
Bianca berdiri di depan kamar dengan perasaan bimbang. Ia ragu dan takut untuk masuk ke dalam kamar setelah apa yang terjadi tadi.
Lagipula kenapa Raka main pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya. Namun di sisi lain, Bianca juga merasa bodoh karena harus bicara topik yang tadi tidak penting sama sekali.
Bianca menggigit kukunya, ia benar-benar takut sekarang. Selama ini ia yang lebih banyak marah, dan sekarang untuk pertama kalinya Raka bersikap begini.
"Mas Raka beneran marah ya sama gue, duh gue takut banget mau masuk." Gumam Bianca dengan perasaan bimbang.
Bianca mengatur nafasnya, ia menghirup lalu membuangnya perlahan. Setelah dirasa cukup tenang, Bianca pun meraih gagang pintu.
"Ayo, Bi. Mas Raka nggak akan bentak lo, yakin." Ucap Bianca untuk dirinya sendiri.
Bianca yang sudah siap menekan gagang pintu nyatanya malah di lepaskan lagi. Ia menjauhkan tangannya dari gagang itu lalu memilih untuk pergi ke bawah.
Bianca tidak sanggup melihat wajah Raka. Membayangkan wajah nya yang tampan berubah merah karena marah.
"Ck, lagipula kenapa mantan istri mas Raka harus kesini sih!!" gerutu Bianca mengacak-acak rambutnya.
Bianca memilih untuk duduk di ruang tamu, ia menyalakan televisi yang menayangkan sinetron Indonesia.
"Berharap banget Kiano pulang." Ucap Bianca dengan tangan terlipat di dada.
Bianca menghela nafas, ia pun meminta pelayan agar membawakan makanan serta minuman sebagai camilan.
Bianca bosan sekali, ia ingin bermain ponsel tapi ponselnya itu ada di dalam kamar.
"Kiano, pulang sayang. Mami butuh kamu," ucap Bianca pelan disertai raut wajah memelas.
Akhirnya waktu Bianca habiskan untuk duduk di depan televisi. Gadis itu bahkan nyaris tertidur di sofa jika tidak mendengar suara panggilan yang khas.
"Mami!!!" Kiano berlari mendekati Bianca, lalu memeluknya erat.
Bianca membalas pelukan putranya, ia mencium kedua pipi Kiano dengan gemas. Akhirnya putra yang sudah ia tunggu-tunggu pulang.
"Bagaimana jalan-jalannya hari ini?" tanya Bianca seraya membuka tas gendong yang Kiano bawa.
"Sangat menyenangkan, Mami. Oma dan Opa mengajakku naik kuda." Jawab Kiano dengan antusias.
Bianca tertawa, ia mengusap-usap wajah dan kepala bocah itu bergantian.
"Suami kamu mana?" tanya papa Farhan seraya duduk di sofa.
Mendengar pertanyaan dari sang papa, senyuman di wajah Bianca seketika menghilang.
Suami? Bahkan Bianca belum melihat Raka lagi sejak tadi. Pria itu entah tidur atau sedang apa sehingga tidak keluar kamar.
"Mas Raka? Dia di kamarnya, Pa." Jawab Bianca sambil tertawa.
__ADS_1
"Mungkin lelah setelah perjalanan bulan madu. Tapi bagaimana liburan kalian?" tanya mama Vena penasaran.
Bianca tersenyum. "Sangat menyenangkan." Jawab Bianca.
Mama Vena dan papa Farhan tersenyum senang. Mereka merasa berhasil mendengar jawaban Bianca barusan.
"Mama sama papa tunggu disini ya, aku akan buatkan minum." Kata Bianca seraya bangkit dari duduknya.
Bianca menatap Kiano yang sedang asik dengan mainan yang sudah pasti dibelikan oleh kakek dan neneknya.
"Kamu mau minum apa, Kiano?" tanya Bianca lembut.
"Susu cokelat, Mami." Jawab Kiano dengan senyuman lebar, bahkan sampai menunjukkan deretan gigi yang putih.
Bianca tersenyum, ia menganggukkan kepalanya lalu segera pergi ke dapur untuk membuat minum.
Aneh saja ya kan, Bianca tadi minum minta dibuatkan pelayan, sementara sekarang ia ingin membuatnya sendiri.
Sejujurnya Bianca hanya tidak mau sang mama berpikir bahwa ia hanya santai-santai saja di rumah Raka, meski semua itu benar.
