Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Kebakaran jenggot


__ADS_3

Bianca mengeringkan rambutnya sambil senyum-senyum sendiri, ia merasa malu sekaligus bahagia mengingat kejadian semalam.


Gadis, salah. Wanita itu tersenyum di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya. Tentu saja, semua orang pasti tahu alasan Bianca keramas.


Bianca yang sedang asik tersenyum seketika tersadar kala mendengar lenguhan panjang Raka. Ia melihat dari pantulan kaca, suaminya itu baru saja terbangun.


Raka meregangkan otot tubuhnya, matanya perlahan terbuka lalu mencari-cari keberadaan sang istri tersayang.


Saat Raka berhasil melihat Bianca, ia turun dari ranjang dengan hanya menggunakan boxer saja.


"Sayang!!" Panggil Raka serak khas bangun tidur.


Raka mendekati Bianca, ia memeluk tubuh mungil istrinya itu dari belakang dan langsung mencium bahunya.


"Mas, apa sih. Lepasin nggak, kamu belum mandi." Pinta Bianca sedikit ketus.


Percayalah bahwa Bianca akan tetap pada karakternya yang judes, meski di hatinya sudah mulai muncul perasaan sayang kepada Raka, apalagi Kiano.


Raka melepaskan pelukannya, ia memiringkan kepalanya dan menatap wajah cantik Bianca yang sedang senyum-senyum malu.


Raka melihat itu, namun ia enggan bicara. Raka tidak mau membuat istrinya nanti kembali ketus.


"Aku mandi dulu ya, nanti kita sarapan bareng." Ucap Raka lalu mencium pipi istrinya.


Bianca membalik badan, ia melempar tatapan tajam kepada suaminya yang asal saja menciumnya.


Raka tertawa terbahak-bahak, pria itu language masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan istrinya begitu saja.


"Heuh, aku mandi dulu ya." Cibir Bianca mengikuti ucapan Raka tadi.


Bianca mendesis kesal, namun tentu saja ia juga senang. Bianca ketus itu karena ia malu, ya wanita itu masih malu-malu jika mengingat bahwa ia telah menjadi istri yang sesungguhnya.


"Sekarang bukan anak perawan emak bapak gue lagi, udah jadi istri yang sesungguhnya." Gumam Bianca terkikik sendiri.


Bianca menutupi wajahnya dengan handuk, ia benar-benar seperti orang gila saat ini.


"Mas Raka ngeselin, tapi aku sayang." Gumam Bianca.


Bianca yang tadi masih tertawa tiba-tiba terhenti, ia teringat ucapan Raka tadi saat pamit ke kamar mandi.


"Aku? Biasanya mas Raka ngomongnya saya." Gumam Bianca bingung.

__ADS_1


Bianca mengangkat bahunya, ia merasa sedikit aneh saja karena biasa mendengar Raka menyebut dirinya 'saya' dan bukan 'aku'.


"Aku, udah kaya anak kuliahan gue sama suami gue. Eh tapi mas Raka memang masih pantas untuk disebut anak kuliahan." Celoteh Bianca lagi.


Bianca bangkit dari duduknya, ia hendak menjemur handuk basahnya di jemuran balkon, namun suara ketukan pintu menghentikan langkahnya.


Bianca merasa bingung, pasalnya ketukan pintu itu terdengar kasar sekali. Bianca sangat mengenal seluruh pelayan di rumah ini sangat sopan.


"Ada apa ya, kenapa ngetuk pintu kaya mau dobrak." Gumam Bianca.


Bianca lekas membuka pintu kamarnya, dan saat terbuka ia terkejut melihat siapa sosok yang ada di depan kamarnya.


"Mbak Yola." Gumam Bianca.


Ya, wanita yang mengetuk pintu kamar Bianca pagi-pagi ini adalah Yola, si mantan istri tidak tahu malu.


"Dimana Kiano, aku mau bertemu dengannya. Raka sudah pulang kan, dia tidak akan melarangku bertemu Kiano!" ucap Yola dengan nada tinggi.


Bianca menghela nafas. "Mbak ini memang nggak punya sopan santun ya, pagi-pagi mengetuk pintu kamar orang dengan keras." Cibir Bianca berusaha tetap tenang.


