
Semalam Raka mengatakan bahwa dia marah pada Bianca dan itu benar. Terbukti semalam usai memeluk Bianca, Raka langsung tidur tanpa mengatakan apa-apa pada istrinya.
Pagi ini pun sama, Raka benar-benar diam terhadap Bianca. Di meja makan, Raka hanya mengajak Kiano untuk mengobrol, sementara Bianca seperti tidak dianggap.
"Mas, aku akan terlambat datang ke kampus. Aku berangkat sekarang ya," ucap Bianca melirik jam yang melingkar di tangannya.
Bianca hendak beranjak, namun Raka dengan cepat memegang pergelangan tangan istrinya.
"Biar saya antar, kita berangkat bersama." Kata Raka tanpa menatap istrinya.
Bianca menatap suaminya yang seperti enggan menatapnya, ia akhirnya kembali duduk dan menunggu Raka selesai menghabiskan teh nya.
"Sayang, papi berangkat ya. Kamu jangan nakal di rumah sama bibi ya." Ucap Raka kepada putranya.
"Baik, Papi." Balas Kiano mengangguk patuh.
Raka mencium kedua pipi putranya dengan cepat.
Kini giliran Bianca yang mencium pipi Kiano. "Mami berangkat juga ya, mami nggak akan lama kok. Hanya dua pelajaran," kata Bianca lembut.
Kiano mengangguk, ia memeluk leher Bianca lalu mencium pipi mami yang sangat disayanginya itu.
Bianca pun akhirnya menyusul Raka yang sudah keluar duluan. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi sebelah kemudi.
"Ayo, Mas." Ajak Bianca.
"Sabuk pengaman." Ucap Raka tanpa menatap Bianca.
Bianca pun tersadar, ia meletakan ponselnya di dashboard mobil lalu segera memakai sabuk pengamannya.
Setelah melihat Bianca selesai memakai sabuk pengaman, Raka baru menjalankan mobilnya pergi meninggalkan area rumah mereka.
Mereka baru kembali bulan madu kemarin, tapi karena ada urusan masing-masing, membuat mereka berdua langsung kembali ke kantor dan kampus.
Selama perjalanan, tidak ada yang bicara. Bianca sudah berharap Raka akan bicara padanya, tapi suaminya itu malah diam saja.
Bianca ingin memulai pembicaraan, atau mungkin ia akan minta maaf jika ucapannya kemarin menyinggung perasaan suaminya itu.
"Mas, aku–" ucapan Bianca terhenti sebab Raka bicara.
"Sudah sampai, turunlah. Kamu bilang hampir terlambat kan." Ucap Raka tanpa mempedulikan apa yang mau Bianca sampaikan.
Bianca menatap keluar, ternyata benar bahwa ia sudah sampai di kampusnya. Bianca benar-benar merasa bahwa perjalanan begitu cepat, bahkan ia belum bicara apapun dengan Raka.
Bianca mengulurkan tangannya, ia mengambil tangan Raka untuk ia cium punggung tangan itu.
"Aku turun ya, kamu hati-hati nyetirnya." Ucap Bianca lalu keluar bersama barang-barangnya.
Bianca melambaikan tangannya kepada Raka yang langsung tancap gas meninggalkan kampus Bianca tanpa membalas lambaian tangan istrinya.
__ADS_1
Bianca menghela nafas, ia masih berdiri di tempatnya dengan perasaan campur aduk.
"Ternyata nggak enak ya dicuekin gini, apalagi biasanya mas Raka suka merayu." Gumam Bianca lesuh.
Bianca pun melangkah masuk menuju kampusnya, ia harus naik lift agar bisa segera sampai di kelas.
Selama di dalam lift, Bianca tidak bisa lepas memikirkan Raka. Apa ucapannya sangat keterlaluan sampai-sampai membuat Raka marah begini.
Lift berhenti di lantai tujuan Bianca. Gadis itu keluar dan jalan melewati lorong sampai bertemu kelasnya yang kedua dari ujung.
"Aca, kesayangan gue!!" Intan memekik senang melihat Bianca hadir hari ini.
Intan memegang tangan Bianca, ia lalu menarik tangan sahabatnya itu untuk duduk di kursinya.
"Ca, cerita buruan. Gimana bulan madu lo?" tanya Intan pelan, namun sangat girang.
Bianca menghela nafas. "Seru, dan menyenangkan." Jawab Bianca jujur.
Intan bertepuk tangan, ia senang mendengar ucapan sahabatnya. Jika Bianca senang, maka ia jauh lebih senang.
"Otewe bunting dong?" tanya Intan lagi berbisik.
