Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Permohonan dua pria


__ADS_3

Bianca melangkah kakinya masuk tanpa peduli pada suaminya yang terus saja memanggil sambil berusaha memegang tangannya.


Wanita itu sedang marah, bahkan lebih marah dari kemarin. Ia kesal, tidak terima dan murka melihat suaminya sedang asik makan bersama wanita lain, sementara ia yang sedang marah sama sekali tidak dibujuk.


Bianca terpaksa pulang dengan suaminya, karena ia tidak mau melibatkan Intan dalam pertengkarannya dengan Raka. Masalah rumah tangga ini akan mereka selesiakan berdua.


"Abang, kamu masuk kamar dulu ya. Papi mau bicara sama mami dulu, oke sayang?" Tutur Raka lembut.


"Baiklah, Papi." Balas Kiano lalu berlari kecil menuju kamarnya.


Sementara Raka, pria itu lekas menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. Ia membuka pintu perlahan, lalu melihat istrinya sedang berdiri di depan meja rias sambil memegangi pinggang dan perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Raka seraya berjalan cepat mendekati istrinya.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya, ia menepis tangan Raka yang memegang bahunya, lalu berjalan ke arah ranjang pelan-pelan.


"Sayang, dengarkan penjelasan ku dulu ya." Pinta Raka dengan lembut dan penuh permohonan.


"Nggak usah sok peduli sama aku, sana balik aja ketemu cewek-cewek itu." Balas Bianca ketus.


Wanita hamil itu duduk di ranjang, sambil berusaha mengatur nafasnya. Tangannya masih belum berhenti mengusap demi bisa menghilangkan kram perut yang dirasakannya saat ini.


Sejak kemarin Bianca terus tarik urat, dan kebanyakan penyebabnya adalah suaminya sendiri. Raka terus saja mempermainkan emosinya.


Kemarin ia marah karena sikap Raka yang melarang Kiano ini itu, dan sekarang karena seenaknya pria itu bertemu perempuan lain. Dan yang membuatnya lebih murka adalah saat ia sedang marah begini, Raka bahkan tidak mencoba untuk membujuknya.


"Sayang, aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Raka sembari mengambil tempat untuk duduk di sebelah istrinya.


"Udah deh, Mas. Aku malas berantem sama kamu terus. Dari kemarin kamu bikin aku kesal." Kata Bianca dengan nada pasrah.


"Terserah kamu deh, aku capek. Perut aku sakit gara-gara sikap kamu yang bikin aku emosi terus. Sana temui aja perempuan tadi, aku mau pulang ke rumah mama." Tambah Bianca.


Detik itu juga Raka langsung duduk bersimpuh di kaki istrinya. Raka tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, ia benar-benar bingung.


Raka memegang tangan istrinya erat, lalu menciumnya berulangkali.


"Sayang, jangan ya. Aku mohon, aku minta maaf dan tolong dengar penjelasan aku dulu." Pinta Raka memohon.


"Aku nggak mau dengerin omongan kamu lagi. Cinta sejak kecil, bohong aja. Kamu bohong bilang cinta sama aku dari aku SMP. Buktinya aku baru marah sedikit, kamu udah senang-senang sama perempuan lain." Balas Bianca dengan suara yang semakin pelan, sesak karena air mata.


Raka sedikit menegakkan tubuhnya, menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang istri. Tangannya memberikan usapan di perut istrinya.


"Sayang, jangan bilang gitu. Aku cinta sama kamu, cinta banget malah. Aku nggak pernah bohong soal itu." Ucap Raka tanpa menatap istrinya.


Bianca berusaha menjauhkan kepala Raka dari pangkuannya, namun sedikit kesulitan karena Raka menolak.


"Awas ah, Mas. Aku lagi marah juga, minggir! Kamu bikin perut aku tambah sakit tahu nggak!" Tegur Bianca dengan nada sedikit lebih tinggi.


Raka mendongakkan kepalanya, ia menangkup wajah cantik istrinya kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya.


