Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
French kiss?


__ADS_3

Setelah jalan-jalan ke pantai dibawah guyuran hujan semalam, pagi ini Raka bangun duluan dengan keadaan yang tidak enak badan.


Meskipun merasa tubuhnya kurang fit, Raka tetap berusaha bangkit dari tempat tidur, bahkan mandi.


Selesai mandi, Raka langsung memesan sarapan untuk dirinya dan sang istri yang saat ini masih asik bergelung dibawah selimut.


Raka memakai kaos putih polos dan celana pendek. Sepertinya hari ini ia akan di kamar saja, tubuhnya benar-benar lemas.


Raka mendekati ranjang, ia hendak membangunkan istrinya itu, namun Bianca sudah menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Selamat pagi, Bia sayang." Sapa Raka dengan penuh senyuman.


Suara Raka yang sedikit serak berhasil membuat Bianca menatap pria itu dengan kening mengkerut.


"Suara kamu kenapa, Mas?" tanya Bianca serak khas bangun tidur.


"Nggak apa-apa, mungkin efek kebanyakan minum es." Jawab Raka.


Jawaban Raka itu seperti nasehat seorang ibu yang jika anaknya sakit, pasti es yang akan disalahkan.


Bianca tidak membalas, ia turun dari ranjang kemudian mengambil pakaian miliknya, setelah itu baru masuk ke dalam kamar mandi.


Bianca mau cepat-cepat mandi, hari ini ia sudah memiliki segudang list tempat yang akan ia kunjungi di Bali. Bianca belum tahu jika saat ini suaminya sedang kurang enak badan.


Sementara Bianca mandi, Raka mendekati meja rias yang ada di sana. Di atas meja itu tampak peralatan makeup Bianca yang tertata rapi dalam satu box.


Tujuan Bianca menyimpan alat make up dalam satu box adalah agar ia mudah mengemas saat ingin pulang.


Raka menatap wajahnya di cermin, ia lalu meraba bagian rahangnya yang sudah ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.


Raka menghela nafas, ia tidak suka jika ada bulu di wajah. Raka selalu ingin wajahnya bersih, karena menurutnya akan terlihat lebih rapi.


Raka mendekati koper, ia mengambil pencukur bulu miliknya. Tangannya hendak membuka penutup krim pencukur, namun gerakannya terhenti saat bunyi bel kamar terdengar.


Raka meletakkan krim pencukur bulu, dan alatnya di atas meja. Pria itu lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya. Ternyata itu adalah pelayan hotel yang membawa sarapan pesanan Raka.


"Terima kasih." Ucap Raka sebelum menutup pintu kamar hotelnya lagi.


Raka mendorong troli makanan ke dekat sofa, ia lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang ingin mencukur bulu di sekitar rahang.


Raka mengambil nafas, ia bisa merasakan bahwa angin yang keluar dari hidung dan mulutnya terasa hangat. Hal yang menandakan bahwa kondisinya saat ini memang kurang fit.


Raka menggelengkan kepalanya sambil memijat pelipisnya sebentar, ia lalu mengoleskan krim pencukur itu ke sekitar rahangnya.

__ADS_1


"Mas, kamu sudah pesan sarapan?" tanya Bianca yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Gadis itu bertanya tanpa menatap suaminya.


"Sudah, Sayang.Tuh makanan nya udah datang, kamu makan duluan aja." Jawab Raka seraya meratakan krim di rahangnya itu.


Bianca menatap Raka, ia mengerutkan keningnya melihat Raka yang sibuk di depan meja rias.


Bianca berjalan mendekati suaminya, ia bahkan melemparkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut begitu saja ke atas ranjang.


"Kamu ngapain?" tanya Bianca penasaran.


"Cukur bulu di rahang, Bi." Jawab Raka tanpa menatap istrinya.


Bianca menatap Raka curiga, ia lalu memegang kening Raka dengan sedikit kasar, bahkan sampai membuat alat cukur Raka jatuh ke lantai.


"Ya ampun, Bi. Pelan-pelan, saya sampai terkejut sama gerakan kamu." Ucap Raka menegur.


Bianca menyipitkan matanya. "Badan kamu panas, Mas." Timpal Bianca dengan kesal.


Raka tersenyum ia memegang tangan istrinya untuk ia genggam.


"Kamu peduli sama saya ya, Bia?" Tanya Raka menaik turunkan alisnya.


"Kalo tahu nggak enak badan, kenapa tadi mandi?" tanya Bianca kesal.


