Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai
Jajan sama mas Raka


__ADS_3

Malam harinya, setelah tragedi kecil yang membuat kaki Bianca tersiram kopi panas sore tadi, kini membuat gadis itu justru merasa senang.


Bagaimana tidak senang, suaminya yang awalnya cuek dan irit bicara, kini terlihat lebih perhatian.


Seperti saat ini, Raka sedang melihat kaki mulus Bianca yang sore tadi sudah ia beri salep agar tidak terluka. Pria itu terlihat khawatir, meski sebenarnya hanya luka kecil.


"Masih sakit?" tanya Raka lembut.


Bianca menggeleng. "Nggak, Mas. Lagian memang nggak sakit kok, hanya sedikit panas saja tadi." Jawab Bianca dengan jujur.


Raka manggut-manggut, ia bangkit dari duduknya lalu mengambil ponsel dan kunci mobil diatas meja.


"Saya mau menemui teman saya di luar, nggak apa-apa kan saya tinggal?" tanya Raka seraya berjalan ke arah meja rias untuk memakai sedikit parfum.


"Lama nggak, Mas?" tanya Bianca balik.


Raka melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Lalu pria itu kembali menatap istrinya.


"Jam 10 saya pulang," jawab Raka setelah menghitung perkiraan waktu yang akan ia habiskan di luar.


Bianca menggigit bibirnya, ia ingin bertanya namun ragu sekali. Bianca takut suaminya akan tersinggung, tapi ia juga tidak tenang jika tidak bertanya.


Raka menghela nafas, ia berjalan mendekati Bianca lalu duduk di sisi istrinya.


"Ada hal yang mau kamu tanyakan, jika iya maka tanyakan saya." Tutur Raka, seakan bisa membaca pikiran Bianca.


Bianca menoleh kaget. "Benar aku boleh bertanya?" tanya Bianca memastikan.


Raka hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Janji kamu nggak marah ya?" pinta Bianca mengulurkan tangannya meminta salaman.


Raka tersenyum. "Memang kapan saya marah sama kamu, Bi? Saya nggak pernah marah sama kamu." Timpal Raka, namun ia tetap menjabat tangan istrinya.


Bianca berdecak pelan. "Kamu memang nggak marah dalam artian membentak, tapi kamu irit bicara." Sahut Bianca tidak mau kalah.


Raka tertawa, ia mengusap rambut panjang istrinya dengan pelan dan penuh kasih sayang.


"Saya hanya mau meredakan kekesalan saya saja, maaf jika itu membuat kamu tidak nyaman." Ucap Raka lalu menggenggam tangan istrinya.


"Sekarang, mau tanya apa?" tanya Raka dengan kedua tangan yang masih menggenggam tangan istrinya.


Bianca menatap sekitar lalu menggaruk bagian belakang kepalanya, masih ada keraguan dalam diri Bianca untuk bertanya.


"Ada apa, Bia sayang?" tanya Raka dengan nada yang mendayu-dayu di telinga Bianca.


Bianca ingin pingsan, entah mengapa panggilan suaminya barusan terdengar indah, apalagi belum pernah ada yang memanggilnya seperti itu.


Bianca menghela nafas. "Teman kamu, laki-laki atau perempuan?" Tanya Bianca malu-malu.


Raka terkekeh, jadi hanya pertanyaan ini yang ingin Bianca tanyakan namun sampai meminta agar dirinya tidak marah.


Raka mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas, ingin sekali ia gigit saking greget.


"Laki-laki, Sayang. Kamu mau ikut?" tawar Raka menaik turunkan alisnya.


Bianca menatap Raka penuh harapan, ia dengan cepat menganggukkan kepalanya. Senyuman lebar bahkan sampai menunjukkan deretan gigi ia pasang karena bahagia diajak suaminya keluar.


"Pakai jaket ya, saya naik motor soalnya." Tutur Raka seraya mengusap-usap lengan Bianca.


Bianca pun turun dari ranjang dan langsung mengambil hoodie berwarna putih. Kini Bianca memakai celana tidur, dengan hoodie dan kupluk yang ada pada hoodie untuk menutupi kepalanya.


Raka terkekeh, penampilan Bianca terlihat menggemaskan. Seperti pinguin.

__ADS_1


"Kamu mirip penguin." Bisik Raka jujur.


Bianca menatap Raka dengan bibir yang mengerucut. "Maksudnya hitam?" tanya Bianca sewot.


Raka menggelengkan kepalanya pelan. "Imut, Sayang." Jawab Raka.


Bianca langsung tersenyum malu-malu, ia bahkan sampai memegangi wajahnya yang ia khawatirkan akan berubah menjadi merah karena malu.


Raka meraih tangan istrinya, ia lalu mengajaknya keluar dari kamar.


"Tuan, Nyonya." Sapa seorang art yang berpapasan dengan mereka.


"Kiano tidur, Bi?" tanya Bianca.


"Iya, Nyonya. Baru saja tidur, sepertinya kelelahan bermain." Jawab art itu menjelaskan.


"Titip ya, Bi. Saya sama istri saya mau keluar dulu, tidak lama kok." Kata Raka lalu setelah itu kembali menarik tangan istrinya.


Art itu menatap majikannya dengan penuh senyuman. "Enak ya jadi nyonya Bianca, bisa dicintai cowok tampan kaya Tuan Raka. Ucap perempuan yang usianya jauh diatas Raka dan Bianca.


Sementara itu Bianca diajak Raka ke garasi untuk mengeluarkan motor sportnya.


"Aku kok nggak tahu ya ada motor di rumah?" tanya Bianca.


"Memang kamu pernah masuk garasi?" tanya Raka balik.


