beralih menatap istrinya, ia memeluk tubuh mungil itu tanpa peduli akan kehadiran orang tuanya, bahkan sopir kantor.
"Hati-hati ya, Mas. Aku tunggu kamu pulang, dan …" Bianca menggantung ucapannya.
"Dan buka segel aku." Tambah Bianca berbisik sangat pelan.
Raka terkekeh, ia melepaskan pelukannya lalu mencium kening istrinya dalam-dalam.
"Aku berangkat ya, kamu juga hati-hati di rumah." Tutur Raka dan Bianca menjawabnya dengan anggukan kepala.
Raka pun masuk ke dalam mobil, ia tidak lupa melambaikan tangannya kepada istri dan keluarganya yang lain.
Raka tersenyum menatap istrinya, namun tiba-tiba matanya melotot tatkala Bianca mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga, rasa ingin kabur semakin besar." Gumam Raka yang semakin tidak sabar untuk membuka segel.
BHAHAHAHA, SABAR MAS😭😭
__ADS_1
Bersambung.............................