Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Nggak mau minta cium?


__ADS_3

Selesai makan nasi Padang bersama, Intan dan Ario pun ke rumah Bianca untuk mengantar undangan pernikahan mereka.


Sampai disana, mereka kebingungan melihat Raka yang seperti sedang kelimpungan memikirkan sesuatu. Pria itu bahkan terlihat begitu frustasi.


"Kenapa lo?" Tanya Ario pada sahabatnya.


"Bianca minta gue naik pohon mangga pakai daster, coba lo bayangin. Cowok ganteng kayak gue pakai daster gimana." Jawab Raka sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya nggak gimana-gimana, tinggal naik, ambil mangga dan turun." Sahut Ario dengan enteng.


"Sialann lo, gue bukan disuruh itu doang tahu nggak. Tapi disuruh keliling kompleks pakai heels yang baru dia beli kemarin." Ucap Raka lagi menjelaskan.


Ario menganga mendengar ucapan Raka brusan, namun sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai memegangi perutnya.


Ario merasa lucu, tidak bisa ia bayangkan seorang CEO yang biasa pakai jas disuruh memakai daster dan heels, lalu keliling komplek perumahan nya.


Melihat Ario yang tertawa meledeknya, Raka langsung melempar bantal sofa sampai mengenai wajah pria itu. Benar-benar tepat sasaran.


"Brengsekk lo jadi teman, gue lagi kelimpungan dan lo malah ketawa gini." Umpat Raka penuh rasa kesal.


Ario semakin terpingkal-pingkal, tidak disangka ada orang yang ngidamnya berbahaya sepertu Bianca.


"Lo nanti kalo mau punya anak dan istri lo ngidam aneh, pesta gue. Awas aja lo!" Ucap Raka dendam.


Raka hendak bicara lagi, namun istrinya datang dengan membawa minuman dan camilan bersama Intan juga.


Raka menatap istrinya dengan penuh senyuman, namun di balas jutek oleh Bianca.


"Sayang …." Panggil Raka dengan lembut dan manja.


Intan tersenyum melihat wajah sahabatnya yang sudah seperti pakaian kotor, kusut sekali.


Gadis itu lalu duduk di sebelah calon suaminya, saling pandang sebentar sebelum kembali menatap pasangan suami istri yang sedang bertengkar kecil.


"Sini, Sayang." Tutur Raka menepuk sofa di sebelahnya.


Bianca hanya menatap sekilas, kemudian wanita itu duduk di single sofa. Dengan kata lain, Bianca menolak duduk di sebelah Raka.


Raka melongo, istrinya benar-benar marah karena dirinya belum juga memenuhi permintaannya.


Andai saja Kiano ada, sudah pasti ia minta bantuan putranya. Sayangnya Kiano sedang pergi bersama oma dan opanya jalan-jalan.


"Sayang …." Panggil Raka dengan manja.


"Apa sih, Mas. Sayang sayang, berisik." Sahut Bianca sewot dan ketus.


Ario tertawa, namun buru-buru menutup mulutnya melihat tatapan Intan padanya. Benar-benar tajam, seakan tidak suka sahabatnya di ledek.


"Sayang, ngidamnya ganti yang lain aja ya. Aku nggak bisa manjat pohon kalo pakai daster," pinta Raka memelas.


"Mending nggak usah sekalian." Sahut Bianca tanpa menatap Raka.


"Bi, kasihan suami lo. Itu lihat udah mau nangis dia," tegur Intan sedikit meledek Raka yang sudah memelas dan siap menumpahkan air matanya.


"Biarin aja, siapa suruh dia bilang heels yang gue beli waktu itu jelek." Balas Bianca cuek dan sedikit kesal.


Intan dan Ario langsing sama-sama menatap Raka. Jadi alasannya bukan karena ngidam, tetapi karena Bianca marah.


"Jadi kamu marah sama aku, dan bukan ngidam, Sayang?" Tanya Raka seraya menggeser tubuhnya agar dekat dengan istrinya.


Bianca tidak menjawab, wanita itu memilih untuk memakan buah apel kesukaannya saja. Bianca sudah kenyang makan rengekan Raka sejak tadi.


"Sayang, jangan marah. Sini peluk," pinta Raka membuka kedua tangannya lebar.


Bianca hanya menatapnya sekilas, tidak berniat sama sekali untuk memeluk suaminya seperti permintaan pria itu.


Kali ini Ario tidak dapat menahan tawanya lagi, ia benar-benar merasa terhibur akan pemandangan di depannya ini. Raka sedang merengek untuk maaf dari istrinya.


