Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Larangan Raka


__ADS_3

Hujan yang tadi mengguyur deras akhirnya berhenti. Ario beranjak dari duduknya, ia harus segera pulang karena hari semakin sore.


Intan yang sejak tadi menemani Ario duduk menikmati kopi tentu ikut bangun. Setelah bibirnya bicara seenaknya tadi, gadis itu jadi lebih banyak diam.


Intan merapikan sedikit bajunya yang terkena tampias air hujan, dan saat ia memandang ke depan, barulah ia tahu jika Ario sedang menatapnya.


"Apa?" Tanya Intan saat Ario menatapnya.


"Jika kamu sampai sakit dan menyalahkan saya, saya nikahin kamu hari itu juga." Ucap Ario dengan wajah tanpa ekspresi.


Intan terdiam, namun setelahnya gadis itu tertawa begitu renyah. Intan mendekat dan langsung memukul bahu pria itu pelan.


"Ahh bapak bercanda aja." Celetuk Intan masih tertawa-tawa.


Ario menghela nafas pelan, pria itu mengantungi kedua tangannya di saku celana lalu menatap Intan masih dengan ekspresi wajah yang sama, yaitu datar.


Menyadari Ario hanya diam, tentu membuat Intan ikut diam. Gadis itu menutup mulutnya dan berdehem dengan perasaan malu.


"Maaf, Pak. Saya emang gini orangnya," ucap Intan dengan kepala tertunduk.


Ario mendekati Intan, bahkan sangat dekat sampai tidak ada jarak diantara keduanya. Perlakuan Ario itu tentu saja membuat Intan dibuat melongo.


"P-pak, tetangga saya mulutnya lemes." Cicit Intan tanpa berani menatap wajah Ario.


"Kenapa? Lagipula saya tidak takut, kita juga akan menikah sebentar lagi." Sahut Ario dengan tenang.


Celetukan Ario barusan membuat Intan mendongak. Gadis itu melongo sesaat, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Udah deh, Pak. Jangan bercanda terus, saya nanti tambah stres." Ucap Intan dengan helaan nafas pelan diakhirnya.


Ario mundur menjauhi Intan. "Siapa yang kamu sebut bercanda? Saya?" Tanya Ario.


"Kamu pikir saya nggak punya kerjaan lain sampai-sampai mau bercanda sama kamu." Tambah Ario setelah beberapa saat.


"Lah terus, bapak serius mau nikahin saya?" Tanya Intan menunjuk dirinya.


"Nggak, saya mau nikahin ikan peliharaan bapak kamu." Jawab Ario sedikit sewot.


Intan tersenyum penuh arti. Setelah beberapa kali bertemu, ternyata Ario bukanlah orang yang sangat menyebalkan, pria itu masih bisa untuk di bercandai.


"Kita nikahnya kapan?" Tanya Intan dengan polos.


"Mau hari ini?" Tanya Ario mengangkat kedua alisnya.


"Memang bisa, kan sudah sore?" Tanya Intan balik.


"Bisa saja, nikah sore supaya kamu bisa saya apa-apain malam nanti." Jawab Ario lalu segera pergi dari sana.


Ario sudah mau pergi, tapi Intan masih berusaha untuk mencerna kata-kata pria itu. Bahkan beberapa kali kepalanya miring kanan dan miring kiri guna berpikir.


"Gadis itu benar-benar." Gumam Ario dari dalam mobil sambil geleng-geleng kepala.


Ario lekas menekan klakson, yang mana hal itu membuat Intan terlonjak kaget.


"Bapak, berisik tahu nggak!!" Timpal Intan sewot karena terkejut.


Ario membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepala saja.


"Saya mau pulang, cepat parkir kan mobil saya." Ucap Ario menunjuk ke arah belakang.


Dengan perasaan dongkol dan jalan yang dihentak, Intan menurut saja dan membukakan gerbang.


Bukan hanya itu, Intan juga menjaga barangkali ada kendaraan lain yang lewat saat Ario mau parkir mobil.


Setelah mobil berada di posisi yang pas, Ario memanggil dan meminta Intan untuk mendekat.


"Nih, Mbak." Ucap Ario memberikan uang pecahan seratus ribu.


"Bapak pikir saya tukang parkir?" Tanya Intan melototkan matanya.


"Kapan saya bilang begitu, saya hanya ingin kasih upah. Lagipula dimana ada tukang parkir di berikan uang seratus ribu." Jawab Ario tidak mau kalah.


