Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Enakan di gigit


__ADS_3

Setelah berhari-hari lamanya Yola tidak datang ke rumah Raka, sore ini wanita itu datang lagi. Bianca malas bicara dengan perempuan itu, tapi ia muak melihatnya terus mengganggu Kiano.


Bianca menarik tangan putranya, ia melindungi Kiano yang menolak untuk sekedar di sentuh oleh ibu kandungnya.


"Kiano, ini mama sayang. Mama yang melahirkan kamu." Ucap Yola menunjuk dirinya.


"Mbak, Kiano nggak mau sama mbak." Ketus Bianca dengan kesal.


Yola menatap istri mantan suaminya itu dengan kesal, ia melayangkan jari telunjuknya di depan wajah Bianca dengan sorot mata yang tajam.


Kening Bianca mengkerut, wanita di depannya ini agak aneh. Matanya sedikit merah, seperti orang mabuk.


"Mbak mabuk ya?" tanya Bianca kesal.


"Jaga bicaramu, Bianca. Aku ini ibunya Kiano, aku yang lebih berhak atas dia." Ucap Yola dengan begitu kencang.


Para pelayan di rumah sampai berdatangan mendengar suara Yola yang menggelegar itu.


"Mbak, lebih baik anda pergi. Anda ini sepertinya kurang sadar." Usir Bianca secara halus.


"Nggak sadar gimana, maksud kamu aku gila hah!" Teriak Yola seraya mendekati Bianca.


Bianca menghela nafas. "Mbak, Kiano–" ucapan Bianca terhenti saat Yola tiba-tiba menarik tangannya.


Bianca murka melihat anaknya ditarik-tarik, ia lantas mendorong tubuh Yola dengan sedikit kasar, lalu menggendong Kiano.


"Pak satpam!!!" Teriak Bianca dari dalam rumah.


Penjaga di rumah Raka langsung berdatangan mendengar panggilan nyonya mereka.


"Pak, tolong usir dia dan jangan biarin dia masuk ke sini lagi." Ucap Bianca kesal.


"Kurang ajar! Kau tidak tahu diri sekali, Kiano itu anakku!!" Teriak Yola benar-benar hilang akal.


Pelukan Kiano mengerat, hal yang menandakan jika bocah itu semakin ketakutan.


"Bawa keluar, Pak." Ucap Bianca geram sekali.


Penjaga rumah pun menyeret Yola keluar dari rumah, bahkan sampai ke depan gerbang rumah majikannya.


Yola tampak berteriak seperti orang gila, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh siapapun.


Sementara Bianca, ia mencoba menenangkan Kiano yang menangis ketakutan.


"Hiks … mami, tanganku sakit. Tanganku di cakar mama jahat." Ucap Kiano menunjukkan tangannya yang terluka.


"Ya ampun!!" kejut Bianca melihat bekas cakaran di tangan Kiano.

__ADS_1


"Bik, tolong ambil kotak p3k ya." Pinta Bianca pada asisten rumah tangga disana.


Kiano menyandarkan tubuhnya di tubuh maminya. Ia masih terus menangis karena perih akibat kuku ibu ibu kandungnya mencakar tangannya.


"Sebentar ya, biar mami obati." Tutur Bianca lembut.


Bianca mengobati dengan hati-hati tangan Kiano, lalu ia memplester lukanya agar tidak kena dabu.


Bianca mencium luka yang sudah ia obati itu, lalu mengusap-usap kepala anaknya.


"Sudah tidak sakit lagi, anak mami kan kuat." Ucap Bianca penuh kasih sayang.


"Nyonya, ini minumnya." Ucap art seraya memberikan segelas air pada Bianca.


Bianca memberikan minum pada Kiano, namun anak itu menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Hiks … kenapa aku harus jadi anak mama jahat, kenapa aku tidak jadi anak mami saja." Ucap Kiano sambil terus menangis.


"Kiano anak mami kok, kamu anak mami Bia." Balas Bianca tersenyum manis.


"Tapi … tapi aku maunya lahir dari perut mami, seperti adik. Kenapa aku harus lahir di perut mami jahat." Ucap Kiano lagi dengan suara sesak.


Bianca menyeka air mata Kiano lagi, ia mencium kedua pipi Kiano yang gemuk itu dengan gemas.


