
Masih tentang pasutri yang sedang berbulan madu di paris, Perancis. Pasangan Ario dan Intan tampak semakin lengket bak surat dan perangko.
Ario yang semakin bucin, dan Intan yang semakin pasrah menerima segala bentuk sentuhan dan permintaan suaminya.
Seperti sekarang ini, usai jalan-jalan di sekitar menara Eiffel dan mengambil beberapa jepretan foto, Ario langsung menariknya masuk ke dalam kamar hotel.
Jangan tanya alasannya karena Ario sudah pasti akan menjawabnya dengan suka-suka.
"Mas, kamu peluk aku atau mau bikin aku gepeng?" Tanya Intan yang begitu pasrah.
Ario tergelak, ia mengurai rambut lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan di tengah cuaca dingin kota Paris.
"Peluk dong, istri aku udah langsing begini masa mau aku bikin makin langsing." Jawab Ario masih dengan tawanya.
Intan ikut terkekeh, ia mengusap wajah tampan suaminya yang semakin putih saja di tengah cuaca dingin seperti sekarang ini.
"Kamu kok bisa putih sih, Mas? Perasaan kemarin-kemarin nggak seputih ini." Ucap Intan yang begitu memperhatikan suaminya.
Ario menyipitkan matanya. "Kamu se-perhatian itu sama aku, sampai-sampai berubah warna kulit aja kamu tahu?" Tanya Ario senang.
Intan menggelengkan kepalanya, tangannya masih setia mengusap wajah tampan suaminya.
"Setiap hari ketika bangun tidur, aku biasa perhatiin wajah kamu, dan akhir-akhir ini wajah kamu jauh lebih putih dari sebelumnya." Jawab Intan dengan jujur.
"Oh jadi selama ini kamu suka perhatiin wajah aku ketika aku masih tidur, ihh nakal." Ledek Ario dengan jahil.
Intan terbelalak, ia baru sadar jika mulutnya baru saja mengucapkan sebuah rahasia yang selama ini ia jaga.
"Eh, nggak. Aku tadi salah ngomong, maksudnya itu …" Intan menggantung ucapannya, merasa bingung untuk mencari alasan.
"Apa? Apa hayoo?? Bingung kan mau bohong, dasar istri nakal." Celetuk Ario sambil menarik pelan hidung istrinya.
Intan menekuk wajahnya. "Hidung aku udah mancung, jangan ditarik-tarik. Nih hidung kamu." Ucap Intan menggosok hidungnya sendiri.
"Hidung aku kenapa? Lebih mancung kan?" Tanya Ario percaya diri, namun ucapannya memang benar.
Intan tidak menyahut, wanita itu hanya diam dengan wajah yang cemberut karena kalah berdebat dengan suaminya.
"Tuh kan ngambek, yaudah ia aku pesek deh." Ucap Ario mengalah.
"Siapa yang ngambek ihh, sok tahu kamu. Aku gigit nih," sahut Intan menolak untuk dibilang ngambek.
"Nih, mau gigit dimana?" Tanya Ario menantang.
__ADS_1
Intan mengerem pelan, ia langsung berpindah duduk ke pangkuan suaminya. Intan memiringkan kepalanya, lalu menggigit leher Ario sampai berbekas.
Ario tidak marah sama sekali, pria itu malah tertawa senang mendapat perlakuan demikian dari istrinya.
"Nggak mau satu, maunya yang banyak." Pinta Ario lalu menunjuk ke arah bagian lehernya yang lain.
"Kamu nantangin aku?" Tanya Intan dan Ario menjawab dengan anggukan kepala.
Intan kembali menyusupkan wajahnya ke leher sang suami. Tinggal bersama Ario beberapa hari membuat sisi liar Intan semakin terlihat. Intan sudah berubah menjadi gadis nakal karena Ario.
Nakal bukan berarti negatif, nakal Intan itu positif sekali karena nakal kepada suaminya.
"Istri aku gemesin banget sih, jadi mau beliin hadiah." Celetuk Ario.
"Nggak seru, mau beliin hadiah segala bilang." Sahut Intan sewot.
"Lhoo, kan aku belum ngomong mau beliin kamu apa. Kamu emang udah bisa nebak?" Tanya Ario mengerutkan keningnya.
