Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Bibirnya enak


__ADS_3

Bianca memegang tangan Raka yang mengulurkan tangannya. Pria itu sudah memanggil seorang fotografer untuk memotret beberapa momen mereka saat ini, bahkan Bianca tidak menyangka Raka menyiapkan ini semua.


Raka tersenyum, ia membawa kedua tangan Bianca untuk memegang dadanya, sementara tangannya sendiri melingkar di pinggang ramping istrinya.


"Mas, aku malu." Cicit Bianca saat fotografer itu sudah siap untuk memotret.


"Nggak apa-apa, Sayang. Biar hasil fotonya bagus, kamu yang tenang ya. Jangan khawatir," bisik Raka lembut.


Bianca pun akhirnya berusaha untuk tenang, ia membalas tatapan Raka yang terkesan banyak cinta di dalamnya.


Momen itu tentu saja langsung diabadikan oleh sang pemotret.


"Pak, cium istrinya bisa? Biar terlihat lebih romantis." Kata fotografer itu memberi arahan.


Raka menatap Bianca penuh tanya. Selain mata, tangan Raka pun aktif memindahkan tangan istrinya untuk melingkar di lehernya.


"Boleh, Sayang?" tanya Raka berbisik.


Bianca ragu, bibirnya sedikit gemetaran dan takut jika harus berciuman dengan Raka lagi, apalagi sampai ada yang melihatnya.


"Kalo kamu nggak mau, nggak apa-apa, Bi. Kita bisa cari pose lain," tutur Raka dengan penuh pengertian.


"A-aku mau." Balas Bianca dengan cepat meski terbata-bata.


Raka terkekeh, ia memegang dagu runcing Bianca lalu menyatukan bibirnya dengan bibir manis istrinya.


Mata Bianca dan mata Raka sama-sama terpejam dan tentunya langsung diabadikan oleh si pemotret handal itu.


Setelah beberapa menit, Bianca hendak melepas ciuman mereka, namun Raka malah menarik tubuh nya ke arah kolam.


Dengan posisi saling memeluk, Raka dan Bianca terjebur bersama ke dalam kolam penuh bunga mawar itu.


Pasti apa? Ya, pasti diabadikan oleh fotografer nya.


"Pak, sudah selesai kan? Anda boleh pergi." Ucap Raka dengan halus.


"Baik, Pak. Permisi," fotografer itu pergi membawa semua peralatannya.


Raka tidak mau Bianca yang sudah basah kuyup begini dilihat oleh orang lain. Raka juga butuh privasi dengan istrinya setelah beberapa kali potret yang ia rasa cukup.


Raka lalu mendekati istrinya. "Kaget ya?" tanya Raka.


Bianca menganggukkan kepalanya. "Banget, lagian nggak bilang-bilang." Jawab Bianca.


Raka mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Maafin saya ya, tapi kamu makin cantik kalo basah kuyup gini." Puji Raka penuh senyuman dan godaan.


Bianca menatap Raka, ia melototkan matanya itu lalu mendengus. Bianca memilih untuk berenang menjauhi suaminya.


Raka pun mengejar, ia berenang di belakang sang istri yang terus saja menjauh.

__ADS_1


Gerakan keduanya menciptakan gelombang yang membuat bunga mawar itu perlahan ke tepi dan menunjukkan warna bening dari air kolam aslinya.


Bianca berhenti di ujung kolam guna menatap keindahan pantai dari sana. Ia tersenyum begitu lebar merasakan paginya indah saat ini.


"Suka?" tanya Raka yang sudah ada di sebelah Bianca.


Bianca menoleh dengan senyuman yang belum hilang. "Suka banget, Mas. Kamu kok pintar pilih spot memanjakan mata." Jawab Bianca.


Raka mencubit kedua pipi istrinya karena gemas dengan ucapan Bianca barusan.


"Tentu saja, saya harus pintar cari tempat yang bisa membuat istri saya bahagia." Balas Raka.


Memang hotel dan liburan ini ide mertuanya, tapi untuk private pool ini Raka siapkan secara khusus untuk Bianca seorang.


"Saya selalu senang melihat kamu tersenyum, Bi. Apalagi kalo senyuman itu tercipta karena saya," ungkap Raka dengan jujur.


Bianca masih menatap suaminya, namun ia bingung harus menjawab apa ucapan sang suami.


Bianca pun mengalihkan pandangannya ke arah kolam, ia mengambil bunga mawar yang mengambang di atas kolam itu.


"Kamu berlebihan, Mas. Pasti mahal sekali menyiapkan semua ini," kata Bianca tanpa menatap Raka.


Raka tertawa, ia memegang tangan Bianca lalu menciumnya dengan penuh semangat.


Raka mengangguk. "Aku dengar bunganya mahal, bahkan bisa milyaran jika dijual." Sahut Raka dengan enteng.