Bianca menoleh ke arah sahabatnya yang tampak menaik turunkan alisnya. Ia mengatur nafasnya, berusaha untuk sabar menghadapi sahabat satu-satunya itu.
"Intan, sayangku. Please, jangan tanya aneh-aneh deh. Lo nggak tahu apa gue lagi barantem sama suami gue." Ujar Bianca lalu memasang wajah melas di akhir kalimat.
"Kok berantem, kan abis bulan madu?" tanya Intan bingung.
Bianca menggeleng, ia tidak bisa memberitahu alasan kenapa ia sampai bertengkar. Ini masih terlalu privasi, dan Bianca juga takut akan dikatai bodoh oleh Intan nantinya.
Bianca mengacak-acak rambutnya, ia yakin sekali bahwa ia tidak bisa belajar dengan fokus. Pikirannya terus mengarah pada Raka.
Intan mengusap punggung sahabatnya. "Sorry ya, Ca. Bukan mau ganggu suasana sedih lo, tapi file presentasi hari ini belum lo kirim." Ucap Intan pelan.
Bianca mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah tasnya.
"Ada di hp gue, kirim sendiri. Hp gue kan nggak ada password." Ujar Bianca tanpa mengangkat kepalanya sama sekali.
Intan pun segera mengambil tas sahabatnya, ia meraba dan berusaha mencari benda pipih yang canggih itu, namun tidak ada.
"Nggak ada, Ca. Lo kantongin kali," kata Intan meletakkan kembali tas Bianca.
Bianca menghela nafas, ia pun meraba kantong celana dan tidak menemukan ponselnya. Baju yang Bianca kenakan tidak ada kantung, jadi tidak mungkin disana.
"Masa nggak ada sih?" tanya Bianca kembali mencari di dalam tasnya.
Bianca tidak menemukan itu, ia berusaha untuk mengingat dimana ponselnya meski sekarang ia tengah dilanda kepanikan.
"Astaga!!!" Bianca memekik sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Intan kepo.
"Gue ninggalin hp gue di mobil mas Raka." Jawab Bianca panik.
Bianca panik bukan karena apa, ia butuh ponselnya karena di dalam sana ada file presentasi yang harus ia lakukan hari ini.
"Astaga, Aca!!!" pekik Intan ingin menangis.
Bianca pun keluar dari kelas, ia harus menyusul suaminya ke kantor, tapi ia tidak tahu dimana kantor Raka.
"Intan, telepon nomor gue. Buruan!!" ucap Bianca dengan tergesa-gesa.
Intan pun segera menelpon nomor Bianca, hanya berdering namun tidak ada yang mengangkatnya.
Bianca rasanya semakin stress, ia terlalu memikirkan Raka yang marah padanya sampai-sampai ia lupa pada barang yang ia tinggalkan di dalam mobil Raka.
"Kita bisa mati, Ca." Ucap Intan dengan nafas terengah-engah.
Bianca ingin menangis, ia pun memutuskan untuk kembali ke kelas dan diikuti oleh Intan juga.
"Lo berdua heboh banget, pak Usman nggak masuk. Presentasi diundur besok." Ucap ketua di kelas Bianca.
Wajah Bianca dan Intan seketika berubah senang, mereka menatap si ketua kelas dengan binar mata bahagia.
"Benar, Boy?" tanya Bianca memastikan.
"Iya, katanya anaknya sakit." Jawab Boy, si ketua kelas.
"Alhamdulillah!!!" pekik Intan sangat bahagia.
Bianca memukul sahabatnya yang bisa-bisanya bahagia disaat ada orang sakit.
"Awww … sakit, Ca." Ucap Intan mengusap bahunya.
Bianca dan Intan lega sekarang, setidaknya takdir menyelamatkan mereka berdua dari amukan dosen killer itu.
"Besok jangan sampai nggak di bawa, makanya kirim kenapa si, Ca. Mentang-mentang punya suami, jomblo kaya gue dilupain." Celetuk Intan.
"Makanya cari pacar." Balas Bianca tanpa menatap sahabatnya.
Sementara itu di taman kampus, terlihat seorang pria sedang berusaha menghubungi nomor seseorang. Ia juga sudah mengirimkan pesan singkat, namun tak kunjung dibalas.
"Kamu kemana, Ca. Tolong temui aku sekali ini lagi." Gumam Reza menatap layar ponselnya.
Ya, yang sedang berusaha menghubungi Bianca adalah Reza. Mantan kekasih Bianca.
WADUHH, ADA YANG MELEDAG NIH NANTI KAYAKNYA 🤣
Bersambung...............................
__ADS_1