
Seperti yang Bianca katakan, ia akan menjemput putranya di sekolah sebelum cek up kandungan. Bianca tentu pergi dengan sopir, karena sampai hari ini ia belum bisa menyetir mobil sendiri.
Bagaimana bisa nyetir jika Raka yang awalnya mau mengajari malah tidak jadi karena Bianca hamil.
"Nggak boleh nyetir sendiri kalo hamil, nanti di tilang."
Begitulah bualan yang Raka katakan setiap kali Bianca merengek minta diajari nyetir mobil.
Sebenarnya Bianca bisa saja nekat membawa mobil sendiri, namun ia tidak akan sanggup menghadapi amarah suaminya.
Raka itu jika marah suka manja, tapi jika marahnya benar-benar besar, maka jangan manja, bicara saja tidak mau.
Memiliki suami seperti Raka itu ada plus dan minusnya. Tampan sudah pasti, kaya apalagi. Tapi sifat over posesifnya itu terkadang membuat Bianca kesal.
Meski kesal rasa cintanya tidak berkurang sama sekali. Terkadang Bianca tidak menyangka jika ia benar-benar akan jatuh cinta pada suaminya. Suami yang begitu ia benci dulu, namun karena pesona dan sikapnya yang lembut akhirnya membuat hatinya luluh.
Bianca jadi flashback diawal pernikahan. Bukan hanya Raka yang Bianca benci, melainkan Kiano juga. Bahkan Bianca masih ingat bagaimana Kiano menangis demi bisa bermain dengannya.
Jika mengingat itu semua selalu membuat Bianca merasa bersalah dan itulah alasan mengapa Bianca mau menjadi ibu dan istri yang baik sekarang.
"Nyonya, kita ke sekolah den Kiano kan?" Tanya pak sopir.
"Iya, Pak." Jawab Bianca mengangguk.
Mobil pun akhirnya belok menuju sekolah Kiano, sebab jika lurus itu ke arah kampus Bianca dan kantor suaminya.
Bicara soal suaminya, Bianca baru ingat untuk memberikan kabar sebab Raka berjanji akan ikut menemani Bianca cek up kandungan.
Bianca menelpon, jamin tidak diangkat. Akhirnya Bianca mengirimkan sebuah pesan pada suaminya dan mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju sekolah Kiano.
Setelah beberapa menit, Bianca pun sampai di sekolah Kiano. Dari seberang jalan ia sudah melihat putranya yang tampan itu.
Bianca keluar, begitu juga dengan sopir yang bertugas untuk menjemput Kiano di seberang jalan sana.
"Mami!!" Panggil Kiano melambaikan tangannya.
Jalanan dari arah Bianca cukup ramai sehingga perlu waktu untuk menyebrang ke jalan.
"Tunggu ya, Nak." Sahut Bianca penuh senyuman.
Senyuman di wajah Bianca seketika menghilang ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan Kiano.
Yola keluar dan melempar senyuman pada Bianca, lalu memaksa Kiano untuk masuk ke dalam mobilnya.
"KIANO!!!" teriak Bianca melototkan matanya
"Mami, tolong aku!!!!" Teriak Kiano menangis histeris.
Sopir pribadi tadi pun sudah menyebrang jalan, namun ia terlambat karena Kiano sudah pergi dalam mobil milik Yola.
Bianca histeris melihat putranya yang diculik, ia lalu menatap pria yang ada di tidak jauh darinya, lalu berjalan mendekati Bianca.
"Nyonya, anda jangan khawatir. Anak buah pak Raka akan mencegat jalan Yola dan menyelamatkan den Kiano." Ucap orang itu yang bahkan tidak Bianca kenali.
"Anda siapa?" Tanya Bianca ditengah tangisannya.
"Saya anak buah yang pak Raka perintahkan untuk menjaga den Kiano, namun hari ini kami lengah, maat nyonya." Jawab pria itu dengan sopan.
"Hiks … anakku, aku mau anakku. Tolong selamatkan Kiano." Pinta Bianca sambil berderai air mata.
Tidak lama kemudian sebuah mobil datang, dan pria yang bicara pada Bianca tadi pamit untuk pergi dengan mobil itu.