Bianca nyengir, ia baru ingat jika dirinya tidak pernah ke garasi. Lagipula untuk apa, dia saja tidak bisa menyetir mobil.


"Kamu meledek aku, Mas?" tanya Bianca kesal.


"Nggak, Sayang. Kapan-kapan saya ajarin bawa mobil ya," jawab Raka.


Bianca hanya tersenyum. Ia lalu mengekor di belakang Raka yang mendorong motor besar berwarna hitam itu.


"Aku kan udah pakai ini, jadi nggak usah pakai helm ya." Ujar Bianca dan Raka hanya membalas dengan senyuman.


Bianca pun segera naik, ia melingkarkan tangannya dan langsung menyandarkan kepalanya di punggung Raka. Gerakan itu semua reflek, sebab dulu Bianca biasa melakukan ini dengan Reza.


Bianca tidak bermaksud kembali ingat mantan kekasihnya, ia hanya ingin mengulang masa itu lagi, namun dengan suaminya.


"Jangan tidur ya." Tutur Raka dan Bianca hanya memberikan jari jempol sebagai balasan.


Raka pun lekas menjalankan motornya setelah gerbang rumah di buka. Raka akan menemui Ario di salah satu kafe yang ada di depan komplek perumahan Raka.


"Tumben banget kamu naik motor, Mas?" tanya Bianca sekedar mengisi suasana.


"Sudah lama saya nggak pakai. Rencananya mau saya ajak jalan, tapi muat nggak ya satu motor bertiga." Jawab Raka diakhiri pertanyaan lagi.


"Bertiga?" beo gadis cantik itu dengan bingung.


"Hmm. Saya, kamu dan Kiano," jawab Raka.


"Wahh, jalan-jalan kemana?" tanya Bianca antusias.


"Ke mana saja, kamu mau kemana?" tanya Raka balik.


"Eumm … nanti kita tanya Kiano deh, aku bingung." Jawab Bianca.


Raka hanya tersenyum. Ia membelokkan motornya saat dirinya sampai di kafe tempat janjian dengan Ario.


Bianca turun dari motor, begitupula dengan Raka. Raka memegang tangan istrinya lalu mengajaknya masuk.


Kafe itu tampak ramai, dan tidak sedikit yang memperhatikan Raka serta Bianca disana.

__ADS_1


Raka menemukan sosok temannya yang sedang melambai-lambai, hal itu lantas membuat Raka langsung menghampirinya.


"Widihh, sekarang ketemuan bawa istri." Celetuk Ario menggoda temannya itu.


Bianca tersenyum ramah, namun ia tidak bicara. Bianca hanya duduk diam di sebelah suaminya.


"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Raka menawarkan.


"Mau cake, sama es kopi." Jawab Bianca berbisik.


Raka pun memesan untuknya dan untuk Bianca.


"Ka, lo nggak mau ngenalin gue sama istri lo?" tanya Ario menaik turunkan alisnya.


"Nggak, nanti istri gue lo demenin." Jawab Raka bercanda.


"Ya nggak lah, paling gue minta nomor temennya yang jomblo." Timpal Ario mengundang tawa Raka.


Bianca menatap teman suaminya. "Ada kok, Kak. Teman aku jomblo, cantik lagi." Ujar Bianca tiba-tiba langsung menyahut.


"Wahh otw dapet jodoh jalur bini Raka nih gue kayaknya." Kata Ario dan kali ini membuat mereka bertiga tertawa.


***


Setelah menemui Ario, Bianca dan Raka pun langsung pergi dari kafe. Raka hanya bicara beberapa hal tentang bisnis mereka, dan semua lancar.


Untuk ucapan Bianca yang bilang ada temannya jomblo, tentu hanya gurauan saja. Bianca tidak mungkin sekonyong-konyong menjodohkan sahabatnya.


"Bia, mau jalan-jalan dulu nggak?" tawar Raka.


"Mau, aku juga mau … jajan." Jawab Bianca lalu sedikit malu-malu saat ia mengatakan ingin jajan.


Raka mengangguk, ia pun mengendarai motornya meninggalkan kafe dan pergi mencari jajanan yang Bianca ingin.


"Mau apa?" tanya Raka saat mereka sedang berada di sebuah food court.


"Banyak yang aku mau," jawab Bianca malu-malu.


"Nggak apa-apa, beli apapun yang kamu mau." Tutur Raka dengan penuh kehangatan.


Bianca memekik senang, ia menerima beberapa lembar uang cash dari Raka sebagai alat pembayaran untuk jajanannya nanti.


Bianca membeli corndog, creeps, dan aneka seafood yang di tusuk lalu di bakar. Tidak lupa juga Bianca membeli minuman boba.


Setelah puas jajan, Bianca mengajak Raka duduk di kursi taman yang ada di sana.


"Mas, coba." Tutur Bianca menyodorkan jajanannya ke mulut Raka.


"Lhoo, kan punya kamu. Kenapa saya yang makan duluan?" kata Raka dengan kening mengkerut.


"Makan, Mas." Bianca menyuapi Raka dengan jajanan miliknya, lalu barulah ia memakan nya.


"Kan bekas gigitan saya, memang nggak apa-apa?" tanya Raka menunjuk corndog di tangan Bianca.


"Nggak apa-apa, kita udah berapa kali ciuman gara-gara kamu yang asal nyosor." Jawab Bianca dengan santainya.


Raka tersedak minumannya, ia melirik ke arah orang-orang yang juga duduk tidak jauh dari mereka.


Bianca bisa-bisanya langsung menjawab, bahkan gadis terlihat berbeda malam ini.


MBAK BIA KAYAKNYA BENAR-BENAR MAU BELAJAR GUYS, TAKUT SUAMINYA DIAMBIL AKU🤣


Bersambung......................................

__ADS_1


__ADS_2