"Mas Raka apa nggak mau ketemu Kiano, masa dia nggak dengar anaknya pulang." Ucap Bianca sendirian.
Bianca berharap Raka keluar, namun harapannya tak kunjung terkabulkan. Raka sudah seperti sedang bertelur di kamar.
Setelah membuatkan minum, Bianca pun membawanya ke ruang tamu. Namun saat sampai di sana, Bianca terkejut melihat Raka sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.
Bianca berdehem, ia pun membawa minuman untuk kedua orang tuanya dan juga Kiano. Bianca tentu tidak membuatkan Raka minum, sebab ia baru tahu jika ada suaminya di sana.
Bianca pun duduk di sebelah Kiano. Putranya itu berada di tengah-tengah antara Bianca dan Raka.
"Mami, oleh-oleh yang mami katakan mana?" tanya Kiano menagih.
Bianca terkekeh, ia mengacak rambut Kiano lalu menganggukkan kepalanya.
"Akan mami berikan, tapi habiskan dulu susunya ya." Jawab Bianca lembut.
Bianca bicara sambil sesekali melirik Raka, namun yang dilirik hanya memasang wajah datar tanpa membalas tatapannya seperti biasa.
Tingkah Bianca dan Raka yang aneh tentu di sadari oleh kedua orang tua Bianca. Mereka yakin bahwa pasangan itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ka, gimana liburannya?" tanya papa Farhan mencairkan suasana.
"Sangat menyenangkan, Pa. Bahkan kemungkinan bisa kita balik lagi ke hotel itu." Jawab Raka dengan jujur.
"Papi dan mami sudah proses membuat adik?" tanya Kiano dengan polos.
Bianca yang saat itu sedang minum langsung terbatuk mendengar pertanyaan polos dari putranya.
__ADS_1
"Adik aku mana, bukannya mami bilang akan memberikanku adik?" tanya Kiano pada Bianca.
Bianca bingung harus menjawab apa, ia rasanya ingin tenggelam saja saat ini.
"Kiano, adik tidak langsung datang. Nanti jika perut mami besar, artinya kamu mau punya adik. Tapi sekarang perut mami kecil, jadi belum ada dedek bayinya." Ucap Raka menyahut dan langsung memberikan pengertian.
"Jadi sekarang belum ada ya, Papi?" tanya Kiano polos.
Raka mengangguk. "Sabar ya," jawab Raka.
Mama Vena berdehem, ia menatap anak dan menantunya bergantian.
"Kiano tanya prosesnya, sudah atau belum?" tanya mana Vena.
"Ck, Ma. Itu privasi," kata Bianca menyahut.
Mama Vena terkekeh, ia manggut-manggut setuju jika Bianca mengatakan privasi. Akhirnya mama Vena tidak memperpanjang pertanyaan nya.
"Mama doain kamu cepat hamil, Bi. Biar Kiano punya teman," ucap mama Vena.
"Iya, Ma. Makasih doanya," balas Bianca tersenyum canggung.
Bianca melirik Raka yang masih memasang wajah datarnya. Kenapa Raka membuatnya jadi tidak nyaman begini.
"Biasanya ngelirik gue terus, sekarang boro-boro." Batin Bianca.
Mama Vena dan papa Farhan pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Kiano juga sudah tertidur di pangkuan Bianca. Bocah itu sepertinya kelelahan seharian ini jalan-jalan dengan kakek dan neneknya.
Raka mengambil alih Kiano, ia menggendong putranya itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Bianca mengekor, ia berjalan di belakang Raka yang terlihat mempuk-puk pinggang dan punggung Kiano pelan.
"Mas, setelah ini kita bicara ya?" pinta Bianca dengan senyuman manis.
Raka hanya melirik saja, pria itu langsung pergi meninggalkan kamar Kiano untuk kembali ke kamarnya.
"Hais, para pria menyebalkan!!" gerutu Bianca kesal sendiri.
Bianca pun masuk ke dalam kamar, ia hendak bicara namun tiba-tiba tubuhnya terdorong ke arah pintu.
"Astaga!!" kejut Bianca dengan mata dan mulut yang terbuka.
"Diam, saya sedang marah sama kamu. Saya nggak mau ngomong, saya cuma mau peluk supaya amarah saya bisa hilang." Bisik Raka seraya mempererat pelukan di tubuh mungil istrinya.
MAS RAKA MARAHNYA LUCU 🤗
__ADS_1
Bersambung...........................