"Nyonya, ayo kita ikuti." Ajak sopir itu yang juga merasa bersalah.
"Hiks …. Akhhh perut aku kram, Pak." Ucap Bianca meringis kesakitan.
"Nyonya, mari saya bantu." Pria tua itu membantu Bianca untuk masuk ke dalam mobil, kemudian pergi mengikuti anak buah Raka yang sedang mengejar mobil Yola.
Sementara itu di mobil Yola, tampak Kiano menangis dan terus minta di turunkan. Ia meraung sambil terus memanggil-manggil nama Bianca.
"Diam, Sayang. Mulai hari ini kamu tinggal sama mama, ya Nak." Ucap Yola dengan penuh senyuman dan suara yang lembut.
"Aku nggak mau! Aku mau mami, aku mami Bianca." Sahut Kiano menolak.
"Huaaa … mami …" Kiano semakin berteriak, membuat Yola pusing mendengarnya.
"Diam kamu, Kiano. Mama akan bawa kamu pergi dari mami Bia kesayangan kamu itu. Lagipula ibu kandung kamu itu mama, dan bukan Bianca." Tegur Yola berteriak kencang.
"Aku nggak mau, mama jahat. Mama nggak sayang aku, hanya mami Bia ibuku!" Tolak Kiano memukuli tangan Yola.
Yola tidak kesakitan, namun ia merasa kesulitan untuk mengendalikan stir mobil, apalagi di belakangnya sudah ada mobil anak buah Raka.
__ADS_1
"Hiks … turunkan aku, turunkan aku. Aku mau mami!!!" Rengek Kiano yang tidak ada habisnya.
"DIAM!" Bentak Yola kesal.
Yola sudah mencari hari terbaik untuk menculik Kiano, bahkan ia sengaja mantau pergerakan anak buah Raka.
Ya, Yola tahu jika Kiano dijaga oleh anak buah Raka, namun ia juga telah tahu kapan anak buah Raka itu lengah.
Dan tadi ketika kesempatan sangat bagus, Bianca malah datang dan menghancurkan rencana yang sudah ia susun selama berhari-hari.
Kini malah ditambah runyam dengan rengekan Kiano yang terus merengek minta dengan maminya.
"Hiks … aku mau mami, hentikan mobilnya." Pinta Kiano lalu memegang stir dan ikut membelokannya.
Yola hilang kendali, ia semakin menginjak gas demi mengindari anak buah Raka, namun stirnya terus di pegang oleh Kiano.
"Kiano, jangan! Duduk kamu, mama kesulitan. Lepas, Kiano!!" Tegur Yola berusaha mendorong bocah itu dan berhasil.
Kiano terpelanting mengenai pintu mobil, dan itu membuatnya semakin menangis.
"Itulah balasan untuk anak yang melawan orang tuanya, paham kamu." Ucap Yola penuh amarah.
Terlalu fokus memarahi Kiano, Yola sampai tidak sadar jika di depannya ada truk pasir yang melaju pelan, sementara dirinya melaju begitu cepat.
Ketika matanya memandang lurus ke depan, Yola langsung membanting stir demi mengindari truk pasir. Namun sayangnya ia masuk ke jalur lawan arah.
BRAKK
Mobil Yola terseret sampai membentur pembatasan jalan dimana di dalamnya ada Kiano juga.
Mobil anak buah Raka dan mobil yang Bianca tumpangi pun berhenti, mereka semua keluar dan melihat mobil Yola yang ringsek di bagian pengemudi.
"KIANOO!!!!!!" Teriak Bianca begitu histeris.
Anak buah Raka yang berjumlah empat orang langsung mendekati mobil. Mereka melihat mobil itu benar-benar bersimbah darah.
"Bawa den Kiano ke rumah sakit, dan panggilkan ambulan." Ucap salah satu dari keempat pria itu.
Tubuh Kiano tidak kalau bersimbah darah, bocah dengan baju putih dan celana berwarna hijau itu sudah penuh akan noda darah.
Bianca melihat itu, ia melihat bagaimana putranya tidak sadarkan diri dengan darah dimana-mana.
Bianca ikut naik ke mobil, ia bahkan memangku Kiano dengan tubuh yang gemetaran.