"Pak, anda tidak sopan sekali." Cibir Intan dengan mata yang tajam.


"Lucu lihatnya, Sayang." Balas Ario tersenyum hangat.


Ucapan Ario barusan membuat Bianca dan Raka langsung menatap keduanya. Telinga pasangan suami istri itu menangkap kata yang asing.

__ADS_1


"Mentang-mentang mau nikah, romantisan terus." Cibir Raka.


"Kenapa emangnya, gue juga mau menebar kemesraan kayak lo dulu. Sekarang gue udah nggak jomblo lagi nih, sorry aja." Timpal Ario, kemudian merangkul bahu calon istrinya.


"Pak, anda apa-apaan sih." Cicit Intan seraya menjauhkan tangan Ario dari bahunya.


"Lucu banget sih kalian, kok jadi gue yang nggak sabar ya kalian nikah." Kata Bianca terkikik pelan.


"Nggak sabar lihat lo hamil juga." Tambah Bianca.


Intan berdecak, pernikahannya saja belum tapi Bianca sudah membahas soal kehamilan. Sebenarnya Bianca tidak salah sih, sebab malam pertamanya kan sudah diambil duluan sama Ario.


"Ka, sana pakai daster sama heels nya." Ucap Ario memanas-manasi suasana yang sudah adem.


"Berisik lo." Timpal Raka ketus.


Raka menatap istrinya. "Sayang, yaudah deh ayo. Aku pakai daster sama heels kamu," ucap Raka pada akhirnya mengalah.


Senyuman langsung terbit di wajah cantik wanita itu. Ia bangkit dari duduknya, kemudian pergi ke kamar untuk mengambil daster dan heels miliknya.


Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Bianca kembali. Wanita hamil itu duduk di sebelah suaminya untuk bantu memakai daster.


Masih tercipta raut tidak rela di wajah Raka, namun ini lebih baik daripada Bianca marah dan tidak mau bicara padanya lagi.


"Ihhh lucu!!!" Ucap Bianca usai memakaikan daster di tubuh suaminya yang sebelumnya hanya terbalut kaos polos berwarna putih.


"Ayo pakai heelsnya." Ajak Bianca dengan riang.


Intan dan Ario sama-sama menahan tawa melihat wajah pasrah Raka saat ini. Pria itu hanya tinggal memakai riasan saja sedikit, lalu keliling komplek untuk meminta recehan.


"Tuh kan nggak muat, Sayang." Ucap Raka melihat heels Bianca yang tidak muat di kakinya.


"Paksain, kamu aja waktu itu dipaksain walaupun aku bilang nggak muat." Sahut Bianca ambigu.


Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu-malu kucing mendengar ucapan sang istri.


Ario pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bianca, sementara Intan melongo. Gadis itu berusaha mencerna kata-kata sahabatnya barusan.


Ario menoleh, menatap calon istrinya yang masih berusaha untuk berpikir. Ia lantas mencolek dagu gadis itu pelan.


Kembali lagi ke pasangan Bianca dan Raka yang masih asik membahas 'tidak muat'.


"Kan beda, Sayang." Ucap Raka mengingatkan.


"Nggak beda, buruan!" Balas Bianca tetap kekeh dan memaksa.


Raka menghela nafas pasrah, ia lalu memaksakan kakinya masuk ke dalam heels milik istrinya.


"Ihh buka buka buka!!" Seru Bianca dengan cepat sambil memukuli tangan suaminya.


"Sepatu aku rusak bisa-bisa kalo gini, kamu punya kaki gede banget sih. Udah ah aku marah!!" Celetuk Bianca ngambek.


Raka melongo dibuatnya, ia menghela nafas lalu mengusap dadanya dengan sabar.


"Salah lagi, udah nggak tahu deh ini gimana." Gumam Raka pelan.


Pria berdaster itu melangkahkan kakinya untuk mendekati sang istri. Ia duduk di sebelah Bianca, lalu menggenggam tangannya.


"Sayang, maaf. Heels kamu cantik kok, sama kaya kamu." Ucap Raka merayu.


"Uwekkkkk …" Ario menyahut dengan ledekan seperti orang ingin muntah.


Raka bangkit dari duduknya, ia lalu mendekati Ario dan memukuli pria itu dengan bantal sofa.


"Sialann emang lo, awas ya. Gue bales kalo nanti istri lo hamil terus dia ngidam." Ucap Raka sambil terus memukuli Ario.


Ario hanya tertawa menimpalinya, ia tentu tidak merasakan sakit sama sekali dan malah lebih ke lucu.


"Pak, jangan. Nanti saya nggak jadi nikah kalo pak Ario babak belur." Tegur Intan sambil meringis pelan melihat pria itu memukuli calon suaminya.