"Nggak betah, Sayang. Apalagi ada kamu. Masa istrinya cantik, suaminya jelek karena nggak mandi." Jawab Raka sambil merayu.


Bianca mendengus, ia menunduk lalu mengambil alat cukur Raka.


"Cepet bersihin, aku mau pesan teh jahe buat kamu." Ketus Bianca.


Raka memegang pergelangan tangan istrinya, ia mencegah langkah Bianca yang ingin menjauh.


Raka memasang wajah penuh senyuman, ia lalu menarik pelan tangan Bianca, lalu setelah sudah dekat, ia menariknya lebih bertenaga sampai gadis itu jatuh diatas pangkuannya.


"MAS!! Apaan ini." Pekik Bianca terkejut.


Raka terkekeh mendengar suara melengking istrinya, ia sengaja menahan gadis itu saat berusaha untuk beranjak dari pangkuannya.


"Bantu saya bersihin ini, tangan saya gemetaran." Ucap Raka seraya memberikan alat cukur kepada Bianca.


Bianca mendengus. "Yaudah, tapi biarkan aku bangun dari sini. Aku nggak nyaman, Mas." Balas Bianca.

__ADS_1


Raka menggeleng. "Maaf, Sayang. Tapi kali ini saya memaksa kamu untuk tetap duduk di atas pangkuan saya seperti ini." Tolak Raka dengan lembut.


"Ck, nyebelin. Sini cepet." Bianca terlihat kesal, namun gadis itu tidak terlalu menolak dipangku suaminya begini.


Raka mendongakkan kepalanya sedikit saat Bianca menunduk dan membersihkan bulu di bawah dagunya.


Meski kepalanya mendongak, mata Raka tetap bisa terfokus pada wajah cantik istrinya.


Melihat Bianca dengan jarak sedekat ini rasanya sangat membahagiakan, dan kecantikan Bianca bertambah jika posisinya seperti ini.


Raka bisa merasakan nafas Bianca menerpa wajahnya, bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa jarak antara wajah mereka sangat dekat.


"Bia." Panggil Raka dengan suara yang berat.


"Hmm." Sahut Bianca berdehem singkat.


Raka tiba-tiba menangkup wajah Bianca, sehingga tangannya yang panas itu bisa Bianca rasakan di pipinya.


Mendapat perlakuan seperti ini tentu membuat fokus Bianca teralihkan. Gadis itu membalas tatapan suaminya, dan saat itulah ia sadar bahwa wajah mereka sangat dekat, bahkan bibir mereka nyaris bersentuhan.


"Bi, boleh saya cium kamu?" tanya Raka dengan suara yang semakin memberat.


Bianca syok mendengar pertanyaan dari suaminya, namun entah mengapa bibirnya terasa kelu untuk berkata 'tidak'. Bahkan ia tidak mampu untuk menolak pesona yang Raka tunjukkan padanya sekarang.


"M-mas, aku–" ucapan Bianca yang gemetaran itu langsung terhenti tatkala merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya.


Bianca memejamkan matanya, ia bahkan menjatuhkan alat pencukur di tangannya karena terlalu lemas menerima perlakuan perdana dari Raka.


Raka awalnya hanya berniat untuk mengecup, namun karena Bianca tidak menolak ia jadi merasa telah mendapatkan lampu hijau.


Pelan-pelan Raka mulai menggerakkan bibirnya di atas bibir manis Bianca. Matanya ikut terpejam seperti istrinya, bahkan tangan yang tadinya menangkup wajah, kini berubah menjadi menahan tengkuk dan merengkuh pinggang ramping istrinya.


Sebagai gadis yang sudah pernah berpacaran, tentu ia tahu apa yang harus ia lakukan. Bianca tidak munafik, ini bukan ciuman pertamanya, tapi menurutnya ini adalah penyatuan bibir paling enak menurutnya.


Bianca membalas ciuman yang Raka berikan, bahkan tangannya reflek melingkar di leher sang suami.


Setelah beberapa saat, Raka menjauhkan bibirnya dari bibir Bianca. Pria itu lalu memasrahkan kepalanya untuk bersandar di dada Bianca.


Dapat Raka rasakan bahwa saat ini nafas istrinya masih terengah-engah.


"Makasih, Sayang. Saya suka bibir kamu, rasanya manis." Bisik Raka semakin mengeratkan pelukan di pinggang Bianca.


Bersambung....................................

__ADS_1


__ADS_2