Bianca menatap Raka dengan tatapan penuh keterkejutan. "Hah, emang iya, Mas? Masa bunga aja sampai milyaran?" tanya Bianca heboh.


Bianca mengerem kesal, ia sudah sangat serius mendengar ada bunga yang harganya milyaran, tetapi Raka malah bercanda.


Bianca mencipratkan air ke wajah Raka sehingga tawa pria itu berhenti.


"Nyebelin." Ketus Bianca.


Raka mengusap wajahnya yang basah, ia lalu menatap Bianca dengan tatapan jahil. Tatapan itu tentu di sadari oleh Bianca, apalagi Raka berjalan mendekatinya.


"Ngapain? Mas, jangan macam-macam ya!!" ucap Bianca seraya mundur menjauhi Raka.


Raka menggeleng. "Hanya satu macam." Balas Raka sambil tersenyum.


Bianca masih terus mundur, ia lalu kembali menyipratkan air ke wajah Raka. Bahkan kali ini lebih banyak dari sebelumnya.


Raka pun terbatuk-batuk karena ada air yang masuk ke hidungnya.


Uhukk … uhuk …


Bianca yang melihat suaminya terbatuk tentu saja khawatir dan merasa bersalah. Ia lantas mendekat, bahkan menangkup wajah tampan Raka.


"Mas, maafin aku. Kita naik yuk, aku ambilkan kamu minum ya." Tutur Bianca khawatir.


Raka masih terbatuk-batuk, namun sesaat kemudian ia berhenti dan langsung merengkuh pinggang ramping istrinya.

__ADS_1


"MAS!!" pekik Bianca terkejut karena posisi mereka sangat dekat.


Raka terkekeh. "Ssttt … saya nggak bakal macam-macam, Sayang. Takut banget kalo dekat saya," ucap Raka gemas.


"Soalnya mas mesumm." Kata Bianca tanpa sadar.


Ucapan Bianca itu membuat kening Raka terangkat satu, tanda bahwa ia heran dengan pernyataan istrinya barusan.


"Saya mesumm? Kapan?" tanya Raka.


Bianca menggerutu, bisa-bisanya ia berkata seperti barusan sementara selama ini Raka tidak pernah macam-macam tanpa seizin darinya.


Bianca menggeleng. "Bukan gitu, Mas. Maksud aku … maksud aku …" Bianca menggantung ucapannya karena bingung harus menjawab apa.


"Hmm?" Raka berdehem dengan maksud meminta penjelasan.


Bianca kesal, ia memukul pelan dada bidang Raka yang tidak tertutup apapun.


"Nggak tahu ah." Ketus Bianca lalu menjauhkan diri dari suaminya.


Raka dengan cepat memegang tangan istrinya. "saya senang kamu sudah sedikit mengenal saya, Bi." Ucap Raka penuh senyuman.


"Tuh kan! Berarti aku benar kan kalo mas mesumm?!!" tanya Bianca heboh.


Raka mengangguk, ia lalu menarik tangan Bianca dan kembali melingkarkan tangannya itu di pinggang sang istri.


Raka mendekatkan wajahnya ke telinga Bianca, ia lalu membisikkan sesuatu kepada gadis cantik di depannya.


"Karena kamu sudah tahu bahwa saya seperti itu, maka saya tidak perlu ragu untuk memperlihatkan sifat saya itu." Bisik Raka di telinga Bianca.


Bianca melotot, mengapa ia jadi tegang begini. Ia juga menyesal telah bicara seperti tadi.


Bianca menggeleng. "Nggak bisa, kamu kan udah janji nggak bakal maksa aku, Mas." Ucap Bianca mengingatkan.


Raka tersenyum, kepalanya manggut-manggut mendengar penuturan sang istri.


"Benar, lagipula kapan saya maksa kamu. Saya kan selalu izin," timpal Raka.


"Jadi sekarang saya izin, boleh nggak cium kamu?" tanya Raka dengan tatapan yang terus mengunci mata Bianca.


Bianca mengepalkan tangannya di kedua sisi bahu Raka. Bukan karena ia marah, justru karena ia gugup dan tak sanggup menolak pesona daddy satu anak ini.


"Diam berarti iya." Putus Raka lalu segera mencium bibir istrinya dalam-dalam.


Bianca memejamkan matanya, ia semakin melingkarkan tangannya ketika Raka semakin memeluk erat pinggang kecilnya.


Raka mencium dengan penuh kelembutan dan cinta. Tidak ada tindakan kasar sama sekali, yang mana membuat Bianca selalu terbuai untuk membalas. Belum lagi pesona pria itu yang tidak bisa Bianca tepis begitu saja.


"Mas Raka bibirnya enak banget." Batin Bianca masih dengan mata terpejam.


MBAK BIA 😭😭

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2