"Karena Kiano kan Abang, kalo kamu ada di perut mami, sekarang kamu belum ada dan tidak jadi Abang. Kamu mau jadi Abang atau jadi adik?" tanya Bianca lembut.


Bianca sontak tertawa mendengar ucapan polos anaknya. Bukan hanya Bianca, tapi juga para pekerja di rumah.


"Mami, aku tidak mau ketemu mama jahat lagi." Ucap Kiano kembali memeluk maminya.


Bianca mengusap punggung anaknya, ia tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata dan hanya kecupan di rambut Kiano.


"Kamu main lagi sama bibik ya, mami mau mandi. Sebentar lagi papi pulang, dan jika mami belum mandi, papi pasti marah." Ucap Bianca menekuk wajahnya.


"Kata siapa?" Suara itu berasal dari ambang pintu.


Kiano dan Bianca sama-sama menoleh, sementara para pelayan yang tadi berdiri di sana langsung pergi.


Raka menyipitkan matanya, pria itu berjalan mendekati istri dan anaknya yang masih duduk di sofa.


"Kata siapa mami?" tanya Raka mengulangi.


Bianca tidak menjawab, wanita itu hanya diam dan melempar tatapan kesal. Bianca masih ingat kejadian semalam, Raka sudah mengambil jatah malam hari dan nambah di pagi harinya.


Raka duduk di sebelah istrinya. "Kiano, masa mami ditanya nggak jawab." Ucap Raka mengadu.


Kiano tiba-tiba menangkup wajah maminya, membuat Bianca yang tadi menatap Raka berubah menjadi menatap anaknya itu.

__ADS_1


"Mami, bukannya mami bilang jika ditanya harus jawab. Papi tanya sama mami, ayo jawab." Ucap Kiano dengan suara yang menggemaskan.


Bianca tertawa, ia mencubit pelan kedua pipi Kiano lalu menatap Raka.


"Kata kamu lah." Ucap Bianca menjawab pertanyaan suaminya.


Kiano turun dari pangkuan maminya, sepertinya bocah itu sudah lebih baik sehingga memilih untuk lanjut main.


"Aku nggak akan marah, Sayang. Kalo aku pulang kamu belum mandi, kan bisa aku mandiin." Bisik Raka lalu menggigit pelan telinga istrinya.


Bianca memukul kesal perut suaminya, ia melipat tangannya di dada dengan perasaan kesal.


"Nggak ketemu mbak Yola di depan?" tanya Bianca.


"Nggak, ngapain." Jawab Raka.


"Tadi dia kesini dan buat kegaduhan, dia bahkan sampai mencakar Kiano." Ujar Bianca memberitahu.


Raka terkejut, ia melototkan matanya lalu bangkit dari duduknya.


"Kiano." Panggil Raka seraya mendekati anaknya itu.


Raka melihat pergelangan tangan Kiano yang sudah di obati.


"Papi, tanganku sakit. Mama jahat yang melakukannya," adu Kiano kembali sedih.


Raka memeluk Kiano, ia juga menggendong anaknya itu lalu mengusap-usap punggung nya lembut.


"Sssttt … nggak apa-apa, kamu kan akak hebat. Lagipula sudah di obati sama mami kan?" tanya Raka dan Kiano menjawabnya dengan anggukan kepala.


Bianca tersenyum, ia mendekati anak dan suaminya itu lalu ikut mengusap-usap kepalanya Kiano.


"Kiano, mami mandi dulu ya." Ucap Bianca dan Kiano mengangguk.


"Papi juga ya, boleh nggak?" tanya Raka pada putranya.


Bianca mencubit mulut Raka, ia benar-benar geram sekali pada pria dewasa satu ini.


Raka benar-benar menyebalkan, tapi sangat mempesona. Ditambah lagi Bianca sangat menyayangi dan mencintai suaminya ini.


"Sakit, Sayang. Enakan di gigit daripada di cubit." Ucap Raka berbisik sangat pelan.


"MAS!!!"


MBAK BIA, KALO KAMU KESAL, SINI SUAMINYA BUAT AKU, ATAU BUAT PEMBACA JUGA BOLEH YEKAN😜


Bersambung.........................

__ADS_1


__ADS_2