
Sepulang makan malam, Kiano langsung direbahkan di kamarnya karena bocah itu tertidur saat perjalanan pulang tadi.
Bianca menyelimuti Kiano sampai batas perut, lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
Raka yang melihat itu tersenyum, ia pasti akan merindukan pemandangan ini saat nanti dirinya pergi selama satu minggu.
"Sayang, ayo ke kamar. Kita juga harus istirahat." Ajak Raka pada istrinya.
Bianca menoleh, ia menganggukkan kepalanya lalu segera keluar. Tidak lupa Bianca mematikan lampu, dan menutup pintu kamar Kiano.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Bianca mengerutkan keningnya.
Sudah kesekian kalinya Bianca memergoki Raka memperhatikan dirinya malam ini. Mulai dari mereka berangkat, sampai mereka pulang dan saat ini. Raka terus memperhatikan Bianca.
"Nggak apa-apa, memang saya nggak boleh memperhatikan istri saya sendiri?" tanya Raka balik.
Bianca mengulum senyum, ia menahan senyumannya karena malu. Entah kenapa dia bisa malu-malu hanya karena ucapan suaminya.
"Apa sih, suka nggak jelas kalo di tanya." Bukannya menjawab, Bianca langsung melipir begitu saja.
Raka terkekeh, ia lekas mengejar istrinya yang sudah duluan masuk ke dalam kamar mereka.
"Sayang, saya mau bilang sesuatu. Tapi kamu mandi dulu saja, kita bicara setelah kamu mandi." Ucap Raka seraya menutup pintu kamar.
"Baiklah." Balas Bianca lalu masuk ke dalam kamar mandi, tidak lupa ia membawa pakaiannya.
Raka melepaskan jam tangan lalu meletakkannya di tempat ia mengambil, ia juga membuka tiga kancing kemejanya serta menggulung bagian lengan sampai batas siku.
Raka membuka lemari pakaian, ia memilah yang mana baju yang akan ia bawa nanti. Raka akan melakukannya sendiri, ia tidak mau membuat istrinya repot.
"Kenapa harus satu minggu." Gumam Raka geleng-geleng kepala.
Jika saja bukan karena tanggung jawab pekerjaan, Raka pasti menolak untuk pergi dinas keluar kota, bahkan sampai satu minggu.
Raka meletakkan pakaian yang sudah ia pilih diatas ranjang, lalu ia mengambil koper ukuran sedang yang ada di atas lemari pakaian.
Tidak lama setelah Raka mengambil koper, Bianca keluar dengan pakaian daster kebanggaannya.
Gadis itu menatap suaminya bingung saat melihat pakaian di atas ranjang yang cukup banyak dan koper.
"Mas." Panggil Bianca.
Raka menoleh, ia tersenyum seraya mendekati istrinya. Raka menarik tangan Bianca untuk duduk di sofa.
"Mas, kamu buat apa mengeluarkan baju-baju dan koper juga?" tanya Bianca bingung.
"Besok saya harus keluar kota, Sayang. Sekitar jam satu siang saya berangkat." Jawab Raka tersenyum.
Bianca mendelik tajam. "Kenapa baru bilang! Berapa lama kamu pergi?" tanya Bianca kesal.
Raka terkekeh, ia mengusap-usap bahu istrinya penuh kelembutan.
"Hanya satu minggu, ke Bali." Jawab Raka dengan nada yang sedikit merayu.
__ADS_1
Bianca berdecak kesal. "Keterlaluan kamu, kenapa bisa-bisanya baru ngomong." Ketus Bianca.
Bianca bangkit dari duduknya, ia lalu membantu untuk memasukkan pakaian Raka ke dalam koper.
"Bia, saya bisa melakukannya sendiri. Saya nggak mau kamu kelelahan," tutur Raka mendekati istrinya.
Bianca berhenti sejenak, ia menatap kesal dan penuh permusuhan kepada suaminya itu.
"Aku ini cuma bantu beresin koper kamu, bukan bantu gendong kamu dari Jakarta ke Bali. Nggak usah lebay." Ketus Bianca.
Raka terkekeh, ia memegang tangan Bianca lalu menarik istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.
"Apa-apaan nih, lepasin!" pinta Bianca meronta.
Bianca berhasil lepas dari Raka, ia bangkit dari pangkuan suaminya yang masih saja tertawa melihat dirinya mencak-mencak.
"Nggak usah ketawa kamu, Mas. Kamu pikir ganteng cengengesan begitu?" tanya Bianca ketus, tapi terkesan lucu menurut Raka.
Raka masih saja tertawa, ia bangkit dari duduknya lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Bia, nanti kamu bakal merindukan saya. Percaya nggak?" tanya Raka menaik turunkan alisnya.
"Nggak." Jawab Bianca ketus.
"Lepasin, Mas. Kamu makin kesini, makin kesana." Ucap Bianca ambigu.
