
Bianca mendelik pada suaminya, ia merasa heran melihat Raka terus saja menggaruk kepalanya sambil senyum-senyum tidak jelas.
Bianca meletakkan brush di tangannya, ia menatap suaminya lalu menghela nafas pelan.
"Apa sih, Mas?" Tanya Bianca lembut.
Raka tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa." Jawab Raka.
Bianca menyipitkan matanya. "Jawab yang benar kenapa, kamu nih." Pinta Bianca dengan sewot.
"Kamu cantik banget sih." Puji Raka, lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Bianca mendengus guna menyembunyikan senyumannya yang malu-malu. Suaminya ini memang suka bagitu, memuji dirinya terus.
"Bohong, aku pasti terlalu menor ya dandan nya sampai-sampai kamu ketawa gitu." Cecar Bianca menyipitkan matanya.
Raka mencium bahu istrinya yang terbuka. Baju sage green yang dipakai Bianca benar-benar cocok dan menambah kecantikan wanita itu.
Raka benar-benar terpesona, ia rasanya tidak bisa berhenti tersenyum ketika kenyataannya menyadarkannya.
Wanita cantik yang ia kagumi itu adalah istrinya, miliknya seorang.
"Kamu cantik banget, aku sampai nggak nyangka wanita cantik ini punyaku." Ujar Raka dengan jujur.
Bianca tidak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Wanita hamil yang sudah jalan 3 bulan itu tersenyum dengan manisnya.
"Mulut naga emang panas banget ya." Kata Bianca menyindir.
Raka tergelak, ia mengusap leher dalam istrinya dan memegang anting yang Bianca kenakan.
"Anting nya cantik, dipakai kamu lebih cantik." Puji Raka dengan jujur.
Bianca akhirnya menyerah. Wanita itu mengusap wajah tampan suaminya dan memberikan kecupan di pipinya.
Lipstik Bianca tidak tertinggal di pipi sang suami, sebab harga lipstik yang Bianca gunakan bukan kaleng-kaleng.
"Suami siapa sih ini, gemasin banget. Jadi mau tukar tambah," celetuk Bianca sembari menguyel pipi suaminya.
Raka melepaskan pelukannya, lalu membalik tubuh istrinya, sehingga kini mereka saling bertatapan.
"Suami kamu dong, suaminya mami Bia." Sahut Raka lalu memeluk dengan erat tubuh istrinya.
"Babynya ketekan." Bisik Bianca dengan manja.
Raka melepaskan pelukannya, wajahnya langsung berubah khawatir padahal sakitnya tidak separah itu. Bianca hanya ingin bersikap manja, makanya sampai merengek.
"Sakit, Sayang?" Tanya Raka, tangannya mengusap perut istrinya yang mulai terlihat menonjol.
"Nggak kok, Mas. Aku bohong, cuma mau manja aja sama kamu." Jawab Bianca terkikik.
Raka menatap istrinya dengan mata menyipit, ia lalu menangkup wajah cantik istrinya dan siao mencium, namun tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Mami, Papi!!!" Panggil Kiano dengan riang.
Kiano memakai pakaian yang senada dengan Raka, berupa kemeja berwarna hijau soft.
Mereka bertiga akan menghadiri acara akad nikah Intan dan Ario yang akan dilaksanakan hari ini di sebuah hotel berbintang.
"Wahh, anak mami ganteng banget. Coba mami cium," pinta Bianca menundukkan kepalanya dan mencium putranya.
Kebiasaan Bianca adalah ketika ia melihat Kiano, dan memujinya maka di akhir kalimat akan ada kata permintaan untuk dicium.
"Perasaan gue juga ganteng deh, kok Bianca nggak minta cium." Gumam Raka menggaruk kepalanya.
"Mami juga cantik, papi juga ganteng. Adik bayi …" Kiano menggantung ucapannya, berusaha berpikir adiknya ini cantik atau tampan.
__ADS_1
"Belum tahu dong, kan masih kecil adik bayinya." Sahut Raka lalu berlutut di hadapan putranya.
Raka merapikan sedikit kemeja Kiano, lalu menggandeng tangannya. Raka menoleh, melihat istrinya yang memasukkan lipstik serta alat makeup lain yang Raka tidak tahu namanya.
