Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Rayuan mami Bia


__ADS_3

Saat ini Raka sedang bekerja di kamar, sementara istrinya sedang menikmati potongan apel yang bibi bawakan untuknya.


Jangan tanya Kiano, bocah itu sedang bermain di lantai beralaskan karpet, sekaligus menonton kartun si kembar Upin dan Ipin.


Raka begitu fokus bekerja, tidak terusik sama sekali dengan ocehan Kiano ataupun suara televisi.


"Kiano, sini sama mami." Pinta Bianca memanggil tiba-tiba.


Kiano nurut, bocah itu meletakkan mainannya lalu naik ke atas ranjang untuk menghampiri maminya.


"Sini pangku sama mami." Bianca menepuk-nepuk pangkuannya, meminta putranya itu untuk duduk disana.


"Kenapa, Mami?" Tanya Kiano, namun tetap menuruti apa yang maminya katakan.


Bianca membenarkan posisi memangku Kiano. "Coba lihat ke tv, itu Upin Ipin sekolah kan?" tanya Bianca.


"Iya, sekolah di tadika mesra." Jawab Kiano mengangguk-anggukkan kepalanya.


Bianca tersenyum, ia mengusap-usap kepala putranya lalu mencium nya dengan lembut.


"Kamu nggak mau kaya Upin Ipin? Mereka aja sekolah." Tutur Bianca merayu.


Kiano tampak terdiam, ia memperhatikan televisi di hadapannya dengan seksama. Mata bulatnya menatap dengan serius.


"Tapi cikgu Upin Ipin tidak galak, Mami. Sedangkan papi bilang guru itu galak." Kata Kiano mengadu.


Bianca sontak menatap suaminya yang sepertinya tidak mendengar ucapan putranya dan tetap fokus mengetik sesuatu di laptopnya.


Bianca menghela nafas, ia akan bertanya tentang ini kepada suaminya. Lihat saja.


"Itu tidak benar, guru baik-baik kok. Mereka mirip seperti cikgu Jasmin dan Melati." Timpal Bianca lembut.


"Mau ya sekolah?" Pinta Bianca dengan lembut.


Kiano menundukkan kepalanya, lalu menggeleng. "aku takut," cicit Kiano.


Bianca mengubah posisi Kiano menjadi menghadapnya.


"Takut gurunya galak?" Tanya Bianca lembut, dan Kiano menjawabnya dengan anggukan kepala.


Bianca menatap ke arah lain, ia harus bisa memikirkan kata-kata yang bisa membuat putranya ini tertarik untuk sekolah.


"Abang suka main perosotan dan ayunan 'kan? Seperti di mall-mall?" Tanya Bianca.


"Suka, Mami." Jawab Kiano dengan penuh semangat.


"Nah, kamu bisa main itu setiap hari jika pergi ke sekolah. Setiap pelajaran selesai, maka kamu bisa main sepuasnya." Ucap Bianca begitu menjanjikan.


"Benarkah?" Tanya Kiano penuh semangat.

__ADS_1


"Hmm, bukan hanya itu. Kamu bisa dapat banyak teman, dan kamu bisa berbagi cerita dengan mereka. Kamu bisa memberitahu mereka semua bahwa kamu akan punya adik." Jawab Bianca panjang lebar.


Kiano tampak antusias mendengar ucapan maminya, Bianca pandai sekali merayu. Bukan hanya merayu suami, tapi juga merayu anaknya.


"Coba kamu bayangin, nanti teman-teman pasti akan memberi tepuk tangan jika mereka tahu kamu akan jadi abang." Ucap Bianca lagi.


"Tapi apa benar jika gurunya tidak galak, Mami?" Tanya Kiano dengan wajah polosnya.


"Benar, Sayang. Selama kamu nggak melakukan kesalahan, maka guru tidak akan marah." Jawab Bianca jujur dan benar.


"Jadi, supaya tidak dimarahi guru, Kiano harus apa?" Tanya Bianca mengangkat kedua alisnya.


"Tidak boleh nakal!" Jawab Kiano.


"Pintar!!" Puji Bianca memberikan tepuk tangan.


Kiano bangkit dari pangkuan sang mami dan langsung melompat-lompat kegirangan. Tangannya terus bertepuk, sama seperti Bianca.


