
Bianca tersenyum lebar saat Raka mengajaknya ke tempat dimana mereka akan tidur malam ini. Ternyata, Raka mengajak anak dan istrinya menginap di hotel berbintang yang memberikan view pemandangan Jakarta di malam hari.
Mungkin hal ini biasa dilihat, namun bagi Bianca rasanya berbeda. Meski menginap di kota yang sama dengan rumahnya berada, tapi niat baik Raka adalah untuk mengajak dirinya dan Kiano berlibur.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, mereka baru saja sampai sebab tadi keasikan bermain di mall. Kiano bahkan sudah tertidur dengan pulasnya.
Raka keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sedang berdiri di balkon kamar sambil tersenyum, menikmati pemandangan di depannya dan angin yang berhembus menerpa wajahnya.
Raka melempar handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya di sofa, lalu berjalan mendekati Bianca.
"Sayang …" panggil Raka dengan lembut dan manja.
Tangan Raka apik melingkar di perut rata istrinya, yang mungkin saja akan segera membesar jika Tuhan sudah menghendaki.
Bianca tersenyum, ia mengusap-usap tangan suaminya dengan lembut. Kepalanya menoleh, menatap mata Raka yang juga sedang menatapnya.
"Aku belum mandi," ucap Bianca pelan.
Raka menunduk, ia mencium bahu lalu pipi dan berpindah ke leher istrinya.
"Mas, ngapain sih?" Tanya Bianca sambil tertawa geli.
Raka masih asik menciumi bahu istrinya yang hanya di balut kaos, sebab jaket denim nya sudah di lepaskan.
"Mandi, nggak mandi kamu tetap wangi." Ucap Raka dengan senyuman lebar.
Bianca berdecak, namun bibirnya menyunggingkan senyuman. Suaminya ini memang paling tahu bagaimana merayu dirinya.
"Nggak, awas ah. Aku mau mandi dulu, kasihan anak aku udah tidur, tapi maminya belum mandi." Pinta Bianca seraya memaksa Raka melepaskan pelukannya.
Raka pun melepaskan pelukan di tubuh istrinya, ia membiarkan Bianca berlalu dari hadapannya.
Raka mengekor di belakang istrinya, namun ia buru-buru mengambil paperbag sebelum Bianca masuk ke dalam kamar mandi.
"Pakai baju ini, Sayang." Ucap Raka memberikan paperbag di tangannya.
Bianca mengerutkan keningnya, ia melihat paperbag di tangannya sendiri. Seingat Bianca, ia hanya membeli satu baju saja.
"Aku beli ini tadi diam-diam, sengaja buat kamu." Jelas Raka saat menyadari raut wajah istrinya.
Bianca meletakkan paperbag di tangannya, lalu mengambil paperbag yang Raka berikan. Tanpa berkata-kata, Bianca pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Raka tersenyum dengan perasaan tidak sabar. Tentu saja, Raka penasaran melihat Bianca memakai baju pemberiannya yang teramat spesial.
Sambil menunggu Bianca, Raka naik ke atas ranjang lalu mendekati Kiano yang sudah pulas tidurnya.
__ADS_1
"Kiano, bobok yang nyenyak ya. Papi mau ajak mami buat bayi, seperti yang kamu mau." Celetuk Raka seraya mengusap wajah tampan putranya.
Raka menundukkan kepalanya, ia mencium kening Kiano lalu memeluknya tidak terlalu erat. Berharap agar Kiano pulas tidurnya, dan ia bisa bebas mengganggu maminya.
Sementara Bianca, wanita itu masih asik mengguyur tubuhnya di bawah shower, tanpa melihat isi paperbag pemberian Raka sebelumnya.
Sambil bersenandung, Bianca mengusap sabun ke seluruh tubuhnya lalu membilasnya.
Setelah selesai, Bianca lantas mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu melihat isi paperbag yang Raka berikan padanya.
"Hah!" Bianca melongo melihat baju harom di tangannya. Ia masih ingat mama Wina juga pernah memberikannya, namun belum sempat ia pakai.
"Mas Raka … mas Raka." Decak Bianca sambil geleng-geleng kepala.
Bianca hanya tersenyum, namun ia tentu tetap memakai baju yang Raka berikan, semua itu ia lakukan demi menghargai suaminya.
Setelah Bianca selesai memakainya, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Bianca merinding sendiri menatap tubuhnya yang terbalut pakaian terbuka, tanpa apa-apa lagi di baliknya.
"Merinding gue." Gumam Bianca bergidik.
Bianca meraba tubuhnya sendiri, ia lalu mencium pergelangan tangan dan beberapa titik tubuh lainnya.
