
Bianca tersenyum sambil memangku tangan di atas meja dan wajah yang ia letakkan di tangannya itu. Wanita itu sejak tadi memperhatikan suaminya yang saat ini mengumpulkan semua pekerja di rumah untuk di arahkan pekerjaan yang baru.
Raka terlihat begitu posesif, atau bahkan cenderung over protektif setelah mengetahuinya kehamilan istrinya.
Bianca tidak masalah sama sekali, ia malah suka dimanjakan oleh suaminya. Maklum saja, Bianca adalah gadis muda yang terbilang masih labil, sehingga Raka sebagai pasangan harus bisa mengerti, tanpa harus bertanya.
"Pokoknya jangan pernah biarkan istri saya bekerja yang berat-berat, saya nggak mau terjadi sesuatu dengan anak dalam kandungannya. Ingat ya!" Ucap Raka.
"Tuan, tapi bagaimana jika nyonya ingin melakukan sesuatu, misalnya memasak. Kami juga tidak kuasa membantah ucapannya." Bi Imah membuka suara dan mengajukan sebuah pertanyaan.
Bianca tiba-tiba tertawa mendengar pertanyaan asisten rumah tangganya itu. Memang benar, meski sudah dilarang Bianca sesekali masih akan melakukannya.
Raka menatap istrinya. "Sayang, jangan marah saat mereka melarang kamu bekerja ya. Kamu pokoknya nggak boleh lelah apalagi sampai stress." Ucap Raka dengan lembut.
Nada bicara yang terdengar jauh berbeda saat bicara dengan pelayan. Tentu saja, Bianca adalah istri tercintanya.
Bianca menganggukkan kepalanya, ia juga tidak akan mengambil resiko dengan bekerja berat.
"Baiklah, tapi kamu harus naikkan gaji mereka semua." Jawab Bianca mengajukan sebuah permintaan.
Raka mengangguk yakin, ia menatap asisten rumah tangga, tukang kebun, sopir dan satpam rumahnya.
"Gaji kalian naik mulai bulan ini, saya juga akan kasih bonus jika kalian bekerja dengan benar." Ucap Raka pada para pekerja di rumahnya.
Tampak semuanya kesenangan mendengar ucapan majikan mereka. Ini ketiga kalinya dalam setahun majikan mereka menaikkan gaji. Tidak ada keraguan sama sekali.
"Dan pak Sigit. Mulai besok ada satpam baru, tolong kerjasamanya ya." Ucap Raka pada satpam rumahnya.
Bianca bangkit dari duduknya, ia menggandeng tangan suaminya yang hari ini belum bisa bekerja usai jatuh waktu itu sampai tangannya luka.
"Sudahlah, Mas. Kamu membuat pekerjaan mereka terganggu, lebih baik kamu istirahat di kamar." Tutur Bianca lembut.
"Iya, Sayang." Balas Raka mengangguk patuh.
Sebelum pergi, Raka kembali memberikan sebuah perintah.
"Tolong jangan pernah biarkan Yola ataupun Briana masuk ke dalam rumah. Siapapun itu, jika kalian melihat mereka datang, maka langsung usir saja." Tegas Raka lalu pergi dari sana.
Bianca membiarkan suaminya pergi duluan, ia menatap para pekerja di sana dengan senyuman ramah.
"Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian, terima kasih ya." Ucap Bianca.
"Baik, Nyonya. Permisi." Semuanya pun mulai melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Bianca juga pergi ke kamar untuk menyusul suaminya sekaligus membangunkan putranya yang semalam tidur bersama dengannya.
Sampai di kamarnya, Bianca melihat suaminya sedang duduk di sofa sambil memegang iPad di tangannya.
Bianca menyipitkan matanya, ia buru-buru mendekat dan langsung memeluk Raka dengan manja.
"Mas, aku belanja susu hamil dulu ya sama Intan. Aku mau pergi sama kamu, tapi kan kamu lagi sakit." Kata Bianca pelan.
Raka meletakkan iPad nya di atas meja, kemudian membalas pelukan istrinya. Ia mengusap-usap punggung Bianca dengan gerakan lembut.
"Kan bisa beli online, aku nggak bisa biarin kamu pergi tanpa aku." Tutur Raka.
Bianca melepaskan pelukannya. "Tapi aku sekalian mau cari jajan, dedek bayinya mau makan pentol." Ucap Bianca mengusap-usap perutnya.