"Tahu kamu, Mas. Kamu yang salah, tapi malah nyalahin orang." Ketus Bianca membuat Raka langsung berhenti.


"Sayang kok gitu sama aku." Raka kembali mendekati Bianca dan menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya.

__ADS_1


Bianca tidak bicara, wanita itu hanya diam menghela nafas menghadapi tingkah suaminya yang aneh ini.


Sementara Ario, tidak kesakitan tapi memasang wajah manja kepada Intan.


"Muka saya sakit." Bisik Ario pelan.


"Mau saya tambahin?" Tanya Intan dengan gurauan.


Ario terkekeh, begitupula dengan Intan. Meraka sama-sama tertawa hanya karena hal sepele seperti ini.


***


Karena hari sudah semakin sore, Intan dan Ario pamit pulang. Ario harus mengantar Intan pulang ke rumahnya sebelum magrib datang.


"Udah jangan cemberut aja lo, nanti malam dapet jatah." Ucap Ario menepuk bahu sahabatnya.


Raka menatapnya sekilas. "Iya-iya, gue doain semuanya lancar sampai hari H. Udah kasihan gue lihat lo sendiri mulu kayak lampu jalan." Balas Raka mendoakan yang terbaik.


Sementara Intan dan Bianca pun sama-sama mendoakan, terutama untuk Intan yang dalam beberapa hari akan menikah.


Lusa Intan sudah dipingit, dan besoknya menikah sehingga ia tidak akan mungkin diperbolehkan untuk keluar dari rumah.


"Nanti hari lo dipingit gue datang sama Kiano, ya itung-itung nemenin." Ucap Bianca.


"Iya, mami Bia." Balas Intan mengikuti cara Kiano memanggil wanita itu.


"Sayang banget nggak ketemu Kiano sekarang gue, kan mau gue kasih cokelat." Kata Intan.


"Yaudah sini buat maminya aja." Sahut Bianca menyodorkan tangannya.


"Cium dulu dong." Canda Intan menunjuk pipinya.


"Enak saja, nggak boleh." Raka menyahut dan langsung memegang pinggang istrinya.


"Kalo mau dicium ya minta sama Ario, biar di sedot sekalian." Tambah Raka vulgar.


"Kamu ihh!!" Cibir Bianca mencomot bibid suaminya.


"Untung nggak ada Kiano, bisa-bisa terkontaminasi anak itu." Kata Ario geleng-geleng kepala.


Setelah berbincang ringan, akhirnya Intan dan Ario pun pergi meninggalkan rumah pasangan suami istri itu.


Mereka tidak mampir kemanapun lagi dan langsung pulang saja, karena magrib hampir tiba. Tidak baik anak gadis keluar magrib, begitulah kata orang dulu.


"Kamu bagiin sisa undangannya ya, nanti saya yang bagiin bagian saya. Kalo nggak sempat bagiin undangan online saja." Kata Ario tanpa menatapnya calon istrinya itu.


"Iya, Pak. Nanti saya bagiin," balas Intan manggut-manggut.


Ario pun semakin mempercepat laju mobilnya, namun semakin jauh jalanan semakin padat pengendara.


Jalanan ibu kota, memang selalu macet jika sore hari begini.


"Mau beli sesuatu lagi nggak?" Tanya Ario menawarkan.


"Nggak usah, Pak. Langsung pulang aja," jawab Intan menolak.


Ario pun nurut saja. Pria itu lalu membawanya Intan pulang ke rumahnya setelah perjalanan beberapa menit yang diiringi dengan macet.


"Pak, terima kasih untuk hari ini ya." Ucap Intan tersenyum manis.


"Iya, sama-sama. Masuklah dan istirahat," tutur Ario lembut.


Intan manggut-manggut, ia hendak keluar dari mobil Ario, namun terhenti karena pria itu memegang tangannya.


"Ada apa, Pak?" Tanya Intan bingung.


"Kamu nggak mau minta cium sama saya?" Tanya Ario dengan santai, dan tenang.


Intan melototkan matanya, gadis itu lekas keluar dari mobil Ario dan lari terbirit-birit ke dalam rumahnya.


Ario yang melihat itu hanya bisa tertawa, ia merasa lucu dengan Intan. Ario tadi hanya bercanda saja, tapi sepertinya gadis itu menganggap dengan serius.


"Hah, dasar calon istri." Gumam Ario geleng-geleng kepala.

__ADS_1


ARIO BELIKE : SAYA SEBENARNYA DUA ORANG 😭🤣


Bersambung...................................


__ADS_2