"Bisa, paling kami mau beliin aku cilok." Jawab Intan asal-asalan.
Ario geleng-geleng kepala, ia menangkup wajah istrinya lalu menciumi bibir Intan dengan penuh semangat.
"Bibirnya manis banget sih." Bisik Ario semakin betah untuk mencium istrinya.
Tidak ada kata 'pasrah' dalam kamus hidup seorang Ario.
"Ahhh …" erangan tak terelakan itu keluar ketika tangan Ario begitu terampil memainkan dada Intan seperti sebuah squisy.
"Tangan-tangan jambret emang nakal." Cibir Intan asal-asalan.
Enak sekali mulutnya mencibir suaminya, namun bukannya marah, Ario justru tertawa lepas mendengar mulut Intan yang ceplas-ceplos.
***
Sungai Seine adalah sebuah sungai utama di Prancis bagian barat laut. Sungai yang memberikan suasana romantis dan menjadi tujuan wisata untuk pasangan bulan madu.
Seperti pasangan lain, Ario pun mengajak istrinya untuk makan malam di kapal pesiar atau biasa orang menyebutnya dengan cruise yang akan membawa mereka menyusuri sungai Seine.
Salah satu destinasi wisata para honeymoon people memang benar-benar memanjakan mata sekali. Suasana makan malam yang ditemani keramaian kota Paris membuatnya tampak lebih spesial.
Ario sengaja mengajak istrinya untuk makan malam disana, ia ingin membuat Intan merasakan suasana romantis dan penuh cinta bersamanya.
"Suka nggak?" Tanya Ario sambil memegang tangan istrinya.
__ADS_1
Intan menganggukkan kepalanya. "Suka banget, Mas. Ini persis seperti di film, aku nggak nyangka kamu mau ajak aku kesini." Jawab Intan penuh semangat.
"Aku pasti ajak kamu kok, kenapa? Karena aku mau menciptakan kenangan indah bersama untuk kita ceritakan pada anak-anak kita kelak." Jelas Ario dengan suara yang begitu lembut.
Intan tersenyum lebar, ia benar-benar bahagia mendapat kejutan makan malam yang begitu indah dan romantis dari suaminya.
Ario itu memang tampak dingin dan cuek, namun kenyataannya pria itu memiliki kepedulian dan cinta yang begitu besar.
Makan malam di kapal pesiar itu adalah pizza, steak dan oyster. Sementara minumannya ada jus jeruk, dan minuman soda. Ario sengaja tidak memesan alkohol, sebab ia tidak mau istrinya minum itu.
"Dimakan, nona manis." Tutur Ario seraya memberikan senyum terbaiknya.
"Iya pak suamik." Balas Intan.
Intan pun pertama makan sepotong pizza dengan cheese yang bagitu banyak, bahkan benar-benar lumer, sementara Ario memilih untuk memakan oyster.
"Wahh, enaknya." Ungkap Intan sampai melototkan matanya.
Ario terkekeh, ia menyeka noda saus disudut bibir istrinya, lalu menjilat jarinya sendiri.
"Mas, itu kotor." Tegur Intan.
"Kotor darimana, kita sudah sering bertukar saliva, Sayang." Sahut Ario.
Selesai makan, nyatanya keromantisan malam itu tidak berhenti sampai di sana. Datang dua orang laki-laki membawa biola dan memainkannya dengan bagitu mahir.
"Dance with me, Nona?" Tanya Ario dengan lembut, bahkan seperti bisikan.
Intan mengangguk, ia meletakkan sebelah tangannya ke tangan suaminya. Sementara tangan lainnya ia letakkan di bagian bahu Ario.
"Kamu cantik banget." Puji Ario sambil terus menari mengikuti irama musik biola yang terdengar indah itu.
"Dan kamu, sangat tampan dan menggoda." Balas Intan lalu mencium pipi suaminya.
Ketika musik selesai, Intan dan Ario pun saling berpelukan, mengantarkan perasaan bahagia malam ini.
"Makasih ya, Mas. Ini malam yang indah," ucap Intan.
"Iya, Sayang." Balas Ario tersenyum hangat.
MAAF BANGET UDAH LAMA NGGAK UPDATE, INSYAALLAH MULAI RUTIN UP YAA🙏😭
Bersambung..............................
__ADS_1