Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Aku hamil


__ADS_3

Raka menggerakkan tubuh istrinya yang masih enggan menjawab pertanyaan darinya. Sudah 10 menit usai Bianca bicara tadi, dan telinganya dengan yang mendengar kata janggal, masih belum mendapat penjelasan.


"Sayang, tadi kamu ngomong apa?" Tanya Raka dengan lembut.


Bianca berdecak, ia belum mandi dan terpaksa harus berbaring di atas ranjang karena ngambek dengan suaminya.


Bianca akhirnya bangkit, ia menatap Raka dengan tatapan penuh permusuhan. Sebuah tatapan yang menyiratkan kekesalan.


"Sayang, tadi ngomong apa? Bisa diulang?" Pinta Raka dengan lembut, bahkan terkesan sedikit manja.


Bianca menghela nafas. "Mas, aku capek meladeni Briana maupun Yola. Mereka masa lalu kamu, tapi kenapa mereka masih aja terus ganggu kamu." Ucap Bianca.


"Aku nggak bisa melawan mereka terus. Bukan karena takut, tapi kondisi aku sekarang tidak memungkinkan untuk terus mengeluarkan tenaga meladeni wanita-wanita itu, Mas." Tambah Bianca lalu membuang nafasnya kasar.


Bianca turun dari ranjang, ia membuka laci nakas, kemudian mengeluarkan sebuah kertas dan atas tes kehamilan.


"Aku hamil, Mas." Ucap Bianca seraya memberikan bukti kehamilannya itu pada Raka.


Raka menerimanya, ia menatap istrinya dengan raut wajah terkejut dan bahagia secara bersamaan.


Pria itu buru-buru membaca hasil tes yang tertulis di sana jika Bianca memang sedang mengandung. Alat tes kehamilan itu juga menunjukkan garis dua berwarna merah.


"Sayang, kamu … anak kita, anak kita sudah launching?" Tanya Raka tak bisa berkata-kata saking bahagianya.


Bianca menghela nafas lagi, ia lalu tersenyum dan mendekati suaminya. Bianca duduk di sebelah Raka yang sudah hampir menangis karena bahagia.


"Iya, Mas. Aku hamil, anak kita launching." Jawab Bianca lembut seraya mengusap perutnya sendiri.


Raka seketika langsung turun dari ranjang, ia berlutut di hadapan sang istri, kemudian mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Ya Tuhan, terima kasih. Terima kasih atas kepercayaan-Mu." Ungkap Raka begitu bersyukur.


Raka mencium perut istrinya dengan penuh semangat. Senyuman tidak pernah hilang di wajah ayah satu anak, otw dua itu.


Raka memeluk pinggang istrinya, ia memasrahkan kepalanya di perut sang istri.


"Sayang, terima kasih. Ya ampun, aku bahagia banget." Ucap Raka.


Raka berdiri, ia menangkup wajah cantik sang istri lalu menciumnya tanpa ada yang terlewat.


Raka sampai menangis saking bahagianya, hal itu membuat Bianca tersenyum sekaligus mengeluarkan air matanya.


"Sama-sama, Mas. Kamu bahagia, aku lebih bahagia." Balas Bianca.


"Tapi, Mas. Dokter bilang kandunganku lemah, kita bisa kehilangan anak kita jika aku kelelahan apalagi sampai stress. Itulah alasan aku nggak mau meladeni Briana dan Yola lagi, aku nggak mau anak kita kenapa-kenapa." Tambah Bianca memberitahu.


Bianca tidak mau menyembunyikan apapun dari suaminya. Enak saja! Bianca kan juga mau di sayang dan dijaga ekstra oleh suaminya.

__ADS_1


Raka mendengar dengan seksama apa yang istrinya ucapkan membuatnya kini harus menjaga Bianca dengan lebih.


Raka juga harus memberikan ancaman pada Briana maupun Yola agar tidak lagi mengganggu istrinya. Raka tidak mau jika sesuatu terjadi pada istri dan calon anaknya.


"Maafkan aku, Sayang. Mulai hari ini aku akan mengambil sikap tegas pada wanita-wanita itu. Kamu nggak perlu meladeni mereka, biar aku saja." Ucap Raka dengan yakin.


Bianca menekuk wajahnya. "Nanti aku cemburu gimana?" Tanya Bianca.


Raka terkekeh, ia mengusap kedua pipi sang istri lalu mencium bibirnya dengan gemas.


Bianca mendorong tubuh suaminya, melepaskan tautan bibir mereka dengan paksaan.


"Kamu jangan suka minta jatah, anak aku kasihan keguncang." Celetuk Bianca dengan begitu polos.


