Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Merasa beruntung (End)


__ADS_3

5 tahun berlalu tanpa terasa. Hari-hari yang Bianca lewati bersama suami dan anak-anaknya membuat ibu 2 anak itu terkadang bertanya-tanya.


"Nggak kerasa kalo anak-anak udah tumbuh dengan cepat, apalagi Kiano. Sebentar lagi masuk SMP." Ucap Bianca sembari memakaikan dasi di leher suaminya.


Raka tersenyum. Dia mencium kening wanita yang sangat ia cintai itu, kemudian ia pegang dagunya agar mau menatapnya.


"Anak-anak kan udah gede, mami kapan mau nambah?" Tanya Raka dengan tatapannya yang usil.


Bianca menepis pelan tangan suaminya. Selalu saja seperti ini balasan Raka apabila Bianca membahas tumbuh kembang anak-anaknya.


"Nanti-nanti aja, Mas. Lagian Quila baru 5 tahun, dia masih butuh kasih sayang penuh dari kita." Jawab Bianca seperti biasanya.


Raka memeluk tubuh istrinya, menghirup aroma khas yang selalu menjadi candunya beberapa tahun belakangan ini dan selamanya.


"Iya, Sayang. Aku ngerti kok, tapi kalo Tuhan kasih kita nggak boleh nolak ya." Bisik Raka, dan Bianca membalasnya dengan usapan di punggung sang suami.


Raka melepaskan pelukannya. Dia kembali memegang dagu runcing istrinya dan berniat untuk mencium bibirnya, namun suara ketukan pintu menghentikan aksi Raka.


"Mami, Abang perlu bantuan mami." Ucap Kiano dari luar kamar.


Bianca tersenyum pada suaminya, lalu mendorong Raka pelan agar menjauh darinya. Setelah itu, ia melangkah mendekati pintu dan membukanya.


"Kenapa, Abang?" Tanya Bianca begitu melihat putranya sudah rapi.


"Abang lupa kalo hari ini disuruh pakai baju batik." Jawab Kiano.


Bianca tersenyum. "Yaudah, ayo mami bantu cari baju batiknya." Ajak Bianca.


Kiano menarik tangan Bianca, kemudian mencium pipinya.


"Aku sayang sama mami, makasih mami!!" Ucap Kiano dengan riang.


Raka melototkan matanya. "Abang, mami kan istri papi. Kok Abang cium!" Tegur Raka.


"Tapi mami juga maminya Abang!" Balas Kiano tidak mau kalah.

__ADS_1


Bianca tertawa. "Udah, ayo cari batiknya. Nanti aku telat, adek juga udah dari tadi turun sama bibi." Ajak Bianca pada putranya.


Akhirnya Bianca dan Kiano pun pergi, meninggalkan Raka yang nelangsa karena belum dapat morning kiss.


"Makin susah dapet jatah." Gumam Raka sembari mengusap wajahnya.


Raka pun memutuskan untuk keluar dari kamar, dan langsung ke meja makan. Disana ia menemukan putri kesayangannya sedang mengaduk-aduk pekerjaan art.


"Quila sayang …" panggil Raka dengan lembut.


"Papi!!!" Bocah 5 tahun itu berlari dan langsung memeluk ayahnya.


"Papi, aku tadi bantu bibi cuci buah …" ucap Quila dengan penuh senyuman.


"Bantu atau ganggu hmm? Nggak inget kata mami apa? Nanti mami marah lhoo …" timpal Raka mengingatkan.


Quila menutup mulut sang papi. "Jangan kasih tahu mami, nanti mami marah sama aku. Janji aku nggak akan acak-acak pekerjaan bibi lagi." Ujar Quila dengan sungguh-sungguh.


"Baju kamu untung nggak basah." Kata Raka sembari merapikan seragam yang putrinya kenakan.


Tidak lama kemudian Bianca dan Kiano turun dengan Kiano yang sudah berganti pakaian. Bocah laki-laki itu jauh lebih tampan dengan baju batiknya.


"Abang kok pakai baju itu, aku tidak, papi dan mami juga tidak." Kata Quila dengan polos


"Abang hari batik duluan, Adek. Mungkin adek sama papi besok hari batiknya." Sahut Kiano seraya duduk di kursi sebelah Quila.


"Udah jangan kebanyakan bahas batik, sekarang sarapan atau kalian akan terlambat." Tutur Bianca.


Bianca melayani suami dan anak perempuannya, sedangkan Kiano sudah tidak perlu dilayani oleh maminya jika soal makan.


"Oh iya, Mas. Tadi Intan telepon kalo Zize minta bareng, pak Ario lagi nggak enak badan." Kata Bianca ditengah acara sarapannya.


"Yaudah nanti aku jemput Zize nya. Lagian Ario sakit kebanyakan minta–" ucapan Raka terhenti begitu Bianca melotot padanya.


Bianca sendiri tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Kebiasaan Raka bicara aneh-aneh di depan anak-anak mereka.

__ADS_1


"Abang sebel kalo berangkat sama Zize. Quila jadi ngomong terus." Celetuk Kiano.


"Lhoo kok gitu, kan Zize juga adiknya Abang sama kayak Quila. Kalo mereka banyak omong ya nggak apa-apa kan, Abang." Timpal Raka mengerutkan keningnya.


"Tapi Zize suka nempel-nempel sama Abang, Abang nggak suka tahu, Pi." Sahut Kiano dengan sedikit sebal.


"Mungkin Zize manja sama Abang, udahlah nggak apa-apa. Abang kan juga sayang sama Quila sama Zize." Kata Bianca sembari mengusap kepala anak laki-lakinya.


Selesai sarapan, Bianca pun mengantar suami dan anaknya sampai di depan pintu. Kiano dan Quila sudah ke mobil duluan usai pamit dengan Bianca, namun Raka masih asik berdiri di depan istrinya.


"Sana berangkat, anak-anak udah nunggu." Tutur Bianca sembari mengusap dada suaminya.


Raka mencium kening istrinya, lalu turun mengecup bibirnya singkat. Raka ingin berlama-lama mencium bibir istrinya, namun ia ingat waktu.


"Aku mencintaimu, Sayang." Bisik Raka dengan lembut.


"Masa sih?" Tanya Bianca dengan usil.


"Apa?!! Masa sih kamu bilang??" Tanya Raka balik dengan mata yang melotot.


Raka lantas menangkup wajah cantik istrinya, lalu menciumnya dengan terburu-buru namun tanpa ada yang terlewat.


Bianca hanya tertawa menerima perlakuan suaminya.


"Aku cinta mami Bia, cinta banget … mami Bia cinta terakhirku!!!" Ungkap Raka dengan sungguh-sungguh.


"Aku juga cinta sama mas." Balas Bianca lembut, kemudian mencium pipi suaminya.


Setelah asik romantisan di depan pintu, Raka pun akhirnya pergi bersama anak-anaknya untuk melanjutkan aktivitas.


Bianca menatap mobil suaminya sampai hilang di telan jarak.


"Aku beruntung, Tuhan memberiku kehidupan yang sangat membahagiakan." Gumam Bianca.


End

__ADS_1


AKHIRNYA END, BTW ABIS INI ADA EKSTRA PART YAA✨


__ADS_2