"Apanya yang kesini dan kesana?" tanya Raka tidak paham.
"Ya kamu, sikap kamu ini. Makin banyak genit dan mesumm nya." Jawab Bianca spontan.
Alis Raka terangkat sebelah. "Apa, coba ulang." Pinta Raka mendekatkan telinganya ke wajah Bianca.
Bianca terkekeh, ia menarik-narik telinga Raka seperti seorang ibu yang menjewer telinga anaknya.
"Aduh, Sayang. Telinga saya putus," Raka meringis, terpaksa harus melepaskan pelukannya demi telinganya tetap baik-baik saja.
Merasa pelukannya sudah terlepas, Bianca pun menjauh. Ia menjulurkan lidahnya meledek.
"Dasar suami suka cari-cari kesempatan." Cibir Bianca seraya mundur menjauhi suaminya.
Raka mengusap telinganya, lalu ia menatap fokus Bianca yang masih asik tertawa usai meledeknya.
"Cari-cari kesempatan?" beo Raka, matanya melempar tatapan tak kalah jahil dari Bianca.
"Biar saya tunjukkan bagaimana cari-cari kesempatan yang kamu bilang itu." Ucap Raka lagi.
Raka lekas mengejar istrinya, namun Bianca terus berlari, berusaha menghindar dari kejaran nya.
Mengejar Bianca tidak semudah yang Raka bayangkan, ia sampai ngos-ngosan hanya karena mengejar istrinya di dalam kamar.
"Nggak bisa kan, capek kan? Faktor umur tuh, Mas." Lagi-lagi Bianca meledek suaminya.
"Kamu." Raka geram, lalu kembali mengejar istrinya.
__ADS_1
Berhasil! Raka berhasil menangkap tubuh istrinya. Ia mendekap erat tubuh mungil itu dari belakang, lalu mengajaknya untuk duduk di pangkuannya saat dirinya sudah duduk di pinggir ranjang.
"Kamu kan belum mandi, jangan peluk-peluk." Ucap Bianca merengek.
Raka mengatur nafasnya dengan kepala yang ia jatuhkan di bahu istrinya.
Melihat itu membuat Bianca reflek mengusap kepala suaminya, ia merasa lucu pada Raka yang ngos-ngosan hanya karena mengejar dirinya.
"Kasian banget suami aku, coba lihat mana mukanya." Bianca menangkup wajah Raka, lalu memberi usapan lembut di sana.
"Wahh, jelek ya." Ucap Bianca lagi sambil terus meledek suaminya.
"Kamu nantang saya, Bi?" tanya Raka dengan suara rendahnya.
Bianca bangkit dari pangkuan suaminya lalu menggeleng. "Nggak, sana mandi." Jawab Bianca.
Raka ikut bangkit, ia pun menurut dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa pakaiannya.
Sementara Bianca akan merapikan pakaian Raka lalu memasukkan ke dalam koper.
Bianca tersenyum jika mengingat candaan bersama Raka, sedangkan pria itu besok harus pergi selama 1 minggu. Meninggalkan dirinya dan Kiano sementara.
***
Raka keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk, ia melirik ke arah ranjang dimana Bianca sudah berbaring, dan pakaian miliknya sudah tidak ada di atas ranjang.
Raka tersenyum, sepertinya ia memang terlalu lama di kamar mandi bahkan sampai Bianca sudah tidur.
Raka buru-buru berpakaian, lalu setelah itu menyusul Bianca ke atas tempat tidur.
"Selamat malam, Sayang." Bisik Raka memberikan kecupan di kening istrinya.
"Kamu mandi apa tidur, Mas?" Bianca tiba-tiba bersuara, lalu membuka matanya.
Raka terkekeh. "Kenapa, kamu nungguin saya?" tebak Raka.
Bianca berdecak. "Nggak usah gede rasa, nggak baik buat kesehatan mental." Timpal Bianca ketus.
Raka hanya tersenyum, ia mendekatkan diri pada Bianca agar bisa memeluk tubuh mungil istrinya itu.
"Bi, boleh saya peluk nggak?" tanya Raka meminta izin.
"Biasanya juga nggak pernah izin." Bukannya menjawab, Bianca malah menyindir.
Raka kembali dibuat tertawa, namun ia pun memeluk tubuh itu dengan erat dari belakang.
"Selamat malam, Bia. Saya pasti akan merindukan kamu saat saya pergi nanti." Bisik Raka di telinga istrinya.
Bianca merinding, ia memejamkan matanya dengan rapat dan memeluk erat-erat selimut yang digunakannya.
"Nggak usah ngomong terus, Mas. Tidur." Timpal Bianca ketus.
Raka tersenyum penuh arti, entah mengapa ia suka dengan suara ketus istrinya. Terdengar lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
EMANG GITU YA MAS RAKA?
Bersambung.............................