Intan merampas dengan kasar uang pemberian Ario. "Tukang parkirnya cantik kayak gini seharusnya bisa dapat lebih, Pak." Protes Intan lalu hendak pergi, namun Ario menahannya.

__ADS_1


Ario memegang tangan Intan, mencegah gadis itu yang ingin langsung pergi.


"Jika mau lebih, maka menikah dengan saya. Saya jamin seluruh hidup kamu. Seratus ribu? Saya bisa kasih seratus juta untuk uang bulanan kamu." Ucap Ario pelan, lalu melempar senyuman miring.


Intan menganga. Mendengar kata 'ratusan juta' seketika membuatnya haus. Membayangkan ia akan menerima uang sebanyak itu.


"Berhenti membayangkan, dan pikirkan saya kapan kamu siap saya nikahin." Ucap Ario lalu segera pergi meninggalkan Intan.


Intan menatap kepergian mobil Ario dengan ekspresi wajah menggemaskan. Menyatukan kedua tangan, lalu menopang di dagunya.


Membayangkan nya saja sudah indah, apalagi jika benar-benar jadi kenyataan.


"Mama … mau nikah!!!" Teriak Intan lalu buru-buru menutup mulutnya sebelum di lempar sandal oleh tetangganya.


Intan pun lekas masuk, ia hendak menutup pintu gerbang namun mobil sang papa pulang dan di susul oleh sang mama.


"Ngapain kamu, Tan?" Tanya papa Intan, Damri.


"Ha, nyari bakso, Pah. Tapi nggak ada," jawab Intan berbohong.


Muke gile dia jujur dan mengatakan habis di apeli oleh pria dewasa kaya dan menggoda.


"Kebiasaan, lagi sakit makan pedas terus." Cerocos mama Dian.


Intan menekuk wajahnya, ia menggandeng tangan sang mama lalu mengajaknya untuk masuk.


"Lho, bekas kopi?" Tanya mama Dian bingung.


Intan makin gelagapan, ia menyeka keringat yang sudah tercipta di kening dan pipinya.


"Ha, aku tadi minum kopi." Jawab Intan, kedua kalinya berbohong.


"Sejak kapan kamu suka kopi hitam gini?" Tanya papa Damri bingung.


Intan buru-buru mengambil gelas kopi bekas Ario dan meminum kopi yang masih tersisa di dalam gelas.


"Sejak tadi." Jawab Intan tersenyum aneh.


"Pak Ario, kita ciuman lagi hahaha." Batin Intan terkikik sendiri.


Intan menghela nafas lega karena kedua orang tuanya tidak banyak bertanya. Setidaknya untuk saat ini ia aman, Intan masih belum siap memberitahu apa yang telah ia alami malam itu.


Intan pun lekas masuk ke dalam rumah, tidak lupa ia mengunci pintu dan langsung ke kamar.


"Intan, ini kue siapa??" Tanya mama Dian berteriak.


Intan menepuk jidatnya, bisa-bisanya ia lupa dengan kue yang Ario bawa.


"Punyaku, order online tadi." Jawab Intan tidak kalah berteriak.


Tidak ada pertanyaan lagi dari sang mama, maka ia aman. Mama Dian percaya saja jika kue itu ia beli sendiri, padahal pemberian calon mantunya.


"Kalo gue nikah sama pak Ario, kira-kira gimana ya. Dia itu kan kayak bunglon, suka berubah-ubah." Gumam Intan sambil memeluk guling.


"Eh enak aja! Pak Ario ganteng masa disamain sama bunglon." Tambah Intan meralat ucapannya.


Sementara itu di rumah Bianca. Ia dan suaminya sedang duduk sambil menemani Kiano yang sedang mewarnai. Tugas dari guru, katanya.


"Sayang, masa wajahnya merah. Marah dong dia," ucap Bianca pelan.


"Jadi harus apa, Mi?" Tanya Kiano kebingungan.


"Coba Kiano lihat wajah papi, warna nya apa?" Tanya Bianca seraya menunjuk ke arah Raka yang sibuk dengan laptopnya.


Mendengar namanya disebut, Raka lekas mengalihkan pandangannya dan menatap dua orang tersayangnya sambil tersenyum.


"Wajah papi warna biru." Jawab Kiano polos.


Raka melototkan matanya. "Mana ada biru, Nak. Kamu pikir papi kartun Krishna." Sahut Raka geleng-geleng kepala.


