Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Mau jadi bayi


__ADS_3

Intan dan Ario datang usai mendengarkan kabar Kiano yang sudah sadarkan diri. Sama seperti Bianca, Intan pun bahagia jika anak yang biasa bermain dengannya telah siuman.


Sepulang Ario bekerja, Intan langsung mengajak suaminya itu ke rumah sakit untuk menjenguk Kiano.


"Keponakan onty, ya ampun. Anak ganteng udah sembuh, duhh kuat banget emang ya Abang ini." Celoteh Intan sambil memeluk Kiano.


"Tante, aku sudah sembuh dan aku mau hadiah." Kata Kiano dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


Ario mendekat. "Mau apa, Kiano?" Tanya Ario dengan lembut.


"Adik bayi dari om dan tante." Jawab Kiano tersenyum dengan begitu lebar.


"Aku mau punya dua adik, dari mami dan tante Intan." Tambah Kiano memperjelas.


Bianca dan Raka hanya bisa tertawa, sementara Intan dan Ario saling pandang dengan senyuman penuh arti di wajah mereka.


"Mau adik?" Tanya Intan sembari mengusap kepala Kiano.


"Mau, aku mau adik laki-laki dan perempuan." Jawab Kiano antusias.


Bianca semakin tergelak, membuat Intan langsung menatapnya.


"Hahaha, ketawa lo." Kata Intan menyindir dengan tawa yang dibuat-buat.


Bianca menekuk wajahnya, ia lalu menatap suaminya dan menduselkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas, Intan ledekin aku." Adu Bianca menunjuk ke arah Intan.


Raka mencium kening istrinya, ia lalu menatap pasangan Ario dan Intan bergantian.


"Kalian kenapa belum juga pergi bulan madu, apa hadiah kami tidak sesuai dengan tempat yang mau kalian kunjungi? Tanya Raka bingung.


Ario menggelengkan kepalanya, ini bukan tentang tujuan bulan madu nya, melainkan situasinya. Intan menolak karena tidak enak harus meninggalkan Bianca yang sedang bersedih.


"Intan nya belum mau, katanya nggak mau ninggalin sahabatnya yang lagi sedih." Jawab Ario memperjelas.


Bianca menatap sahabatnya, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Intan yang masih asik mengusap kepala Kiano.

__ADS_1


"Gue udah baik-baik aja, Tan. Lo pergi liburan ya, nikmati saat-saat pengantin barunya." Tutur Bianca dengan lembut, tidak lupa usapan pelan di bahunya.


Intan menatap Kiano sebentar, lalu beralih menatap sahabatnya. Intan menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak bisa." Kata Intan pelan.


Semua orang bingung mendengar ucapan Intan. Apa yang membuat gadis itu tidak bisa pergi bulan madu.


"Nggak bisa nolak maksudnya." Tambah Intan lalu tertawa renyah.


Ario menghela nafas, ia geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari istrinya itu. Intan sudah membuatnya bingung, dan tentu saja ia akan memberikan hukuman kecil di rumah nanti.


"Ck, kirain kenapa." Ucap Bianca berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Secepatnya deh berangkat, kasihan gue lama-lama lihat Ario yang ileran." Celetuk Raka menepuk pundak sahabatnya.


"Heh! Kapan gue ileran, sembarangan lo kalo ngomong." Sahut Ario memukul pelan bahu Raka.


Bianca dan Intan tertawa, sementara Kiano hanya diam. Anak itu tentu saja tidak paham dengan topik pembicaraan orang dewasa di kamar rawatnya ini.


"Uuuuu anak mami, sini mami bantu minum." Kata Bianca lalu mengambil sebotol air mineral dan membantu putranya untuk minum.


Raka melirik Ario, ia menepuk bahu pria itu lalu memintanya untuk mendekat. Meskipun kebingungan, Ario tetap nurut saja.


Selesai dibisikkan oleh Raka, Ario seketika melototkan matanya dengan senyuman y begitu lebar.


"Bisik-bisik apa kalian?" Tanya Intan dengan tatapan yang curiga.


"Masalah kerjaan." Jawab Raka singkat.


Ario mengangguk. "Iya, Sayang. Hanya masalah pekerjaan kok," tambah Ario memperjelas.


***


Karena hari semakin malam, Intan dan Ario pun pamit untuk pulang, apalagi Ario belum sempat istirahat karena Intan yang merengek ingin bertemu Kiano secepatnya.


Namun dibalik rasa lelahnya, ada rasa bahagia dalam diri Ario ketika akhirnya bisa bulan madu dengan istrinya.

__ADS_1


"Sayang." Panggil Ario dengan manja, kedua tangannya melingkar di pinggang ramping istrinya.


Intan menghentikan langkahnya, ia membiarkan dirinya dipeluk mesra oleh sosok pria yang berstatus sebagai suaminya ini.


"Apa, Mas?" Sahut Intan mengusap punggung tangan Ario.


"Kan mau berangkat bulan madu, ayo simulasi disini." Ajak Ario dengan enteng.


Entah terbuat dari apa bibir Ario itu, sampai-sampai ketika mengatakan sesuatu yang berbau plus plus rasanya santai sekali.


Intan melepaskan pelukan suaminya, ia membalik badan hingga kini saling berhadapan dengan Ario.


Intan melingkarkan tangannya di leher Ario, membuat pria itu seperti mendapat lampu hijau. Kedua tangan Ario langsung apik melingkar di pinggang ramping istrinya.


"Bibir kamu terbuat dari apa sih, kenapa enteng banget kalo bahas plus-plus." Ketus Intan seraya menarik hidung mancung pria itu.


Ario terdiam seperti orang yang sedang berpikir. Sebelah tangannya menepuk di dagu, dengan mata yang mengarah ke atas.


"Ihh, jawab nggak!!" Kesal Intan menarik tangan Ario kembali ke pinggangnya.


"Ya soalnya respon kamu baik. Aku godain kamu nggak pernah marah, kan jadi enak." Jawab Ario penuh senyuman.


Intan melongo, ia baru sadar jika apa yang suaminya katakan memang benar. Ia ini selalu merespon dengan baik setiap godaan yang suaminya lakukan. Jadi bagaimana mungkin pria itu akan bosan melakukannya.


Ario terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya, ia lantas mengecup bibir yang terbuka itu dan mendapat balasan berupa pukulan di kedua bahunya.


"Sembarangan, cium terus." Protes Intan.


"Cium istri sendiri." Sahut Ario lalu menarik tangan istrinya.


"Mau ngapain?" Tanya Intan bingung.


"Mau jadi bayi, ayo." Jawab Ario lalu kembali menarik tangan istrinya.


LAH?? PAK ARIO PUNYA KEPRIBADIAN GANDA KAYAKNYA 😩


Bersambung...............................

__ADS_1


__ADS_2