Bianca mau dirinya bersih dan wangi, ia buru-buru mengambil lotion dan parfum yang tidak pernah lupa ia bawa di dalam tasnya.
Setelah selesai, Bianca pun memutuskan untuk keluar, namun diawali dengan kepalanya saja yang keluar.
Bianca menghela nafas, ia pun memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi dan mendekati suaminya.
"Mas." Panggil Bianca dengan lembut.
Raka meletakkan ponselnya, ia lalu menoleh menatap istrinya. Mata Raka seketika membelalakkan dengan sempurna melihat penampilan istrinya malam ini.
Raka tersedak air liurnya sendiri, ia lalu turun dari ranjang dan berdiri di depan istrinya.
"S-sayang." Ucap Raka terbata-bata.
Bianca tersenyum penuh godaan. "Kenapa? Bukannya kamu yang mau aku pakai baju ini?" Tanya Bianca.
Kepala Bianca mengangguk, tanda bahwa apa yang istrinya ucapakan itu benar. Namun Raka tidak menyangka bahwa Bianca tidak memakai apa-apa lagi dibaliknya.
Bukan Raka tidak suka, justru ia sangat suka dan tidak tahu diri. Ia jadi ingin langsung menerkam istrinya.
"Aku makin ngelunjak kalo gini." Celetuk Raka ambigu.
"Hmm, maksud–hmpttt …" ucapan Bianca terhenti saat Raka tanpa permisi langsung mencium bibirnya.
__ADS_1
Bianca yang awalnya kaget setelahnya biasa saja, ia malah membalas ciuman suaminya tidak kalah menggebu.
Semoga kalian ingat bahwa Bianca suka adegan kiss seperti ini bersama Raka, sebab apa? Sebab bibir Raka rasanya enak.
"Ahhh, Mashh …" desahh Bianca seraya menjambak rambut belakang suaminya.
Raka semakin bersemangat untuk menjelajahi leher jenjang Bianca dan mencetak tanda di sana.
Bianca mati-matian menahan suaranya atau sesekali keluar dengan suara yang kecil. Takut Kiano terbangun dan melihat aksi mami papinya sekarang.
"Mas, eumhhh …" lenguh Bianca lagi saat tangan Raka hinggap di dadanya.
"Tahan suara kamu, Sayang. Atau nanti Kiano bangun," bisik Raka dengan suara yang benar-benar menggoda.
Enak sekali Raka memintanya untuk menahan suaranya, sedangkan ia dibuat terbang dengan kenikmatan.
"Sayang, boleh minta?" tanya Raka meminta izin.
"Aku istri kamu, Mas. Lakukan saja, tidak perlu meminta izin." Jawab Bianca seraya mengusap rahang tegas suaminya.
Andai saja kalian bisa melihat, maka wajah suaminya ini jauh lebih tampan saat sedang bergairahh seperti ini. Keringat yang bercucuran dari rambut ke dahi membuat Raka terlihat sangat menggoda.
Raka pun lekas membuka seluruh pakaian mereka, ia lalu mendorong pelan istrinya untuk berbaring diatas sofa. Mustahil Raka mengajak Bianca bermain diatas ranjang, sementara ada Kiano yang pulas di sana.
"Ahhhh!!!" Bianca berteriak kencang saat bibir Raka hinggap di dadanya dan menjelma seperti bayi.
"Si kembar kesayangan aku." Celetuk Raka.
Bianca tertawa, antara lucu dan nikmat secara bersamaan. Sempat-sempatnya Raka melawak.
Setelah puas pemanasan, Raka pun segera menyatukan miliknya dengan milik istrinya.
"Arghhh …" erang Raka penuh kenikmatan.
Malam ini, Raka dan Bianca kembali mereguk kenikmatan bersama. Peluh yang membasahi tubuh keduanya menjadi hasil kegiatan malam ini.
"Semoga baby segera hadir." Bisik Raka dengan nafas tersengal-sengal.
Bianca tersenyum, ia menganggukkan kepalanya lalu mencium pipi Raka. Ia sangat lelah dan ingin istirahat sekarang.
Raka menggendong Bianca, ia mendudukkan istrinya di pinggir ranjang lalu membantu Bianca untuk memakai pakaiannya.
Jika tidak ada Kiano, mungkin mereka berdua akan tidur dengan keadaan polos dan bisa mengulang ini lagi besok, tapi mereka ingat bahwa Kiano tidak pantas melihat ini semua.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Raka lalu mencium kening istrinya.
__ADS_1
TUTUP MATA, TUTUP MULUT.
Bersambung.............................