Tidak lupa Bianca menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.
"Sudah." Ucap Bianca lalu menggandeng tangan suaminya.
Raka mengangguk kecil, ia pun mengajak anak dan istrinya untuk pergi ke acara akad sahabat mereka.
***
Dekorasi yang sederhana, namun elegan tampak menghiasi ballroom hotel hari ini. Mawar putih bercampur merah tampak berjejer untuk menyambut para tamu. Tidak lupa juga petugas EO yang memberikan sambutan terbaik di acara pernikahan Intan dan Ario.
Dari pintu masuk, langsung bersitatap dengan pelaminan pengantin yang cantik dan enak dipandang. Menoleh sedikit ke kanan, maka akan melihat meja dan kursi yang akan digunakan untuk acara ijab dan qobul nanti.
Acara sudah hampir dimulai, dan seperti di beberapa adat, mempelai wanita akan diam dulu di kamar rias sampai mempelai pria selesai membacakan ijab qobul.
Ario yang terbalut pakaian putih bermanik dan blangkon di kepala tampak menghela nafas, ia menatap papa Damri yang ada di hadapannya dan siap mengucap kalimat yang akan diikuti olehnya nanti.
"Sudah bisa dimulai?" Tanya pak penghulu pada Ario.
"Bisa, Pak." Jawab Ario dengan yakin.
Pak penghulu menatap papa Damri dan memberikan kode untuk memulai acara ijab qobul pagi ini.
Papa Damri menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sambil mengulurkan tangannya.
Ario menjabat tangan calon ayah mertuanya, ia menatap langsung dengan tajam, namun tetap menunjukkan sebuah kesopanan dan kehormatan.
"Ario Wijayana Putra, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku, Intan Novi Febiola binti Damri dengan mas kawin uang tunai sebesar 22 juta 300 ribu rupiah, dan emas seberat 20 gram di bayar, tunai!" Ucap papa Damri pelan, namun lantang.
Ario menarik nafas tanpa membuangnya, ia mengangkat sedikit tangan papa Damri, lalu menjatuhkan nya pelan ke atas meja.
"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Novi Febiola binti Damri, dengan mas kawin tersebut, tunai!" Sahut Ario dengan lantang dan satu tarikan nafas.
"Sah!"
Ario dan semua orang yang hadir di sana langsung sama-sama mengangkat kedua tangan untuk mendoakan pasangan yang hari ini telah melaksanakan satu kewajiban dalam hidup, yaitu membina rumah tangga.
Sambil berdoa, sesekali tangan Ario akan menekan matanya dengan tangan kanan, mencegah air mata haru yang hampir menetes. Hari ini ia telah memperistri Intan untuk ia bahagiakan selamanya.
Tidak lama kemudian, Intan datang melalui pintu utama, diapit oleh ibunya dan juga Bianca selaku sahabat da saksi kehidupannya beberapa tahun ini.
Bianca membantu Intan duduk di sebelah Ario yang kini telah sah menjadi suami gadis itu.
"Selamat ya, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Mempelai wanita boleh mencintai tangan suaminya, lalu disusul mempelai pria mencium kening istrinya." Tutur pak penghulu.
Intan memiringkan sedikit tubuhnya, begitu juga dengan Ario. Kini mereka bisa saling menatap satu sama lain.
Cantik dan tampan, adalah dua kalimat pujian untuk mempelai hari ini. Bukan hanya cantik, tapi juga begitu serasi.
Intan meraih tangan Ario, ia lalu memasangkan cincin pernikahan, kemudian mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat sebagai istri.
Ario pun memasangkan cincin di jari manis istrinya, kemudian mencium kening gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Mulai hari ini Ario berjanji akan memperlakukan Intan dengan baik, dan pastinya belajar untuk mencintai gadis itu.
Suara tepuk tangan terdengar begitu meriah untuk pasangan suami istri itu, bahkan Bianca sampai menangis melihat sahabatnya telah menikah.
"Husttt … kok nangis." Bisik Raka mengusap-usap lengan bahu istrinya.
"Aku terharu, Mas. Hiks … akhirnya Intan nggak jomblo lagi." Jelas Bianca buru-buru menyeka air matanya sebelum menetes ke pipi.