Bianca lalu menatap pelayan yang ada di belakang Yola, mereka berdua tampak ketakutan melihat Bianca. Mungkin takut dimarahin oleh majikannya.


Yola membalik badan, melempar tatapan kesal dan tidak terima dengan panggilan dari pelayan di rumah itu.


"Kalian ini nggak sopan ya, panggil saya Nyonya dan bukan mbak!" tegur Yola dengan angkuh.


Bianca berdecih, ia menyampirkan handuk basah di bahunya, lalu melipat tangannya di dada.


"Panggilan itu sudah benar, Mbak. Mereka bukan anak buah atau karyawan anda, jadi tidak ada kewajiban memanggil anda nyonya." Ucap Bianca dengan tegas.


Yola kembali menatap Bianca, ia membenci perkataan Bianca barusan yang seakan-akan mengatakan bahwa di rumah ini nyonya nya sudah berubah.


"Tapi aku pernah menjadi nyonya di rumah ini, dan ingat! Aku ada di rumah ini sebelum dirimu." Ucap Yola dengan begitu lantang.


Bianca tertawa jenaka. "Benarkah?" tanya Bianca.


Bianca rasanya ingin tertawa saja mendengar ucapan Yola barusan. Mantan istri suaminya ini bukan hanya perusuh, tapi juga merepotkan.


"Bianca, jaga sikapmu. Usiaku lebih tua darimu!" tegur Yola dengan tangan yang mengacung di depan wajah Bianca.


Bianca menepis tangan Yola, ia tidak suka ditunjuk.

__ADS_1


"Anda yang seharusnya bisa menjaga sikap, anda ini hanya mantan istri suami saya, jadi anda adalah orang lain. Orang lain yang sangat tidak sopan!" sarkas Bianca yang sudah hilang kesabaran.


Bianca siap bicara lagi, namun terhenti mendengar ucapan suaminya.


"Sayang, ayo mandi bareng …" ucap Raka mengajak dengan begitu percaya diri.


Raka yang hanya mengeluarkan kepalanya saja sontak terkejut melihat pintu kamarnya terbuka, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah kedatangan Yola.


Bianca mengulum senyum, ia akan membuat Yola semakin kebakaran jenggot.


"Iya, Mas. Kamu masuk aja lagi, nanti aku nyusul." Tutur Bianca dengan manja.


Raka pun masuk ke dalam kamar mandi, ia harus segera menyelesaikan semua ini dan menemani istrinya untuk mengusir wanita itu.


Sementara Bianca, ia menatap penuh rasa bangga kepada Yola.


"Mbak lihat kan, suami saya sedang ingin dimanja. Silahkan pergi dari rumah saya, sebab Kiano juga masih tidur." Usir Bianca dengan tenang.


Yola mengepalkan tangannya, ia menatap Bianca yang rambutnya basah dan Raka mengajaknya mandi bersama.


Yola tidak suka, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh Raka dulu, dan lihatlah Bianca sekarang. Yola tidak terima, ia merasa iri!


"Kau tidak malu dengan Kiano hah! Bagaimana jika dia melihat kelakuan kalian berdua!" tegur Yola dengan kesal.


"Asal jangan melihat kelakuan anda saja, Mbak. Sebab apa yang anda lakukan jauh lebih buruk. BERSELINGKUH." Sahut Bianca menekan kata terakhirnya.


"Kau …" Yola menggantung ucapannya dengan sedikit penuh penekanan.


"Apa?!" Tantang Bianca.


Yola berdecak kesal, ia pun pergi dari saja. Namun tentu saja tidak benar-benar pergi melainkan menunggu di bawah.


"Dasar wanita setann." Umpat Bianca dengan emosi yang meledak-ledak.


Namun disisi lain, Bianca cukup senang tadi. Yola pasti akan sangat panas, tapi sejujurnya wanita itu tidak berhak sama sekali untuk cemburu.


Raka suami Bianca, dan sudah sewajarnya jika mereka bermesraan di mana saja, termasuk kamar mandi.


YANG MAU LIHAT VISUAL MEREKA, SILAHKAN CEK INSTAGRAM AKU Alfianaaa05_. JANGAN LUPA FOLLOW 🤗


Bersambung..............................

__ADS_1


__ADS_2