"Kiano sayang, ini mami. Sayang, buka mata kamu." Pinta Bianca dengan gemetaran.
"Sayang, ini mami. Kiano," panggil Bianca sambil mengusap darah yang terus keluar dari kening putranya.
"Hiks hiks … Kiano, bangun sayang." Pinta Bianca lalu memeluk tubuh putranya dengan erat.
Bianca tidak sanggup, ia tidak sanggup melihat bagaimana putranya bersimbah darah. Kiano yang tadi pagi masih mencium dan memeluknya, kini berada dalam pelukannya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Cepat, Pak. Kasihan Kiano, darahnya terus saja keluar, hiks … bagaimana cara menghentikan ini." Ucap Bianca kebingungan dengan tangisan yang semakin tak terbendung.
"Tenang, Nyonya. Kami akan segera membawa den Kiano ke rumah sakit." Ucap salah satu dari dua pria yang ada bersamanya di dalam mobil.
Bianca tidak meyahut, ia menatap wajah Kiano yang berubah merah karena noda darah.
"Hiks … nggak ya, anak mami nggak apa-apa, anak mami akan baik-baik saja. Benar kan, Sayang." Celetuk Bianca sembari mengusap darah yang terus keluar dari kaning Kiano menggunakan bajunya.
Tangis Bianca kembali tak terbendung, ia menciumi wajah Kiano dengan perasaan hancur.
Bianca takut jika sesuatu akan terjadi pada putranya. Jika ketakutannya terbukti, maka lebih baik ia mati saja. Bianca tidak sanggup memaafkan dirinya sendiri.
"Maafin mami, Nak." Lirih Bianca di telinga putranya.
Sesampainya di rumah sakit, Kiano langsung mendapatkan perawatan. Bianca awalnya enggan melepaskan Kiano, namun demi kebaikan putranya, ia akhirnya pasrah.
Bianca duduk di kursi tunggu dengan keadaan yang benar-benar berantakan. Dress biru lautnya kini sudah penuh dengan noda darah.
Rasa kram di perut masih terasa, namun Bianca yakin ia kuat. Kini prioritas utamanya adalah Kiano, ia harus memastikan putranya baik-baik saja.
"Sayang!!" Panggil Raka dengan tergesa-gesa.
Bianca menoleh, ia bangkit dari duduknya lalu kembali menangis. Wanita itu langsung sikap memeluk suaminya, dan menumpahkan segala keresahannya di dalam pelukan suaminya.
"Mas, hiks … Kiano. Kiano seperti ini gara-gara aku, aku terlambat menjemputnya." Tangisan Bianca semakin pecah sambil terus menyalahkan dirinya sendiri.
Raka mendongak keatas, berusaha menahan air mata demi menguatkan istrinya. Raka tidak boleh rapuh, ia harus yakin bahwa Kiano akan baik-baik saja.
"Ssstttt … kita sama-sama berdoa ya, semoga Kiano baik-baik saja. Kamu nggak boleh menyalahkan diri sendiri, akan nggak suka." Tutur Raka dengan lembut.
__ADS_1
Raka menyeka air mata istrinya, namun percuma karena Bianca menangis semakin keras.
Bianca menatap tangannya yang penuh noda darah. "Ini darah Kiano, Mas. Ini darah anakku, bagaimana bisa kamu memintaku untuk tidak menyalakan diri sementara Kiano kecelakaan di depan mataku." Ucap Bianca dengan suara gemetaran.
"Kiano bilang ingin ke rumah sakit untuk melihat adiknya, lalu kenapa dia ke kamar rawat, Mas. Kenapa Kiano ke rumah sakit penuh luka." Ucap Bianca lalu kembali menangis dalam pelukan suaminya.
Raka mengusap-usap punggung istrinya, ia mencium puncak kepala Bianca. Bohong jika Raka mengatakan bahwa dia tidak sedih dan hancur, namun ia harus bisa kuat di depan istrinya.
"Bos, Yola tewas." Ucap anak buah Raka yang tadi tetap berada di TKP dan menunggu ambulans.
Bianca mendengar itu, ia melepaskan pelukannya lalu menatap sang suami dengan derai air mata yang tidak berkesudahan.