Bianca hanya tertawa sambil memegangi perutnya karena merasa sangat lucu dengan penuturan putranya.


Bianca memegang tangan putranya. "Kiano, ikutin mami ya. Kamu harus tahu warna agar bisa mengajari adik nanti." Tutur Bianca lembut.

__ADS_1


"Baik, Mami." Balas Kiano nurut.


Bianca pun mulai menyebutkan warna dengan pensil warna yang ada di sana. Kiano mengikuti dan mengingat apa yang sudah maminya ajarkan.


"Sekarang baju papi warna apa?" Tanya Bianca.


"Eumm … hi–hitam, Mami." Jawab Kiano ragu-ragu.


"Pintar!!" Balas Bianca lalu bertepuk tangan sebagai apresiasi.


Kiano pun ikut bertepuk tangan merasa bahagia karena telah benar dalam menjawab pernyataan maminya.


"Kalo baju mami?" Tanya Kiano.


"Kamu tebak dong, apa menurut Abang?" Tanya Bianca mengangkat kedua alisnya.


"Eum … biru." Jawab Kiano, namun sayangnya salah.


"Bukan, Nak. Ini warna cokelat, kan sama seperti cokelat punya Abang." Balas Bianca tersenyum hangat.


Wajah Kiano sedih, membuat Bianca buru-buru menangkup wajah tampan putranya.


"Tapi nggak usah sedih, kan Abang baru belajar jadi nggak apa-apa." Tutur Bianca penuh pengertian.


Kiano bangkit dari duduknya dan langsung duduk di pangkuan Bianca. Gerakannya yang terburu-buru membuat lututnya menyentuh perut Bianca cukup keras.


Bianca mengulum bibirnya, merasakan kaget atas gerakan putranya yang tiba-tiba.


"Abang, pelan-pelan. Lihat tuh maminya kesakitan, kamu ini." Tegur Raka lalu buru-buru mendekati putranya.


Raka menggendong Kiano. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" Tanya Raka pada istrinya.


"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok, aku cuma kaget." Jawab Bianca lalu bangkit dari duduknya.


Bianca membuka kedua tangannya. "sini gendong sama mami." Tutur Bianca.


Kiano memasang wajah sedih. "Maafin aku, Mami." Ucap Kiano menundukkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Sini cium sama mami," ajak Bianca lembut.


Raka menggeleng. "Aku rasa jangan, Sayang. Kiano ini lagi aktif banget, takutnya nanti malah kena perut kamu lagi." Ucap Raka melarang.


Bianca menatap suaminya, ia hendak bicara namun Raka sudah bicara lagi kepada Kiano.


"Nggak apa-apa ya, nanti mainnya sama bibi aja. Kasihan adik bayinya nanti terluka," tutur Raka pada putranya.


Kiano menatap sang mami. "Mami …" panggil Kiano.


"Mas, biarin aja Kiano sama aku. Tadi kan dia nggak sengaja," kata Bianca lembut.


Raka menurunkan Kiano dari gendongan nya. "Yaudah, tapi mulai sekarang jangan minta gendong sama mami ya, Nak." Ucap Raka.


Kiano hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun.


"Dan satu lagi, sekarang Abang harus tidur sendiri terus ya. Jika Abang terus tidur dengan mami, nanti adik bayinya kesempitan. Ya, Sayang?" Tutur Raka lembut.


Lagi-lagi Kiano hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Mas, kamu apa sih. Jangan berlebihan gitu," tegur Bianca pelan.


"Bukan berlebihan, Sayang. Tapi ini demi kebaikan kamu juga, ingat kan apa kata dokter." Balas Raka lalu mengusap-usap wajah cantik istrinya.


Raka pun beranjak dari sana dan tidak lupa membawa laptop nya juga. Raka harus mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya.


Kini tinggal Bianca dan Kiano yang ada di sana.


"Kiano, ayo mewarnai lagi sama mami." Ajak Bianca lembut.


"Aku nggak mau, aku takut akan melukai adik." Tolak Kiano menggelengkan kepalanya.


Bianca mendekat, ia lantas memeluk putranya. "Nggak kok, Abang nggak mungkin lukai adik. Abang kan sayang sama adik bayi." Balas Bianca lembut.


Kiano lantas mempererat pelukannya. Bocah itu hanya diam dalam pelukan maminya.

__ADS_1


PAPI RAKA ....


Bersambung...........................


__ADS_2