Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kedatangan mantan istri


__ADS_3

Perjalanan yang hanya memakan waktu satu jam lebih berhasil di lewati oleh Raka dan Bianca. Pasangan suami istri itu pun sudah ditunggu oleh sopir jemputan yang di suruh oleh mama Wina.


Bianca masuk duluan ke dalam mobil, sementara Raka sedang memasukkan barang-barang bersama pak sopir ke bagasi.


Setelah selesai, Raka pun masuk menyusul istrinya.


"Mengantuk?" tanya Raka saat melihat Bianca terus menguap.


Bianca menoleh, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bianca benar-benar mengantuk, sebab tadi tidak tidur di pesawat, dan semalam pun bergadang bersama Raka untuk menonton drama Korea.


Raka tersenyum tipis, ia menarik kepala sang istri lalu menyandarkan nya di dada bidangnya.


"Berapa kali saya katakan, dada dan seluruh tubuh saya bisa memberikan kenyamanan untuk kamu." Bisik Raka dengan tangah yang mengusap kepala, lalu turun ke bahu istrinya.


Bianca hanya berdehem saja, ia pun akhirnya tertidur tanpa bicara apa-apa lagi pada Raka.


"Tuan muda, akan kita ke rumah besar? Atau langsung pulang ke rumah?" tanya sang sopir.


"Pulang ke rumah saja." Jawab Raka dengan singkat.


Raka mau membawa Bianca untuk langsung pulang ke rumah mereka saja, sebab saat ini Kiano tidak ada di rumah besar.


Kiano sedang diajak jalan-jalan oleh kakek dan nenek dari pihak maminya, alias Bianca. Bocah itu akan diantar pulang sore atau malam hari, kata mama Vena.


Selama Kiano asik jalan-jalan, Raka akan membiarkan Bianca istirahat dulu, sebab ia tahu anaknya itu pasti tidak akan mau lepas dari Bianca jika sudah bertemu.


"Bahkan tidurpun kecantikan kamu tambah, Bi." Bisik Raka dengan senyuman manisnya.


Raka menunduk sedikit, menghadiahi kecupan di puncak kepala istri yang sangat dicintainya itu.


Sampai di rumah, Raka pun membawa Bianca masuk dengan cara menggendongnya. Sementara barang-barang mereka akan diurus oleh pelayan di rumah Raka dan Bianca.


Raka merebahkan tubuh istrinya perlahan, lalu menyelimutinya sampai batas perut.


Raka pun beranjak dari tempat tidur, ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian sebelum bergabung dengan Bianca diatas ranjang.


Raka mengguyur tubuhnya di bawah shower dan memilih untuk keramas. Walaupun perjalanan bisa di katakan sebentar, tapi berhasil menguras sedikit tenaganya.


Belum lagi 1 minggu yang ia habiskan bersama istrinya di Bali. Ahh rasanya Raka ingin mengulang bulan madunya lagi.


Raka ingin kembali berduaan dengan istrinya, dengan Bianca. Memeluk, dan mencium tanpa gadis itu tolak.


"Bia, entah apa yang kamu pakai sampai membuat saya segila ini sama kamu." Ucap Raka di depan cermin.


Raka keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk saja, ia juga membawa handuk lain untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Mas, bisa kan pakai baju di dalam." Ucap Bianca dengan wajah yang ditutupi selimut.


Raka terkejut mendengar suara istrinya, ia kira Bianca belum bangun tapi ternyata sudah.


"Sayang, sudah bangun?" Raka berjalan mendekati istrinya yang masih asik menutupi wajahnya.


Semakin Raka mendekat, semakin Bianca bisa mencium dalam-dalam aroma tubuh Raka yang baru saja selesai mandi. Aroma yang begitu menyegarkan.


"Nanti kamu nggak bisa nafas, Bi." Tutur Raka lalu menjauhkan selimut dari wajah istrinya.


Bianca memejamkan mata, namun sesekali ia mengintip yang tepat sekali matanya melihat perut kotak-kotak suaminya.

__ADS_1


"Aku mau mandi, kamu minggir." Pinta Bianca yang sekarang menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Sudah di tutupi telapak tangan, mata Bianca tetap terpejam. Ia yang tidak memperhatikan jalannya, nyaris terjatuh saat kakinya menyandung karpet di bawahnya.


Beruntung Raka sigap menangkap tubuh istri kecilnya itu.


"Kan, bandel." Raka mencubit pipi istrinya gemas.


"Buka matanya, ngapain sih di tutupi." Ucap Raka dan kali ini Bianca menurut.


Bianca menatap wajah tampan suaminya, benar-benar tampan sampai Bianca rasanya berharap bibir enak suaminya itu menciumnya.


"Mas, ayo cium." Batin Bianca memohon.


"Mandi gih, aku udah minta bibi buat makanan. Jadi kita makan setelah kamu mandi ya," tutur Raka seraya melepaskan rengkuhan di pinggang ramping istrinya.


Raka pun berjalan mengambil pakaiannya. Ia memakai kaos lalu hendak membuka handuknya namun Bianca cegah.


"Nanti dulu, Mas. Aku masuk ke kamar mandi dulu, baru kamu buka." Cegah Bianca lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Raka tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia pun lanjut memakai pakaiannya yang lain.


Saat Raka hendak mengambil ponselnya di meja, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Raka lantas membukanya.