"Dia tewas?" Beo Bianca dengan tatapan kosong.
Anak buah Raka mengangguk. "Benar, Nyonya. Lukanya sangat parah, tubuhnya terjepit sehingga tidak bisa diselamatkan." Jawab anak buah itu menjelaskan.
Bianca menatap suaminya. "Jika aku bahagia mendengar ini, apa itu dosa, Mas?" Tanya Bianca pelan.
"Nggak, Sayang." Jawab Raka lembut.
"Dia sudah membuat putraku dalam bahaya, dia sudah membuat Kiano ku terluka. Hiks … dia pantas mati, Mas. Dia pantas pergi dari dunia ini!!" Ucap Bianca dengan penuh emosi.
Raka memeluk Bianca lagi, ia mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ssstttt … cukup, Sayang. Jangan membuang-buang tenaga untuk mengumpat orang seperti Yola." Bisik Raka.
Bianca meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, hal itu membuat Raka panik dan langsung membawa istrinya bertemu dokter kandungan.
***
Kabar kecelakaan Kiano telah di dengar oleh seluruh keluarga, termasuk Intan dan juga Ario. Kini mereka semua menengok kondisi Kiano dan Bianca yang harus di rawat karena kandungannya lemah.
Intan menemani sahabatnya bersama mama Vena juga, semenjak yang lainnya menemani Raka untuk melihat kondisi Kiano.
"Aku mau ketemu Kiano, Ma." Lirih Bianca dengan bagitu pelan.
Bianca sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit. Wajah wanita itu benar-benar pucat dan lesuh.
"Ma, aku mau Kiano." Pinta Bianca lagi.
"Sebentar ya, Nak. Mama panggil dokter dulu," ucap mama Vena hendak menekan tombol, namun dokter sudah duluan datang.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya dokter wanita itu sopan.
"Saya mau ketemu anak saya, Dok. Boleh kan." Jawab Bianca.
"Boleh, tapi harus pakai kursi roda ya. Kondisi nyonya sangat lemah," ucap dokter lalu meminta suster untuk mengambil kursi roda.
Tidak lama kemudian suster datang dan membawakan kursi roda. Bianca dibantu duduk dengan Intan yang memegangi tabung infusannya.
Mama Vena mendorong kursi roda menuju ruangan dimana Kiano sedang menjalani perawatan intensif.
Di depan ruang rawat itu, tampak Raka dan yang lainnya menunggu dengan risau. Kiano masih belum boleh ditemui dan dokter bergantian memeriksanya.
"Lho, Nak. Kenapa tidak istirahat." Ucap mama Wina pada sang menantu.
Raka yang kala itu memejamkan matanya langsung membuka mata, ia terkejut melihat istrinya dan langsung berlutut dihadapannya.
"Sayang, kenapa nggak istirahat. Dokter bilang kandungan kamu lemah." Ucap Raka sembari mengusap wajah pucat istrinya.
"Aku mau Kiano, Mas." Bukannya menyahut, Bianca malah mengatakan hal lain.
"Sabar ya, Nak. Kita semua sama-sama berdoa semoga Kiano baik-baik saja," tutur papa Farhan pada putri semata wayangnya.
Bianca kembali menangis, namun tanpa suara. Ia terlalu lemas untuk menangis histeris seperti tadi.
"Hiks … mami kangen Kiano." Bisik Bianca dengan suara yang menyesakkan dada.
Raka menyeka air mata istrinya. "Sayang, jangan menangis lagi, kasihan baby juga bisa dalam bahaya jika seperti ini." Tutur Raka lembut.
"Ka, lebih baik bawa istrimu ke kamar rawatnya, dan temani dia." Tutur papa Dewa.
"Aku nggak mau, aku mau Kiano." Tolak Bianca sangat pelan.
Raka menarik sang istri, mencium kening dan kedua pipi istrinya. Semua orang yang melihat itu ikut sedih. Mereka sedih melihat Kiano dan Bianca yang sama-sama harus menjalani perawatan.
"Kiano, jangan tinggalin mami ya …" batin Bianca sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.
NYESEK BANGET HUAAA ..... 😭
Bersambung.................................
__ADS_1