Raka tersenyum mengerti, karena sama seperti Bianca, Raka pun bahagia melihat sahabatnya menikah.
__ADS_1
Selama bertahun-tahun belakangan ini Ario hanya hidup seorang diri, dia tidak punya keluarga dan hanya Raka lah satu-satunya sahabat sekaligus saudara bagi Ario.
Namun sekarang pria itu telah menemukan tambatan hati, dan teman hidupnya. Raka mendoakan yang terbaik, ia berharap Ario bisa merasakan kebahagiaan yang ia rasakan sepertinya.
"Jangan nangis ihh, aku gemas lihatnya." Bisik Raka mencubit pelan pipi istrinya.
Bianca merengut. "Ishh, jangan gitu." Tegur Bianca kesal.
"Anak aku mana?" Tanya Bianca celingak-celinguk.
"Itu di samping kamu anak siapa, bukan anak kamu?" Tanya Raka balik.
Bianca menoleh ke samping, melihat Kiano yang tersenyum begitu lebar.
"Eh anak mami disini, bisa-bisanya mami nggak lihat." Celetuk Bianca geleng-geleng kepala.
"Maminya fokus sama papi terus sih." Bisik Raka dengan suara lembut.
Bianca mencubit paha suaminya tanpa menatap pria itu, membuat Raka meringis sampai menggosok bekas cubitan istrinya.
***
Hari semakin siang, dan acara dilanjutkan dengan salaman dengan pengantin untuk memberikan doa terbaik mereka.
Raka dan Bianca pun tentu memberikan ucapan dan doa terbaik mereka. Bahkan Kiano pun dengan pintar mengucapkan doanya.
"Semoga om dan tante bisa punya adik bayi juga kayak aku." Ucap Kiano dengan penuh senyuman.
Keempat orang dewasa itu tertawa mendengar ucapan Kiano yang begitu polos, namun mengandung arti besar.
"Doakan ya, biar adiknya Kiano punya teman nanti." Sahut Intan mengusap lembut pipi chubby Kiano.
"Udah on process ya, Om?" Tanya Raka jahil.
"Diem lo, jangan ngeracunin pikiran anak lo." Tegur Ario melototkan matanya.
"Tan, sekali lagi selamat ya. Gue ikut bahagia buat lo, dan ini ada kado kecil dari gue sama mas Raka." Ucap Bianca lalu memberikan sebuah amplop tipis.
Intan menerimanya tanpa menerka-nerka isinya. Apapun yang Bianca berikan akan selalu berharga untuknya.
"Makasih ya, Bi." Sahut Intan lalu memeluk sahabatnya kembali.
Setelah mengucapkan doa terbaik, Bianca dan Raka sama-sama turun dari pelaminan, tidak lupa dengan Kiano juga.
Mereka membiarkan tamu yang lain untuk memberikan selamat, sambil mereka menikmati hidangan yang disediakan.
Setelah Raka beserta anak dan istrinya turun. Intan dan Ario pun duduk kembali sambil menunggu tamu yang lain memberikan ucapan pada mereka.
Ario memperhatikan wajah istrinya lamat-lamat, begitu lembut dan cantik.
"Apa sih, Pak?" Tanya Intan menyadari jika suaminya terus saja memperhatikannya.
"Kenapa, saya nggak boleh perhatikan istri saya sendiri?" Tanya Ario balik.
Intan tersenyum malu-malu, sejati akad ia sudah dibuat melayang oleh suaminya sebab mahar yang Ario berikan adalah uang berupa tanggal lahirnya. Tanggal 22 dan bulan 3.
"Manis banget." Bisik Ario dengan begitu menggoda iman.
Intan menoleh. "Bapak!" Tegur Intan lagi.
"Bapak-bapak, emang saya bapak kamu. Pokoknya nanti malam ganti panggilannya!" Pinta Ario dengan sedikit manja.
"Kenapa malam?" Tanya Intan mengerutkan keningnya bingung.
"Biar sekalian saya apa-apain." Jawab Ario dengan enteng, sementara Intan langsung melotot.
__ADS_1
BUSEHHHH PAK ARIO😭
Bersambung...................................