Raka terkekeh, ia lalu menangkup wajah cantik istrinya.
"Jadi mami Bia ngidam?" Tanya Raka.
Bianca mengangguk. "Heum, mau jajan pentol sama cilok." Jawab Bianca.
"Bedanya apa?" Tanya Raka mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Bianca berpikir sebentar. "Nggak tahu, tapi aku mau dua-duanya. Aku mau pergi sama Intan. Janji cuma sebentar," jawab Bianca memelas.
Raka mengalungkan tangannya di leher sang istri. Sejujurnya ia ingin pergi menemani istrinya, namun luka di tangannya membuat ia tidak bisa bebas bergerak.
Raka masih beruntung sebab kakinya baik-baik saja dan tidak bengkak, hanya sedikit terasa ngilu ketika jalan terlalu lama.
"Sebentar aja ya, jangan kemana-mana setelah belanja susu dan jajan. Hari ini nggak ada kelas kan?" Tanya Raka dan Bianca menjawab dengan gelengan kepala.
"Eh ada, tapi online." Jawab Bianca baru ingat.
Raka manggut-manggut. "Baiklah, kamu boleh pergi, tapi harus segar kembali." Tutur Raka.
Bianca tersenyum senang, ia melingkarkan tangannya di leher sang suami lalu memberikan kecupan di pipinya.
"Terima kasih, Suami aku." Ucap Bianca.
"Mami …" di tengah-tengah aksi mesra suami istri itu, tiba-tiba terdengar suara Kiano yang baru saja bangun tidur.
Bianca menoleh dan melihat putranya yang masih memejamkan matanya.
"Semenjak punya mami, hanya mami saja yang dipanggil. Papi terlupakan," kata Raka menepuk keningnya sendiri.
Bianca terkekeh gemas, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Kiano yang samar-samar membuka mata.
"Mengantuk sekali hmm, sampai-sampai baru bangun jam 9 pagi." Ucap Bianca mengusap pipi gembul Kiano.
Bagaimana tidak bangun siang, semalam Kiano begadang hanya demi mengusap perut maminya dan berceloteh dengan adiknya.
Diantara mereka bertiga, Kiano adalah orang yang paling bahagia dengan kehamilan Bianca.
Bocah itu sudah menantikan seorang adik, dan wajar saja jika dia sangat-sangat bahagia sampai menolak saat disuruh tidur semalam.
"Gimana nggak ngantuk, disuruh bobok semalam malam usap-usap perut maminya." Sahut Raka berjalan pelan mendekati anak dan istrinya.
Raka duduk di sebelah Kiano juga. "Abang, mau sekolah nggak?" Tanya Raka. Panggilannya sudah berubah karena sebentar lagi Kiano jadi abang.
Bianca menatap suaminya, ia menghela nafas melihat penolakan Kiano. Bianca harus bisa memberi pengertian pada Kiano bahwa sekolah itu menyenangkan.
***
Saat ini Bianca sedang berada di pusat perbelanjaan untuk membeli susu hamil dan beberapa kebutuhan pribadi nya yang sudah habis.
Bianca ditemani oleh Intan, sahabatnya yang selalu siap ketika ia meminta pertolongan.
"Ribet banget, ambil aja sih semuanya. Suami lo kan banyak duit, jangan ragu, jangan bimbang." Celetuk Intan.
Bianca terkekeh sambil geleng-geleng kepala, ia pun akhirnya memasukkan semua varian rasa susu dari satu merk yang sama.
"Eh, Intan. Lo bisa nganterin gue belanja, nggak ada jadwal nge-date sama pak Ario?" Tanya Bianca usil.
Intan tertawa, namun tawa yang dibuat-buat sebelum wajah datarnya muncul.
"Jalan? Sama pria kayak pak Ario? Hih, ogah deh." Jawab Intan merinding sendiri.
Jangankan jalan, rasanya berpapasan dengan pria itu saja ia malas. Membayangkan jadi pasangan pria itu, pasti setiap hari terkena ocehan dari mulut pedasnya.
"Lho, kenapa? Pak Ario kan ganteng." Celetuk Bianca tanpa menatap sahabatnya.
"Suami lo juga ganteng." Timpal Intan dengan entengnya.
Bianca menghentikan langkahnya, ia menoleh ke samping lalu memukul pelan bahu temannya itu.