Bianca meronta sambil memukuli suaminya, ia tidak mau dicium. Dirinya sedang marah, dan Raka seenaknya menciumnya terus.

__ADS_1


"Lepasin, Mas. Kamu apaan sih!!" Tegur Bianca semakin kesal.


Raka berdiri, ia menggendong istrinya lalu merebahkannya di ranjang, kemudian disusul olehnya yang berbaring sambil memeluk tubuh mungil itu.


"Kamu tekan perut aku, Mas. Awas!!" Pinta Bianca makin berapi-api.


"Sayang, aku nggak pernah selingkuh. Aku tadi lagi nongkrong sama Ario, aku curhat sama dia soal …" Raka menggantung ucapannya, lalu menatap sang istri.


"Soal apa hah? Soal aku yang suka ngambek ini?" Tanya Bianca melototkan matanya.


Raka lekas menggeleng. "Bukan, Sayang. Pokoknya aku lagi makan siang sama Ario, terus dua cewek tadi datang tiba-tiba." Jawab Raka menjelaskan.


"Ketahuan bohong nya, lepasin aku. Minggir .. akhhh …" Bianca meringis karena perutnya semakin terasa keram.


Raka melepaskan pelukannya, ia menatap istrinya penuh kekhawatiran. Ia menunduk, mengusap perut istrinya dan memberikan kecupan disana.


"Baby, jangan buat mami kesakitan ya. Kasih sakitnya ke papi aja," bisik Raka lembut.


"Jangan nyalahin anak aku, kamu yang salah. Kamu yang udah buat perut aku kram terus, nggak sadar kamu hah?!" Cecar Bianca melototkan matanya.


Raka menelan gumpalan salivanya dengan sedikit sulit, kata-kata Bianca itu memang biasa, namun nada bicaranya terdengar ketus dan menyakitkan.


"Sayang … maaf …" bisik Raka menundukkan kepalanya.


"Nggak! Aku udah pernah bilang sama kamu, kesalahan apapun aku maafin, tapi tidak dengan perselingkuhan." Balas Bianca menolak memberikan suaminya maaf.


"Sayang, aku nggak pernah selingkuh. Perempuan tadi hanya kalah dalam permainan dan mendapat tantangan untuk minta foto sama aku. Itu aja, nggak lebih kok." Jelas Raka dengan wajah memelas.


"Sayang, hiks … nggak mau, aku nggak mau sama mereka, maunya sama kamu." Raka tiba-tiba menangis dalam pelukan istrinya.


Bianca mencoba melepaskan pelukan suaminya, namun tidak berhasil sehingga ia membiarkan Raka memeluknya sambil nangis.


"Jangan bilang gitu, aku cinta sama kamu doang, Bia. Nggak sama yang lain, demi Tuhan." Ucap Raka dengan suara sedikit serak.


Pernah dengar kata-kata bahwa pria yang menangis di depan wanita, berarti wanita itu sudah sangat dicintainya. Dan memang begitu kenyataannya.


Raka sangat mencintai istrinya, ia takut kehilangan Bianca. Raka tidak peduli lagi dengan harga dirinya di depan Bianca, ia akan tetap menangis agar bisa menyakinkan istrinya bahwa ia tidak pernah selingkuh.


"Sayang, jangan pergi ke rumah mama. Jangan tinggalin aku," pinta Raka menatap wajah cantik istrinya dengan mata berair.


Bianca mendorong suaminya, ia lalu turun dari ranjang tanpa menyahuti ucapan sang suami.


"Hiks … mami!!" Raka merengek lagi, persis seperti Kiano.


"Malu kamu sama umur." Ketus Bianca lalu keluar dari kamarnya.


Raka segera menyusul istrinya, ia berlari keluar dan mengekori Bianca kemanapun wanita itu melangkah.


"Ngapain sih, bikin ribet aja." Ketus Bianca saat ia kesulitan bergerak di dapur.


"Jangan marah, jangan pulang ke rumah mama." Pinta Raka pelan.

__ADS_1


Bianca tidak menyahut, ia mengambil air dingin lalu menenggaknya demi bisa mendinginkan kepalanya saat ini.


