
Jam perkuliahan Bianca sudah selesai 30 menit lalu, dan sekarang ia tengah pergi bersama Intan ke salah satu mall untuk mencari buku.
Bianca sebelumnya tentu saja sudah izin kepada suaminya, dan Raka mengizinkan asal Bianca tidak pulang terlalu sore.
"Bi, untung banget ya tadi presentasi lancar. Dan yang lebih buat gue bersyukur adalah hp lo nggak ketinggalan lagi." Ucap Intan seraya memegangi buku yang siap untuk ia lihat.
Bianca hanya tersenyum, benar apa yang Intan katakan. Bianca bersyukur karena ponselnya tidak lagi ketinggalan, sebab gara-gara ponselnya itu Raka sampai marah padanya.
Namun sekarang Bianca sudah tenang, suaminya tidak lagi marah dan yang terpenting ia sudah mengakui bahwa ia mau belajar menerima pernikahan mereka.
"Heh!" Intan memukul bahu sahabatnya yang malah asik senyum-senyum saat dirinya bicara.
Bianca tersadar, ia menoleh horor kepada Intan yang enteng sekali memukul dirinya.
"Tangan lo, enteng banget." Cibir Bianca mendengus.
"Abisnya lo diajak ngomong malah senyum-senyum." Sahut Intan menjelaskan.
Bianca tidak membalas, ia mengambil beberapa buku yang akan ia beli hari ini, dan siap untuk ia bayar.
Intan juga lekas membayar buku-buku yang ia pilih. Lalu setelah selesai, Bianca dan Intan memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang.
"Makan apa ya, gue bingung." Ucap Intan celingak-celinguk.
Banyak sekali restoran cepat saji maupun tidak, sehingga Intan bingung mau makan dimana.
Bianca hanya pasrah, ia membiarkan sahabatnya itu yang memilih dimana mereka akan makan.
"Ca, lo mau dimana?" tanya Intan yang bingung sampai belum menemukan jawaban.
Bianca menatap restoran sekitar, dan saat dia sedang meniti tempat demi tempat ia malah menangkap sosok pria yang sangat dikenalnya.
"Intan, papa gue tuh. Kesana yuk!" Ajak Bianca menunjuk ke salah satu restoran.
"Hah, mana?" Tanya Intan ikut arah yang Bianca tunjuk.
Bianca menarik tangan sahabatnya masuk ke dalam salah satu restoran. Ia lalu menghampiri sang papa yang sedang makan sendiri.
"Papa." Sapa Bianca penuh senyuman.
"Sayang, kamu disini?" tanya papa Farhan membiarkan tangannya dicium oleh putrinya dan teman putrinya.
"Iya, eh ini ada orang?" tanya Bianca melihat ternyata ada dua piring diatas meja.
"Iya, itu bekas makan mantan pacar papa. Sekarang orangnya lagi di toilet." Jawab papa Farhan.
Intan melotot. "Om selingkuh?" tanya Intan reflek.
__ADS_1
Kini giliran Bianca yang menatap sang papa. "Papa selingkuh dari mama? Kok papa tega?" tanya Bianca tampak kecewa.
"Mau gimana lagi, Nak. Papa sangat mencintai dia," jawab papa Farhan menundukkan kepalanya.
Bianca ingin menangis, namun malu. Bianca hendak kembali berucap, namun seseorang datang dan langsung menyapa Bianca dan Intan.
"Kalian disini?" Tanya mama Vena.
"MAMA!!" pekik Bianca antara terkejut dan bingung.
Bianca menatap sang papa. "Aaaa … papa bohongin aku!!" rengek Bianca menekuk wajahnya.
Papa Farhan terkekeh. "Lho benar kan, mama kamu mantan pacar papa soalnya kan sekarang jadi istri, bukan pacar lagi." Sahut papa Farhan terkekeh.
Intan geleng-geleng kepala, ia bahkan sampai dibuat melongo tak percaya saat papanya Bianca itu bicara seperti tadi.
"Si om candaannya bahaya." Ucap Intan lalu menghela nafas.
"Sudah-sudah, sini duduk. Kalian mau makan tidak?" tanya mama Vena.
"Ya mau, Ma. Makanya kita samperin papa, biar papa yang traktir." Jawab Bianca tertawa malu-malu.
Papa Farhan tentu saja tidak menolak saat anaknya minta di traktir. Mereka pun makan bersama, namun orang tua Bianca hanya minum saja sebab mereka sudah makan.
Setelah selesai makan, Intan diantarkan duluan oleh kedua orang tua Bianca, sebab mereka berdua tadi datang naik taksi online.
"Kamu pergi sampai sore begini sudah izin sama Raka?" Tanya mama Vena.