Raka yang kebetulan sudah selesai, lantas menatap anak dan istrinya. Raka bingung, ia tidak memperhatikan apa yang terjadi sampai-sampai membuat mereka bahagia.


Raka menyimpan laptopnya di sofa, ia mendekati istrinya lalu mencium pipinya tanpa permisi.


"Buahnya di habiskan, Sayang." Tutur Raka mengingatkan.


"Kenyang." Sahut Bianca menggelengkan kepalanya.


"Anak papi yang ganteng kenapa?" Tanya Raka pada putranya.


"Mami bilang aku bisa bermain sepuasnya di sekolah." Jawab Kiano.


Raka mengerutkan keningnya, ia lalu menatap sang istri yang mengangguk singkat.


"Aku mau sekolah, papi. Aku mau mengatakan pada teman-teman disana jika aku mau punya adik!!" Ucap Kiano lagi.


Mendengar ucapan putranya membuat Raka sangat bahagia. Akhirnya Kiano mau sekolah setelah dirayu oleh maminya.


"Baiklah, besok kita cari sekolah yang kamu suka ya." Tutur Raka dan itu membuat Kiano semakin memekik senang.


Raka lalu mendekatkan wajahnya pada telinga istrinya yang terlihat senyum-senyum bahagia.


"Mami bia memang paling pintar merayu." Bisik Raka lembut.


Bianca menoleh, ia mengusap pipi suaminya lalu mengecup bibirnya singkat.


"Kan diajarin kamu." Sahut Bianca menaik turunkan alisnya.


Bianca tertawa, namun tiba-tiba ia merasa mual. Bianca beranjak dari ranjang dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Raka lekas menyusul, ia melihat istrinya mual-mual di wastafel. Raka mendekat, membantu memijat tengkuk istrinya.

__ADS_1


"Aku buatin susu hamil kamu ya, ini mungkin karena kamu belum minum susu." Tutur Raka.


Bianca tidak membalas, ia masih mencuci mulutnya dengan air lalu setelah itu barulah menatap suaminya.


"Nggak, Mas. Sebentar lagi bik Jum bawain kok." Tolak Bianca pelan.


Raka menghela nafas, ia buru-buru menggendong istrinya dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Raka merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian menyelimuti sampai batas perut.


"Mami kenapa?" Tanya Kiano.


"Nggak apa-apa, Sayang." Jawab Bianca.


"Mau bobok sendiri atau sama mami?" Tanya Bianca lembut.


"Sama mami." Jawab Kiano lalu memeluk perut maminya.


Raka menghela nafas, ia harus terpisah lagi dengan istrinya. Walaupun hanya beberapa senti, tetap saja Raka tidak bisa mendekapnya erat.


"Tadi mama mau kesini, tapi tiba-tiba hujan. Mungkin besok kesini, Sayang." Ucap Raka.


Bianca manggut-manggut, orang tuanya memang mengatakan mau datang, namun karena hujan dan bahaya jika menyetir membuat mereka mengurungkan niatnya.


Raka tersenyum, ia mencium pipi putranya lalu beralih pada istrinya. Raka mencium kening, kedua pipi dan bibirnya Bianca.


Bukan sekedar kecupan, tapi ciuman yang benar-benar berantakan.


"Mas, aku belum minum susu." Ucap Bianca.


Baru saja berucap, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Raka buru-buru turun dan mengambil susu hamil istrinya.


Bianca bangkit, ia lekas menenggak habis susu hamilnya dan memberikan gelas kosong itu pada suaminya.


"Terima kasih." Ucap Bianca dengan senyuman lebar.


Raka tidak membalas, pria itu malah kembali mencium bibir istrinya. Membersihkan sisa susu yang ada di sekitar bibir istrinya.


"Manis." Celetuk Raka, sementara Bianca hanya bisa geleng-geleng kepala.


Entah mengapa Raka selalu punya cara untuk mengambil kesempatan. Bianca sampai selalu melongo dibuatnya.


PAPI RAKA GITU LOCHHH😎


Bersambung....................................


Visual Kiano Ardian Dewangga


__ADS_1


__ADS_2