"Sayang, aku nggak bohong. Apa perlu aku seret wanita tadi untuk jelasin yang sebenarnya?" Tanya Raka dengan cepat.


Bianca menyipitkan matanya. "Oh, udah tau dimana dia tinggal?" Tanya Bianca manggut-manggut.


Telak. Raka salah bicara, ucapannya barusan akan membuatnya jatuh ke dasar jurang.


"Siapa namanya? Statusnya sudah menikah atau belum? Umurnya berapa? Kamu tanya itu nggak?" Tanya Bianca bertubi-tubi.


Raka menggeleng. "Buat apa aku tanya, nggak penting." Jawab Raka.


"Ya biar selingkuh nya totalitas." Timpal Bianca ketus, lalu pergi dari hadapan suaminya.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah taman kota. Tampak seorang pria dan gadis duduk bersama sambil sama-sama menatap danau buatan.


Si pria terlihat panik usai terpergok bersama wanita tadi. Padahal jujur saja, ia tidak bersalah, namun entah mengapa dia bisa ketakutan.


Sedangkan si gadis terlihat santai dan tenang. Matanya terus menatap lurus ke depan.


"Intan, saya–" ucapan Ario terhenti, padahal ia baru bicara sedikit.


"Saya tahu kok, Pak. Saya tahu, anda tidak akan benar-benar serius mengajak saya menikah." Potong Intan, menatap Ario penuh senyuman.


Ario buru-buru menggelengkan kepalanya, ia hendak bicara namun Intan lagi-lagi memotongnya.


"Nggak apa-apa, Pak. Bapak nggak perlu merasa bersalah, disini saya yang salah. Dan lagi, lebih bagus begini. Saya tahu anda tidak pernah serius pada saya sebelum kita benar-benar menikah." Tambah Intan dengan tenang.


"Intan, dengarkan penjelasan saya dulu." Pinta Ario memohon. Pertama kalinya pria itu memasang wajah melas pada seorang gadis.


"Nggak ada yang perlu di jelasin, Pak. Saya harus pergi, semoga anda bahagia selalu." Sahut Intan.


"Oh ya, wanita tadi cantik dan cocok dengan anda. Setelah ini, lebih baik kita jangan bertemu lagi." Tambah Intan lalu bangkit dari duduknya.


Intan sudah bersiap untuk pergi, namun Ario tiba-tiba memegang pergelangan tangannya, mencegah dirinya yang ingin pergi usai memberikan kalimat perpisahan.


"Dengarkan saya dulu, Intan. Saya tidak punya hubungan apa-apa, wanita tadi hanya kalah dalam permainan dan sama-sama diberi tantangan." Ucap Ario dengan begitu emosional, namun nadanya tetap pelan.


"Iya, tapi lupakan saja. Saya harus pergi, Pak. Permisi," pamit Intan tidak lupa melemparkan senyuman.


Ario kembali menahan kepergian Intan, bahkan kali ini pria itu sedikit menyentaknya sehingga tubuh Intan menempel di tubuhnya.


Intan dan Ario saling menatap, namun sesaat kemudian mata mereka sama-sama terpejam merasakan bibir mereka yang saling bersentuhan.


Ario merasai bibir calon istrinya dengan penuh kelembutan, mengantarkan sebuah kalimat penolakan atas kata perpisahan yang Intan lontarkan beberapa saat lalu.


"Saya nggak akan nunggu persetujuan kamu lagi, tidak peduli kamu siap atau tidak. Besok saya akan datang ke rumah kamu dengan membawa lamaran pernikahan." Ucap Ario dengan tegas.


Intan hanya melongo, pikirannya masih belum bekerja normal usai dicium oleh Ario dan sekarang malah mendengar kalimat yang begitu tegas, namun membuat tubuh berdesir.


SABAR YA KEDUA MAS-MAS, SIAPA SURUH DEKET-DEKET CEWEK LAIN😕

__ADS_1


Bersambung..................................


__ADS_2