Bianca mengangguk. "Sudah, Ma." Jawab Bianca singkat.
"Kamu masih belum bisa terima Raka?" tanya papa Farhan tiba-tiba.
"Raka itu cinta banget sama kamu, Ca. Waktu dia datang melamar kamu, dia terlihat sungguh-sungguh, dia bilang sudah mencintai kamu sejak lama." Tambah papa Farhan.
"Hargai dia, Nak. Dia suami yang baik, dan mama harap kamu juga bisa jadi istri yang baik buat dia." Tambah mama Vena ikut menyahut.
"Iya, Ma, Pa. Saat ini pun aku sedang belajar melakukannya," balas Bianca pelan.
Tanpa terasa mereka pun sampai di rumah Bianca. Papa Farhan dan mama Vena tidak mampir karena sudah sangat sore.
Bianca melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan ia cukup terkejut mendengar tangisan Kiano.
"Mami, hiks …" tangis Kiano sambil menyebut panggilan Bianca.
Bianca yang saat itu masih di luar rumah lantas segera masuk. Ia terkejut melihat Kiano sedang dipaksa untuk di peluk oleh wanita yang di kenal olehnya sebagai mantan istri Raka.
"Sayang, sini sama mami." Ucap Bianca membuka kedua tangannya lebar.
__ADS_1
Kiano langsung berlari dan memeluk Bianca. Bocah itu juga meminta gendong dan langsung melingkarkan tangannya di leher Bianca.
"Mami, aku nggak mau sama dia. Aku takut, Mami." Bisik Kiano sambil terus menangis.
Bianca berusaha menenangkannya. "Kamu ke kamar dulu ya sama bibi, nanti mami kesana." Tutur Bianca lembur.
Kiano nurut, bocah itu turun dari gendongan maminya lalu pergi bersama bibi ke kamarnya.
Kini tinggal Bianca dan Yola, mantan istri Raka sekaligus ibu kandung Kiano. Bianca meletakkan barang belanjaannya di atas sofa, lalu kembali menatap Yola.
"Mau apa mbak kesini?" Tanya Bianca to the point.
"Ibu macam apa kamu sampai meninggalkan anak seperti ini. Enak-enakan belanja, sementara anaknya nangis." Cibir Yola dengan tatapan tidak suka.
"Anak saya menangis karena anda, dia takut pada anda." Balas Bianca dengan tenang.
Yola mengepalkan tangannya. "Kamu jangan lupa bahwa saya adalah ibu kandung Kiano, sementara kamu hanya ibu sambungnya!" Seru Yola dengan marah.
Bianca menghela nafas, ia memijat pelipisnya karena harus meladeni mantan istri suaminya saat dirinya sedang sangat lelah.
"Saya tidak akan lupa bahwa mbak adalah ibu kandung Kiano, namun jangan memaksanya jika dia tidak mau." Kata Bianca masih dengan nada yang tenang.
"Kiano tidak pernah menangis sampai tergugu seperti ini," tambah Bianca dengan tangan melipat di dada.
Yola mengepalkan tangannya, ia kesal dengan Bianca yang sok tahu tentang Kiano, anaknya.
"Jangan sok tahu, Bianca. Kamu dan Raka baru menikah beberapa bulan. Lagipula saya yakin, kamu menikahi Raka hanya demi uang, bukan benar-benar menjadi istri apalagi ibu bagi Kiano." Cetus Yola dibarengi senyuman remeh.
Bianca menghela nafas, ia harus bersabar menghadapi wanita seperti Yola ini.
"Terserah apa pemikiran mbak, yang jelas saat ini saya adalah istri mas Raka. Saya nyonya di rumah ini, jadi sekarang silahkan pergi." Usir Bianca dengan tangan menunjuk ke arah pintu.
"Kamu berani mengusirku?" tanya Yola menunjuk dirinya sendiri.
"Pergi." Usir Bianca lagi dengan nada semakin pelan, tanda bahwa kesabarannya semakin menipis.
Yola berjalan mendekati Bianca. "Hati-hati, Nyonya Dewangga. Aku takut jika diriku berhasil merebut Raka kembali." Ucap Yola kemudian pergi meninggalkan rumah mewah mantan suaminya.
Bianca mengepalkan tangannya, dugaannya benar bahwa Yola itu mau kembali pada Raka.
Bianca tentu tidak akan tinggal diam, bahkan jika Yola berani menyentuh Raka seujung kuku saja, akan ia patahkan jari-jari wanita itu.
"Dasar tukang selingkuh sialann." Umpat Bianca dengan emosi yang sudah meledak-ledak.
WADUHH WADUHH, ADA PELACOR NIH🤣
Bersambung...........................
__ADS_1