Raka tertawa dengan lepas, nyari di tubuhnya seketika hilang setelah mendengar kabar kehamilan dan juga ucapan polos istrinya ini.


"Emang aku kasar sampai anak kita keguncang?" Tanya Raka mengangkat sebelah alisnya.


"Iyalah, kamu tuh gedebuk-gedebuk gitu kaya naik kuda." Jawab Bianca memperjelas.


Raka kembali mencium wajah istrinya, ia benar-benar bahagia hari ini. Jujur saja, kebahagiaan ini jauh lebih terasa daripada saat Yola juga mengandung dulu.


Namun meski begitu, Raka sama-sama bersyukur. Memiliki Kiano, maupun anak dalam kandungan Bianca.


"Kiano mana, aku harus kasih tahu kalo maminya udah proses adik bayi." Ucap Bianca hendak bangkit, namun dicegah oleh suaminya.


Raka berniat untuk berteriak memanggil pelayan, namun pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan Kiano lah pelakunya.


"Mami …" panggil Kiano dengan sangat manja.


Bianca tersenyum hangat. "Sini, Sayang." Pinta Bianca membuka kedua tangannya lebar.


Kiano berlari mendekati Bianca, lalu memeluknya dengan gerakan sedikit kasar.


"Awas, Kiano. Jangan kencang-kencang, kasihan mami dan adik bayi." Tutur Raka menegur.


Kiano melepaskan pelukannya, ia menatap papi dan mami nya bergantian.


"Adik bayi? Adik bayi aku sudah ada?" Tanya Kiano polos.


"Iya, adik bayinya disini." Jawab Bianca mengusap perutnya sendiri.


Kiano memekik senang. "Yeay!! Aku mau punya adik, asik!!!" Teriak Kiano.


Raka dan Bianca tersenyum bahagia, lalu mereka membiarkan Kiano mengusap perut maminya.


"Adik aku laki-laki atau perempuan, Mi?" Tanya Kiano, tatapan nya penuh akan binar bahagia.

__ADS_1


"Eumm, belum tahu. Kiano maunya apa?" Tanya Bianca mencolek dagu putranya.


"Aku mau … aku mau dua-duanya, Mami." Jawab Kiano diakhiri tawa.


Bianca melongo, lalu ia beralih menatap suaminya yang juga tertawa.


"Jadi, Sayang. Siap kan punya anak banyak?" Tanya Raka usil.


"Diam nggak!" Jawab Bianca ketus.


Raka mengecup bibir istrinya tanpa Kiano lihat. Anaknya itu sedang fokus mengusap perut maminya.


"Mami, kapan adik bayinya datang?" Tanya Kiano.


"Butuh waktu beberapa bulan, Sayang." Jawab Bianca sembari merapikan rambut putranya.


"Apa adikku bisa langsung main bola nanti? Apa aku juga boleh memarahi adik, jika adik nakal?" Tanya Kiano lagi.


"Boleh saja, asal dengan tujuan menasehati." Jawab Bianca lembut.


Raka duduk di sebelah istri dan anaknya, ia lalu membawa Kiano untuk duduk yang benar.


"Dengarkan papi ya. Kan mami sedang hamil adik bayi, artinya kamu nggak boleh nakal, apalagi sampai membuat mami kelelahan. Kamu paham?" Tanya Raka.


"Aku tidak pernah nakal, Papi." Jawab Kiano dengan jujur.


Bianca tertawa. "Benar, anak mami nggak pernah nakal. Yang nakal itu papi," sahut Bianca.


"Baiklah, papi juga tidak akan nakal lagi. Kiano bisa janji sama papi untuk jaga mami?" Tanya Raka.


"Aku akan menjaga mami dan adik bayi, dari mama jahat." Jawab Kiano dengan penuh semangat.


Raka mencium pipi putranya. "Anak pintar." Puji Raka.


Bianca tersenyum melihat suaminya yang sedang menasehati Kiano. Ia jadi semakin penasaran, akan se-posesif apa suaminya demi bisa menjaga dirinya.


"Mas, cium." Bisik Bianca genit.


Raka menoleh, ia mencium punggung tangan sang istri lalu mencium kening dan kedua pipi Bianca.


"Gemes banget, pengen aku gigit rasanya." Ungkap Raka berbisik.


Bianca hanya tersenyum. Hari ini ia dan keluarga kecilnya sangat bahagia. Bianca juga yakin, jika mereka memberitahu seluruh keluarga, maka mereka akan sama bahagianya.


CELAMAT YA MAS RAKA TERSAYANG 🖤


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2