"Lagian lo, udah punya suami segala puji-puji cowok lain. Apalagi cowoknya sejenis pak Ario gitu." Kata Intan.
"Gitu gimana?" Tanya Bianca mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Galak, ketus, jutek, nggak punya ekspresi dan selalu mengerjai serta merendahkan orang lain. Nggak bisa bayangin gimana yang jadi pasangannya nanti." Jawab Intan panjang lebar.
Bianca terkikik. "Kalo Tuhan takdirkan lo jadi pasangannya gimana?" Tanya Bianca usil.
"Jangan sampai deh, gue takut stress. Nggak kuat sama suaranya yang dingin dan ketus." Jawab Intan bergidik sendiri.
Bianca semakin terkikik. "Jangan gitu, nanti tiba-tiba dia jodoh lo aja, terus lo jatuh cinta." Tukas Bianca menasehati.
"Iya-iya, tapi gue harap bukan dia jodoh gua." Balas Intan.
Bianca dan Intan pun lanjut berbelanja. Selain susu hamil, mereka membeli barang-barang Bianca yang lain.
"Eh Intan, lo kan lebih tinggi. Ambilin sereal itu dong, anak gue suka banget." Pinta Intan menunjuk rak paling atas.
Intan mengangguk, ia pun berjalan ke arah sereal berada. Kakinya berjinjit dan mengambil apa yang sahabatnya katakan.
Sementara Bianca menunggu sambil melihat barang-barang lain, namun entah dari mana tiba-tiba ada yang menyenggol dirinya dengan troli belanjaan.
Bianca tidak merasa sakit, ia hanya kaget dan takut mengenai perutnya.
"Upss, maaf. Aku tidak sengaja," ucap seorang wanita.
Bianca menatap orang itu, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mbak. Nggak apa-apa," balas Bianca yang sedang malas berdebat.
Yola, wanita itu menatap isi troli belanjaan Bianca yang di dalamnya terdapat susu hamil.
"Kau hamil?" Tanya Yola mengerutkan keningnya.
"Iya, Mbak." Jawab Bianca singkat.
"Jadi anakku terancam dilupakan, benar?" Tanya Yola lalu melipat tangannya di dada.
"Apa maksud dilupakan?" Tanya Bianca.
"Kau akan punya anak sendiri, sudah pasti anak tirimu akan kau lupakan. Jelasnya, Kiano tidak akan lagi mendapat kasih sayang penuh dari kau dan Raka." Jawab Yola panjang lebar.
Intan datang, ia tampak bingung melihat seorang wanita sedang mengobrol dengan Bianca.
"Siapa?" Bisik Intan bertanya-tanya.
Bianca tidak menjawab, wanita itu masih harus menjawab pertanyaan Yola.
"Saya tidak mau berdebat dengan anda, Mbak. Yang jelas, dengan kehadiran anak dalam kandungan saya, itu tidak akan merubah apapun. Termasuk kasih sayang saya dan mas Raka kepada Kiano." Jelas Bianca dengan suara yang begitu tenang.
Bianca mendorong troli belanjanya, lalu menarik tangan sahabatnya. Ia harus menghindari wanita itu, daripada nantinya dia emosi.
"Dia itu siapa, Ca? Kok bawa-bawa anak lo?" Tanya Intan.
"Mantan istri mas Raka." Jawab Bianca tanpa menatap sahabatnya.
Intan yang mendengar itu lantas menghentikan langkahnya, ia juga memegang bahu Bianca yang sontak ikut berhenti.
"Ca, jangan banyak pikiran ya. Kasihan ponakan gue," tutur Intan lalu mengusap perut Bianca.
Bianca kegelian sendiri. "Ihh, usapan tangan lo nggak enak. Enakan usapan suami gue!" Celetuk Bianca.
Intan mendengus, bisa-bisanya Bianca menyamakan dirinya dengan Raka. Jelas saja berbeda.
"Lagian ngapain nyamain gue sama suami lo, ya jelas beda." Timpal Intan sewot.
Bianca hanya tertawa, ia pun mengajak Intan untuk segera membayar agar bisa pulang. Bianca mau mengadu sambil merengek dengan suaminya.
INFO SUNGAI YANG ALIRANNYA DERAS DONG, MAU BUANG YOLA SOALNYA 😚
__ADS_1
Bersambung............................