"Permisi, Tuan. Maaf mengganggu, di bawah ada yang mencari anda." Ucap pelayan bernama Nina.


"Siapa?" tanya Raka mengangkat sebelah alisnya.


"Nyonya Yola." Jawab Nina sedikit gugup.


Rahang Raka langsung mengeras mendengar nama yang disebut oleh pekerja di rumahnya itu.


"Hai, Ka." Sapa wanita itu penuh senyuman.


Wanita bernama lengkap Yola Wulandari itu hendak memeluk Raka, namun Raka meminta nya berhenti dengan kode tangan.


"Jaga batasan anda." Tegur Raka dengan suara dingin.


"Ka, kamu kok jadi dingin gitu. Aku kesini cuma mau ketemu Kiano, sekalian lihat kamu juga sih." Kata Yola dengan tatapan tidak menyangka.


"Aku kangen sama kamu, Ka. Aku kangen saat-saat kita bareng dulu," tambah Yola dengan tidak tahu malunya.


Raka berdecih. "Hentikan omong kosong itu, dan pergi dari rumah saya." Usir Raka.


Wajah Yola tampak tidak senang mendengar pengusiran yang Raka lakukan.


"Ka, aku datang mau ketemu anakku." Ujar Yola dengan sedikit keras.


"Siapa yang anda sebut sebagai anak?" Tanya Raka menyindir.


"Anda tidak punya anak." Tambah Raka dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Raka! Kamu nggak bisa menyangkal bahwa Kiano adalah anakku, aku yang melahirkannya." Ujar Yola mengingatkan.


"Dan anda juga yang membuangnya, anda lebih memilih laki-laki lain dibanding putra saya." Timpal Raka tidak mau kalah.


Raka maju selangkah, namun jaraknya tentu tidak dekat dengan mantan istrinya yang sudah selingkuh itu.

__ADS_1


"Keluar atau saya menyuruh penjaga menyeret anda." Ucap Raka penuh penekanan.


"Tapi aku mau ketemu Kiano, aku ibunya!" seru Yola masih belum menyerah.


"Mas?" panggil Bianca.


Raka yang saat itu hendak membalas ucapan Yola terhenti dan langsung menoleh. Wajahnya yang tadi kesal, berubah penuh senyuman saat menatap istrinya.


"Sayang, sudah selesai?" Raka berjalan mendekati istrinya.


Bianca hanya mengangguk, ia lalu menatap wanita asing yang kini sedang menatapnya dengan penuh permusuhan.


"Anda siapa?" tanya Bianca sopan.


"Berani sekali kau bertanya begitu. Aku ibunya Kiano, ibu kandungnya." Jawab Yola dengan bangga sambil menunjuk-nunjuk diri.


Bianca tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada Yola.


"Oh begitu. Perkenalkan, Mbak. Saya Bianca, istrinya mas Raka." Ucap Bianca memperkenalkan diri.


Yola berdecih. "Jadi anak kecil sepertimu yang membuat rumah tanggaku hancur, cih!" desis Yola.


Raka mengepalkan tangannya. "Jaga mulut anda, dan pergi dari rumah saya!" usir Raka.


Kali ini Yola pergi meninggalkan rumah Raka dan Bianca yang kebingungan sendiri mendengar ucapan wanita tadi.


"Nggak usah dipikirkan, dia tidak waras." Bisik Raka sembari mengusap-usap punggung istrinya.


Raka pun mengajak istrinya ke meja makan. Bisa Raka rasakan bahwa Bianca saat ini masih memikirkan ucapan Yola tadi.


"Kamu pernah cerita soal aku sama ibunya Kiano tadi, Mas?" Tanya Bianca serius.


Raka mengangguk. "Bahkan sebelum menikah, saya sudah mengatakan bahwa saya mencintai gadis bernama Bianca." Jawab Raka jujur.


Bianca menghela nafas lalu manggut-manggut, kini ia paham kenapa ibunya Kiano menyebutnya sebagai penyebab keretakan rumah tangga mereka.


"Jangan pikirkan ucapan wanita tadi. Kamu bukan penyebab, sejak awal dia tahu saya mencintai orang lain." Kata Raka yang mengerti raut wajah istrinya.


"Satu lagi, saya pernah bilang sama kamu kan bahwa dia selingkuh. Jadi dia sendiri yang membuat rumah tangganya dulu hancur, bukan karena orang lain." Tambah Raka menjelaskan.


Bianca tersenyum, ia senang mendengar penjelasan dari suaminya yang jujur itu.


"Kira-kira wanita tadi itu mau rujuk sama kamu nggak, Mas?" tanya Bianca.


Raka terkejut mendengar pertanyaan dari Bianca.


"Maksud kamu?" tanya Raka mengangkat sebelah alisnya.


"Entah kenapa aku merasa wanita itu mau kamu kembali sama dia." Jawab Bianca jujur.


Raka menghela nafas. "Jika benar begitu, apa kamu akan membiarkannya?" tanya Raka serius.


Mendengar suara suaminya yang berubah membuat Bianca jadi takut sendiri. Bianca bisa merasakan sesuatu yang berbeda saat ini.


"Karena kamu nggak cinta sama saya, jadi mungkin aja kamu membiarkan dia merebut saya, iya?" tanya Raka lembut, namun kali ini berbeda dari biasanya.


"Mas, aku–" ucapan Bianca terhenti saat Raka beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


WAHH, APA MAS RAKA MARAH??


Bersambung.....................................


__ADS_2